
Hansen menguap sambil merenggangkan tubuhnya. Matanya masih terpejam rapat dengan tangan terentang lebar. Tubuhnya masih berbaring malas di atas tempat tidur. Menggeliat sebentar sebelum membuka matanya perlahan.
" Selamat pagi."
" Aaa..!" mata Hansen melotot terkejut dan langsung melompat dari atas tempat tidur. Namun tanpa diduga kakinya malah terbelit selimut.
BRUG !
" Hans !" Reina beranjak bangun menghampiri Hansen yang sudah jatuh telentang di lantai.
" Kau baik baik saja ?" lanjutnya bertanya.
Hansen meringis kesakitan lalu memegang bagian kepala belakangnya yang terantuk lantai. Ia menggerakkan kakinya agar terlepas dari belitan selimut.
" Hans." Reina memanggil dengan wajah khawatir. Niatnya tadi Reina ingin membuat kejutan tapi malah ia sendiri yang terkejut akhirnya. Tahu begini Reina tidak akan membuat ide itu untuk membangunkan Hansen. Pasti sekarang Hansen merasa marah kepadanya.
Hansen bangkit dari lantai dan menatap Reina yang memandanginya ketakutan. " Aku baik baik saja. Tadi aku hanya terkejut karena melihatmu tiba tiba ada di hadapanku."
" Tapi kepalamu terbentur lantai tadi. Aku kompres dengan air hangat ya ?" pinta Reina. Rasanya ia sangat menyesal karena sudah membuat Hansen terjatuh.
" Tidak perlu." Hansen berbalik melangkah ke kamar mandi. Tapi saat di depan pintu ia berbalik menatap Reina.
" Kalau kau memang merasa bersalah. Masakan saja aku makanan yang enak. Aku lapar sekali sekarang." setelah itu Hansen masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya.
Reina hanya melihatnya dengan perasaan menyesal. Sebelum kemudian berbalik pergi keluar dari kamar dengan semangat yang melemah.
Di dalam kamar mandi Hansen memeriksa kepalanya di depan cermin. Meski tidak kelihatan oleh pandangannya, Hansen yakin pasti ada luka di kepala belakangnya. Hansen menarik bajunya ke atas dan berbalik membelakangi cermin. Lalu dilihatnya punggungnya yang memerah akibat terjatuh tadi.
Ia tidak tahu harus merasa marah atau sedih karena ini. Andai saja bukan Reina yang berbuat mungkin orang itu sudah Hansen patahkan semua gigi depannya.
Setelah selesai mandi Hansen keluar dari kamar tanpa menyisir rambutnya. Biarkan saja nantikan rambutnya akan rapi sendiri kalau terkena angin.
" Baru bangun ?" Gabriel bertanya dengan alis yang terangkat sebelah.
" Aku masih tidur."
Gabriel terlihat menganggukkan kepala. " Pantas seperti itu penampilanmu, ternyata kau masih tidur."
Rasa kesal yang tidak bisa disalurkan membuat Hansen menatap sinis pada Gabriel. Ia duduk di meja makan dan meminum segelas jus yang entah milik siapa. Atau jus ini memang disediakan Reina untuknya.
" Hans aku membuatkanmu nasi goreng seafood. Tidak apa apa kan ?" tanya Reina yang baru saja datang dari dalam dapur.
__ADS_1
Hansen menggeleng tidak masalah. Ia mengambil piring nasi goreng itu tanpa berbicara dan langsung memakannya dengan cepat seperti orang kelaparan.
" Punggung dan kepalamu tidak apa apa kan ?" Reina bertanya dengan hati hati disela Hansen memakan sarapannya.
" Tidak."
Gabriel mengerutkan keningnya menatap Hansen lalu beralih pada Reina. " Kenapa punggung dan kepalanya Rein ?"
Reina menoleh memandang Gabriel. " Aku tidak sengaja membuatnya terkejut saat bangun tadi dan karena itu dia jatuh dari tempat tidur."
" Apa ?!" Gabriel terbengong cukup lama sebelum tertawa keras.
" Pasti sakit sekali itu !" lanjutnya mengejek.
" Diamlah." Hansen menatapnya sinis. Kalau sudah begini, alamat rasa kesalnya semakin bertambah.
" Kau gagar otak ?! Semoga iya !" ucap Gabriel.
" Gabriel diam kau atau kupukul kepalamu dengan piringku !"
