Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Tugas


__ADS_3

Di tempat pemakaman khusus yang terlihat gelap dan juga menyeramkan. Tidak ada siapapun di sana kecuali jejeran makam yang tidak terlalu banyak. Suara jangkrik dan burung hantu melengkapi suasana makam itu. Seorang penjaga berpatroli disetiap makam untuk melihat keamanan yang terjaga.


Tiba tiba di belakang penjaga itu sebuah bayangan berjalan cepat melewatinya dari belakang tanpa disadari. Penjaga itu masih terus berjalan dengan senter sebagai penerang jalannya.


SRAK !


Terdengar suara gesekan daun yang terinjak. Penjaga itu langsung mengarahkan senternya kearah suara itu namun ia tidak menemukan apa apa selain daun daun kering yang memenuhi jalan.


" Mungkin karena angin." gumamnya.


Kalau diingat ingat lagi, tidak ada siapapun di pemakaman ini selain dirinya. Termasuk hewan dalam bentuk apapun karena itu bisa merusak ketenangan di pemakaman ini. Jadi tidak selain angin yang semilir dingin ini tidak ada siapapun yang bisa membuat daun itu saling bergesekan hingga menimbulkan suara.


Penjaga itu kembali berpatroli dengan wajah tenang tanpa rasa takut. Tidak ada keanehan sejauh ia tengah berpatroli saat ini. Tetapi saat penjaga itu akan melewati makam baru dari seorang dokter negara Z. Tiba tiba entah kenapa penjaga itu merasakan angin malam semakin dingin hingga membuat bulu tengkuknya berdiri.


Penjaga itu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan sesuatu. Lalu kembali berjalan dengan keberanian yang mungkin telah berkurang.


SRAK !


Lagi, suara gesekan daun kering yang terinjak terdengar oleh penjaga itu. Langkahnya menjadi terhenti dan sekali lagi senternya mengarah ke asal suara itu. Belum sempat melihat penjaga itu merasa sebuah bayangan hitam melewatinya dari belakang.


Spontan penjaga itu melihat arah belakangnya dan seperti dugaannya. Itu bukanlah apa apa selain tumpukan jalan yang memenuhi jalan makam. Penjaga itu berniat melanjutkan langkahnya untuk kembali berpatroli.


SRAK !


Suara gesekan daun kering yang terinjak terdengar dari arah yang berbeda dari sebelumnya. Penjaga itu menjadi curiga, benarkah itu hanya karena kerjaan angin malam saja ?.


Penjaga itu berjalan mendekati asal suara daun kering itu. Namun setelah sampai yang ia dapatkan tetap sama. Penjaga itu menghela napas untuk menetralkan degupan jantungnya. Tiba tiba bayangan hitam seperti kembali melewati belakang tubuhnya. Penjaga itu segera menoleh untuk melihat dan tidak menemukan apa apa. Jadi ia kembali melihat ke depan untuk melanjutkan langkahnya.


Tetapi bukan jalan kosong yang dilihatnya saat berbalik ke depan. Melainkan seorang berjubah hitam tengah berdiri di depannya.


" Aaa... !"


BUG !


Sebuah pukulan datang dari belakang penjaga itu. Orang berjubah hitam membuka tudung kepalanya dan menatap orang yang memukul penjaga itu.

__ADS_1


" Kau tidak membuatnya mati kan Nilam ?" tanya Alnitak.


Alnilam berjongkok memeriksa denyut nadi penjaga itu dan kembali berdiri. " Dia hanya pingsan."


" Bagus, kalau tidak kita akan mendapatkan masalah."


" Aku tahu." jawab Alnilam sembari menatap jijik pada penjaga itu. " Gayanya penjaga makam tapi dia masih berteriak saat melihat ada orang berjubah hitam di depannya." lanjutnya mengejek.


Alnitak terkekeh mendengarnya. " Tidak semua orang memiliki mental yang sama Nilam. Menjaga makam bukan berarti dia juga bermental baja seperti yang ada di dalam bayangan kita."


" Kau benar dan aku cukup kecewa karena dia tidak seperti yang ada di dalam bayanganku. Kukira penjaga makam itu pemberani dan juga bermental baja yang mengagumkan. Ternyata hanya seonggok manusia penakut yang sama seperti di luaran sana."


