
PLAK !
Zairan mendesis kesakitan karena berusaha memukul nyamuk yang menggigiti tangannya. Ini sudah yang berkali kali tubuhnya digigiti nyamuk.
PLAK !
Kini pipi kanannya yang menjadi sasaran tangannya sendiri. Zairan menahan kesal karena harus berdiri diam dan pasrah menjadi sasaran nyamuk. Diliriknya Orion yang berdiri diam di sampingnya. Tidak terganggu sama sekali dan masih santai. Bahkan Zairan bisa melihat tidak ada nyamuk yang menggigiti kulitnya.
" Kenapa aku digigiti nyamuk sedangkan kau tidak ?" tanya Zairan.
Orion menatapnya malas. " Karena kau banyak dosa."
" Hell ! Kau perlu berkaca." Zairan berseru kesal. Matanya melotot kesal dengan wajah yang memerah.
Orion yang melihatnya hanya berdecak menahan kesal. Susah sekali berbicara dengan orang tua yang terlalu terbawa perasaan ini.
" Aku sudah berkaca lebh dari seratus kali sehari. Tapi dimataku aku masih tetap yang tertampan di dunia ini." balasnya dengan penuh percaya diri.
Mata Zairan semakin melebar mendengarnya. Tangannya bersiap melayangkan tamparan kencang ke wajah Orion. Namun sayang sekali niatnya itu harus langsung diurungkan karena tatapan tajam Orion yang menatapnya layaknya predator.
" Ah hahaha, aku melihat nyamuk di pipimu tadi." Zairan memindahkan tangannya menjadi mengusap rambut belakangnya. Bisa habis ia sebelum bertindak kalau saja Orion menargetkannya menjadi buruan baru. Memang dia tidak lebih hebat darinya tapi kelicikan Orion tidak ada yang bisa menandinginya.
Lagipula Zairan masih membutuhkannya sebagai batu loncatan untuk balas dendamnya.
" Darahku mengandung racun. Nyamuk akan mati kalau menghisapnya. Karena itu aku tidak pernah digigiti nyamuk atau hewan kecil lainnya walau bertelanjang sekalipun." jelas Orion.
Zairan mengangguk paham sekarang. Pantas saja dia bisa santai tanpa terganggu sedikitpun. Itu karena darahnya mengandung racun ternyata.
Tunggu, racun !.
Mata Zairan terbelalak seketika saat baru menyadari ada racun di dalam darah Orion. Racun, racun yang memiliki arti zat berbahaya yang dapat membunuh makhluk hidup.
" Racun ? Di dalam darahmu ?!"
Orion menjawab dengan anggukan kepalanya.
" Oh astaga !" Zairan memandangi tubuh Orion dari ujung kaki sampai kepala lalu menatap wajahnya.
" Darahmu mengandung racun dan kau masih bisa hidup ?" lanjutnya bertanya.
" Ya apa salahnya ? Semua menantu Frendick dan keturun Frendick yang berjenis wanita harus tahan terhadap racun. Itu sudah menjadi peraturan turun temurun agar dapat mengandung penerus yang hebat. Termasuk ibuku yang menjadi menantu di Frendick. Karena itulah darahku mengandung racun dan bisa bertahan sampai sekarang." ucap Orion.
Zairan terperangah mendengarnya. Kenapa bangsawan Frendick lebih menyeramkan dibandingkan dengannya yang berasal dari keluarga dunia bawah. Bukankah seharusnya keseraman bangsawan Frendick yang harusnya dimiliki oleh keluarganya. Ini kenapa terdengar seperti terbalik ?.
__ADS_1
Bahkan ayahnya dan ibunya dulu sangat menyayanginya dan memanjakannya. Zairan hanya perlu bertarung dan terus berlatih lalu menyelesaikan misi misi kecil dari ayahnya sebagai pembelajaran.
" Sudahlah, aku ingin menyapa buruanku. Kau tunggu yang lainnya dan baru menyusul." Orion beranjak pergi dan berjalan kearah deretan mobil mobil mewah yang berjajar rapi di depan gedung pesta Galiendro.
Saatnya menyapa buruannya yang telah puas menghadiri pesta terakhirnya itu. Orion menekan Earpiece yang terpasang di telinga kirinya.
" Bintang kedua."
" Acara sudah selesai dan sesuai rencana."
Sebuah jawaban yang berasal dari Earpiecenya membuat Orion mengeluarkan seringaian kejamnya.
.
...*****...
.
" Kau tidak keberatan mengantarku Alltrix ?"
