Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Perusuh


__ADS_3

Letnan Sarga memeriksa laporan keterangan biodata dari Hansen, Gabriel, dan juga Reina. Ternyata mereka adalah orang orang terkenal di negara Z. Dimulai dari Hansen yang seorang fotografer terkenal dan memiliki banyak penggemar karena selain multitalenta, Hansen termasuk ke dalam pria tertampan di negara Z.


Gabriel seorang pengusaha muda dan juga banyak membantu rakyat tanpa campur tangan pemerintah. Selain itu, Gabriel juga terlahir dengan latar belakang berasal dari keluarga bangsawan yang terkenal karena kekayaannya.


Terakhir Reina, gadis muda yang berprofesi sebagai pengacara. Meskipun terkenal senang berganti ganti pasangan, Reina adalah pengacara yang handal. Tidak ada kasus yang tidak bisa ditangani jika itu Reina yang mengerjakannya, itulah kata orang orang.


Letnan Sarga menghela napas. Sebenarnya tidak ada yang mencurigakan dari Hansen, Gabriel, dan juga Reina. Tapi utusan Jenderal memaksanya untuk terus mengawasi mereka. Entah dari mananya tiga orang itu terlihat mencurigakan dan patut dijadikan tersangka.


Hansen mengetuk meja dua kali disertai senyum jahil miliknya. " Letnan tolong jangan memasang wajah menyedihkan. Karena seharusnya yang memiliki wajah sedih di sini adalah kami."


Letnan Sarga menyipitkan matanya menatap tajam kearah Hansen. " Aku mewakili kesedihan kalian."


" Puf." Gabriel menutup mulutnya dengan telapak tangan agar tidak tertawa kencang.


" Bodoh." Reina bergumam pelan. Sejak kapan polisi yang biasa menangkap penjahat bisa mewakili kesedihan calon tahanannya sendiri.


Hansen tertawa kencang mendengar balasan spontan yang di ucapkan Letnan Sarga tanpa berpikir terlebih dahulu. " Ehem ! Kau perhatian sekali Letnan, aku menjadi terharu. "


Letnan Sarga mengusap kepala belakangnya. Ini semua gara gara mulutnya yang spontan berbicara dan berakhir membuatnya malu. Turun sudah wibawanya saat ini hanya karena empat kata yang diucapkannya barusan.


" Sudah kubilang wanita ini duluan yang mencari masalah denganku !"


" Dasar wanita gila ! Kalau kau tidak menjadi wanita murahan dan merebut suamiku aku tidak akan sudi berurusan denganmu !"


Teriakkan dari dua orang wanita berpakaian seksi dan glamor yang saling berdebat mengalihkan perhatian Letnan Sarga, Hansen, Gabriel, dan Reina.


" Wow." itulah kata pertama kali yang Gabriel keluarkan dari mulutnya.


" Seksi." Hansen tersenyum nakal.


Reina berdecak kesal menatap dua orang wanita itu. " Murahan."


" Perusuh." Letnan Sarga berucap lemah. Tampaknya ini akan berakhir menjadi urusannya juga jika anak buahnya tidak bisa menangani dua orang wanita itu. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga sekarang. Jika saja bisa memilih, lebih baik Letnan Sarga ditugaskan untuk berperang di perbatasan dibandingkan menangani kasus tidak jelas seperti ini di kantor polisi.


" Dia menyukaiku ! Apa masalahmu ?!"


" Dia suamiku !"

__ADS_1


" Aku tidak perduli."


" Dasar murahan !"


" Dari pada kau yang mahal tapi berakhir diselingkuhi lebih baik aku murahan tapi dicari."


" Dia benar." ucap Hansen.


Gabriel mengangguk setuju. " Wanita murahan memang banyak dicari pria hidung belang seperti kita."


Hansen melotot lalu memukul pundak Gabriel. " Kau saja. Hidungku mulus dan mancung tidak ada belangnya. Aku sering memeriksakan kulitku ke dokter."


Gabriel menepuk pelan keningnya. Disaat seperti ini Hansen masih saja bisa berpikir polos.


Reina yang mendengar pembicaraan Hansen dan Gabriel sedari tadi memutar matanya bosan. Reina baru sadar kalau Hansen digabungkan dengan Gabriel akan menjadi kebodohan.


