Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Teman Kecil Hansen


__ADS_3

" Gabriel entah kenapa aku merasa sedang diawasi saat ini." Reina mengusap tengkuknya yang terbuka.


Gabriel yang mendengar itu sontak memandang setiap orang yang ada di ruangan pesta itu. Mana tahu ada yang mencurigakan dari mereka saat ini. Namun setelah ia memandang dengan teliti tidak satu orang pun yang menatap kearah Reina.


" Hanya dugaanmu saja mungkin. Tidak ada seorang pun yang memandang ke sini."


Reina menghela napas lemah dan berusaha menghiraukan rasa tidak nyamannya. " Yah mungkin karena gaun sedikit terbuka malam ini."


Gabriel meliriknya dan mendapati bagian punggung pada gaun Reina yang terbuka cukup lebar. " Mangkanya berpikirlah dulu sebelum kau memakainya."


Gabriel membuka jasnya lalu berjalan ke belakang Reina dan menyelimuti punggung terbuka itu dengan jasnya.


Reina tersenyum memandang Gabriel. " Terima kasih."


" Sama sama." Gabriel mengusap lembut kepala Reina.


" Ehem ! Selamat malam tuan dan nona."


Suara sapaan itu mengalihkan perhatian Gabriel dan Reina yang saling memandang. Mereka menoleh melihat si pemilik sapaan itu.


" Hai, bisa aku bergabung ?" Bellatrix tersenyum ramah tanpa tahu malu karena telah mengganggu.


Gabriel menyambutnya dengan senyuman tak kalah ramah saat mengetahui orang yang menyapa mereka adalah si dokter jenius di negaranya. " Silahkan dokter."


" Apa aku menganggu kalian ?" tanya Bellatrix sembari memandang Gabriel dan Reina bergantian. Ia ingin melihat ekspresi mereka karena terlihat begitu mesra. Apa Hansen tahu tentang kelakuan teman dan juga calon kekasihnya ini ?.


Bellatrix menatap Reina penuh arti. Oh nawar merah sepertinya kau salah memilih kumbang. Kasihan sekali jika kumbang itu tahu tentang ini.


" Tidak sama sekali tuan. Silahkan bergabung jika anda tidak keberatan." ucap Reina dengan senyum sopan.


" Maaf nona, jika bisa tolong panggil saja saya Alltrix dan begitu juga dengan anda tuan..." Bellatrix berpura pura menatap Gabriel bingung.


" Gabriel dokter, nama saya Gabriel George." ucap Gabriel.


" Ah ya tuan Gabriel. Panggil saja saya Bellatrix atau Alltrix." setelah itu Bellatrix memandang Reina.

__ADS_1


" Nama saya Reina dokter Alltrix." ucap Reina.


" Nona tolong panggil Alltrix saja." pinta Bellatrix sekali lagi.


Reina tersenyum dan mengangguk sekilas. " Kalau begitu tolong juga jangan panggil saya nona. Cukup Reina saja begitu juga dengan Gabriel, iya kan Riel ?"


Gabriel tersenyum mengusap kepala Reina. " Benar, saya akan memanggil anda Alltrix dan anda memanggil saya Gabriel."


" Hm..., baiklah Reina dan Gabriel." Bellatrix sebisa mungkin menahan diri agar tidak mencaci dua orang di depannya.


Hansen memang bodoh atau sudah tidak berarti lagi insting tajamnya itu. Apa dia tidak bisa melihat kemesraan yang dilakukan Gabriel dan Reina. Tidak mungkin juga kalau dia tidak bisa melihatnya. Atau Hansen memang ingin menjadi salah satu harem si pengacara itu.


" Alltrix aku mendengar cerita tentangmu dari ayahku. Aku cukup terkagum dengan kemampuan itu." Gabriel tersenyum karena berhasil membuka topik baru dengan dokter jenius di sebelahnya ini.


Bellatrix hanya menanggapi dengan tenang pujian itu seakan ia sudah biasa mendapatkan. Namun sebuah senyum miring terlihat samar di wajahnya. " Anda mengenal Hansen bukan ?"


" Hansen ?" Gabriel mengerutkan keningnya dan menatap Bellatrix penuh tanya.


Bellatrix mengangguk sekilas. " Ya Hansen, Hansenal si fotografi terkenal yang berasal dari panti asuhan."


" Gabriel seharusnya kau tahu aku karena kau teman Hansen."


" Siapa kau sebenarnya ?" tanya Gabriel.


