Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Hansen dan Orion


__ADS_3

Hansen berdiri kaku di depan sebuah peti mati yang telah diukir indah. Di dalamnya tubuh Monica terbaring tanpa nyawa dengan pakaian bergaun putih layaknya pengantin. Terlihat cantik seperti putri tidur namun sayang sekali putri yang di dalam peti itu tidak akan bangun meskipun seorang pangeran menciumnya.


Hansen menangis tanpa suara. Matanya memandang kosong wajah pucat milik Monica. Gadis itu telah pergi meninggalkannya, hanya kenangan kebersamaan mereka yang tertinggal dan tersimpan dibalik waktu yang bernama kenangan.


Hansen memejamkan matanya. Membayangkan Monika yang tengah menangis kesakitan sembari memanggilnya itu membuat rasa bersalah terus menghujam jantungnya.


Di mana Hansen saat itu ?.


Di saat Monica dalam bahaya Hansen tidak datang membantunya. Hansen malah dengan santai menjalankan pekerjaannya tanpa tahu Monica yang tengah merenggang nyawa.


Buruk sekali dirinya ini !.


Hansen membuka matanya lalu tersenyum sendu memandang wajah pucat Monica untuk yang terakhir kalinya.


" Monic maafkan aku." Hansen bergumam lirih.


Gabriel yang berdiri di belakang Hansen bersama Reina berjalan mendekat. Sejak tadi pikirannya terus menyangkal sesuatu yang terlintas dipikirannya.


" Dia sudah tenang bersama tuhan Hans." Gabriel mengusap bahu Hansen sambil memandang Monica di dalam peti. Perasaan bersalah mulai tumbuh dihatinya. Jika benar apa yang sedang dipikirkannya ini, maka Gabriel adalah orang terburuk yang pernah ada di dunia.


Reina memandang peti mati Monica tanpa berniat mendekat seperti yang dilakukan Hansen dan Gabriel. Cukup dengan menatap foto Monica yang terbingkai di sebelah peti mati, Reina mengirimkan doanya. Perasaannya saat ini sulit untuk digambarkan. Karena sebelumnya Reina pernah berpikir buruk untuk Monica dan berniat merebut Hansen dengan cara yang mungkin tidak adil. Sekarang Monica pergi untuk selamanya seperti yang Reina inginkan. Tetapi kenapa sekarang hatinya terasa sedih ? Bukankah seharusnya Reina merasa senang karena tanpa harus bersusah payah Monica pergi dari kehidupan Hansen ?.


Meskipun aku pernah tidak menyukaimu tetapi aku mengucapkan terima kasih untukmu Monica. Aku berjanji akan menjaga Hansen dan selalu disisinya tanpa menggantikan posisimu dihatinya ! Batin Reina.


" Dia..., pergi." Hansen berucap lirih.


Gabriel merangkul Hansen dari samping. " Dia pergi karena tuhan telah memanggilnya Hans."


" Aku..." Hansen tidak sanggup lagi untuk melanjutkan ucapannya.


" Ada aku sebagai temanmu." ucap Gabriel.

__ADS_1


Hansen mengusap air matanya dan berjalan pelan mendekati peti mati Monica. Menatap wajah cantik Monica untuk beberapa saat sebelum membungkuk mencium kening Monica seperti yang biasa dilakukannya.


" Aku akan selalu mengingatmu Monic. Teman kecilku, cinta pertamaku, dan kekasihku." bisik Hansen.


Hansen membelai lembut pipi pucat Monica. Memandang seksama setiap lekuk wajah Monica. Ini adalah terakhir kalinya Hansen dapat menyentuh Monica.


" Kau terlalu cantik saat ini hingga membuatku tidak rela melepaskanmu. Bisakah kau kembali saja kepadaku ? Bilang pada tuhan untuk mengembalikanmu kepadaku karena di sini aku kesepian tanpamu." Hansen berbisik lagi.


" Hansen ini sudah waktunya memakamkan Monica." Gabriel mengingatkan dengan rasa bersalah.


Hansen menganggukkan kepalanya tanpa berbicara apapun. Dua orang datang dan menutup peti mati Monica dengan hati hati.


Hansen terus menatap wajah Monica seiring peti mati itu ditutup rapat. Tubuhnya terasa lemas dengan napas tercekat. Hatinya terasa sangat sakit tanpa terlihat lukanya. Begitu menyakitkan kepergian Monica untuknya.


