
Seorang dokter ditemani dua orang perawat berjalan menuju kamar inap yang di jaga oleh dua orang tentara.
" Permisi saya ingin memeriksa pasien."
Dua orang tentara yang berjalan sedang berjaga di depan pintu saling memandang satu sama lain sebelum akhirnya mengangguk mempersilahkan dokter itu masuk bersama dua orang perawat.
" Terima kasih tuan tuan."
Dokter itu membuka pintu ruang inap bersama dua orang perawat mengikutinya. Mereka berjalan mendekati pasien yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Dokter itu memeriksa keadaannya lalu menatap dua perawat yang ikut bersamanya.
" Lakukan."
Salah satu perawat mengambil suntikan yang berisi cairan dari dalam botol kecil lalu menyuntikkannya ke dalam cairan infus. Sedangkan perawat yang lain menulis sesuatu di buku pemeriksa yang di bawanya dan meletakkannya di atas meja sebelah ranjang pasien.
" Selesai dok."
Dokter itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. " Ayo kita keluar."
Dokter itu keluar dari ruang inap dan tersenyum ramah kepada dua orang tentara yang berjaga sebelum berjalan pergi bersama dua orang perawatnya.
Dua tentara yang berjaga membuka pintu rawat pasien yang dijaga oleh mereka untuk memastikan orang yang mereka jaga masih baik baik saja.
" Aman."
" Kau yakin ?"
" Tentu saja, lihat tidak ada yang mencurigakan. Lagi pula masih ada CCTV di dalam."
" Baiklah."
" Permisi tuan tuan saya ingin memeriksa pasien." seorang wanita bersama satu perawat tersenyum ramah menatap dua tentara yang berjaga.
" Dokter ?!"
" Dokter apa ? Bukannya tadi sudah memeriksa ?!"
Dua tentara itu tampak bingung dan terkejut. Dokter wanita tampak bingung mendengar pertanyaan dari dua tentara di hadapannya.
" Maaf tapi di jam ini waktu saya memeriksa pasien yang bernama tuan Sarga."
Dua tentara itu terkejut dan segera berlari masuk ke dalam ruangan inap. Mereka melihat tubuh pasien yang terbujur kaku dengan warna nadi menghijau dan menonjol keluar.
" Dokter tolong periksa pasien." pinta salah satu tentara dengan wajah panik. Sedangkan tentara yang lain berlari keluar ruangan dengan tergesa gesa.
__ADS_1
Dokter wanita itu terkejut dengan mata terbelalak melihat keadaan pasien yang akan di periksa olehnya. Dengan tangan gemetar dokter wanita itu memeriksa pasien yang bernama Sarga atau yang sering disebut Letnan Sarga. Salah satu korban yang selamat dari pengeboman di kantor polisi saat itu.
" Maaf tuan tetapi pasien telah meninggal."
Tentara yang sedari tadi menunggu menjadi panik. Ini adalah kabar buruk, nasibnya sedang dipertaruhkan di sini.
" Tuan saya menemukan ini di atas meja." seorang perawat yang mengikuti dokter wanita sedari tadi memberikan selembar kertas berisi tulisan yang tanpa sengaja terlihat olehnya saat akan melepaskan cairan infus dari pasien.
Tentara itu membaca kertas yang diberikan perawat kepadanya.
Permainan !.
Dapatkan kami atau kami yang akan mendapatkan kalian satu persatu.
Salam bahagia dari kami, Rasi Bintang.
" Tugas selesai." gumam seorang pria muda yang sedang berjalan keluar dari rumah sakit bersama dua orang wanita di sebelahnya.
Mereka berjalan santai menuju mobil hitam yang terparkir rapi di parkiran rumah sakit. Pria muda itu masuk ke dalam mobil diikuti dua wanita yang sedari tadi bersamanya.
" Bintang terakhir, Mintaka. Telah menyelesaikan tugas." pria muda itu menekan earpiece di telinganya.
" Bintang ketiga bersama bintang keempat, Alnilam dan Alnitak. Misi sempurna." Alnilam melaporkan hasil misinya melalui earpiecenya.
...*****...
Saiph tersenyum miring dan menoleh menatap Zairan yang berdiri di dekat kursi Bellatrix. " Kau seharusnya lebih tahu Zairan. Tidak ada kata kasar dalam permainan penjahat."
