Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Dua Buruan


__ADS_3

" Ternyata benar mereka sudah bersiap siap lebih dahulu." Orion berucap pelan yang hanya bisa didengar Rigel saja.


Rigel yang masih memandangi jam tangannya terbelalak saat melihat banyak titik titik merah di dalamnya mulai bergerak menuju kemari. Itu berarti mereka sudah mengetahui kedatangannya dan juga Orion ke rumah sakit ini. Mereka telah menyiapkan perangkap untuk menangkap Orion.


" Mereka datang kemari." Rigel berjalan ke sebelah kiri Orion.


" Berapa jumlahnya ?" tanya Orion.


" Banyak, lebih dari dua puluh."


Orion tersenyum miring memandangi dinding rumah sakit. Mereka cukup cepat juga dalam bergerak. Memasang perangkap untuk menangkapnya heh ? Tidak akan bisa. Karena Orion tercipta bukan untuk diburu tapi memburu.


" Lain kali kita berkunjung lagi." ucap Orion lalu berbalik pergi berjalan keluar rumah sakit.


" Baik." Rigel mengikuti Orion dari belakang dengan langkah yang sedikit dipercepat. Matanya menatap awas setiap titik bewarna merah dan hijau di jam tangannya. Mengawasi pergerakan yang akan terjadi agar mereka bisa keluar dari rumah sakit ini tanpa halangan apapun.


Tangan Orion terkepal menahan geram. Ternyata para penghianat itu cukup dekat hingga sampai melindungi satu sama lain. Bahkan buruannya yang sebentar lagi akan menjadi kurban sembelihannya pun mereka masih melindunginya. Ingin sekali Orion membasmi para penghianat itu sekarang juga.


Orion memakai helmnya lalu melajukan motornya menjauh dari rumah sakit. Rigel yang duduk di belakangnya hanya diam saja. Mau bagaimana lagi, melihat kekesalan Orion membuat Rigel menutup rapat mulutnya sebelum menjadi bahan pelampiasannya.


Hari ini benar benar hari kesialan untuk Orion. Sudah seharian terkena demam sekarang buruannya gagal. Kalau begini caranya bagaimana Orion bisa tidur nyenyak malam ini.


Orion memarkirkan motornya di parkiran Apartemen. Dengan terpaksa ia harus pulang tanpa hasil hari ini. Orion melirik Rigel yang berjalan bersama. Apa ia jadikan umpan saja temannya ini. Tapi kalau Alnitak mengamuk bisa habis rambutnya karena dijambak.


" Aku akan tidur saja." ucap Orion.


" Hm, selamat malam."


" Selamat malam." Orion menutup pintu kamarnya dan berjalan lesu kearah ranjang. Oh, Orion tidak akan bisa tidur kalau belum melampiaskan keinginannya.

__ADS_1


Orion telungkup di atas tempat tidurnya dengan kaki yang masih menyentuh lantai. Siapa yang mau menjadi buruannya kali ini ? Orion menyeringai mengingat dua orang buruannya belum mendapatkan apapun darinya. Baiklah karena hari ini Orion tidak mendapatkan apa yang ia inginkan maka merekalah yang akan menggantikannya.


Orion mengambil obat bius yang biasa digunakannya untuk menenangkan diri. Tapi sebelum itu Orion harus menyiapkan api yang besar untuk memanggang kedua buruannya itu. Mereka pasti bahagia mendapatkan hadiah ini darinya. Saat mereka bangun bersama sinar matahari yang hangat dan udara pagi yang dingin mereka akan Orion hangatkan dengan kobaran api buatannya.


Orion berjalan keluar kamarnya dengan langkah ringan agar tidak membangunkan teman temannya. Mereka tertidur nyenyak sekali sampai langkah Orion pun mereka tidak mendengarnya. Sepertinya mereka perlu dilatih kembali agar dapat lebih waspada terhadap lingkungan sekitar walau saat kondisi tertidur sekalipun.


Malam ini Orion harus mengajarkan mereka lebih awal dan terkhusus untuk kedua buruan itu.


" Ayo bermain." gumam Orion dengan seringaian kejam miliknya.


...*****...


" Orion apa yang kau lakukan !" Bellatrix berteriak.


" Orion kau gila ?!" Rigel menatap takut kobaran api di bawahnya.


