
" Ini obatnya tuan dan diminum tiga kali sehari. Jika sakitnya reda berikan satu kali sehari saja."
" Terima kasih." Hansen mengambil obat itu dan tersenyum ramah menatap pegawai apotik tempatnya membeli obat. Setelah selesai, Hansen berjalan pulang ke Apartemennya.
Karena jarak dari apotik ke Apartemennya tidak terlalu jauh. Hansen memilih untuk berjalan kaki saja. Biarkan saja dua orang yang sedang keracunan itu menunggunya lama. Salahkan saja mereka yang terlalu rakus hingga memasukkan segala hal yang dapat dimakan mereka.
TIN ! TIN !
Hansen berhenti dan menoleh ke sisi jalan melihat limusin hitam yang berhenti. Ia menghela napas mengetahui pemilik mobil mewah itu. Mau apa si penghianat itu datang lagi menemuinya ?.
" Tuan Hansen."
Nah lihat, peliharaannya sudah menggonggong untuk memberinya peringatan.
" Tuan..."
" Saya tahu, cepatlah karena waktuku tidak banyak." Hansen berucap sinis. Tentu saja, lagi pula untuk apa ia baik pada pesuruh si penghianat itu.
" Silahkan tuan."
Hansen masuk ke dalam limusin setelah peliharaan si penghianat itu membukakan pintu untuknya. Sekarang yang di hadapannya adalah si penghianat yaitu George dengan tambahan kata 'sampah' diakhir namanya.
" Holla tukang foto." George tersenyum ramah menyambutnya.
Hai juga, penghianat sampah ! jawabnya dalam hati. Hansen tersenyum tipis membalas sapaan itu. " Hai tuan George."
" Sepertinya hidupmu cukup tenang akhir akhir ini." sindir George.
" Itu karena tuhan masih berbaik hati padaku." balas Hansen.
George berdecak mendengarnya. Kenapa semua orang menyebut tuhan, tuhan, tuhan. Apa yang bisa dilakukan oleh makhluk yang tidak berwujud itu. Kenapa banyak orang yang percaya kepadanya padahal dia itu tidak berbentuk.
" Tuhan, tuhan, tuhan. Apa yang kau lihat darinya sampai kau begitu percaya kepadanya ?"
Hansen terkekeh sebelum menjawab. " Aku tidak melihat tuhanku tapi aku merasakannya di dalam hatiku. Dan itu hanya bisa dirasakan oleh orang orang yang percaya kepadanya."
" Tidak usah sok bijak di depanku." ucap Gabriel.
Hansen hanya tersenyum melihatnya. Si penghianat ini selain banyak dosa dia juga tidak percaya adanya tuhan. Benar benar manusia yang tidak tahu diri. " Apa keperluan anda memanggil saya ?"
__ADS_1
" Dimana Gabriel ?" George bertanya langsung karena ia tahu hanya Hansen yang mengetahui dimana putranya berada.
" Di Apartemenku, dia datang dengan membawa dua koper besar dan memaksa ingin tinggal bersama. Jika anda baik hati tolong bawa putra anda karena saya tidak mau ada kesalahpahaman di sini." ucap Hansen menjelaskan panjang lebar.
George menatap tajam pria muda di depannya itu. " Kau bisa seperti sekarang karena bantuan putraku." ucapnya dengan menekan disetiap katanya.
Hansen tertawa mendengarnya dengan telapak tangan yang menutup mulutnya agar tidak tertawa terlalu kencang.
" Apakah selama ini anda beranggapan begitu ?" tanya Hansen setelah tawanya reda.
Tatapan George semakin tajam dengan rahang yang mulai mengeras. Melihat cara Hansen berbicara ia tahu bahwa pria muda itu meremehkannya.
" Dari tatapan anda sepertinya benar. Tapi tuan George, saya seperti ini karena hasil dari kerja keras saya sendiri."
" Kau." George menunjuk marah wajah Hansen. Kata kata yang ingin diucapkannya tertahan diujung pita suara.
Hansen mengangkat bahu acuh karena bosan. " Tuan George jika anda ingin mencari Gabriel dia berada di Apartemenku bersama sekretarisnya. Untuk masalah selain itu anda lebih tahu dari pada saya harus melakukan apa. Karena jujur saja sikap anda ini menunjukkan jati diri anda sendiri."
