
" Dekandra !" Galiendro merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan salah satu temannya itu.
" Galiendro." Dekandra memeluk erat tubuh Galiendro lalu melepaskannya.
" Kau terlihat sehat kembali Dekandra." ucap Jenderal Jin datang mendekat dengan segelas wine di tangannya.
Dekandra mengangguk menatap Jenderal Jin. " Aku bersyukur untuk itu."
George menepuk pundak Dekandra. " Jangan sampai kau gila lagi. Kami tidak akan bisa menyembuhkanmu. Beruntung kali ini kami bisa menemukan orang yang tepat untuk masalahmu itu. "
Dekandra tertawa lalu menoleh menatap Bellatrix yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka. " Alltrix ayo kenalkan dirimu kepada teman temanku."
Bellatrix sedikit membungkukkan tumbuhnya sebagai tanda kesopanannya sebelum menjawab. " Maaf tuan tetapi saya sudah mengenal tuan Presiden, sang Jenderal, dan tuan George kemarin."
" Ah iya ya ? Kenapa aku bisa melupakan kalau kau pasti sudah mengenal mereka." Dekandra tersenyum menyadari kebodohannya. Bellatrix dokter yang merawatnya selama ini. Tentu saja Galiendro, Jenderal Jin, dan George sudah mengenalnya.
Bellatrix tersenyum menanggapi perkataan Dekandra. Andai saja saat ini ia sedang berada bersama teman temannya. Mungkin sekarang dirinya sudah menyebutkan setiap nama binatang menjijikkan yang mirip dengan Dekandra. Bahkan sampah pun masih lebih bagus dari dia.
Bellatrix terus menggerutu dibalik senyuman dan juga wajah ramahnya yang ditampilkannya sejak tadi. Berpura pura mendengarkan obrolan yang Galiendro, Jenderal Jin, George, dan Dekandra bicarakan. Padahal dalam hati ia sedang mengumpati mereka satu persatu.
" Dia memang mengagumkan. Masih muda dengan bakat yang hebat." Galiendro memuji kehebatan Bellatrix dalam menyembuhkan penyakit Dekandra yang bahkan para profesor terjenius di negara ini tidak mampu menyembuhkannya.
Dekandra terlihat bangga dan juga memandang Bellatrix penuh minat. Bakat seperti itu tidak boleh disia siakan. Apalagi mereka memiliki bakat yang sama dibidang kesehatan. Membuatnya ingin menjadikan Bellatrix sebagai anak angkatnya atau muridnya.
" Dan.., Alltrix bagaimana pestanya. Apa kau menyukainya ?" tanya Galiendro.
" Saya sangat menyukainya tuan Presiden. Sangat mewah dan mengesankan membuat siapapun merasa sedang berada di negeri dongeng. Selera anda benar benar mengagumkan tuan Presiden." jawab Bellatrix.
" Kau pintar memuji ternyata." Jenderal Jin terkekeh dan ikut berbicara.
Bukan hanya memuji, ia bahkan ahli dalam membuat mumi. Bellatrix diam diam tersenyum miring melihat betapa bodohnya para penghianat ini. Andai saja Orion tidak menginginkan mereka mungkin Bellatrix akan membuat mereka mumi di ruang prakteknya.
__ADS_1
" Terima kasih tuan." Bellatrix tersenyum ramah menanggapi.
" Ah iya, aku juga punya seseorang yang tidak kalah jeniusnya dari dokter muda ini. Yah, meskipun mereka berada dalam bidang yang berbeda." ucap Galiendro.
Jenderal Jin menatap Galiendro penasaran. " Bidang yang berbeda seperti apa ?"
Galiendro hanya tersenyum misterius tanpa berniat memberitahu. Bisa bisa Jenderal Jin meminta anak itu untuk darinya. Ia akan memberitahu saat orang yang dimaksud Galiendro tiba di pesta ini.
" Ayolah Galiendro beritahu saja. Kau tidak perlu tersenyum misterius seperti itu." pinta Dekandra.
" Kau pelit sekarang sampai main rahasia dengan kami." ucap George.
Melihat teman temannya yang menatapnya tak terima Galiendro menjadi tertawa. " Baiklah baiklah, tunggu sebentar. Dia sedang berada diperjalanan. Tadi aku menyuruhnya mengerjakan sesuatu yang membuatnya datang terlambat kemari."
Bellatrix menjadi tertarik dengan orang yang dibahas Galiendro saat ini. Siapa orang itu ? Apa itu musuh baru atau hanya sekedar orang biasa saja ?.
.
