Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Datang dan Menunggu


__ADS_3

" Sudah siap ?" Rigel menatap teman temannya satu persatu. Memastikan bahwa kelompok mereka kali ini sudah lengkap dengan peralatan mereka masing masing. Kecuali sang ketua yang sedang menunggu mereka di dalam helikopter


Bellatrix, Alnilam, Alnitak, Saiph, dan Mintaka serentak menganggukkan kepala. " Siap !"


" Ayo kita berangkat." Rigel menggendong ransel ke punggungnya lalu berjalan mendahului teman temannya untuk masuk ke dalam helikopter.


Orion tengah termenung memandangi sebuah foto masa kecilnya bersama orang tua dan juga beberapa para penjaga termasuk Neus. Difoto itu terlihat Orion kecil yang tertawa digendongan ayahnya sambil membawa sebuah piala. Ibunya yang mencium pipinya, dan para penjaga yang tengah tersenyum menatap kearah kamera saat itu sembari bersorak bersama. Orion ingat sorakkan mereka saat itu yang membuatnya merasa sangat bahagia. Mereka mengatakan bahwa Orion adalah yang terbaik, bintang negara mereka.


Neus yang paling muda diantara para penjaga itu terlihat gembira dengan memegang sebuah kotak hadiah. Orion juga ingat kalau setelah sesi foto itu selesai, Neus memberikannya hadiah yang berisi sebuah topi yang dimana di dalam topi itu ada bordiran namanya. Sampai sekarang Orion bahkan masih menyimpan topi itu meskipun sudah tidak muat lagi dipakai olehnya.


Rigel duduk di kursi sebelah Orion dan memiringkan sedikit tubuhnya untuk melihat foto itu. " Itu.., para penjagamu dulu ?"


Orion menolah sekilas sebelum kembali memandangi foto di tangannya. " Tidak, mereka penjaga ayahku."


" Terlihat seperti teman." komentar Rigel yang dibalas anggukan setuju dari Orion.


" Mereka teman temanku saat bermain bola sekaligus lawan tarungku dulu."


" Kalau papi ?"


Mendengar itu, Orion menjadi terkekeh mengingat kenangannya dimasa lalu. " Paman Neus hanyalah pengerusuh disetiap kegiatan kami. Kalau kami tengah berlatih, dia akan bermalas malasan dan menghilang begitu saja untuk mengambil buah di kebun secara diam diam. Sedangkan kalau kami bermain bola, paman Neus akan ikut bermain kemudian dia akan melempar bolanya hingga menyangkut ke atas pohon. Kalau tidak bolanya pasti akan mengenai para penjaga dan para pelayan yang ada di sana. Lebih parahnya lagi bola itu sering kali memecahkan kaca jendela Mansion."


Rigel memandang Orion yang tengah bercerita. " Masa kecilmu bahagia."


" Awalnya iya sebelum mereka datang." Orion kembali menyimpan foto itu ke dalam ranselnya.


Rigel tersenyum sedih merasakan betapa beratnya beban yang mereka rasakan saat ini. Hanya karena keserakahan beberapa orang, banyak orang yang menjadi tumbalnya. Termasuk dirinya, teman temannya, dan juga Orion.


" Aku berharap ini cepat selesai." ucap Rigel.


" Aku juga berharap begitu." balas Orion yang memandang keluar jendela kapal. Bukan hanya itu saja, Orion juga berharap jika balas dendam ini berakhir. Teman temannya bisa tetap hidup dan menjalani kehidupan seperti yang mereka inginkan selama ini.

__ADS_1


Rigel menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. " Aku juga berharap papi baik baik saja di sana."


" Itulah yang kita semua inginkan." balas Orion.


.


...*****...


.


Di tempat lembab dengan cahaya yang remang remang. Seorang pria tua terantai di dinding dengan posisi berdiri. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh lebam lebam yang mengerikan akibat perlawanan yang telah dilakukannya.


CEKLEK !


" Ayo masuk, aku memiliki hadiah mengejutkan untuk kalian." Jenderal Jin membuka pintu besi dan berjalan masuk bersama Galiendro dan juga George.


" Aku harap begitu karena kita sudah sangat jauh menuju kemari." ucap Galiendro.


