
" Dok anda belum pulang ?"
Dekandra berbalik ke belakang lalu tersenyum menatap orang yang bertanya padanya. " Masih ada pekerjaan yang belum saya selesaikan dokter Aldan."
" Ini sudah larut malam dokter. Anda yakin masih tetap ingin berada di rumah sakit ini ?" dokter Aldan kembali bertanya.
" Ya." jawab Dekandra.
" Kalau begitu saya duluan dokter Dekandra."
" Silahkan dokter Aldan."
Melihat dokter Aldan yang berjalan menjauh. Dekandra berbalik lagi dan menyusun lembaran lembaran kertas laporan hasil pemeriksaan pasiennya. Ini memang sudah larut malam tapi untuk apa Dekandra pulang ke rumah kalau di sana pun ia sendirian dan hanya ditemani para pelayannya saja. Beginilah kalau hidup sendirian tanpa pasangan, pikiranya.
Kertas laporannya selesai di susun, Dekandra berjalan kearah ruangannya. " Sepi sekali." gumamnya.
Malam ini Dekandra berniat untuk lembur di rumah sakit. Sayang sekali meskipun di sini masih banyak orang terjaga seperti para suster, penjaga, dan keluarga dari pasien. Rumah sakit ini terlihat tidak berpenghuni.
Dekandra membuka pintu ruang kerjanya dan meletakkan laporan di tangannya ke atas meja. Lalu berjalan memutari meja, Dekandra duduk di kursi kerjanya.
" Hah !" Dekandra menghela napas dan memejamkan matanya sambil bersandar. Entah mengapa tiba tiba kepalanya terasa berat dan sedikit nyeri sekarang. Padahal tadi kepalanya baik baik saja.
KLEK !
Dekandra langsung membuka matanya saat mendengar pintu ruang kerjanya yang terkunci. Namun setelah membuka matanya Dekandra tidak menemukan apapun di pintu ruangannya.
Jadi, siapa yang mengunci pintunya tadi ?.
Tiba tiba lampu mati begitu saja. Dekandra terperanjat dari tempat duduknya. Tangannya mencoba mencari ponselnya di atas meja.
" Dimana tadi aku meletakkan ponselku." ucapnya.
Dekandra meraba raba permukaan meja mencari ponselnya yang ia sendiri pun lupa meletakkan dimana benda itu.
DRRT !
Dekandra menoleh lalu tersenyum lega melihat ponselnya yang bergetar di bawah tumpukkan kertas laporan yang tadi dibawa olehnya.
__ADS_1
" Di sini rupanya." Dekandra mengambil ponselnya namun panggilan itu telah berhenti. Takut karena panggilan itu penting, Dekandra membuka layar ponselnya tetapi yang ditemukan olehnya hanyalah sebaris nomor yang tidak dikenal.
Dekandra mengacuhkan nomor itu. Mungkin saja itu dari orang yang salah sambung atau orang orang yang hanya iseng saja. Dekandra menghidupkan senter ponselnya sebagai penerang.
Jika mati lampu seperti ini, beberapa pasien yang menggantungkan hidupnya pada alat medis canggih pasti akan memerlukan bantuan manual karena listrik yang tiba tiba padam. Dekandra harus memeriksa para pasiennya atau kalau tidak para pasiennya itu tidak akan bertahan sampai besok pagi.
Dekandra perlahan berjalan memutari meja kerjanya menuju pintu. Tapi baru saja beberapa langkah Dekandra dikejutkan dengan adanya seseorang berpakaian hitam yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya.
" Siapa kau ?!"
Orang berpakaian hitam itu berjalan mendekat. Langkah kakinya yang memakai sepatu terdengar jelas di lantai dan itu membuat suasana cukup menyeramkan dalam keadaan gelap seperti ini.
Dekandra yang penasaran mengarahkan senter ponselnya pada orang berpakaian hitam itu. Tetapi hal itu malah menyebabkan hal yang buruk karena Dekandra malah melihat sepasang mata cokelat tajam yang sudah sangat lama tidak dilihat olehnya.
" Ti..tidak mungkin !" Dekandra melangkah mundur dengan ketakutan. Tidak mungkin mata itu ada di sini sedangkan pemiliknya telah meninggal belasan tahun lalu.
Orang berpakaian hitam itu menyeringai. " Hello pak dokter."
...*****...