Saiph, Mintaka, Alnilam, dan Alnitak bergidik ngeri melihat Bellatrix dan Rigel di gantung terbalik di atas kobaran api. Mereka yang tertidur bersama tadi malam tiba tiba terbangun di rumah Orion dengan teriakan kencang dari Bellatrix dan Rigel.


" Orion ! Ayolah, ini tidak lucu bercandamu !" Bellatrix memandang ngeri api di bawahnya. Sangkin panasnya tubuhnya sudah mengeluarkan keringat diudara pagi seperti ini.


Rigel sangat menyesal telah mengganggu Orion. Kalau tahu begini akhirnya lebih baik Rigel menjadi patung saja yang tidak bisa berbicara. Dengan keadaan digantung terbalik dan dipanggang di atas kobaran api membuatnya benar benar tidak sanggup lagi berkata kata. Rigel menatap kekasihnya meminta tolong tetapi kekasihnya itu malah tersenyum mengejeknya.


" Rigel kalau kau mati aku akan mencari kekasih baru ! " Alnitak bersorak dengan semangat yang membuat Rigel terbelalak menatapnya tak percaya. Kejam sekali kekasihnya itu. Dia dengan bangganya malah ingin mencari kekasih baru setelah Rigel mati nanti. Apa begini rasanya memiliki kekasih kekasih seorang psikopat ?.


" Malangnya nasibmu Rigel." ejek Bellatrix di tengah kesulitanya.


Rigel menatapnya sinis. " Diam kau."


Mintaka, Saiph, dan Alnilam tertawa kencang mendengarnya begitu pula dengan Orion yang tersenyum miring. Rasa kesalnya telah tersampaikan dan sekarang Orion sudah merasa lega. Orion berjalan mendekati tali pengikat gantungan Bellatrix dan Rigel. Tanpa perasaan Orion sedikit menurunkan tali gantungan mendekati api.

__ADS_1


" Aaaa ! Orion !" Bellatrix berteriak.


Rigel yang baru tersadar melotot ngeri menatap Orion. " Orion kau benar benar tidak ingin memanggang kami kan ?!"


Orion mengangkat bahunya acuh. " Aku lapar dan yang lainnya juga pada belum sarapan. Tidak ada salahnya jika kami memakan daging pagi ini."


" Orion !" Bellatrix merengek ketakutan.


" Menurut kalian bagaimana ?" Orion menghiraukan rengekan Bellatrix dan bertanya pada keempat temannya.


" Tidak masalah." jawab Mintaka.


" Aku juga merasa lapar." balas Alnilam.


" Dan makan daging dipagi hari pasti enak sekali ." tambah Alnitak.


" Kalau begitu aku akan menyiapkan bumbunya." ucap Saiph yang melangkah masuk ke dalam rumah Orion.


" Hei, kalian kejam sekali ! Tolong aku !" Bellatrix memberontak ingin melepaskan ikatan tali di kakinya.


" Jangan bergerak bodoh. Kau mau terjatuh di api itu ?!" maki Rigel.


Bellatrix langsung terdiam dengan tubuh kaku lalu melihat ke bawah. Benar juga, kalau ikatan di kakinya terlepas maka Bellatrix akan menjadi daging panggang. " Jadi aku harus bagaimana ini ?"


" Pasrah saja." Rigel menjawab lemah dengan tubuh lemas. Mau bagaimana lagi, kekasihnya saja bahkan berkata ingin mencari kekasih yang baru apabila Rigel sudah mati nanti.


Bellatrix melotot kesal menatap Rigel di sebelahnya. Dasar pria bodoh, apa bedanya terjatuh ke dalam api dan menunggu pasrah untuk dimasukkan ke dalam api. Itu sama saja mereka akan berakhir di dalam api dengan keadaan terbakar. " Dasar Rigel bodoh ! Apa bedanya kalau kita akhirnya menjadi daging panggang ?!"


" Setidaknya kita bisa menikmati detik detik terakhir kita sebelum masuk ke dalam api itu." ucap Rigel sambil memandang kobaran api di bawahnya.

__ADS_1


" Dasar bodoh ! Kau kira kalau orang dibakar hidup hidup itu tidak ada detik detik terakhirnya ?! Hei ! Selama jantung dan otakmu tidak terluka maka kau masih hidup bodoh !" Bellatrix berteriak kencang menyalurkan rasa takut dan frustasinya.


__ADS_2