.


...*****...


.


" Bukankah kau seharusnya sudah mengetahuinya ?" Bellatrix bertanya dengan main main.


Gabriel mengatur napasnya agar tidak tersulut emosi. Bagaimanapun juga Bellatrix bukanlah orang yang bisa ia sentuh begitu saja. " Tolong beritahu aku siapa kau dan apa hubunganmu dengan Hansen."


" Aku Bellatrix, kau seharusnya sudah tahu. Karena kau yang membuat Hansen melupakanku." ucap Bellatrix tanpa berniat ingin menjelaskan lebih lanjut. Biarkan saja Gabriel mencari tahunya sendiri.

__ADS_1


Gabriel terdiam mencoba mengingat kenangan masa lalu. Sampai akhirnya sebuah ucapan terbesit dipikirannya begitu saja. Ucapan yang Hansen katakan ketika mereka berkemah di bawah langit penuh bintang yang diadakan oleh sekolah dasar mereka dulu.


" Aku memiliki dua orang teman. Kami juga tidur di kamar yang sama seperti ini. Tapi mereka sudah pergi dari panti asuhan karena ada yang ingin mengangkat mereka sebagai keluarga. Aku berharap aku bisa bertemu mereka lagi saat kami besar nanti."


Ingatan itu membuat Gabriel mengerti. Jadi itu alasan mengapa Bellatrix menyapanya tiba tiba. " Kau..., teman kecil Hansen saat di panti asuhan yang katanya kalian sering berbagi kamar bersama ?"


" Ya dan itu jauh sebelum kau datang menjadi teman barunya. Kau pasti sudah pernah mendengar kalau kami memiliki kemampuan yang dapat menarik minat banyak orang. Sayang sekali dulu Hansen sering disembunyikan oleh ibu panti. Kalau tidak mungkin kau tidak akan berteman dengannya." jelas Bellatrix.


Gabriel mulai paham sekarang. Tapi seingatnya Hansen pernah bilang temannya itu ada dua orang. Berarti selain Bellatrix ada satu orang lagi yang menjadi teman masa kecil Hansen.


" Hansen pernah bilang kalau dia memiliki dua orang teman. Setelah kau lalu siapa lagi ?"


" Kau pasti tidak akan menyangka ini." ucap Bellatrix.


Gabriel masih menatap Bellatrix dengan pandangan menuntut. Hingga membuat pria itu tertawa geli melihatnya.


" Dia yang ada di sana. Tepat di sebelah Presiden Galiendro." Bellatrix menunjuk Mintaka yang berdiri di depan panggung.


Galiendro dan Reina menoleh mengikuti arah yang ditunjukkan Bellatrix. Mereka saling memandang lalu mengangguk.


" Jadi sekarang apa yang kau inginkan ? Tidak mungkin kau datang kepada kami dan tiba tiba mengungkit pertemananmu dengan Hansen begitu saja." ucap Reina.


Bellatrix tersenyum mendengarnya. Sesuai kriteria Hansen tentang gadis pilihannya yang memiliki kecerdasan dan juga pemikiran tajam. " Aku ingin bertemu dengannya karena aku tidak tahu dimana dia berada sekarang."


" Setelah itu ?" tanya Gabriel. Ada rasa enggan dihatinya saat melihat Bellatrix yang ingin menemui Hansen. Jika saja disuruh memilih siapa yang akan Hansen pilih antara dirinya atau teman masa kecilnya.


Siapa yang akan Hansen pilih ?.


Maaf saja tetapi Gabriel hanya memiliki Hansen sebagai teman berharganya setelah Reina. Karena berteman dengan Hansen Gabriel tidak memiliki batasan. Berbeda dengan Reina karena mau bagaimanapun mereka masih memiliki batasan akibat genre mereka yang berbeda.


Baginya Hansen itu sudah seperti saudara lelakinya, temannya, dan yang terakhir orang kepercayaannya. Gabriel sangat membutuhkan Hansen dikehidupannya yang buruk ini.


Jadi kalau memang bisa. Gabriel mohon Hansen harus terus memilihnya dibandingkan apapun yang ada di dunia ini kecuali calon istrinya nanti.


" Mungkin kami akan berkumpul seperti dulu lagi. Bagaimana ? Kau mau membantuku bukan ?" Bellatrix pura pura menatap Gabriel penuh harap.

__ADS_1


" Baiklah." jawab Gabriel dengan terpaksa.


__ADS_2