Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Sumpah


__ADS_3

" Tidak bisa !"


Mintaka dan Bellatrix berteriak tidak setuju. Bagaimana bisa Orion yang sudah kaya raya menjadi pewaris Zairan yang kaya raya juga. Tuhan begitu tidak adil pada hamba yang kekurangan seperti mereka ini.


Zairan menyeringai menatap remeh Mintaka dan Bellatrix di dekatnya. " Kalau kalian mampu bersainglah dengannya."


Bellatrix dan juga Mintaka terdiam bersama kemudian membuang pandangan mereka kearah yang berbeda. Bersaing dengan Orion, itu adalah hal yang mustahil bagi mereka. Bukan karena takut tetapi mereka telah bersumpah untuk mengatasnamakan Orion di atas segalanya. Mereka bersumpah demi darah dan tanah air mereka untuk tunduk di bawah perintah Orion. Jadi bagaimana mungkin mereka berani bersaing dengan Orion hanya karena masalah harta.


" Teruslah berdebat sampai aku selesai rapat dan kalian tidak akan kuikutkan dalam misi kali ini." ucap Orion dengan pandangan yang masih membaca map di atas meja.


Bellatrix dan Mintaka segera menoleh dan mendekat kearah Orion tanpa berbicara. Sedangkan Zairan terkekeh sembari mengubah posisi duduknya menjadi lebih nyaman dengan bersandar di sofa.


Orion menghela napas sebelum mengangkat pandangannya setelah tidak mendengar suara lagi di ruangan itu. Tatapannya memandang satu persatu teman temannya untuk melihat apakah mereka semua berada di ruangan itu. " Baik kita mulai."


" Kali ini kita akan terjun langsung sebagai masyarakat negara. Karena misi kali ini membutuhkan waktu yang lama maka kita memerlukan identitas sebagai penyamaran." Orion mulai menjelaskan misi mereka.


" Rigel dan Alnitak, identitas kalian sebagai pasangan suami istri yang kaya raya. Tugas kalian membuka toko perhiasan mutiara yang bisa menarik perhatian orang orang kaya diberbagai negara khususnya negara ini." Orion memberikan salah satu map yang tadi dibawanya pada Rigel dan Alnitak.


" Bellatrix identitasmu adalah adik ipar dari Rigel dan juga sebagai mahasiswa yang baru lulus dari jurusan kedokteran. Tugasmu adalah menunjukkan bakatmu hingga bisa menarik perhatian pemimpin negara ini."


" Baik." ucap Rigel, Bellatrix, dan Alnitak bersamaan.


" Saiph, Alnilam." Orion memberikan map kepada Saiph dan Alnilam di depannya.


" Aku ingin kalian membangun sebuah klub malam yang megah dan istimewa sesuai kriteria orang kaya." lanjutnya.


" Baik." balas Saiph dan Alnilam bersama.


Terakhir Orion memberikan sisa mapnya kepada Mintaka. " Gunakan bakatmu seperti Bellatrix. Kau akan bekerja sebagai penjual informasi di klub malam Saiph dan Alnilam."

__ADS_1


" Aku mengerti." balas Mintaka.


" Terakhir, Zairan pergilah bersama para tahanan yang pernah aku selamatkan dari penjara waktu itu bersama denganmu. Latih mereka dan balaskan dendammu. Kau juga boleh memanggil orang orang setiamu. Jika kau ada kesulitan mintalah bantuan kami. Setelah itu kembalilah dan tunjukkan kesetiaanmu."


" Baik." Zairan beranjak berdiri dari tempat duduknya lalu meletakkan kepalan tangan kanannya di dada kirinya. " Aku berjanji dengan nyawaku. Sampai jantungku masih berdetak aku akan terus setia kepadamu Orion Harsenal Frendick."


" Aku menerima janjimu." Orion ikut beranjak berdiri diikuti Rigel, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, Saiph, dan Mintaka.


Orion mengulurkan tangannya yang terkepal ke depan. " Sumpah kita."


Rigel, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, Saiph, Mintaka, dan Zairan mengikuti Orion sebelum mengucap sumpah janji mereka bersama.


" Demi tanah air kita menuju kejayaan. Darah dan nyawa akan menjadi pengikat sumpah kita. Dengan perisai kesetiaan kita akan mengorbankan segalanya. Rasi Bintang akan berjaya di atas langit demi tanah airnya."


