Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Hai Ular !


__ADS_3

Kreek !


Hansen membuka pintu kamar Gabriel perlahan. Terlihat Gabriel yang tengah tertidur nyenyak di atas ranjang. Hansen berjalan masuk ke dalam kamar dan berdiri di sebelah ranjang. Memandang wajah Gabriel dari samping.


Kemudian Hansen berbalik pergi keluar dari kamar itu dan menutup rapat pintunya. Ia berjalan ke ruang tamu lalu menekan saklar lampu untuk mematikan lampu. Setelah itu barulah Hansen keluar dari Apartemennya.


Di taman luas belakang rumah tempat dimana Rasi Bintang biasa berkumpul. Bellatrix tersenyum miring menatap sepuluh orang berbadan hitam dan bertubuh tinggi dengan tato ular di bagian leher mereka.


Mintaka yang di sebelahnya memandang sekilas sepuluh orang itu lalu kembali fokus pada layar tabletnya. Sedangkan Rigel dan Saiph hanya duduk bersandar dengan pikiran menebak nebak apa yang akan Orion lakukan kepada mereka.


" Tuan tolong ampuni kami. Kami benar benar tidak mengenal kalian." ucap salah satu pria bertato ular itu.


" Oh ya ?" tanya Bellatrix. Ia menoleh memandang Mintaka di sebelahnya. " Apa kita belum terkenal sampai mereka tidak tahu siapa kita ?" sambungnya bertanya.


Saiph dan Rigel tertawa mendengarnya. Ada saja topik pembicaraan Bellatrix ini. Dia selalu saja bisa mencairkan suasana dalam keadaan apapun. Bahkan pertanyaan tak penting pun bisa menjadi topik pembahasan.


" Bukan kita belum terkenal. Tapi wajahmu saja yang pasaran." jawab Mintaka tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar tabletnya.


" Pasaran berarti banyak yang memilikinya. Berarti itu bisa dikatakan terkenal. Dibandingkan kau yang hanya seorang mata mata. Orang bahkan tidak tahu wajahmu karena pekerjaanmu itu." Bellatrix memandang Mintaka kesal. Di sini ia bertanya serius dia malah menjawab dengan jawaban yang membuatnya kesal.


" Dia benar juga." gumam Saiph.


Mintaka terdiam karena enggan mendengarkan lagi. Kalau terus dibalas yang ada mereka akan bertengkar akhirnya.


" Tuan tolong ampunilah kami !"


" Heh ! Kenapa kau berteriak ?!" Bellatrix menatap tajam salah satu orang dari sepuluh pria berbadan tinggi dan juga hitam yang menjadi tahanannya saat ini.


" Tuan tolong ampuni kami." kali ini pria itu tidak berteriak dan memelankan masa suaranya.


Tetapi Bellatrix malah mengerutkan keningnya bingung. " Suaramu kenapa lemas seperti itu ? Tadi kau berteriak kencang sekarang malah lemas. Kau kelaparan atau kehabisan tenaga ?"


" Dasar bodoh." Rigel mengumpat pelan melihat tingkah Bellatrix yang menurutnya seperti orang bodoh.


Saiph menepuk keningnya melihat kebodohan Bellatrix. Bukannya tadi dia yang bertanya kepada tahanan mereka karena berani berteriak. Setelah tahanan itu memelankan nada suaranya kenapa Bellatrix malah bertanya dengan pertanyaan bodoh seperti itu.

__ADS_1


" Kalian sudah bermain ?"


Bellatrix, Mintaka, Saiph, dan juga Rigel menoleh menatap arah asal dari suara yang bertanya itu.


" Hansen ?" Mintaka bertanya bingung. Tumben sekali ketuanya itu berpenampilan seperti tuan besar. Biasanya dia akan berpenampilan layaknya dirinya sendiri.


Hansen tersenyum hingga menampilkan sepasang lesung pipinya yang manis. Ia menatap sekilas pada Mintaka lalu berjalan mendekati sepuluh para tahanan itu.


Sudah dekat, Hansen memandang mereka ramah sebelum menarik kulit wajahnya hingga menampilkan wajah aslinya.


" Pemburu !" sontak sepuluh tahanan itu berteriak ketakutan melihat wajah asli Hansen. Benar kata ketua mereka kalau apa yang telah mereka lakukan adalah kesalahan besar.


