
Orion menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Matanya melihat jam di pergelangan tangannya, pukul tujuh lebih dua puluh menit. Berarti sudah hampir satu jam Orion menunggu temannya di mobil bersama Rigel dan Zairan.
" Apa mereka tidur di dalam ?" Zairan yang di kursi depan sebelah Orion bertanya dengan wajah kesal pada Rigel yang duduk di kursi belakang.
Rigel menggelengkan kepalanya dan menatap kesal pintu rumah Orion. " Dari pada tidur aku lebih yakin kalau mereka itu mati di dalam."
" Rigel panggil mereka. Siap atau pun belum, seret mereka keluar atau kutembak mereka satu persatu di ruang pelatihan." perintah Orion.
" Ya." Rigel keluar dari mobil dan kembali masuk ke dalam rumah.
Sembari menunggu Zairan bersandar dengan lengan menutupi matanya. " Orion boleh aku bertanya ?"
" Hm."
" Kau bersama mereka sejak kapan ?"
" Kecil."
" Kalian besar bersama ?"
" Tidak."
" Tidak ? Mengapa ?" Zairan merubah posisinya menjadi miring menatap Orion di sebelahnya.
" Aku besar di panti asuhan sedangkan mereka diasuh oleh pamanku."
" Di panti asuhan kau sendirian ?"
" Ya."
Zairan menjadi bingung mendengar jawaban dari Orion. Orion itu besar di panti asuhan sedangkan pamannya mengasuh enam orang anak sekaligus. Kenapa pamannya tidak mengasuh Orion sekalian ?.
" Kenapa kau tidak di asuh oleh pamanmu ?"
Orion melirik Zairan sekilas. " Kau terlalu banyak bertanya."
Zairan berhenti bertanya saat tahu hanya sampai sinilah dirinya bisa bertanya pada Orion. Zairan tidak berani bertanya lagi apalagi setelah melihat wajah Orion yang sedang menahan kesal.
BRAK !
Rigel masuk ke dalam mobil diikuti Alnilak di sampingnya.
" Pindah." ucap Orion.
" Apa ?" Rigel bertanya bingung.
" Alnitak pindah ke mobil belakang dan suruh Saiph ke sini. Aku tidak ingin ada yang berpacaran saat di perjalanan nanti." Orion menjelaskan dengan nada dingin.
__ADS_1
Alnitak terkejut mendengar suara dingin dari Orion yang tidak seperti biasanya. Alnitak melihat Orion yang sedang menahan kesal dari kaca mobil.
Pantas saja, batinnya. Tanpa banyak tanya Alnitak segera keluar dari mobil. Bagaimana pun juga ini semua salah mereka yang terlalu lama menyiapkan barang.
" Ternyata dia cukup menyeramkan juga." Zairan bergumam sambil menatap keluar dari jendela mobil.
Tak lama kemudian Saiph datang dengan tas ransel di punggungnya. Pria itu segera masuk dan meletakkan tasnya di belakang kursi mobil yang bisa menampung hingga delapan orang. Saiph menepuk pundak Rigel lalu menunjuk Orion dengan dagunya bertanya. Alnitak sebelumnya sudah memberitahunya bahwa Orion saat ini sedang kesal karena menunggu mereka yang terlalu lama bersiap. Tetapi Saiph ingin memastikannya lagi.
" Zairan pasang pandanganmu baik baik. Jangan sampai kita salah jalan hanya karena kau lupa." ucap Orion.
" Siap." Zairan menegakkan tubuhnya dan memandang lurus ke depan.
Orion meletakkan earpiece di telinganya dan menghubungi Bellatrix yang menjadi supir di mobil lain.
" Bellatrix ikuti kami dan fokuskan pandanganmu. Kita akan memulai perjalanan." ucap Orion melalui earpiece.
" Iya."
Orion mulai menyetir mobil keluar dari halaman rumahnya. Seiring mobil berjalan, perlahan rasa kesalnya mulai menghilang. Orion menghela napas mencoba bersabar, tidak selamanya apa yang dilakukan teman temannya selalu sempurna. Mereka hanya manusia biasa dan Orion harus menerima sisi buruk dari setiap masing masing temannya.
" Rion kami minta maaf."
Suara Mintaka terdengar di earpiece milik Orion.
" Ya, lupakan saja." Orion tersenyum samar.