...*****...


Hansen melirik jam tangan di pergelangan tangannya yang menunjukkan waktu melewati tengah malam. Tangannya mengambil jaket di atas kursi sebelum beranjak pergi dari ruangannya. Tak lupa Hansen juga mengambil selimut dari dalam lemarinya yang sengaja disimpan jika sewaktu waktu dirinya memilih menginap di kantor.


TING !


TING !


Setelah pintu lift terbuka Hansen berjalan keluar menuju pintu cokelat yang hanya ada satu di lantai teratas kantor. Perlahan Hansen membuka pintu cokelat itu lalu mengintip ke dalam. Di dalam sana Hansen melihat Gabriel tertidur di atas meja kerjanya dengan komputer yang masih menyala.


Hansen berjalan mendekati Gabriel. Di tatapnya wajah lelah pria itu yang terlihat jelas kalau Gabriel tidak istirahat beberapa hari ini.


Senyum tipis terbit di bibirnya. Hansen merentang selimut yang dibawanya lalu menyelimuti Gabriel. Setalah itu Hansen mematikan komputer dan membereskan beberapa dokumen yang berserakan di meja. Namun tanpa sengaja tangannya menyentuh sebuah kertas yang berisi gambaran anak anak.


Hansen mengambilnya dan melihatnya. Gambar yang berupa coretan anak anak tentang langit. Hansen tersenyum lalu melirik Gabriel sekilas.

__ADS_1


" Kau masih menyimpannya Riel ?" tanyanya pelan.


Gambar itu adalah gambar mereka dulu saat mereka saling bertanya tentang cita cita yang ingin capai saat besar nanti. Mereka menggambar bersama lalu saling menukar gambar mereka untuk disimpan sebagai kenang kenangan.


Hansen meletakkan kembali gambar itu lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan Gabriel. Di tengah perjalanan menuju ruangannya, Hansel merasakan ponselnya bergetar.


Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Hansen membukanya sebelum membacanya dengan ekspresi wajah yang mulai menegang.


Tentukan pilihanmu, negaramu atau anak dari musuhmu.


Hansen langsung mematikan ponselnya tanpa membalas pesan itu. Rahangnya mengeras seketika dan tangannya menggenggam erat ponselnya. Tanpa mereka peringati Hansen sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Tetapi selama Gabriel tidak berbuat salah kepadanya maka Hansen akan berpikir ulang untuk menyakitinya.


Gabriel berbeda dengan sifat ayahnya yang seperti binatang itu. Pria itu terlalu baik hati untuk ukuran anak dari seorang pembunuh. Bahkan Hansen tidak yakin jika Gabriel itu benar benar anak kandung dari George.


Hansen mengendarai motornya keluar dari parkiran kantor. Tangannya membuka kaca helmnya untuk lebih leluasa merasakan angin malam.


" Jangan membunuh orang yang tidak bersalah."


Hansen tersenyum dari balik helmnya saat mengingat pesan yang ayahnya ajarkan untuknya dulu.


Jangan membunuh orang yang tidak bersalah. Tetapi bagaimana jika keluarganya yang bersalah, Hansen tidak mungkin hanya diam begitu saja.


Setidaknya Hansen ingin mereka merasakan rasa sakit yang pernah Hansen rasakan dulu maupun sekarang. Setelah kehilangan orang tuanya sekarang Hansen harus melihat dan mendengar betapa menderitanya rakyat negara N akibat dijajah negara lain. Mereka kehilangan pemimpin dan juga kehidupan mereka.


Para orang tua yang dijadikan budak, anak anak yang dijual, serta gadis gadis yang dilecehkan. Hansen rasanya ingin membasmi seluruh negara yang telah menjajah negaranya.


" Jika kau ragu ingatlah negaramu."


Ya, Hansen akan mengikuti saran itu.

__ADS_1


Demi tanah air kita menuju kejayaan. Darah dan nyawa akan menjadi pengikat sumpah kita. Dengan perisai kesetiaan kita akan mengorbankan segalanya. Rasi Bintang akan berjaya di atas langit demi tanah airnya ! ucap Hansen dalam hatinya.


__ADS_2