" Ah, Baiklah ! Tapi..., bagaimana rasanya jatuh ? Apakah enak atau membuat hati bahagia ?"
" Gabriel !"
.
.
" Sudah kau beritahu Orion tentang tugas kita ?" Alnitak menatap Bellatrix di seberang meja makan.
" Sudah."
" Bagus." ucap Alnitak.
Bellatrix berdiri dan memandang teman temannya. " Aku duluan, jadwalku padat hari ini."
" Jadwal ? Jadwal apa memangnya ?" tanya Mintaka.
Bellatrix tersenyum miring dan berjalan menjauh. " Jadwal menjadi orang sakit !"
" Dasar gila !" Saiph mengumpatinya karena Bellatrix yang tidak jelas. Jadwal orang sakit katanya ? Heh ! Dibandingkan dia jadwal Saiph lebih banyak hari ini.
__ADS_1
" Sudahlah Saiph, Alltrix hanya bercanda. Kau jangan terus terusan bersikap keras seperti itu." ucap Rigel.
" Nah dengarkan kata tuan wakil kita Saiph." Mintaka mengulum bibirnya menahan tawa.
Saiph melotot kesal pada Mintaka. Pria cengeng ini berani sekali mengejeknya. " Diam kau, kau dan Alltrix sama saja. Sama sama hanya bisa membuat orang kesal."
" Ah, benarkah ?" tanya Mintaka pura pura tidak tahu.
" Kau..."
" Sayang habiskan makananmu dan berhentilah marah marah. Kalau wajahmu keriput karena itu jangan harap kau bisa menikah denganku nanti." ucapan Alnilam langsung membuat Saiph terdiam tanpa berani bersuara lagi. Bahkan pria itu menundukkan kepalanya untuk kembali memakan sarapannya.
Rigel tersenyum sembari mengucapkan kata terimakasih tanpa suara pada Alnilam. Untung satu temannya sudah memiliki pawangnya sendiri. Tinggal dua orang lagi yang masih bersikap kekanak kanakan dan ditambah Orion yang keras kepala.
Tapi dibandingkan Saiph, mengurus dua orang yang kekanak kanakan itu bukanlah masalah. Karena mereka tidak keras kepala dan masih takut pada perintahnya.
Isi pesan yang dikirimkan Bellatrix sampai setelah Hansen selesai sarapan pagi bersama Reina dan Gabriel. Hansen tersenyum melihat isi dari pesan itu. Inilah hasil yang ia inginkan tanpa kegagalan sedikitpun.
" Kenapa kau tersenyum sendiri ? Kau masih waras kan ?" Gabriel menatap ngeri pada senyuman Hansen.
Hansen menoleh lalu memutar mata malas. Ini masih pagi tapi Gabriel terus saja membuatnya kesal. Dia tidak jauh beda dengan ayahnya yang seorang penghianat itu. Mereka sama sama menyebalkan dan juga menyusahkan.
" Dari pada kau tersenyum terus lebih baik kau keluar karena kita sudah sampai." ucap Gabriel.
Hansen melihat keluar mobil dan benar mereka sudah sampai di parkiran kantor. Hansen keluar dari mobil dan berjalan mengikuti Gabriel dengan ponsel yang masih ada di genggaman tangannya.
" Kali ini aku butuh semua divisi untuk membuat tema baru dan kau sebagai fotografer yang lebih pengalaman tentang pengambilan gambar harus ikut juga." pinta Gabriel.
Hansen menatapnya heran. " Tumben sekali, biasanya kau acuh dalam hal ini dan menyerahkannya pada Tera."
" Aku melihat perkembangan yang meningkat sedikit karena toko perhiasan baru. Semua orang lebih suka menghabiskan uang mereka untuk ke sana dibandingkan melihat majalah kita."
" Apa yang kau maksud itu toko perhiasan yang terbuat dari intan itu ?" tanya Hansen untuk memastikan.
" Ya dan kurasa toko itu akan menjadi perusahaan besar yang mampu menyaingi kita." jawab Gabriel.
" Kau tidak percaya diri ?"
Gabriel menggeleng pelan. " Aku selalu percaya pada diriku sendiri. Tapi peningkatan tidak hanya berpatok pada itu saja kan ?"
Hansen menepuk pundak Gabriel untuk memberikan semangat. " Kau pasti bisa teman. Kalau memang kita disaingi biarkan saja karena yang penting kita harus lebih berusaha lagi."
__ADS_1
" Aku tahu, terimakasih." balas Gabriel.