
Gabriel menghabiskan makanannya dengan cepat. Malas sekali melihat seseorang yang tidak tahu malu karena makan masih disuapin di depannya ini. Sudah bermesraan tidak tahu tempat. Merusak mata dan juga pandangannya lagi. Benar benar membuatnya kesal saja.
TRAK !
Gabriel menghentakkan sendok bekas makannya ke atas meja. Lalu setelah itu ia mengambil minuman dingin dan meneguknya sampai habis. Pandangannya masih memandang Hansen tanpa mengedipkan matanya sedikitpun.
" Rein lihatlah, sepertinya ada yang iri tapi aku tidak tahu siapa orangnya. " ucap Hansen.
Reina tersenyum dan meletakkan piring kosong bekas makan Hansen ke atas meja. Ia melirik wajah Gabriel yang merenggut dan memandang sinis kearah Hansen. Bukankah mereka seperti anjing dan kucing ? Tentu saja Hansen yang menjadi kucingnya. Kucing yang lucu dan juga menggemaskan. Reina heran kenapa mereka bisa berteman. Padahal setiap kali jumpa mereka selalu saja bertengkar seperti sekarang ini.
" Minum." pinta Hansen.
Reina membukakan minuman dingin untuk Hansen. " Kau mau nambah lagi ?"
" Tidak aku sudah kenyang. Sangat malahan, kenyang makan dan juga kenyang dapat lirikan tajam." jawab Hansen.
Gabriel berdecak mendengarnya lalu beranjak membereskan bekas makanan mereka. Mengesalkan sekali pria itu, sudah sakit tapi dia masih bisa membuat orang kesal.
" Dia yang mengurusmu Hans. Kau tidak kasihan membuatnya kesal terus ?" tanya Reina setelah Gabriel masuk ke dalam dapur.
Bukannya iba Hansen malah tertawa mendengarnya. Kesenangannya adalah membuat Gabriel kesal. Itu sudah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat lagi. " Inilah cara kami berteman Rein. Kau kan tahu kami ini bagaimana ?"
Reina mengangguk dan tidak berbicara lagi karena Gabriel yang sudah kembali ke ruang tamu. Kali ini wajah pria itu sudah lebih baik dibandingkan tadi saat menahan kesal.
" Kau tidak makan Rein ?" tanya Gabriel.
" Sudah tadi di rumah."
Gabriel menatap Hansen yang malah asik sendiri dengan minuman dinginnya. " Kau masih mau dengan monyet itu ?"
" Ya, diakan monyet yang tampan." Reina menjawab tanpa rasa malu.
Hansen tersenyum bangga. " Kau dengar Riel ? Reina bilang aku monyet yang tampan."
__ADS_1
Gabriel menepuk keningnya melihat kebodohan yang dibuat kedua temannya. Yang satu menyebalkan dan yang satunya lagi hilang akal karena cinta. Disatukan memang terlihat cocok untuk membuat orang kesal hingga kepalang.
" Dia terlihat bahagia Rein." ucap Hansen yang melihat wajah kesal Gabriel.
" Bukan, lebih tepatnya dia sedang berbunga bunga." Reina menahan tawa agar tidak kelewatan. Hansen memang pintar membuat darah tinggi Gabriel naik seketika.
Sekarang Gabriel sudah tidak tahan lagi kalau seperti ini ceritanya.
BRAK !
" Berbunga bunga apa hah ?! Bunga bangkai ?! Kalian kenapa mengesalkan sekali !" Gabriel berteriak kencang setelah memukul meja.
Reina dan Hansen terdiam cukup lama melihatnya. Kemudian mereka saling menatap satu sama lain lalu kembali memandang Gabriel. Tiba tiba mereka berdiri serentak dan beranjak memeluk erat tubuh Gabriel seperti gaya seorang wanita centil.
" Aaa ! Gabriel kau imut sekali !" Reina berteriak di telinga kiri Gabriel.
" Gabriel kau menggemaskan sekali ! Aku ingin membuangmu sayang !" Hansen berteriak di telinga kanan Gabriel sambil memeluk erat seperti yang dilakukan Reina.
" Tidak mau !" teriak Hansen dan Reina bersamaan. Mereka tertawa melihat betapa menderitanya Gabriel yang berada di dalam pelukan mereka.
.
...******...
.
