
" Hanya pegawai biasa ?" tanya Orion dengan alis terangkat sebelah dan senyuman tipis.
Klein mengangguk meski sedikit ragu. " Y..ya,"
Orion terkekeh lalu mengangguk. " Pasti menyenangkan bisa bekerja seperti itu."
Klein mengusap tengkuknya yang menjadi kebiasaannya kala ia sedang merasa bersalah atau berbohong. Ingin sekali Klein berbicara jujur tetapi Orion adalah orang asing yang baru saja bertemu dengannya. Meskipun dia terlihat baik tetapi Klein tidak bisa begitu saja memberitahu tentang pekerjaannya.
" Kau pernah ke tempat ini sebelumnya ?"
" Belum."
" Mau mecoba beberapa kuliner denganku ? Aku cukup mahir dalam hal cita rasa yang ada di tempat tempat seperti ini." ajak Orion. Jujur saja, berbicara santai sambil duduk seperti ini bukanlah karakternya. Itu sangat membosankan dan juga menyebalkan menurutnya. Terlihat sekali seakan akan ia tidak bisa menikmati hidup yang menyenangkan meski hanya sesekali saja.
Klein menatapnya tertarik, menikmati kuliner ? Mengapa Klein tidak memikirkan itu sejak tadi ? Pasti itu menyenangkan untuk mengisi hari liburnya tanpa kebosanan seperti tadi. " Ayo."
Orion beranjak berdiri dan berjalan santai dengan kedua tangan di saku jaketnya. Klein yang melihat itu tidak bisa untuk tidak bertingkah keren juga dengan memasang topi hitamnya dan berjalan sejajar langkah Orion.
Saat mereka berdua berjalan melewati banyaknya orang yang tengah bermain dan bersantai. Semua orang itu menatap kearah mereka seakan akan mereka adalah hal langka yang menarik. Untung saja Orion dan Klein termasuk tipe orang yang acuh terhadap lingkungannya sehingga mereka bisa berjalan bebas tanpa risih.
" Mereka memandangi kita dari tadi." celetuk Klein.
" Biarkan saja, kita tampan tentu mereka akan melihat kita." Orion membalas bersama rasa percaya diri dan juga bangga.
" Takutnya pemikiranmu dan mereka itu berbeda."
Orion memutar mata malas lalu mengangkat bahunya acuh. " Berarti itu bukan urusanku."
Klein yang malas berdebat lagi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lebih baik ia mencari makanan yang mungkin bisa mengenyangkan perutnya.
" Ah, ada penjual manisan dan juga asinan buah. Ayo kita beli itu dulu."
" Yah terserahmu saja." Klein mengikuti kemana langkah Orion berjalan.
Orion tersenyum dan melihat lihat manisan buah yang sudah lama tidak pernah ia rasakan lagi. " Hei Klein, kau pernah memakan manisan pala ?"
" Pernah." Klein membalas singkat dan ikut melihat lihat.
" Kurma ?"
Klein terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab. " Sepertinya belum pernah."
" Ambil ini." Orion memberikan satu toples berukuran sedang yang berisi manisan buah kurma kepada Klein.
__ADS_1
Klein yang penasaran mengangkat toples itu lalu memandangnya dengan teliti. Ternyata bentuk manisan buah kurma tidak semenarik yang dibayangkan olehnya. " Apa benar ini bisa dimakan ?"
" Bisa, kau pasti akan suka setelah mencobanya." Orion tertawa geli melihat tingkah Klein yang menurutnya cukup kampungan.
" Baiklah akan kucoba." Klein menurunkan toples itu.
" Bagus." Orion tersenyum dan mencari si penjual manisan itu. " Pak kami beli manisan kurmanya dua toples."
" Baik tuan tunggu sebentar akan saya bungkuskan." ucap penjual manisan itu.
Orion hanya tersenyum dan mengambil dompetnya. Begitu juga Klein yang akan membayar manisannya.
" Biar aku yang membayar." ucap Orion.
Klein menggeleng tidak setuju. " Aku tidak suka berhutang budi."
" Ini tuan, dan harganya sesuai dengan yang telah tertulis di toples."
Orion mengambil manisannya lalu membayarnya. " Terima kasih."