Jati diri seorang pengecut ! lanjutnya di dalam hati bersama langkahnya yang keluar dari limusin milik George.
.
...*****...
.
" Kau sudah sembuh ?"
Gabriel berdecak kesal mendengar pertanyaannya malah dijawab dengan pertanyaan juga. Padahal saat ini ia sedang menahan kesal karena menunggu obat dari Hansen yang tak kunjung muncul orangnya. Hampir berjam jam lamanya Gabriel menunggu obat yang dibelikan Hansen tapi temannya itu entah hilang kemana. Terpaksa Gabriel menelpon bawahannya yang lain untuk memanggil dokter.
" Kau sudah minum obat ?" Hansen meletakkan obat yang dibelinya di atas meja sofa.
Gabriel langsung melayangkan tatapan sinisnya. " Menurutmu ?" tanyanya yang lagi lagi membuat pertanyaan dibalas dengan pertanyaan.
" Jack mana ?" Hansen balik bertanya seakan pertanyaan yang Gabriel ajukan adalah jawaban yang ia inginkan.
" Kenapa kau bertanya tentangnya ?"
Hansen menggaruk kepala belakangnya yang tidak terasa gatal. Sebenarnya mereka ini berbicara apa ? Kenapa pertanyaan selalu dibalas pertanyaan juga tetapi anehnya mereka paham. Disini yang bodoh itu ia atau Gabriel sebenarnya ?.
__ADS_1
" Hans mana obatku ?" Jack datang dengan wajah lesu lalu duduk di sebelah Hansen.
" Kau belum minum obat ?" tanya Hansen.
Jack menggelengkan kepalanya. " Tapi aku sudah disuntik dokter tadi."
" Dasar aneh." celetuk Hansen yang merasa bingung dengan pemikiran Jack. Kenapa tadi dia tidak sekalian minta obat dengan dokter itu. Kenapa malah menunggunya yang Hansen yakin itu tidak sebentar. Ia memberikan kantung plastik yang berisi obat di atas meja.
Jack mengambil obat itu dan memeriksanya. Lalu menghela napas lega setelah menemukan disalah satu obat itu ada dua jenis botol sirup.
Hansen langsung mengerti sekarang kenapa Jack tidak mau meminta obat pada dokter. " Kau takut minum pil ?"
" Hah ? Benarkah ?" Gabriel juga ikut bertanya. Matanya menatap tak percaya pada asisten pribadinya itu yang ternyata takut terhadap pil.
Jack tersenyum paksa dan mengangguk kaku. Menahan rasa malunya tentang kebiasaannya yang selama ini jarang orang ketahui.
" Badan besar, wajah datar, otak cerdas dan ucapan pedas. Percuma kau memiliki itu semua kalau nyatanya kau mirip seperti anak kecil." cibir Gabriel.
" It..itu sudah kebiasaan bos." Jack berusaha menyangkal demi rasa malunya.
Hansen tertawa mendengarnya. Tidak heran kalau Jack terlihat seperti itu karena mungkin dikeluarganya dia selalu dimanjakan karena menjadi keturunan pria satu satunya. " Kau terlihat seperti anak manja Jack."
" Bukan terlihat lagi, tapi memang iya dia anak manja. Lebih parahnya lagi dia anak mama." ejek Gabriel.
Jack mengusap wajahnya yang terasa panas. Mau membantah pun memang itu kenyataannya jadi mau bagaimana lagi.
" Jack mulai sekarang aku tidak akan memanggilmu asisten lagi saat di kantor." ucap Gabriel.
" Bos." Jack menatap Gabriel dan menatapnya memohon agar bosnya itu tidak terus mengejeknya.
Gabriel pura pura tak melihatnya. Hansen yang melihat itu sangat hapal dengan tingkah Gabriel yang jahilnya kelewatan.
" Mulai besok saat masuk kerja aku akan memanggilmu anak mama."
" Bos ayolah, jangan seperti ini." Jack mengeluarkan rengekannya yang membuat tawa Hansen semakin kencang.
" Anak mami..., Jacky anak mama. Namamu bagus." ejek Hansen.
Jack melotot kesal kearahnya. " Diam kau."
__ADS_1
" Aduh ! Anak nama marah." Hansen semakin gemar mengejek Jack dengan mulut lemasnya.
" Hansen awas kau !" Jack berteriak marah.