Bellatrix tersenyum memandang Dekandra di sebelahnya. " Tidak tuan."
Dekandra mengangguk sekilas. " Terima kasih kalau begitu."
Diam diam ia tersenyum miring. Seharusnya dirinyalah yang berterima kasih karena kebodohan Dekandra pekerjaannya menjadi berjalan dengan mudah.
" Aku sangat kagum dengan kemampuanmu Alltrix. Kau masih muda namun memiliki kemampuan yang luar biasa." puji Dekandra.
Bellatrix tersenyum mendengar pujian itu. " Saya hebat karena saya memiliki guru yang hebat pula tuan."
" Wah, benarkah ? Siapa gurumu itu ?" Dekandra terlihat antusias mendengar Bellatrix menyebutkan kata guru barusan.
" Anda mau bertemu dengannya ?"
" Apa bisa ?"
Bellatrix mengangguk dan melirik sebuah gerakan di belakang kursi Dekandra. " Tentu saja."
" Diman..., Akh !"
Tiba tiba dua tangan terulur dari belakang Dekandra lalu mencekiknya dengan sebuah tali tipis yang dapat menembus kulit.
" Di sini Dokter dan..., senang bertemu denganmu." Orion menyeringai dan berbisik pelan di telinga Dekandra.
__ADS_1
" Akh !" tangan Dekandra terulur meminta bantuan Bellatrix. Namun pria itu malah tersenyum miring menatapnya.
" Selamat anda sudah bertemu dengan guru saya tuan." ucap Bellatrix.
Dekandra membelalakkan matanya untuk berusaha melihat orang yang sudah mengingat lehernya dengan tali tipis ini.
" Hai penghianat." Orion menyapa Dekandra yang menjadi ketakutan setelah melihatnya.
Bellatrix menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Beruntung sekali ini sudah larut malam hingga jarang mengemudi yang melawati jalan ini.
" Aaakh.. akh !" Dekandra terlihat kesulitan mengeluarkan suaranya.
" Suut..! Dokter jangan keluarkan suaramu. Cukup nikmati saja." ucap Orion.
Dekandra berusaha memberontak untuk melepaskan tali di lehernya. Namun bukannya terlepas tali itu malah semakin menembus ke dalam kulitnya.
" Dia penurut." komentar Bellatrix yang hanya diam melihat apa yang dilakukan Orion.
Orion menatapnya kesal. " Kau tidak lihat kalau dia seperti cacing kepanasan begini ?"
" Aaak.. ahk !" Dekandra menangis menahan sakit yang begitu menyiksa di lehernya.
" Hei, sambil menunggu bagaimana kalau kita mengenang masa lalu guru." ucap Orion.
Bellatrix langsung menatap Orion. " Dia gurumu ?"
" Ya sebelum dia menjadi penghianat." Orion mengencangkan tali yang mencekik leher Dekandra hingga semakin mengeluarkan banyak darah.
" Aahk.., akh !"
" Melihat rambutmu yang hampir memutih membuatku sadar kau sudah tua. Jadi biarkan aku yang bercerita dan kau yang mendengarkan ya." Orion menggenggam tali tipis itu dengan satu tangan dan sebelah tangannya yang lain ia gunakan untuk menurunkan kursi Dekandra.
Dari situlah Dekandra melihat jelas wajah Orion beserta tahi lalat di bawah matanya kirinya. Ia tidak akan pernah bisa melupakan pemilik tahi lalat itu. Karena Dekandra sendirilah yang pertama kali menggendongnya saat dia dilahirkan.
" Bagaimana dokter ?" tanya seorang pria dewasa yang memiliki wajah persis seperti Orion.
" Selamat tuan Hansen, anda memiliki penerus." Dekandra tersenyum sembari menyerahkan bayi berjenis laki laki yang ada di gendongannya.
Hansen tersenyum bangga dan menatap anaknya terharu. Wajahnya sangat mirip dengannya. Hanya saja tahi lalat di bawah mata kiri anaknya yang membedakan mereka.
" Saatnya anda memberikan nama sebagai tanda pengumuman telah lahirnya tuan muda, tuanku." ucap Dekandra.
Hansen membawa anaknya ke balkon kamar. Seketika sorakan dari orang orang yang menunggu kelahiran anaknya menggema keseluruh penjuru.
__ADS_1
" Seluruh rakyat negara Nararedra. Kuperkenalkan penerusku Orion Harsenal Frendick. Sang pemburu kejahatan dan perisai terkuat negara kita . Putraku Orion, rasi bintang terkenal di langit malam."