" Woah ! Air terjun !" Mintaka menatap kagum pemandangan air terjun di depannya.
" Kau kampungan sekali ? Bahkan orang hutan saja yang tidak pernah ke kota pernah melihat air terjun." Bellatrix berucap sinis.
Mintaka melirik Bellatrix kesal. Pria satu ini senang sekali mengganggu kesenangannya. " Diamlah."
Saiph melihat sekeliling air terjun dengan teropong. Entah apa yang dilihatnya, tetapi Saiph berharap sesuatu yang luar biasa bisa terlihat olehnya.
Alnilam dan Alnitak menyiapkan pisau kecil yang bisa diikatkan di paha dan pinggang mereka.
" Kau meletakkan hartamu di tempat seperti ini ?" tanya Rigel yang tidak habis pikir dengan pemikiran Zairan. Siapapun tahu bahwa air terjun adalah pemandangan yang cukup menarik dan Zairan meletakkan hartanya di sini. Bagaimana jika ada orang lain yang datang ke sini lalu menemukan hartanya.
Zairan hanya menganggukkan kepalanya tanpa berniat menjawab pertanyaan Rigel. Mulutnya sudah lelah berbicara terus menerus saat menunjukkan jalan pada Orion tadi.
Orion meneliti air terjun di depannya. Alirannya airnya sangat deras dan sepertinya di bawah terjunan air itu cukup dalam. Orion melihat sekeliling air terjun yang di kelilingi hutan lebat.
" Dimana kau simpan hartamu itu Zai ? Di balik air terjun itu atau di bawah terjunan air yang dalam itu ?" tanya Orion setelah menganalisis sekitarnya.
Zairan terperangah menatap Orion. " Wah ! Bagaimana kau bisa tahu Orion ?"
" Mudah saja. Kau tidak mungkin meletakkan hartamu di tempat yang mudah di jangkau orang." jawab Orion.
__ADS_1
Zairan mengangguk lalu tertawa. " Kau memang cerdas. Aku meletakkannya di balik air terjun itu."
" Apa ?!" Mintaka yang sedari tadi menatap air terjun berteriak bersama Bellatrix.
Saiph terdiam di tempat, Rigel yang langsung menoleh menatap Zairan, Alnilam dan Alnitak yang saling berpandangan, dan Orion yang menepuk keningnya.
Air terjun itu sangat besar dan deras sedangkan di bawahnya terlihat sangat dalam. Untuk mencapai airnya saja mereka harus berenang dan memanjat satu batu besar yang berada di pinggir. Lalu bagaimana mereka bisa mengambil harta Zairan yang berada di balik air terjun itu ?.
" La...lalu bagaimana kita mengambil hartamu." Saiph bertanya dengan gugup.
Zairan tersenyum. " Kita harus memanjat tebing air terjun itu lalu turun perlahan menggunakan tali untuk bisa mencapai balik air terjun."
Mendengar itu, Mintaka, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, dan Saiph melihat Orion penuh permohonan.
Orion menggaruk alisnya merasa bingung dalam mengambil keputusan saat melihat tatapan dari teman temannya.
" Biar aku dan kau yang mengambil harta itu Zairan." ucap Orion setelah mengambil keputusan.
" Baik."
Saiph, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, dan Mintaka terbelalak menatap tak percaya pada Orion. Mereka beralih menatap Rigel meminta pendapat tetapi Rigel masih terdiam di tempat.
" Kalian tunggulah di sini dan awasi sekitar." pinta Orion.
" Aku ikut denganmu." ucap Rigel setelah sadar dari lamunannya.
" Kau yakin ?" tanya Orion.
Rigel mengangguk dan mengambil peralatannya.
" Baiklah kal..."
" Aku ikut." ucap Saiph.
" Aku juga." Bellatrix segera mengambil peralatannya.
" Meskipun takut tapi apa boleh buat. Kami yakin kau pasti akan melindungi kami Rion." ucap Alnitak. Sedangkan Alnilam menyiapkan peralatan.
" Jadi..., Mintaka yang mengawasi di sini ?" tanya Orion.
Mintaka tersentak kaget dan menggeleng keras. " Aku ikut !" lalu berlari mengambil peralatannya.
" Memangnya hartamu itu apa Zairan ?" tanya Bellatrix.
Zairan tersenyum miring sebelum menjawab pertanyaan Bellatrix.
" Mutiara." ucapnya.
__ADS_1