" Lepaskan !" Gabriel kembali berteriak dan mengerahkan seluruh kekuatan untuk terlepas dari pelukan Hansen dan Reina.
Terpaksa kali ini Hansen dan Reina melepaskan pelukan mereka. Reina kembali ketempat duduknya. Sedangkan Hansen malah menggenggam tangan Gabriel dengan pandangan berbinar.
" Aku rasa kita lebih cocok Riel."
Hansen melihat mata Gabriel yang hampir keluar dari tempatnya karena. Dalam hati ia berteriak girang merasa tidak sabar untuk membuat Gabriel semakin kesal kepadanya. Dengan jahil Hansen mengusap punggung tangan Gabriel dengan ibu jarinya.
__ADS_1
" Hans jangan membuatku ingin mencekikmu sekarang juga." Gabriel menekan setiap katanya yang diucapkannya. Rasanya ia ingin mati karena rasa kesal yang sudah menggunung di hatinya.
Hansen tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya dengan pandangan genit. Kalau hanya melakukan hal ini ia ahlinya. " Dan kau jangan membuatku semakin ingin menambah rasa senangmu."
" Benar benar orang satu ini." gumam Gabriel. Tanpa menunggu lagi Gabriel menyentakkan tangan Hansen lalu mencekik lehernya dan mengguncangnya.
" Kau teman menyebalkan ! Aku akan membunuhmu sialan !" Gabriel berteriak kencang dengan tangan yang belum dilepaskan dari leher Hansen.
Reina beranjak panik melihat itu. Astaga, kenapa jadinya seperti ini. " Hei Gabriel, hentikan itu ! Kau bisa menyakitinya !"
" Aku bukan lagi ingin menyakitinya sekarang. Tapi aku sangat ingin memusnahkan orang menyebalkan sepertinya !"
Hansen menahan rasa mual akibat Gabriel yang mengguncang lehernya. Kepalanya berdenyut sakit dan pandangannya mulai memburam. Kalau jahitan di kepalanya terbuka lagi. Hansen akan membuat Gabriel botak seumur hidupnya.
" Kau gila ?! Jahitan di kepalanya bisa terbuka bodoh ! Lepaskan sekarang Gabriel !" Reina mencengkram erat pergelangan tangan Gabriel hingga kukunya yang tajam menembus kulitnya.
Mendengar kata jahitan di kepala, Gabriel langsung melepaskan cekikannya begitu saja. Ia lupa kalau Hansen ada luka di bagian kepala. Dengan panik Gabriel menarik leher Hansen untuk melihat keadaan luka di kepalanya.
Merasa perban di kepala Hansen tidak berubah warna. Gabriel melepaskan tarikannya dan menghela napas lega. Untung saja luka Hansen baik baik saja.
" Rein tolong bantu aku duduk. Mataku berkunang kunang dan perutku terasa mual gara gara diguncang tanpa perasaan. Oh astaga, tubuhku yang malang. Baru saja kau ingin sembuh sekarang kau sudah kembali sakit lagi. Aku sedih karena ikut merasakannya." ucap Hansen dengan dramatisnya.
Reina meringis melihat Hansen yang sepertinya belum jera dengan kejadian barusan. " Jangan memancingnya Hans. Ingat sekarang kau sedang sakit."
" Dia itu setan Rein bukan ikan. Kita tidak perlu memancingnya. Cukup doakan saja dia agar tenang dialamnya."
" Hansen diam !" Reina menutup mulut Hansen dengan telapak tangannya. Kalau tidak mungkin akan terjadi pertengkaran lagi diantara mereka.
Gabriel meremas kepalan tangannya dengan tidak sabar. Apa yang harus dilakukannya agar Hansen diam dan tidak menyebalkan seperti sekarang. Apa Gabriel harus menjahit mulutnya saja atau memotong lidahnya ? Ya tuhan, bisa tidak Gabriel diberi teman yang sedikit waras ?.
Hansen melepaskan tangan Reina dari mulutnya. Ia berjalan mendekati Gabriel lalu menepuk pundaknya seperti biasanya. " Maaf, kau mungkin kesal sekali dengan tingkahku tadi."
Gabriel menghela napas lagi untuk mencoba lebih bersabar dalam menghadapi Hansen. Nyatanya memang seperti ini tuhan memberinya seorang teman. " Sudahlah lupakan saja. Kau membuatku lapar lagi sekarang."
__ADS_1