Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Gambar Yang Sama


__ADS_3

Gabriel, Hansen, dan Reina duduk berjajar di bangku taman. Tidak ada yang mengeluarkan suara ataupun menatap satu sama lain dan ini sudah terjadi sejak sejam yang lalu. Mereka memilih diam sambil melihat orang orang berlalu lalang di taman.


" Hah !" Gabriel menghela napas lalu bersandar di bangku taman. Setelah menghabiskan waktu tujuh jam mencari barang bukti dan ditahan di kantor polisi selama tiga jam membuat Gabriel ingin sekali menghancurkan Jenderal Jin itu.


Seharusnya setelah Gabriel, Hansen, dan Reina menyerahkan barang bukti yang mereka temukan, mereka diperbolehkan pulang. Tetapi mereka malah ditahan di kantor polisi selama tiga jam dengan alasan benda yang mereka temukan memang terbukti bukan milik perusahaan George.


Mengingat itu rasanya Gabriel ingin menarik rambut tebal Jenderal Jin dan memukul wajah wakil jenderal Klein dengan tangannya.


Hansen menatap lesu langit sore. Hari ini tubuhnya lelah sekali, Hansen jadi ingin rebahan di atas tempat tidurnya.


Reina memandang sekilas kearah Hansen lalu ikut menatap langit. " Bagaimana keadaan kantor polisi itu saat ini ya ?"


" Entahlah, yang pasti itu bukan hal yang bisa dikatakan baik." ucap Gabriel.


Hansen menghela napas lelah lalu bersandar di kursi taman dengan mata terpejam. " Aku lelah sekali." gumamnya.


" Aku juga. Hei Reina, apa kau tidak lelah ?" Gabriel menoleh melihat Reina yang menatapnya.


Reina mengangguk lalu kembali menatap langit.


" Hansen !"


Hansen, Gabriel, dan Reina menoleh melihat suara lembut yang sedang berteriak. Seorang gadis cantik berambut merah dan bermata hijau berlari pelan menghampiri mereka.


Hansen tersenyum sembari merentangkan tangannya menyambut gadis itu." Monic."


Gabriel berpindah tempat duduk di sebelah Reina yang tertegun menatap Hansen dan Monica.


" Urusanmu sudah selesai ?" Monica memeluk Hansen dari samping.


Hansen mengusap kepala Monica. " Belum, ada masalah di kantor polisi tadi."


Monica tersenyum dan sedikit memiringkan tubuhnya melihat Gabriel. " Halo bos."


Gabriel tersenyum ramah. " Hai monica."


Monica beralih melihat Reina yang masih terdiam lalu menatap Hansen. " Siapa gadis itu ?" tanyanya pelan.


" Dia Reina teman kecilnya Gabriel. Oh ya, Reina ini Monica." Hansen mengenalkan Monica pada Reina dan sebaliknya tanpa menyadari ekspresi berbeda dari Reina.


Monica tersenyum dan mengulurkan tangannya. " Hai Reina namaku Monica, salam kenal."

__ADS_1


" Reina." Reina membalas singkat.


" Senang bisa berkenalan denganmu Reina." ucap Monica.


" Jadi tidak ?" Hansen menatap Monica penuh tanya.


" Harus, kau sudah berjanji tadi." Monica mengerucutkan bibirnya.


Hansen terkekeh lalu mengusap gemas kepala Monica. " Baiklah, ayo kita pergi."


Monica tersenyum dan menggenggam tangan Hansen lalu menatap Gabriel dan Reina. " Bos kami permisi, Reina kami duluan ya."


Gabriel melambaikan tangannya. " Nikmati waktu kalian dan jangan ambil cuti besok."


Monica tertawa mendengar ucapan Gabriel. " Kau tenang saja bos, Hansen orang yang disiplin. Aku bisa mengandalkannya."


" Riel, Reina sampai jumpa lagi." ucap Hansen.


" Ya nikmati waktumu teman." Gabriel mengedipkan sebelah matanya kearah Hansen.


" Tentu saja." Hansen beranjak pergi bersama Monica meninggalkan Gabriel dan Reina.


Setelah melihat Hansen dan Monica tidak terlihat lagi di pandangannya. Senyum Gabriel hilang seketika lalu beralih menatap Reina yang meneteskan air mata.


" Aku mencintainya." Reina menatap Gabriel dengan sedih.


