Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Permainan Rasi Bintang


__ADS_3

" Aku tidak menyangka ini, kau benar benar licik Orion." ucap Saiph.


Orion tersenyum miring mendengarnya sambil bersandar di pagar balkon ruang tengah tempat dimana mereka biasa berkumpul.


" Itulah permainan kita Saiph." ucapnya dan mengulurkan tangan kirinya begitu saja.


Tiba tiba seekor burung elang emas datang dari langit dan hinggap di tangannya. Orion mengusap kepala burung elang emas itu dan menatapnya bangga.


" Kau sudah melakukannya ?" tanya Orion pada burung elang emas itu.


Tanpa diduga burung elang emas itu mengeluarkan suaranya dan semakin memasukkan kepalanya ke dalam telapak tangan Orion. Meminta Orion untuk terus mengusap kepalanya.


" Kerja bagus, kau memang rekanku yang terbaik." puji Orion sambil terus mengusap kepala burung elang emas itu.


Saiph berdecak kagum melihat hal itu. Entah kenapa Orion terlihat berkharisma di matanya saat ini. " Terlepas dari Orion yang terlihat seperti orang gila karena berbicara dengan binatang. Dibalik itu aku kagum melihatnya."


Mintaka dan Bellatrix menganggukkan kepala bersamaan menyetujui ucapan Saiph. Orion memang mengagumkan bisa melatih binatang liar karnivora itu menjadi tunduk kepadanya.


" Itulah kehebatan bangsawan berdarah murni. Aura mereka bisa membuat apapun tunduk kepada mereka." ucap Alnitak.


Rigel datang membawa seember daging segar lalu memberikannya pada Orion. " Peliharaanmu bagus." komentarnya.


Orion menyipitkan matanya menatap Rigel dengan perasaan kurang senang. " Dia temanku di hutan. Sama seperti kalian, dia juga sudah kuanggap bagian dari keluargaku."


Merasa pemiliknya kurang senang, burung elang emas itu menatap tajam Rigel dan siap menyerangnya. Namun Orion cepat menghalanginya dengan menahan sayap burung elang emas itu yang hampir terbentang siap untuk terbang.


Rigel segera menjauh dari Orion sambil mengangkat kedua tangannya sebagai tanda perdamaian.


" Lihatlah, bahkan burung itu memiliki karakter yang sama seperti Orion. Pemarah dan juga suka menatap tajam lawannya." ucap Alnilam.


" Aku juga ingin binatang seperti itu." Mintaka menatap iri Orion yang sedang memberi makan burung elang emas itu. Bahkan Mintaka melihat burung itu terus menjawab semua ucapan Orion seakan mengerti bahasa manusia.


" Bermimpi saja kau karena dikenyataan kau tidak akan bisa mendapatkan binatang seperti itu." celetuk Bellatrix.


Mintaka mendengus kesal mendengarnya. Temannya yang satu itu hanya bisa mengejeknya saja.

__ADS_1


Selesai memberi makan Orion menerbangkan burung elang emas itu agar kembali ke sarangnya. Disaat itu barulah Rigel berani mendekat dan berbicara pada Orion.


" Kau menggiringnya masuk ke dalam jebakan kita ?"


" Ya." Orion menjawab singkat.


" Dia sebatang kara sekarang." ucap Rigel yang berpura pura simpati.


Mendengar itu Orion menoleh menatap Rigel sinis. " Tidak usah berpura pura. Aku tahu kau juga menunggunya masuk ke dalam permainan kita."


" Yah, tapi..., kau benar. Kasihan sekali Galiendro itu." Rigel tertawa sambil membayangkan betapa serunya permainan mereka berkat kelicikan Orion.


" Setelah itu apa lagi ?" tanya Saiph.


" Membuat mereka saling membunuh." jawab Orion.


" Lalu apalagi ?" kali ini Alnilam yang bertanya.


" Hadiah dari mereka yang menang akan menjadi buruan kita. Mudah kan ? Kita hanya perlu bermain rapi lalu kita singkirkan yang terakhir." jelas Orion.


Seketika Rigel, Bellatrix, Saiph, Alnitak, Alnilam, dan Mintaka bertepuk tangan mendengar ide Orion. Mereka merasa sangat senang karena setidaknya dimisi mereka ini. Mereka masih memiliki hiburan yang bagus.


" Perlu bantuan ?" tanya Rigel.