" Dasar para pria bodoh." Reina melirik sinis kearah Hansen yang masih menatap kedua wanita berpakaian seksi itu tanpa mengedipkan matanya.


...*****...


" Jadi ?"


" Namaku Alisa, aku memiliki suami yang tampan dan kami menikah dua tahun lalu. Hidup kami begitu bahagia sebelum wanita murahan ini datang dan merebut suamiku. Tidak hanya itu, dia bahkan memukulku di depan orang banyak hingga membuatku malu. Aku ingin menuntutnya !" ucap Alisa.


" Kau yang duluan berteriak aku murahan Alisa."


Alisa tertawa sinis. " Memang kau murahan. Namamu kan Karena Murahan Adanya. Jadi tidak salah aku memanggil dengan nama tengahmu."


" Apa ?! Namaku Karen Aditya ! Kau jangan seenaknya mengubah namaku. Dasar wanita mahal tapi diselingkuhi suami." cibir Karen.


Alisa melotot marah menahan geram ingin mencakar wajah Karen yang duduk di sampingnya. " Wanita murahan ! Awas saja aku akan menuntutmu !"


" Siapa takut ?! Dasar wanita sok mahal padahal tidak laku." tantang Karen.


Letnan Sarga mengulum bibirnya meratapi nasib yang sialnya harus berhadapan dengan makhluk bermulut api seperti para wanita ini.


" Tuhan, aku sudah tidak sanggup lagi." gumamnya.

__ADS_1


" Letnan Sarga." bisik Hansen tepat di telinga Letnan Sarga hingga membuat pria itu tersentak kaget.


" Apa ?!" Letnan Sarga menatap Hansel kesal. Pria satu ini dari tadi selalu mencari perkara dengannya.


Hansen tersenyum lebar yang membuat lesung pipinya terlihat begitu jelas. " Bisakah kami pergi ? Kau juga terlihat sedang sibuk bersama dua wanita cantik ini. Lagi pula barang bukti sudah ada di tangan wakil Jenderal Klein bukan ?"


" Tidak bisa !" Letnan Sarga menggelengkan kepalanya. Enak saja dirinya ditinggal sendirian bersama dua wanita tidak jelas di sini.


" Wakil Jenderal berkata kalian harus menunggu di sini sampai barang itu benar terbukti bukan berasal dari perusahaan tuan George." lanjutnya.


Hansen mengangguk santai." Oh ya sudah. Aku juga ingin berkenalan dengan wanita seksi."


" Dasar buaya tak berbuntut." cibir Gabriel.


Hansen menghiraukan cibiran Gabriel di sebelahnya. Dengan lancar Hansen tersenyum manis menatap dua orang wanita yang sedang saling menatap tajam satu sama lain. " Hai wanita wanita cantik, dari pada bertengkar lebih baik kita berkenalan terlebih dahulu bagaimana ?"


Alisa dan Karen menoleh melihat Hansen yang sedang tersenyum manis kearah mereka.


Reina langsung menarik leher Hansen kearahnya untuk mengalihkan perhatian. " Sayang ada aku di sini."


" Dasar buaya." cibir Alisa.


" Mata keranjang." tambah Karen.


Tubuh Hansen menegang seketika saat Reina dengan berani meniup telinganya diiringi suara lirih yang menurut Hansen itu menyeramkan.


" Jangan bertingkah atau aku berulah kepadamu." lirih Reina.


Diam diam Gabriel memberikan dua jempol untuk Reina. Akhirnya buaya tanpa buntut itu bisa diam sejenak tanpa harus menyeretnya menjauh dari wanita yang diincarnya.


Letnan Sarga yang memperhatikan dari tadi memilih menutup wajahnya. Kenapa kantornya sekarang banyak perusuhnya ?.


Mulai dari permintaan Jenderal yang tidak jelas. Lalu dua orang wanita yang ingin saling menuntut hanya karena merebutkan satu orang pria. Ditambah Hansen pria kurang ajar yang terus mengganggunya. Rasanya Letnan Sarga ingin berteriak kencang agar orang orang ini diam.


DUAR !


BRAK !

__ADS_1


" Aaa !" teriakkan kencang terdengar memenuhi ruang kantor polisi itu.


__ADS_2