" Aku tahu." balas Gabriel.


...*****...


Di laboratorium Klein sibuk membongkar benda yang di temukan oleh Gabriel, Hansen, dan Reina bersama dua orang ilmuan.


" Bagaimana ?" tanya Klein.


" Wakil Jenderal kami belum pernah menemukan alat hebat seperti ini !" salah satu ilmuan itu bersorak senang karena menemukan hal baru.


Klein mengangguk setuju. Mereka telah mencoba benda yang ditemukan oleh Gabriel, Hansen, dan Reina sebagai barang bukti sementara. Tetapi siapa yang menyangka, benda itu jika direkatkan pada benda yang terbuat dari besi atau tembaga maka akan hidup layaknya robot melalui jaringan.


" Ada chip di dalamnya ! Wakil Jenderal mungkin ini bisa membantu anda."


" Sepertinya chip itu yang membuat benda kecil ini berfungsi."

__ADS_1


Klein menerima chip dari dua ilmuan itu lalu memandangnya dengan teliti. " Terima kasih sudah membantu."


Dua ilmuan itu tersenyum membalas Klein. " Kami melakukannya semampu kami Wakil Jenderal."


" Tapi..., sebelum itu. Bisakah aku meminjam mikroskop kalian ? Hanya sebentar saja." pinta Klein.


" Tentu Wakil Jenderal, tunggu sebentar." salah satu ilmuan itu berlari mengambil mikroskop berukuran sedang.


" Ini, anda harus membawanya berdiri seperti ini." lanjutnya.


" Baik." Klein hanya tersenyum tipis meskipun dalam hati cukup tersinggung. Hei ! Klein ini dulu juga pernah sekolah dan diajarkan menggunakan alat ini. Hanya saja Klein lebih suka bertarung dibandingkan mengamati benda mati.


Klein berjalan keluar laboratorium menuju ruangan Jenderal Jin. Untung saja di kantor tempatnya bekerja ini memiliki ruang laboratorium sendiri yang membuat Klein tidak harus pergi menggunakan kendaraan hanya karena meneliti satu benda kecil.


TOK ! TOK ! TOK !


Klein mengetuk pintu ruangan Jenderal Jin meminta izin. Meski dalam hati Klein ingin sekali cepat cepat menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera istirahat. Astaga, andai ini bukan demi negaranya Klein mungkin akan menjadi atlet saja.


" Masuk."


Klein membuka pintu lalu berjalan masuk menghampiri Jenderal Jin. " Jenderal kami sudah meneliti benda ini dan ternyata di dalamnya berisi sebuah chip. Menurut para ilmuan teknologi di seluruh negara Z mengaku tidak ada yang membuat benda ini. Saya juga telah memastikan benda ini bukanlah berasal dari perusahaan tuan George Jenderal."


" Benarkah ? Apa yang membuatmu bisa seyakin itu ?" tanya Jenderal Jin.


" Tuan George adalah pengusaha yang cukup berambisi dan sangat menyukai kesempurnaan. Jika benda ini memang dibuat oleh perusahaannya mengapa tidak langsung dipublikasikan saja ? Dibandingkan membuat masalah hingga menyebabkan kekacauan yang mungkin bisa menurunkan nama baiknya." jelas Klein.


Jenderal Jin memikirkan kembali sifat temannya itu. George adalah orang yang menyukai kesempurnaan dalam segala hal, sangat tidak masuk akal kalau temannya itu yang menyebabkan kekacauan ini.


" Jenderal saya menemukan sesuatu di chip ini !" seru Klein.


Jenderal Jin melihat Klein yang sedang memandang chip itu melalui mikroskop. " Apa ?"


" Saya melihat lambang orang memanah di chip ini. Gambarnya sama seperti yang ada di belati pembunuh tuan Samuel." ucap Klein.


" Apa ?!" Jenderal Jin meminta alih mikroskop itu dan melihatnya sendiri. Benar, seperti yang dikatakan Klein. Gambar di chip ini memang mirip seperti seperti gambar yang ada di belati milik pembunuh Samuel.


Mungkinkah ini orang yang sama ?.


" Jenderal !"


Jenderal terkejut dan menoleh kearah suara teriakkan yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


" Di dalam kantor polisi pusat telah terjadi peledakkan bom dan semua tahanan berhasil kabur tanpa jejak Jenderal !"


__ADS_2