Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Rahasia Jack


__ADS_3

Gabriel dari tadi tidak bisa menahan kekesalannya tentang Hansen yang tiba tiba saja mengerjainya. Entah apa yang ada dipikiran pria itu hingga tidak ada habisnya dalam berbuat ulah.


" Kau benar benar keterlaluan Hans. Aku dan Jack berenang selama satu jam lamanya mengejar kapal !" Gabriel menatap marah Hansen yang duduk di dekat jendela kamarnya.


Jack yang sejak tadi menyimak menjadi tertawa pelan. Sudah dua jam lamanya tetapi Gabriel masih terus membahas itu tanpa berhenti. Tidak tahukah dia kalau Hansen dari tadi tidak pernah mendengarkannya berbicara ? Lihat, sekarang saja Hansen dengan santainya menganggukkan kepala sambil memakan buah jeruk.


" Kau mendengarkanku tidak ?! Kau sudah bersalah tetapi tidak bertanggung jawab !" ucap Gabriel dengan nada tinggi.


Hansen memutar mata malas lalu membuang sisa jeruknya keluar jendela. Setelah itu menatap Gabriel yang tengah berdiri di depannya. " Kau tidak lihat aku dari tadi menganggukkan kepala mendengarkan ocehanmu ? Dan juga aku tidak menghamilimu sampai kau memaksa pertanggung jawaban dariku."


Sontak Jack tertawa lepas mendengarnya. Kejahilan Hansen memang tidak ada duanya. Pria itu bahkan tidak takut segala konsekuensi dari hasil kejahilannya.


" Jack jangan tertawa !" Gabriel berteriak kencang tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Hansen.


" Ya bos !" Jack menjawab cepat sebelum mengulum bibirnya guna menahan tawa. Gabriel berteriak yang pertanda bosnya itu sudah sangat marah.


Hansen yang melihat itu mengedipkan sebelah matanya kearah Jack tanpa Gabriel sadari. Jack mengangkat kepalan tangan kanannya keatas memberi semangat. Baik sekali asisten Gabriel itu. Bosnya sedang marah kepadanya tetapi dia malah mendukungnya. Jack benar benar cocok bersamanya. Mereka bisa menjadi partner kejahilan yang bagus bila bersatu. Kapan kapan Hansen akan mengajaknya membuat kehebohan lain kali.


" Hansen gajihmu aku potong tahun ini !" ucap Gabriel yang masih terus berteriak.


Dengan santainya Hansen masih menganggukkan kepalanya seakan akan menerima keputusan Gabriel begitu saja.


" Kau... !" Gabriel mengusap wajahnya kasar. Ia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana berbicara dengan Hansen. Dilihat sekilas saja sudah tahu kalau pria itu tidak mendengarkan ucapannya sejak tadi. Ibarat kata, masuk telinga kanan keluar telinga kiri.


Hansen tersenyum menikmati kekesalan yang Gabriel tunjukkan kepadanya. Begitu pula dengan Jack yang menikmati itu dalam diamnya. Hansen jadi meragukan ucapan Gabriel kemarin tentang sifat polos Jack dibalik wajah nakalnya.


" Minum dulu." Jack menghampiri Gabriel dan memberikan segelas air putih.


Gabriel meminum air itu hingga habis. Namun kekesalan yang dirasakannya belum juga reda. " Ambilkan lagi."


" Lagi ?" tanya Jack yang merasa kurang yakin.


Gabriel mengangguk sebagai jawabannya.

__ADS_1


Jack mengambilkan lagi segelas air yang untung saja ada di meja kamar Hansen. " Ini."


Gabriel mengambilnya lalu meminumnya. " Lagi." pintanya.


Jack terdiam heran sekaligus ngeri melihat bosnya. " Kau yakin ? Ini sudah dua gelas besar kau habiskan."


Lagi lagi Gabriel mengangguk. Kekesalannya masih belum reda, ia membutuhkan air lebih banyak untuk mendinginkan kepalanya.


" Ini dan kalau masih kurang akan kubawakan tempat airnya sekalian." ucap Jack.


Gabriel meminum air itu hingga habis lalu terdiam tiba tiba. Jack yang melihat itu menjadi khawatir.


" Kau kenapa ?"


Gabriel diam tidak menjawab. Ia menatap serius mata Jack di depannya.


