Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Menginap


__ADS_3

" Sudah selesai ?" tanya Hansen yang melihat Gabriel baru saja membuka pintu kamarnya.


" Ya, dan hasilnya aku tidak perlu lagi dijodohkan dengan monster itu." jawab Gabriel yang ikut tiduran di atas ranjang Hansen.


Hansen tertawa mendengar nama yang Gabriel sematkan untuk putri dari menteri perdagangan itu. " Kau menyebutnya monster ? Jahat sekali."


" Lalu apa lagi ? Apa aku harus menyebutnya gadis buruk rupa begitu ? Itu terlalu jelas sekali meskipun memiliki makna yang sama." balas Gabriel.


" Setidaknya panggil dia dengan namanya." Hansen tidur telentang di samping Gabriel dengan berbantal tangannya. Matanya memandang langit langit kamarnya yang memiliki gambar bintang dan langit malam.


Gabriel mengikuti Hansen memandang langit langit kamar. " Aku tidak tahu namanya."


Benar juga, pikir Hansen. Ia dan Gabriel tadi saja langsung berlari sebelum sempat berkenalan dengan gadis itu.


" Hans kau bisa tidur ?" tanya Gabriel setelah mereka saling diam.


" Tidak, kau ?" Hansen balik bertanya.


" Sama."


" Apa karena pertemuan tadi ?"


" Ya, tapi..., tidak sepenuhnya benar."


" Kenapa ?"


Gabriel terdiam lama memikirkan apakah ia harus berkata jujur atau menyimpannya saja. Hansen yang tidak mendengar suara Gabriel lagi terpaksa menoleh melihat ke samping.


" Jangan melamun, ini malam hari. Aku tidak mau kau repotkan jika ada arwah kurang kerjaan yang masuk ke tubuhmu." tegur


Hansen dengan sedikit candaan diakhir ucapannya.


Gabriel terkekeh dan meninju pelan lengan atas Hansen. " Tidak akan ada arwah yang ingin masuk ke dalam tubuhku. Aku bahkan bisa lebih menyeramkan dibandingkan mereka."


" Iya benar saja tubuhmu kan beraroma neraka jahanam." ucap Hansen.


Gabriel berdecak dan melirik Hansen sekilas. " Setidaknya aku masih diberi tempat setelah aku mati nanti."


Hansen tertawa dan berbaring miring menghadap Gabriel. " Kau bangga sekali karena akan masuk ke sana."

__ADS_1


Gabriel mengangguk lalu tersenyum. " Kalau kau bagaimana ?"


" Entahlah." jawab Hansen yang kembali telentang sambil melihat langit langit kamarnya. " Aku ragu, jangankan ke surga. Ke neraka saja aku tidak yakin akan diterima." lanjutnya.


Gabriel mengerutkan keningnya mendengar jawaban Hansen yang terdengar menyedihkan sekali menurutnya. " Kau seakan akan memiliki dosa yang sangat besar saja."


Hansen tidak menjawab. Matanya memandang deretan bintang yang terlihat membentuk orang memanah di langit langit kamarnya. Bintang itu Monica yang mendesain untuknya. Katanya gambar itu akan selalu mengingatkan Hansen pada jati dirinya. Namun kenyataannya gambar itu malah mengingatkan akan setiap dosa yang telah dilakukannya setiap kali Hansen memandangnya. Monica, betapa rindunya Hansen kepada gadis itu.


Hansen memejamkan matanya. Membayangkan lekukan indah wajah Monica dan senyuman manisnya yang mampu membuat Hansen sulit untuk melupakannya.


" Hans kau tahu sesuatu ?" tanya Gabriel.


" Tidak."


PLAK !


" Aw ! Kenapa kau memukulku ?!" Hansen meringis kesakitan sambil mengusap keningnya yang terasa panas setelah Gabriel memukulnya.


" Aku belum selesai bicara pekerja." Gabriel berucap santai tanpa rasa bersalah setelah berhasil memukul kencang kening Hansen hingga memerah.


" Kalau begitu jangan bertanya kepadaku LeBanBi !" Hansen berteriak geram. Apa salahnya sampai keningnya yang menjadi sasarannya. Hansen sudah menjawab apa yang Gabriel bodoh itu tanyakan kepadanya.


Hansen berdecak dan melirik sinis membalas pelolotan mata Gabriel yang menurutnya tidak menyeramkan sama sekali.


" Kau menyebalkan sekali." celetuk Gabriel.


" Tidakkah kau pernah berkaca seperti apa tingkahmu itu LeBanBi ?!"


...*****...


