
Setelah mengurus tentang negaranya. Galiendro mendapatkan pesan dari Jenderal Jin tentang keadaan Dekandra yang telah membaik. Meski belum seperti dulu namun sekarang bisa dikatakan jauh lebih baik dibandingkan hari kemarin.
Galiendro berjalan cepat menuju sebuah ruangan dimana tempat itu dibuat khusus untuk perawatan Dekandra. Setelah sampai Galiendro langsung membuka pintu ruangan Dekandra. Di dalam ternyata sudah ada Jenderal Jin dan juga George serta satu pria muda berjas putih tengah berbincang.
" Hei, Geliendro." George menghampiri Galiendro dan memeluknya ala pria.
Galiendro membalas pelukan itu lalu kemudian melepaskannya. " Bagaimana tentang Dekandra."
" Kau harus mendengarnya sendiri. Kau tahu ? Setelah sekian lama akhirnya kita menemukan bibit seorang jenius di negara kita." George menarik Galiendro mendekati pria muda berjas putih itu.
" Siapa dia ?" tanya Galiendro.
" Dia seorang dokter magang di rumah sakit Dekandra. Namun karena kepintarannya dia berhasil membuat Dekandra lebih baik dari sebelumnya. Bahkan dia bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh para profesor lainnya." jawab George yang seakan lupa kalau dia sudah banyak berbicara karena rasa senangnya.
Galiendro memandang dokter magang yang terlihat masih muda itu. " Siapa namamu ?"
" Bellatrix tuan." jawab Bellatrix sembari menundukkan kepala memberi hormat.
" Bellatrix ? Namamu unik dan.., maaf ya seperti wanita." ucap Galiendro.
Bellatrix tersenyum seakan itu bukanlah masalah. " Itu nama gabungan dari orang tua saya tuan."
" Owh bagus sekali, orang tuamu pasti pasangan yang sangat harmonis."
" Ya seandainya saya bisa melihat melihat mereka." Bellatrix menatap lantai dengam wajah sendu.
" Memangnya kenapa orang tuamu ?" tanya Jenderal Jin yang sedari tadi hanya diam menyimak.
" Ayah saya meninggal diperjalanan saat ingin menemani ibuku lahiran. Setelah melahirkanku ibuku ikut meninggal karena syok berat yang dialaminya." jawab Bellatrix.
George memukul lengan Jenderal Jin. " Kau bertanya salah bodoh." bisiknya.
" Maafkan saya, saya tidak tahu." ucap Jenderal Jin.
Bellatrix tersenyum lalu mengangguk singkat. " Tidak apa apa tuan, saya sudah terbiasa."
__ADS_1
Memdengar itu Jenderal Jin semakin tidak nyaman dan merasa bersalah. Galiendro yang merasakan suasana mulai canggung mencari akal. " Jadi bagaimana keadaan Dekandra hem.., aku harus memanggilmu apa ? Tidak mungkin Bella kan ?" tanya ragu.
" Panggil saya Alltrix tuan." jawab Bellatrix
" Hah iya, baiklah Alltrix bagaimana keadaan Dekandra saat ini ?" Galiendro mengulang lagi pertanyaannya.
" Tuan Dekandra sudah hampir pulih tuan. Saya sudah membuatkan obat yang bisa menenangkan tuan Dekandra. Namun bila ada pemicu atau suatu hal yang tidak disukainya. Tuan Dekandra bisa kembali kehilangan akalnya tuan. Itu disebabkan karena keadaannya yang belum sembuh total. Jadi untuk saat ini kita harus menjaganya dari pemicu itu sampai tuan Dekandra sembuh total." jelas Bellatrix.
Galiendro mengangguk paham. " Baiklah karena kau bisa menangani ini. Kupercayakan Dekandra kepadamu. Kau akan kubebaskan memakai semua alat atau bahan obat di negara ini asal itu berhubungan dengan pengobatan."
" Terima kasih tuan." Bellarrix tersenyum senang mendengarnya. Tidak sia sia ia mengikuti cara Orion yang pintar memakai topeng. Ternyata ada banyak keuntungan yang bisa didapatkannya. Pantas saja Orion selalu memakai cara seperti ini.
" Begitu Dekandra sembuh, aku akan melantikmu secara langsung menjadi dokter jenius kepercayaan negara Z." ucap Dekandra.
" Terima kasih banyak tuan. Itu akan saya jadikan motivasi untuk lebih giat berusaha lagi. Saya yakin saya tidak akan mengecewakan anda." Bellatrix menatap Galiendro dengan binar keyakinan.