" Kembaliannya ambil saja." ucap Klein setelah membayar barangnya.
...*****...
Orion hanya tersenyum sopan sebelum beranjak pergi bersama Klein menuju tempat penjual lainnya.
Setelah mereka melewati dua tempat penjual dari tempat penjual manisan tadi. Klein yang memang memandang setiap tempat penjual makanan yang ada. Ia melihat satu tempat penjual makanan berbentuk bulat seperti roti diwarnai oleh beberapa macam warna yang dikukus di dalam dandang besar.
" Apa itu ?"
Orion melihat arah pandangan Klein. " Oh.., itu namanya bakpao. Itu seperti roti yang dikukus dan diberi isi seperti daging, kacang hijau, atau yang lainnya."
" Ayo beli itu." pinta Klein.
" Ya."
Orion dan Klein berjalan mendekati tempat penjual bakpao itu.
" Silahkan beli roti kukus yang enak ini tuan tuan."
" Paman beri kami semua rasa dari roti kukusmu." ucap Orion ramah.
Penjual itu terlihat bahagia mendengarnya. Dengan cepat dia membungkus semua rasa roti kukusnya. " Ini pesanan anda tuan."
__ADS_1
" Terima kasih paman." Orion mengambil bungkusan itu lalu membuka dompetnya. Tetapi sebelum sempat ia membukanya Klein telah menyodorkan uangnya pada penjual itu.
" Apa itu cukup ?" tanya Klein dengan nada dingin.
Penjual yang tadinya bahagia menjadi bergetar ketakutan setelah mengamati lebih jauh wajah salah satu pembelinya yang tidak lain adalah wakil Jenderal negara ini.
" Tu..tuan saya tidak memiliki kembali..."
" Ambil saja." Klein berucap cepat memotong ucapan gagap penjual itu.
" Te..terima kasih tuan."
Klein menarik bungkusan bakpao di tangan Orion lalu membawanya pergi begitu saja.
" Hei ada punyaku juga disitu !"
" Aku tahu."
Orion berjalan cepat dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah Klein. " Aneh sekali penjual itu. Dia tiba tiba saja ketakutan setelah melihatmu. Padahal bagiku kau itu tidak ada tampang seramnya sama sekali."
" Itukan menurutmu." Klein berucap malas.
" Benar juga." Orion mengetuk ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya. Keningnya terlihat sedikit mengkerut yang menandakan bahwa saat ini ia sedang berpikir.
" Jangan jangan itu juga yang dari tadi membuat orang orang melihat kita." sambungnya.
" Mungkin."
Orion menepuk keningnya. " Berarti dari tadi orang melihat kita bukan karena kita tampan tetapi karena kau yang menyeramkan di mata mereka begitu ?"
" Mungkin."
" Astaga ! Hancur sudah khayalanku tentang betapa tampannya aku sampai mereka terus menatap kearah kita." ucap Orion dengan wajah sedih dan lemas.
Klein melirik Orion dan tertawa pelan. " Mangkanya kau jangan terlalu percaya diri dulu."
Orion berdecak dan merengut kesal. " Kau benar, rasanya seperti kita yang telah terbang tinggi menikmati pemandangan indah di langit tetapi tiba tiba harus terjatuh begitu saja ke bumi hanya karena sebuah relita. Rasanya sakit sekali."
" Itulah kenapa ada pepatah mengatakan kalau mimpi itu indah tapi jika kau membuka mata maka realitalah yang ada. Karena itu janganlah kau bermimpi terlalu tinggi sebelum kau terjatuh karena kenyataan." ucap Klein memberikan nasihatnya sambil menepuk pundak Orion yang terlihat lesu.
" Cih, tidak ada mimpi. Realita dan kenyataan bahwa aku tampan itu memang benar adanya bahkan di dalam mimpi sekalipun." Orion berucap sinis dan menyetak tangan Klein dari bahunya.
Klein tertawa lalu bersiul pelan. " Percaya diri sekali kau."
__ADS_1
" Terserahkulah." baru kali ini Orion membenci tempat ramai seperti ini. Bisa bisanya mereka mengabaikan ketampanan dari wajahnya yang tingkat dewa ini.