" Tentu saja aku pernah berkaca. Asal kau tahu tingkahku ini sangat menggemaskan dan juga mempesona." jawab Gabriel dengan penuh percaya diri. Meski dalam hati ia tidak membenarkan semua ucapannya karena itu sebenar Gabriel hanya ingin membuat Hansen kesal kepadanya.


Hansen membuat ekspresi seperti akan muntah. " Kau mengaca ulang sana."


Gabriel tertawa mendengarnya. Ia merenggangkan tangannya ke atas sambil menghela napas. " Hans kalau seperti ini rasanya aku malas pulang ke Apartemenku. Di sana sepi dan sunyi, aku mudah merasa bosan berbeda kalau aku menginap ditempatmu."


" Aku juga seperti itu, apalagi kalau tidak ada yang diajak mengobrol." ucap Hansen.


Gabriel mengubah posisi tidurnya menjadi miring untuk lebih mudah menatap Hansen di sebelahnya. " Nah, bagaimana kalau aku pindah saja ke Apartemenmu."

__ADS_1


" Tidak mau." Hansen membalas cepat. Tinggal satu atap dengan Gabriel maka siap siap menjadi babu karena pria itu sangat pemalas dalam hal membersihkan rumah terutama kamarnya. Bisa jadi apa Apartemen Hansen nanti kalau ia memperbolehkan Gabriel pindah ketempatnya.


" Kalau tidak kau saja yang pindah ketempatku."


" Tidak."


" Kenapa ?" Gabriel menatap Hansen tidak suka. Apa yang salah kalau mereka tinggal berdua. Lagi pula bukannya sarannya itu bagus karena mereka bisa berangkat kerja bersama dan saling mengobrol seperti sekarang.


" Kau itu...," Hansen menggantungkan ucapannya sembari memandang serius tepat di mata Gabriel. Ia mendekatkan wajahnya perlahan kearah Gabriel dan berbisik pelan.


" Jorok." sambungnya.


Gabriel terbelalak dan menatapnya kesal. " Aky tidak seperti itu."


" Aku tidak perduli." Hansen menjauhkan wajahnya dan kembali berbaring telentang.


" Hah, kau memang menyebalkan Hansen. Aku berdoa agar kau cinta mati pada Reina."


Hansen mengangkat sebelah alisnya. " Kenapa jadi ke Reina ?"


" Karena dia adalah tipe gadis yang tidak kau sukai." Gabriel tersenyum miring setelah selesai berbicara.


" Itu tidak akan terjadi." ucap Hansen sebelum beranjak bangun dari tempat tidurnya. Karena malam ini ia sulit untuk memejamkan mata maka Hansen memilih meminum obat yang diberikan Bellatrix untuknya. Biasanya setelah minum obat itu Hansen pasti bisa tertidur nyenyak tanpa mimpi buruk seperti biasanya.


" Kau meminum obat ?" tanya Gabriel sedang berbaring menatap Hansen.


Hansen mengangguk. " Vitamin untuk kesehatan. Kau mau ?"


" Tidak, aku tidak menyukai obat." jawab Gabriel.


Hansen berjalan mendekati ranjangnya lalu kembali merebahkan diri di samping Gabriel. " Kau seperti anak kecil saja."


" Apapun itu terserah kau saja. Aku mulai mengantuk sekarang. Jadi..., selamat malam teman." Gabriel menarik selimut yang tergeletak di bawah kakinya.


" Selamat malam." Hansen memiringkan tubuhnya memunggungi Gabriel. Matanya memandang kosong pada dinding kamarnya lalu menyeringai kejam.


Pasti malam ini Dekandra sudah menjadi gila, pikir Hansen. Mengingat dosis obat yang diberikan olehnya itu cukup tinggi untuk ukuran manusia normal. Sayang sekali Hansen tidak bisa membunuhnya. Padahal rasanya ia ingin menguliti Dekandra hidup hidup sampai kehabisan darah.


Hansen melirik Gabriel di belakangnya. Setelah itu ia mengambil belati dari dalam bantalnya. Perlahan lahan Hansen bangun dari tidurnya dan mendekati Gabriel dengan belati di tangannya. Menatap sinis wajah Gabriel yang tengah tertidur pulas. Berteman katanya ? Dari pada berteman Hansen lebih tergoda untuk membunuhnya.

__ADS_1


Ah, bagaimana nanti ekspresi George saat tahu putranya telah terbujur kaku tanpa kulit di tubuhnya ? Hansen ingin melihatnya, tanpa ragu ia mengangkat belatinya kearah Gabriel.


__ADS_2