" Aku tunggu hasilnya." Galiendro menepuk pundak Bellatrix beberapa kali.
.
.
" Woah ! Aku tidak menyangka kalau itu si Bella kita yang menyebalkan. Lihatlah dia bahkan bisa terlihat natural sekali." Saiph memandang kagum Bellarix yang sedang berbicara dengan para penghianat itu. Begitu alami hingga Saiph meragukan karakter Bellatrix yang sebenarnya.
Alnilam dan Alnitak bertepuk tangan seakan bangga melihat Bellatrix bisa menjadi seperti Orion. Siapa dulu kan gurunya ? Tidak sia sia mereka mengajari para pria ini akting dan berpura pura.
" Bahkan dia tidak tertawa ataupun ada getaran di matanya. Pandangannya sungguh sungguh menyakinkan siapapun." ucap Mintaka.
" Taka kirim rekaman ini pada Orion sebagai bukti keberhasilan anak nakal itu." ucap Rigel.
" Baik." Mintaka mengerjakan apa yang Rigel minta. Orion pasti bangga melihatnya. Bellatrix yang sering berbuat onar bersamanya ternyata bisa menjalankan misinya dengan baik.
" Hah, kapan Orion bisa sembuh total. Aku ingin sekali melihatnya." ucap Alnilam yang mendapatkan pandangan jijik dari Rigel, Alnitak, Mintaka, dan Saiph.
Alnilam menatap teman teman dan kekasihnya. " Apa ?"
__ADS_1
Rigel, Alnitak, Mintaka, dan Saiph. Mereka serentak mengalihkan pandangan mereka dan beranjak pergi dengan arah yang berbeda.
" Hei kalian mau kemana ?!" Alnilam bertanya dengan wajah bingung.
Mintaka berbalik mendekati Alnilam yang membuat gadis itu tersenyum. Namun senyum itu tidak bertahan lama karena Mintaka hanya mengambil laptopnya yang berada di meja dekat tempat duduk Alnilam.
" Kalian menyebalkan !" Alnilam berteriak kesal.
Di ruang tamu Mintaka, Saiph, Alnitak, dan Rigel kembali berkumpul. Mereka melanjutkan kegiatan mereka melihat Bellatrix melalui laptop Mintaka.
" Dia tidak tanggung tanggung saat maju dimisi ini." ucap Alnitak.
" Dia takut digantung Orion kalau gagal melakukan misi ini." ucap Saiph.
Rigel terkekeh mendengarnya. " Padahal Orion mengucapkan itu hanya bercanda saja."
" Hm.., kurasa kau benar Rigel. Kita semua tahu seberapa sayangnya Orion pada kita. Meski terlihat acuh tapi aku bisa merasakannya." ucap Mintaka.
Alnitak tersenyum memandang kosong layar laptop Mintaka. " Padahal dia yang termuda diantara kita. Tapi aku merasa malah dia yang terlihat lebih dewasa dibandingkan kita."
" Karena itu Bellatrix sangat takut kepadanya." ucap Saiph.
Rigel tersenyum bangga melihat Bellatrix seperti benar benar seorang dokter yang tengah merawat pasiennya. Dulu sewaktu mereka masih kecil Rigel ingat Bellatrix selalu bercerita kalau dia ingin menjadi seorang dokter. Bahkan saat ada anak panti yang terluka Bellatrix orang pertama yang antusias mengobati.
Namun kehidupan mereka tidak memperbolehkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Termasuk meraih cita cita mereka. Meski mereka mampu tapi ada kewajiban yang lebih penting dari cita cita itu sendiri. Rigel rasa karena itu Orion memilih Bellatrix maju dan memberinya peluang untuk merasakan menjadi seorang dokter pada umumnya.
" Orion mengetahui lebih dari yang kita bayangkan Rigel." Alnitak menggenggam tangan Rigel dan berbisik pelan.
Rigel menoleh menatap kekasihnya sejenak sebelum kembali menatap layar laptop Mintaka. " Aku tahu, darah paman Hansen mengalir kepadanya."
" Melihat Bellatrix yang maju seperti itu. Aku jadi tidak sabar menunggu giliranku." ucap Saiph.
" Aku sudah maju duluan tapi kalian tidak mau melihatku." ucap Mintaka.
Saiph memukul belakang kepala Mintaka. " Kami mau melihat pakai apa hah ?!"
__ADS_1
" Aku lupa kalau kalian tidak tahu hal seperti ini."