Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Hansen Yang Malang


__ADS_3

" Hans minumlah ini hampir dingin." Gabriel menatap lelah susu yang terus disodorkannya untuk Hansen.


" Tidak nanti aku muntah kalau meminum racun itu !"


" Ini susu Hans bukan racun." Gabriel berucap memberi pengertian untuk Hansen yang tingkahnya berubah seperti anak balita sekarang.


" Susu tidak ada yang bewarna putih !"


" Hah ?" Gabriel menjadi bodoh kalau begini terus ceritanya. Bagaimana mungkin ia memiliki teman sebodoh Hansen.


Jack tertawa hingga mengeluarkan air matanya. Perutnya bahkan sudah sangat kram karena terlalu banyak tertawa. Apalagi ditambah pernyataan Hansen yang membuatnya semakin tidak bisa berhenti tertawa.


" Hans semua susu berawal dari warna putih." jawab Gabriel.


" Tapi jus tidak, padahal mereka sama sama air." kekeh Hansen menyangkal setiap ucapan Gabriel agar ia tidak meminum susu.


" Ya tuhan bunuh saja aku sekarang !" teriak Gabriel yang sudah tidak tahan lagi menghadapi Hansen. Lalu menoleh memandang asistennya yang asik menertawakan Hansen.


" Jack gantikan aku !" pintanya.


" Siap bos." Jack tersenyum penuh arti. Dengan senang hati ia akan memaksa Hansen meminum susu itu.


" Lakukan apapun agar dia mau meminum susu." Gabriel meletakkan susu itu ke atas meja lalu beranjak keluar dari ruang inap Hansen.


Jack mendekati Hansen dengan semangat tinggi. Mumpung Hansen tidak bisa bergerak ia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk membalaskan rasa kesalnya kemarin.


" Jangan lakukan niat burukmu itu Jack. Karena setelah aku sembuh aku akan memburumu." Hansen menatap Jack penuh peringatan.


" Itukan setelah kau sembuh Hans. Lakukanlah itu nanti, sekarang biarkan aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan." Jack tersenyum menatap segelas susu di tangannya.

__ADS_1


" Minum susu ini atau aku akan membeli pelacur untuk membantumu meminumnya." lanjutnya.


Mata Hansen seketika terbelalak mendengarnya. Ia tahu maksud yang diucapkan Jack. Membeli pelacur untuk membantunya minum itu bukanlah hal yang bagus. Karena tentu saja kata minum itu bukanlah hanya meminum sekedar minum biasa. Namun dalam artian yang sangat menjijikkan meski hanya dalam bayangannya saja.


" Minum atau tidak ?" Jack tersenyum miring menatap wajah Hansen yang pucat kini semakin bertambah pucat hingga kulitnya terlihat semakin putih.


Hansen mengambil gelas susu itu dengan tangan gemetar. Rasa jijik langsung menghinggapi penciumannya. Sungguh, Hansen sangat membenci aroma susu yang bisa membuat perutnya bergejolak mual.


Dengan sangat terpaksa Hansen meminum susu itu sembari menahan napas. Namun baru habis setengah perutnya sudah bergejolak menolak susu itu masuk ke dalam pencernaannya.


Jack sialan ! Ia pasti akan membalasnya nanti. Sekarang mungkin dia masih bisa menertawakannya tetapi nanti dirinyalah yang akan berganti menertawakannya. Hansen sekuat tenaga menahan diri agar tidak muntah dan menghabiskan segelas susu itu hingga habis.


Setelah itu Hansen memberikan gelas itu pada Jack. Lalu menidurkan dirinya dan menutup tubuhnya sampai kepala dengan selimutnya.


" Anak pintar, besok minum lagi ya." Jack tertawa bahagia melihat penderitaan Hansen. Tangannya menepuk kepala Hansen dari luar selimut. Kalau begini Jack akan meminta Gabriel agar ia saja memberikan susu pada Hansen.


Hansen hanya bisa menahan kesal di dalam selimut tanpa bisa membalas. Karena jika mulutnya terbuka maka ia akan berakhir memuntahkan semua isi di dalam perutnya.


.


... *****...


.


Reina berjalan cepat menuju ruangan Hansen dirawat. Padahal pria kesayangannya sudah sejak tadi malam berada di rumah sakit ini. Tapi Gabriel baru memberi tahunya sekarang yang sudah mulai sore hari. Benar benar minta dipukul temannya yang satu itu.