" Hei Zai." Bellatrix menepuk lengan Zairan.
" Kalau kau tidak terbiasa dengan kata kasar. Aku sarankan kau belajar dari Saiph dan Rigel." lanjutnya.
Zaidan memutar mata malas. " Namaku tidak akan berjaya jika dulu aku lembek."
Saiph terkekeh mendengarnya. " Maaf saja tapi itu dulu karena sekarang Rasi Bintang yang akan menguasai dunia."
Zairan mendengus kesal kemudian memilih duduk di sofa yang tidak jauh dari Saiph dan Bellatrix.
" Sombong sekali." cibirnya.
" Oh itu harus. Sombong itu menggambarkan kepercayaan diri. Untuk ukuran orang orang hebat seperti kami kata sombong itu diwajarkan." ucap Bellatrix.
Zairan mendengus kesal sebelum meminum wine yang ada di atas meja.
__ADS_1
" Kami pulang !"
Mintaka berteriak berjalan masuk bersama Alnilam dan Alnitak. Alnitak mendekati Zairan lalu duduk di sebelahnya. Berbeda dengan Alnilam yang langsung berjalan mendekati kekasihnya.
" Minum ?" tawar Zairan.
Alnitak menggelengkan kepalanya. " Aku tidak meminum alkohol atau Rigel akan mengamuk nanti."
Zairan mengangguk paham lalu kembali meminum wine di dalam gelas miliknya.
" Bagaimana kabarmu Saiph." Alnilam mencium pipi kanan Saiph lalu memeluknya.
Saiph balas mengecup kening Alnilam. " Sepi tanpamu sayang."
Bellatrix melirik kesal melihat kemesraan Saiph dan Alnilam yang tidak tahu tempat. " Tidak tahu malu." gumamnya.
Mintaka menuang wine ke dalam gelas lalu meminumnya dalam sekali tegukkan. Matanya berkilat jahil saat melihat Bellatrix yang terlihat kesal karena kemesraan Saiph dan Alnilam.
Mintaka berjalan mendekati Bellatrix kemudian memeluknya seperti yang dilakukan Alnilam. " Bagaimana kabarmu Bella ?"
" Bajingan !" Bellatrix berteriak marah mendorong kencang Mintaka dari tubuhnya.
" Aku merindukanmu." Mintaka memanyunkan bibirnya berpura pura ingin mencium Bellatrix yang sudah mengamuk.
" Pergi kau ! Dasar keparat ! Aku masih normal sialan !" Bellatrix berteriak kencang.
" Oh kau juga merindukanku ? Senangnya hatiku sayang." Mintaka semakin mengeratkan pelukannya.
" Sialan ! Aku akan membunuhmu sekarang juga Mintaka !"
Zairan tertawa hingga mengeluarkan air mata. Alnitak yang duduk santai juga ikut tertawa melihat tingkah usil Mintaka yang tidak ada habisnya.
" Pisahkan mereka atau Orion akan mengamuk besok karena melihat rumahnya berantakan akibat ulah mereka." Alnilam berbisik di dalam pelukan Saiph sebelum berjalan menjauh menghampiri Alnitak yang duduk di sofa bersama Zairan.
Saiph terlihat tidak rela saat Alnilam menjauh darinya. Ini semua gara gara dua pria tidak tahu umur itu, pikirnya. Dengan mata menatap tajam pertengkaran Bellatrix dan Mintaka. Saiph berjalan kearah dua pria itu lalu menarik kerah mereka satu persatu kemudian memisahkan mereka dengan paksa. Kemudian melemparkan tubuh Mintaka dan Bellatrix ke lantai.
" Teruskan dan aku akan melemparkan kalian dari balkon ruangan ini." Saiph menatap Bellatrix dan Mintaka penuh ancaman.
Mintaka menelan ludahnya susah payah. Saiph tampak menyeramkan jika kesal seperti sekarang. Pria yang selalu terlihat santai itu ternyata diam diam sama saja seperti Orion dan Rigel.
Bellatrix menghela napas menahan kesal. Bilang saja kalau dia itu sedang kesal karena Alnilam tidak memeluknya lagi. Tidak perlu melempar tubuhnya seperti barang.
Dasar buaya kurang belaian !
__ADS_1
" Berhentilah mengumpatiku dalam hatimu Bellatrix."
Sialan !.