Orang berpakaian hitam itu menekan alat kecil di tangannya dan tiba tiba saja lampu di ruang kerja Dekandra hidup kembali.
Melihat itu Dekandra semakin bertambah takut. " Ka..kau !"
" Ada apa ? Mengapa kau takut melihatku..., teman lama." ucap orang berpakaian hitam itu dengan nada ramah namun menakutkan.
" Ha..Hansen Frendick ! Kau masih hidup ?!" Dekandra melotot menatap tak percaya sosok tinggi tegap di depannya saat ini.
" Menurutmu ?"
Jantung Dekandra tambah berdetak kencang seakan akan ingin pecah. Kepalanya terasa sakit memikirkan ketidak mungkinan yang terjadi.
" Tidak mungkin, tidak mungkin kau masih hidup. Racun itu..., tidak mungkin !" Dekandra menggelengkan kepalanya dan menyangkal segala pemikiran yang masuk ke dalam pikirannya.
" Jin dan Samuel telah membunuhmu. Jadi tidak mungkin !" sambungnya berteriak.
" Memang tidak mungkin. Bagaimana bisa orang yang sudah mati bisa hidup kembali kan ?" tanya orang berpakaian hitam itu dengan tangan yang perlahan membuka penutup wajahnya.
__ADS_1
" Tidak !" Dekandra berteriak ketakutan melihat wajah di balik penutup itu. Wajah itu, wajah yang sama dengan wajah yang dimiliki Hansen Frendick. Ini bahkan lebih menyeramkan dibandingkan melihat hantu Hansen Frendick secara langsung.
" Kalian bisa menyiksa dan membunuhku, tapi lihat dan perhatikan mataku ini baik baik. Dengan mata yang sama, dia akan datang membalaskan semua ini dan menghancurkan kalian seperti kalian menghancurkanku."
Dekandra tersentak mengingat itu dan memandang ngeri orang berpakaian hitam di depannya saat ini. " Ka..kau masih hidup ?!"
" Tentu saja, Orion Harsenal Frendick. Tidak akan pernah mati sebelum aku berhasil memburu kalian." Orion menyeringai kejam menatap puas wajah ketakutan yang ditampilkan Dekandra untuknya. Dengan perlahan layaknya predator, Orion berjalan mendekati Dekandra.
Dekandra yang melihat itu menjadi semakin ketakutan. " Jangan mendekatiku !"
Orion mencengkram pundak Dekandra dan menatap tajam matanya. " Kau merasakan takut bukan ? Hal itu juga yang kurasakan saat kau membunuh seluruh orang di Mansionku dulu."
Tanpa Dekandra sadari Orion diam diam menyuntikkan cairan ke bahunya. Setelah di rasanya selesai Orion menendang kencang dada Dekandra.
" Akh !" Dekandra berteriak kesakitan.
Belum puas Orion mencekik leher Dekandra lalu mengangkatnya keatas sampai kaki pria tua itu tidak lagi menyentuh lantai.
" Ak..! Lep.. uhuk !"
Orion tertawa wajah Dekandra yang tersiksa di tangannya. Ingin sekali ia mematahkan leher di genggamannya itu tetapi rencananya tidak akan berjalan lancar jika Dekandra mati begitu saja.
" Uhu ! Ak...Uhuk !"
BRUG !
" Uhuk ! Uhuk !"
Orion melepaskan leher Dekandra begitu saja lalu mengambil sapu tangan di saku celananya.
" Sayang sekali nyawamu masih kubutuhkan." ucap Orion sembari membersihkan tangan yang tadi ia gunakan untuk mencekik leher Dekanra dengan sapu tangannya.
" Uhuk ! Uhuk !" Dekandra memegang dadanya dan mengambil napas sebanyak banyaknya. Tubuhnya bergetar ketakutan, Hansen Frendick telah berhasil menciptakan iblis berwajah manusia. Andai saja ia tahu sejak dulu, Dekandra pasti akan membunuhnya.
Melihat lawannya yang telah lemah Orion mulai merasa bosan. Tanpa belas kasihan Orion menendang kepala belakang Dekandra hingga membuat pria tua itu pingsan dengan darah di kepalanya.
" Orang menjijikkan sepertimu tidak akan kubiarkan pergi begitu saja. Jangankan di neraka, bumi pun tidak akan kubiarkan kau bisa menempatinya dengan nyaman." ucap Orion.
__ADS_1