Reina mengatur napasnya yang memburu akibat terlalu cepat berjalan. Merasa lebih baik Reina barulah melangkah masuk ke dalam ruang inap Hansen.


Di atas ranjang rumah sakit Reina melihat keadaan Hansen yang cukup memprihatinkan. Kaki dan tangannya yang digips. Kepalanya yang diperban juga wajahnya yang penuh lebam. Rasanya Reina ingin menangis melihat keadaan Hansen saat ini.

__ADS_1


" Kau cepat sekali datangnya." ucap Gabriel yang baru saja bangun dari tidurnya. Berbeda dengan Jack yang saat ini masih tertidur pulas di atas sofa.


" Aku khawatir kepadanya. Sekarang bagaimana keadaannya ?" tanya Reina.


" Seperti yang kau lihat sekarang. Inilah hasil keadaanya, tulang kaki kirinya dan lengan atas tangannya patah. Kepalanya bocor dan mendapatkan lima jahitan. Selebihnya hanya memar yang mungkin beberapa hari lagi akan menghilang." jelas Gabriel.


" Kau tahu siapa yang berbuat seperti ini kepadanya ?" Reina bertanya lagi.


Gabriel menggeleng lemah dan memandang sedih keadaan Hansen yang tengah tertidur. " Andai aku tahu sudah kubunuh mereka semua karena berani berbuat seperti ini kepada temanku."


" Apa itu musuhmu ?" tanya Reina yang mengeluarkan asumsinya.


" Kurasa tidak, Hansen bahkan menghapal setiap musuhku dan selalu melindungiku dari mereka. Tapi untuk yang satu ini entah mengapa aku merasa itu bukanlah berasal dari musuhku melainkan dari orang yang tidak menyukai Hansen. Tapi siapa ? Kurasa tidak ada orang yang tidak menyukainya karena sifatnya yang ceria itu." jelas Gabriel yang berucap panjang lebar kali ini.


" Ada satu orang Gabriel dan itu adalah ayahmu sendiri." jawab Jack dalam hati dengan mata masih terpejam rapat seakan akan ia sedang tertidur pulas. Padahal sedari tadi Jack hanya mengistirahatkan tubuhnya saja karena terasa lelah. Ia mendengar semua yang diucapkan Reina dan Gabriel atau..., lebih tepatnya lagi Jack sedang menguping pembicaraan mereka.


Kalau Gabriel merasa yang dialami Hansen ini bukanlah berasal dari musuhnya.Maka tebakannya tentang ayah Gabriel yang berada dibalik insiden Hansen benar kenyataannya. Karena hanya dia saja orang membenci Hansen seperti melihat musuh abadi.


Jack bisa berpikir begitu karena dirinya telah bekerja untuk Gabriel sejak perusahaannya dibangun sampai sesukses sekatang. Jadi jangan heran kalau ia tahu sifat dari ayah bosnya itu.


Tapi jika itu musuh Gabriel, kenapa Hansen tidak melawannya. Hansen selalu bisa melindungi Gabriel dari setiap musuhnya.


Kenapa kali ini tidak ?.


" Mungkin lawannya kali ini sangat mampu." jawab Reina.


Gabriel kembali menggelengkan kepala sebagai tanda ketidak setujuannya. " Asal kau tahu Reina. Hansen itu hampir menjadi manusia yang sempurna. Dia bisa segalanya termasuk bertarung. Itu juga kenapa alasanku selalu membawanya ketika berbisnis jauh."


" Riel sekuat apapun manusia dia memiliki batasannya sendiri. Kita tidak tahu lawan yang dihadapi Hansen saat itu." ucap Reina.

__ADS_1


Gabriel langsung terdiam mendengarnya. Benar juga, bagaimana pun Hansen hanya manusia biasa yang memiliki batasan melangkah. Gabriel mengepalkan tangannya menahan geram. Ia pasti akan mencari orang yang telah membuat Hansen menjadi seperti ini.


Kalau tidak ketemu juga Gabriel akan menyewa detektif terkenal untuk menyelidikinya. Gabriel beralih menatap Jack yang masih tertidur. Mungkin nanti ia akan menyuruhnya mengurus hal itu.


__ADS_2