Orion tersenyum dan menepuk pundak Rigel. " Buat itu seakan tidak sengaja."


" Baiklah."


.


... *****...


.


Hansen berjalan sendiri dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaket tebalnya. Sesekali ia menghembuskan napas hingga terlihat kepulan putih keluar dari mulutnya akibat cuaca yang terlalu dingin. Biasanya kalau cuaca sudah seperti ini sebentar lagi akan turun salju.

__ADS_1


" Negara Z yang merepotkan." gumamnya.


Hansen memandang sekelilingnya yang terlihat sepi dengan lampu jalan yang terlihat remang remang. Tidak ingin terjadi sesuatu yang aneh Hansen mempercepat langkah kakinya. Hanya dirinya yang bejalan sendirian di jalan ini dan itu mempermudah bahaya untuk mendatanginya.


Setelah berjalan cukup jauh akhirnya Hansen hampir sampai di tikungan jalan kearah Apartemennya. Namun langkahnya harus berhenti saat Hansen melihat sekelompok orang membawa pemukul kayu berdiri di depannya.


Hansen memandang orang orang itu seksama karena cahaya lampu yang menerangi remang remang. Kemudian Hansen melanjutkan jalannya saat merasa ia tidak mengenal orang orang itu.


" Kau sombong sekali tuan." ucap salah satu orang dari kelompok itu saat Hansen berjalan melewati mereka.


Hansen kembali menghentikan langkahnya dan menoleh menatap orang yang berbicara itu. " Maaf, kau sedang berbicara denganku ?"


Orang itu berdecak kesal merasa Hansen sangatlah sombong. " Tentu saja kau ! Selain kau tidak ada orang yang berani berlaku sombong sepertimu disini !"


" Ah begitu ? Aku merasa tersanjung mendengarnya. Tapi maaf sekali lagi, aku tidak mengenal kalian sampai harus menyapa kalian begitu saja."


Mendengar balasan Hansen, orang itu langsung menarik kerah depan pakaian Hansen lalu melemparnya ke tengah tengah mereka. " Dasar sombong ! Pantas saja banyak orang yang tidak menyukaimu !"


Hansen terkekeh lalu meringis ngilu merasakan siku tangannya yang terantuk aspal. " Langsung saja, ada urusan apa kalian denganku. ?"


Tanpa menjawab orang orang itu memukuli Hansen secara membabi buta. Mereka mengeroyok Hansen dan memukulinya dengan pemukul kayu yang mereka bawa.


" Akh ! Hei, apa yang kalian lakukan ?! Berhenti !" Hansen berteriak kesakitan merasa hantaman balok kayu yang mengenai tubuhnya.


Setelah dilihat Hansen yang sudah tidak berdaya lagi. Orang orang itu menghentikan aksi mereka dan orang yang sedari tadi berbicara pada Hansen melangkah maju mendekatinya.


" Menjauhlah dari teman kayamu itu. Kau orang panti asuhan tidak pantas bermain dengannya. Jangan lupa berhentilah menjadi seorang penjilat." orang itu menepuk pipi lebam Hansen. Lalu memberi isyarat pada reman temanya untuk segera pergi.


Hansen meringis kesakitan dan mencoba menggerakkan tubuhnya. Tetapi sepertinya rasa sakitnya menghalanginya untuk bergerak meski sedikit saja. Matanya menatap tajam sekelompok orang orang itu yang mulai tidak terlihat lagi. Hansen beralih memandang seberang jalan yang terlihat gelap dan menganggukkan kepalanya.


Kemudian Hansen mengambil ponselnya dari saku celananya untuk menghubungi Gabriel. Hanya pria itu yang bisa diandalkan untuk saat ini.


" Halo ?"


" Tolong aku." Hansen melirihkan suaranya dan mematikan sambungan panggilannya begitu saja.

__ADS_1


" Hah ! Jadi ini permainannya ?" tanyanya yang entah pada siapa. Hansen melemaskan tubuhnya dan tidur telentang di aspal. Beruntung yang ditempatinya itu di pinggir jalan khusus untuk orang orang yang berjalan kaki. Kalau tidak, mungkin sekarang ia hanya tinggal nama saja.


Hansen memejamkan matanya menikmati rasa sakit disekujur tubuhnya. Lumayan, besok ia tidak harus berangkat kerja lagi karena keadaan ini.


__ADS_2