Ingat aku meskipun kau sudah bersama tuhan di sana Monica, kekasihku ! Batin Hansen.


...*****...


Orion membuka perlahan pintu Apartemen milik Monica. Sejenak Orion terdiam di depan pintu saat matanya memandang foto Monica yang memakai dress milik perancang terkenal terbingkai rapi di dinding ruang tamu. Siapapun yang masuk ke dalam Apartemen Monica, mereka pasti akan langsung melihat foto gadis itu karena posisinya tepat di dinding depan pintu.


Orion berjalan mendekati foto itu lalu meraba wajahnya sembari memejamkan mata dan membayangkan jika yang dirabanya saat ini adalah wajah asli milik Monica.


Setelah puas Orion mengecup tepat dibagian bibir Monica yang ada di dalam foto. Kemudian beranjak pergi menuju kamar Monica. Bahkan setelah tiada pun aroma gadis itu masih terasa di dalam Apartemennya.


Orion membuka pintu kamar Monica dan melangkah masuk ke dalam kamar. Kakinya berjalan menuju meja rias. Orion mengambil kamera kecil di bingkai cermin yang sengaja diletakkannya secara diam diam. Setelah itu, Orion membungkuk mengambil rekaman di bawah meja rias.


Orion memutar rekaman itu. Pandangannya berubah tajam sembari tersenyum bengis. Tidak ada satu orang pun di dunia bawah yang berani mengusiknya. Tetapi pria bernama Zero itu meremehkannya tanpa berpikir panjang.


" Bukan kau tapi kekasihmu. Dia perlu disadarkan tentang posisinya berada."


Orion mendengus mendengar nada sombong dari Zero. Pembunuh tingkat atas sepertinya tidak akan bisa membuat Orion menyadari posisinya. Karena Orion adalah Sang Pemburu yang memburu siapa saja yang berani mengusiknya. Posisinya lebih tinggi bahkan bila dibandingkan dengan Zero si pembunuh tingkat atas itu.

__ADS_1


DOR !


" Akh !"


DOR !


DOR !


" Kekasihmu bahkan tidak datang saat kau berada diambang kematian nona."


Orion mengepalkan tangannya saat mendengar jeritan Monica dan ucapan meremehkan dari Zero. Orion pasti akan membuat pria itu menjerit memohon ampunan darinya nanti. Jeritan yang sangat kencang dan menyakitkan seperti yang Monica rasakan saat itu.


" Han...sen."


" Jangan menyebutnya di saat kau kesulitan Monica. Karena Hansen tidak akan datang meskipun kau selalu ada di dekatnya. Hansen terlalu lemah untuk membelamu sampai akhir." ucap Orion.


" Aku sudah pernah berkata untuk melihat dengan hatimu tetapi kau masih tetap melihat dengan mata terbukamu itu. Kau terlalu buta dengan ketampanan dan kebaikan Hansen." Orion kembali berucap dengan pandangan menatap rekaman yang masih memutarkan isinya.


" Han...sen, aku mencintaimu. Aku berha...rap kau bi...sa memelukku u..un..tuk yang terakhir ka..linya."


Orion tersenyum sinis, bahkan diakhir hayatnya Monica masih menginginkan Hansen. Pria yang hanya pandai merayu wanita itu. Orion rasanya ingin tertawa di tengah kesedihannya.


Ternyata kebersamaan mereka selama ini membut Monica melupakan sebuah kebenaran tentangnya. Monica melupakan pesan pesannya dan tidak mengingat setiap peringatan yang diberikannya.


" Kau menginginkan pelukannya ? Tidakkah kau tahu dia hanyalah setitik debu tidak berguna untukmu ?" Orion bertanya sendiri. Tangannya menggenggam erat rekaman di tangannya. Hansen bahkan tidak bisa melakukan apapun setelah kematian Monica. Tetapi justru nama pria itulah yang disebutkan Monica dibandingkan dengannya.


Sepertinya nama Hansen sangat membekas diingatan Monica dibandingkan dengan namanya Orion.


" Bagaimana bisa wajah palsu seperti Hansen bisa menipumu Monica ? Bahkan kau melupakan aku yang terus memantaumu di sini ?"


Hansen si fotografer, Orion tidak tahu apa yang membuat banyak orang menyukai dan mempercayainya padahal Hansen itu hanyalah kebohongan yang menipu banyak orang.

__ADS_1


__ADS_2