" Kau baik baik saja kan ?" Jack bertanya lagi.


" Ya bos ?"


Gabriel terdiam kembali untuk beberapa saat sebelum mengucapkan kata yang membuat Jack dan Hansen tercengang mendengarnya.


" Aku ingin buang air kecil karena kebanyakan minum." ucapnya lalu beranjak beranjak pergi dengan wajah yang memerah malu.


" Hah ?" Jack dan Hansen saling menatap satu sama lain beberapa detik lalu tertawa bersama.


.


...*****...


.


Waktu berlalu cepat, hingga tanpa sadar jarum jam terus berputar dan langit telah berganti warna. Hansen duduk di kursi kerja menatap serius komputernya. Ia saat ini sedang mengedit foto foto yang didapatkannya tadi saat datang ke pantai. Sebisa mungkin Hansen mengeditnya bagus dan juga terlihat natural. Setelah ini, besok hasil fotonya akan ia berikan pada Thea dan Toni untuk memasukkannya ke dalam jajaran model di perusahaan Gabriel. Hansen yakin banyak orang yang akan menyukai fotonya ini.

__ADS_1


" Hans ini kopi untukmu."


Dan terkhusus hari ini Jack menginap di Apartemennya. " Terima kasih." Hansen mengambil kopi itu lalu menyesapnya pelan.


" Itu hasil foto kita tadi ?" Jack yang tidak sengaja melihat komputer Hansen menjadi penasaran. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mempermudah nya melihat layar komputer.


" Aku tidak tahu kalau wajahku bisa setampan itu." lanjutnya setelah melihat cermat foto wajahnya yang selesai diedit Hansen.


Hansen yang mendengar itu memutar mata malas. Pria ini polos atau bodoh sih sebenarnya ? Kalau memang dia jelek tidak mungkin seluruh karyawan bahkan para model berjenis perempuan mengidolakannya secara terang terangan. Bahkan Gabriel pernah berkata ingin menjual Jack pada rekan bisnisnya yang selalu saja bersikap genit pada asistennya itu. Namun tentu itu tidak akan terjadi, karena latar belakang keluarga Jack bukanlah orang sembarangan.


Bahkan kalau tidak Mintaka yang memberitahunya Hansen tidak akan tahu kalau Jack ternyata putra bungsu dari Menteri pertanian negara ini. Tapi ada satu hal yang membuat Hansen merasa ada yang salah dengan Jack. Dari caranya memandang ketika serius Hansen bisa tahu kalau dia termasuk orang yang kuat dan juga tegas. Tetapi setelah mengenalnya selama di kantor Jack malah bertingkah seperti pria polos dan dingin seperti kebanyakan orang pada umumnya. Tidak hanya itu, instingnya juga berkata Jack termasuk orang yang wajib diwaspadainya.


" Hei ! Kau melamun ?"


Hansen mengedipkan mata beberapa kali lalu tersenyum seperti biasanya. " Aku lagi berfikir tentang apakah tidak masalah jika foto kita saat berenang juga dipajang nanti ? Aku takut para model pria di perusahaan Gabriel tidak laku lagi gara gara foto kita."


" Ya tuhan ! Khayalanmu terlalu tinggi." celetuk Jack.


Hansen tertawa mendengarnya. " Tidak ada yang berkhayal karena itu memang kenyataannya. Akui saja kalau wajah kita ini memang tampan."


Jack diam tidak menjawabnya. Matanya beralih melihat fotonya di layar komputer Hansen.


" Thea dan Toni pasti bersorak saat melihat ini."


Hansen mengangguk setuju. " Tentu saja, bahkan dunia permodelan akan gempar karena melihat pesona kita. Diantara itu, yang paling penting perusahaan Gabriel akan mendapatkan banyak kerjasama."


" Aku tahu itu tapi..., kau tidak perlu sampai menambahkan kata gempar di dunia permodelan. Karena aku merasa wajahmu tidak semempesona itu sampai bisa mengalahkan para model di dunia permodelan." ucap Jack dengan mata memandangnya sinis.


Mata Hansen langsung melotot kesal mendengar itu. " Tidak semempesona itu katamu ? Kau buta ?! Bahkan seluruh orang di negara ini mengakui ketampananku Jack."


" Bagiku aku masih jauh lebih tampan darimu."


" Sialan !"

__ADS_1


__ADS_2