Alnitak membuka jubah hitamnya lalu menarik Alnilam untuk mengikutinya. " Biarkan saja, sekarang ayo kerjakan tugas kita."


.


...*****...


.


BRUK !


" Apa ini ?" Bellatrix menunjuk buntalan kain itu lalu beralih menatap Alnilam dan Alnitak.


" Tugas kami, sekarang giliran itu menjadi tugasmu." jawab Alnitak.


Bellatrix membuka buntalan kain itu perlahan kemudian menahan napas saat melihat isinya. Rigel dan Saiph berpaling enggan melihatnya begitupula dengan Mintaka yang berlari untuk memuntahkan isi perutnya setelah melihat itu.


Bellatrix segera menutup lagi buntalan kain itu dengan perasaan setengah jijik. Jujur saja itu hampir setengah busuk dan berbau yang menjijikkan.


" Kita telat mengambilnya." ucap Bellatrix.


" Meski begitu kau harus tetap mengurusnya Alltrix." balas Alnilam.


Di ruangan ini yang tidak merasa jijik hanyalah Alnilam dan Alnitak saja. Jadi tidak heran kalau hanya mereka berdua yang bisa bersikap santai setelah melihat isi dari buntalan kain itu.

__ADS_1


" Lagipula anggap saja ini sebagai baktimu karena dia sebelumnya pernah ingin mengangkatmu sebagai anaknya." Alnitak tersenyum main main setelah mengucapkannya.


Bellatrix berdecak tidak senang. " Yang ada dia yang memiliki hutang Budi kepadaku karena aku pernah menyembuhkannya. Belum lagi karena dia aku harus berada di rumah sakit sampai sekarang dan berpura pura kesakitan."


" Hanya karena pukulan itu kau kesakitan ? Lemah sekali kau !" Saiph mencibirnya tanpa segan sedikitpun.


Bellatrix melambaikan sekali tangannya dengan wajah malas. " Awalnya iya tapi setelah sehari merasakan rasa sakitnya. Aku merasa itu bukanlah apa apa lagi."


" Seperti harapan Orion, kau tidak akan terluka hanya dipukul ringan seperti itu. Bahkan tulangmu membaik meski sempat dipatahkan." Rigel ikut berbicara di tengah tengah perdebatan itu.


Bellatrix yang mendengarnya hanya bisa tersenyum tipis. " Orion sudah memperkirakan segala kemungkinannya."


Menurut Bellatrix, Orion memang tidak pernah berbuat nekat kepada mereka kalau tidak mereka sendiri yang telah melakukan kesalahan. Jadi Bellatrix menyadari perbuatan Orion saat membunuh Dekandra kemarin.


" Aku akan membawa ini. " Bellatrix mengambil buntalan kain itu dan membawa ke ruang laboratorium.


" Kurasa dia menjadi dewasa setelah malam itu." ucap Saiph sembari melihat kepergian Bellatrix.


" Mungkin pukulan di kepalanya sudah menyadarkannya." balas Alnilam.


" Bellatrix mana ?" Mintaka datang dengan wajah pucat dan segelas air putih di tangannya.


Rigel dan Saiph menatap Mintaka dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas. Melihat wajah Mintaka yang pucat, Rigel dan Saiph menduga kalau Mintaka habis mengeluarkan isi perutnya.


" Kau habis muntah ?" Saiph bertanya bodoh yang jelas jelas ia sendiri sudah tahu jawabannya.


Tubuh Mintaka terlihat menegang beberapa detik sebelum kembali seperti biasanya. Tetapi hal itu tentu saja sudah terlihat oleh Rigel dan juga Saiph tanpa Mintaka sadari.


" Aku salah makan tadi dan perutku terasa sakit." jawab Mintaka.


Rigel dan Saiph pura pura tidak mengetahuinya. Mereka hanya mengangguk mengerti.


" Minta obat pada Bellatrix." perintah Rigel.


Mintaka mengangguk sekilas. " Hm, nanti saja."

__ADS_1


" Belajarlah untuk tidak menakuti apapun." Rigel berucap dingin.


" I..iya."


__ADS_2