...*****...
.
Sebuah suara datang membuat atensi Bellatrix, George, Dekandra, dan Jenderal Jin beralih dan menoleh. Begitu pula dengan Galiendro, namun bedanya ia sudah mengetahui siapa pemilik suara itu.
" Kau datang sebelum pesta ini dimulai Mintaka." ucap Galiendro.
Dalam diamnya Bellatrix terkejut melihat kedatangan Mintaka di pesta ini. Melihat temannya itu dekat dengan Galiendro membuat Bellatrix bertanya tanya kapan Mintaka bertindak.
Mintaka tersenyum menatap balik Bellatrix. Senang sekali rasanya melihat sekilas keterkejutan di manik mata Bellatrix. Memangnya dia saja yang bisa maju cepat. Mintaka pun juga bisa kalau begitu.
" Dia orang baru saja kuceritakan." ucap Galiendro.
__ADS_1
Jenderal Jin memandang Mintaka dari wajah turun ke kaki dan kembali lagi ke wajah. Dilihatnya penampilan Mintaka yang begitu sederhana dan jauh berbeda dengan Bellatrix yang rapih dan terpelajar.
" Apa kehebatannya ?"
Galiendro tersenyum sebelum menjawab. " Hacker."
Jenderal Jin, George, dan Dekandra terkejut mendengarnya. Hacker sangat jarang ada di negara mereka dan Galiendro bisa menemukan satu itu sudah luar biasa. Jenderal Jin bergegas maju mendekati Mintaka.
Melihat itu Galiendro memasang wajah waspada. Jangan sampai Mintaka jatuh ke tangan Jenderal Jin. Bagaimana pun juga kemampuan Mintaka sangat berguna bagi mereka dan termasuk kemampuan yang langka.
" Jangan coba coba mengambilnya Jin. Dia sudah menjadi orangku."
Jenderal Jin berdecak kesal. " Kau ingin menguasainya sendiri ?"
" Tentu saja." jawab Galiendro.
Tatapan Jenderal Jin menajam mendengar itu. " Dia yang dibutuhkan negara kita Galiendro."
" Aku tahu, tapi dia sudah menjadi orangku. Kalau kau menginginkannya kau bisa meminjamkannya dariku." Galiendro berucap tak mau kalah. Tentu saja, ia yang menemukannya dan Jenderal Jin yang ingin mendapatkannya. Jelas Galiendro tidak akan pernah mau menyerahkan Mintaka kepada siapapun.
Dekandra dan George saling memandang dan menghiraukan perdebatan Galiendro dengan Jenderal Jin. Biarkan saja mereka merebutkan satu orang yang berkemampuan Hacker itu. George tidak terlalu membutuhkannya. Sedangkan Dekandra sudah memiliki Bellatrix yang akan menjadi orangnya.
Tanpa Jenderal Jin, Galiendro, Dekandra, dan George ketahui. Bellatrix memutar mata bosan mendengar mereka membahas Mintaka. Andai mereka tahu Mintaka lebih dari pada yang mereka pikirkan. Bellatrix yakin Mintaka akan dikurung di dalam ruang kaca seperti barang antik di Museum.
Mintaka menaik turunkan kedua alisnya menatap Bellatrix dengan tersenyum jahil. Bellatrix yang melihatnya mendelik geram. Apa apaan senyuman itu, ia bahkan bisa lebih tinggi dari Mintaka saat ini.
" Dia lebih cocok masuk ke dalam militer. Kami membutuhkan orang seperti dia." Jenderal Jin masih tidak ingin mengalah.
Galiendro menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak setuju. " Dia kesayanganku Jin. Biarkan dia menjadi anak angkatku. Kau sudah memiliki keturunan begitu pula dengan George."
Mendengar Galiendro membahas keturunan Dekandra menjadi tertarik. Benar juga apa yang Galiendro ucapkan. Di sini hanya mereka berdua yang tidak memiliki keturunan. Sedangkan Jenderal Jin dan George sudah memilikinya. Dekandra memandang Bellatrix penuh arti. Tidak ada salahnya ia memiliki si jenius ini. Lagi pula mereka berada dibidang yang sama.
__ADS_1
Jenderal Jin berdecak kesal lalu beralih memandang Bellatrix. Namun Dekandra segera beranjak berdiri di depan Bellatrix untuk menghalangi pandangan Jenderal Jin.
Hal itu membuat Jenderal Jin semakin kesal. Kenapa kedua temannya menjadi seperti ini hanya karena dua bibit jenius yang tanpa sengaja ditemukan oleh mereka ?.