" Tidak mungkin !" Galiendro terbelalak merasa sangat terkejut melihat pria tua itu. Ia melangkah perlahan mendekatinya untuk memastikan.


George menatap Jenderal Jin meminta penjelasan. " Ini bercanda bukan ?"


" Apa kau pernah melihatku bercanda selama ini ?" Jenderal Jin bertanya dengan raut wajah datar dan juga pandangan tajam. Sudah susah payah dirinya menangkap orang itu tapi temannya ini malah seenaknya meragukannya.


George tidak menjawab, ia berjalan mendekati pria tua itu untuk memastikan sendiri. Setelah belasan tahun lamanya George tak pernah menyangka kalau kejadian seperti ini akan terjadi.


" Neus." panggil George.


Pria tua itu mengangkat kepalanya. Matanya mengerejap beberapa kali untuk menyesuaikan pencahayaan yang ada di ruangan itu. Setelah matanya bisa melihat dengan jelas, barulah ia melihat George dan Galiendro yang ada di depannya.


" Aku tidak menyangka kalau kau masih bisa hidup sampai sekarang." ucap Galiendro.

__ADS_1


" Tentu saja bisa, anjing setia Frendick tidak mungkin mengecewakan. Apalagi dia diberikan tugas untuk menjaga jantung hati milik Frendick." ucap Jenderal Jin yang juga ikut mendekati Neus.


Neus beralih menatap Jenderal Jin kemudian tertawa pelan di tengah rasa sakitnya. " Kau masih belum belajar juga dari arti kata setia itu Jin."


PROK ! PROK ! PROK !


George bertepuk tangan menatap Neus kagum. " Kau masih bisa sombong dikeadaanmu yang sekarat ini ? Benar benar mengagumkan !"


" Jantung hati, hm.. tunggu dulu. Seperti aku tahu apa yang dimaksudkan itu." ucap Galiendro.


George langsung menghentikan tepukan tangannya lalu menoleh menatap Galiendro. " Jantung hati ?" tanyanya.


Jenderal Jin menganggukkan kepalanya. " Ya, dan dia menyimpannya selama ini."


" Wow ! Bukankah itu berarti ada senjata yang mengagumkannya untuk kita ?" tanya Galiendro penuh harap.


Sayangnya Jenderal Jin menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Galiendro merasa kecewa. " Bukan senjata tetapi pisau untuk menikam kita."


" Bagaimana bisa ?" George bertanya tak mengerti. Bukankah dulu mereka telah membantai habis seluruh orang yang ada di Mansion Frendick saat itu.


" Kalian ingat Samuel dan Dekandra ? Aku yakin dialah dalang dari semua ini." jawab Jenderal Jin.


" Tidak mungkin Jin, aku sendiri yang membunuh anak itu. Aku sudah memastikannya sendiri dan menikam jantungnya saat dia sedang tidur siang." George menyangkal tidak percaya. Bahkan ia ingat jelas darah anak itu yang membasahi tempat tidur.


Jenderal Jin mengerutkan keningnya bingung, ia menatap ragu pada George yang malah menatapnya penuh keyakinan. Jadi kalau memang benar, siapa yang membantu Neus selama ini ?.


" Aku benar benar sudah memastikannya dulu. Kecuali anjing penjaga yang satu ini, aku ingat dulu dia yang diminta oleh istri Frendick untuk berbelanja kan ? Lalu kau datang untuk membunuhnya namun kau tidak menemukannya di dalam mobil, kau ingat ?"


Jenderal Jin memutar ingatannya kemasa lalu. Sedangkan Galiendro terus memandangi Neus dengan seksama. Ada sedikit rasa kagum dihatinya saat melihat keteguhan dan kesetiaan yang dimiliki Neus untuk Frendick. Sayang sekali dulu Jenderal Jin tidak sempat membunuhnya juga agar dia bisa pergi bebas bersama sang majikan tersayangnya itu.


" Kalau begitu kita tunggu dan lihat siapa orang yang membantunya itu." ucap Jenderal Jin dengan senyuman miring memandang Neus setelah mengingat kenangan dimasa lalunya dulu.

__ADS_1


__ADS_2