" Ka...kau Sang Pemburu ?!" ucap salah satu dari sepuluh tahanan itu. Matanya terbelalak menatap tak percaya pada wajah tampan yang tengah menyeringai memandang mereka.


" Hai..., ular."


.


...*****...


.


" Ular ular berkulit hitam. Bertubuh besar dan juga tinggi yang pasti daging kalian juga banyak sekali. Pasti cukup untuk mengganjal perut orang orang yang kelaparan di pinggir jalan kota ini." Orion menatap satu persatu tahanan yang sudah menjadi buruannya kali ini.


Andai saja ia tidak sedang masa mengintimidasi saat ini. Mungkin Orion sudah tertawa kencang melihat wajah ketakutan dari anak buah kelompok ular itu.


" Pe..pemburu a..ampuni kami. Ka..kami tidak tahu ka..kalau itu anda." salah satu dari sepuluh orang itu memohon belas kasihan.


Orion mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya. " Benarkah ? Bukankah ketua kalian sudah mewanti wanti anak buahnya agar tidak menganggu pria yang terkenal akan ketampanannya di negara ini ?'


" Pemburu ampuni kami !" sepuluh orang tahanan itu berucap bersamaan memohon ampunan dari sang pemburu.


" Kalian sudah mematahkan beberapa tulangku." Orion berucap dingin dengan wajah berubah datar tanpa ekspresi. Matanya menyorot tajam penuh kekejaman. Dia adalah Sang Pemburu, ular seperti mereka berani sekali menyentuh tubuhnya dan melukainya.


Orion benci dikalahkan dan mereka berani memukulnya tanpa ia dapat membalas sedikitpun karena misinya. Bukan hanya itu, ketua bodoh mereka juga berani sekali melalaikan tugasnya yang jelas sudah jauh hari ia beri peringatan. Jangan berani mengusiknya disaat dirinya sedang menjadi Hansen. Atau mereka akan Orion buru sampai hancur saat ia berubah kembali menjadi jati dirinya.

__ADS_1


" Pemburu !" tahu karena tidak ada pertolongan. Sepuluh orang tahanan itu menangis dengan wajah menyedihkan. Hal itu sangat berbanding terbalik dengan wajah dan juga bentuk tubuh mereka.


Rigel, Bellatrix, Saiph, dan juga Mintaka saling berbalik arah menahan tawa. Mereka tidak menyangka kalau sepuluh tahanan itu bermental rendah hingga mengabaikan harga diri mereka sebagai seorang pria. Mana ada pembunuh bayaran yang menangis seperti wanita saat dalam keadaan terdesak seperti itu.


Seandainya mereka dalam posisi itu. Rigel, Bellatrix, Saiph, dan Mintaka akan lebih memilih membunuh diri mereka sendiri. Dari pada memohon belas kasihan dari lawan mereka nanti.


" Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi !" di tengah tangisan mereka, sepuluh orang tahanan itu masih sempat membuat janji.


Orion menghela napas lelah. Telinganya menjadi kebas mendengar tangisan kencang para ular itu. Padahal ia belum membalas mereka tetapi mereka sudah merengek ketakutan duluan seperti ini.


" Pemburu tolong ingatlah kenangan tentang kami !"


" Pemburu kita sering bertemu dulu !"


" Pemburu tolong ampunilah kami dengan mengingat masa lalu !"


" Pemburu kami yang merawat anda saat berada di pelatihan dulu !"


Suara suara itu membuat Orion berdecak kesal. Mereka pintar sekali mencari jalan untuk lolos dari buruannya.


" Pemburu tolong pertimbangkan lagi !"


" Pemburu !"


" Pemburu kali ini saja tolong ampunilah kami !"


" Ya tolong ampunilah kami !"


" Huhuhu ! Kami janji tidak akan mengulanginya lagi !"


Rigel, Bellatrix, Saiph, dan Mintaka memandang sepuluh tahanan itu lalu berbalik menatap Orion dengan pandangan bingung.


Mereka saling kenal ?.


" Pemburu tolong ampunilah kami !"

__ADS_1


" Pembu..."


" Diam !" Orion berteriak marah.


__ADS_2