
" Sudah ingat ?" Orion bertanya dengan senyuman yang terlihat begitu mengerikan di mata Dekandra.
" Kalau sudah ingat itu bagus karena kau akan pergi ke alam baka dan bertemu dengan ayah dan ibuku." sambungnya.
TOK TOK TOK !
Pintu kaca mobil Bellatrix diketuk dari luar. Bellatrix membuka pintu mobilnya dan melihat Rigel dan teman temannya yang lain sudah datang. Begitu pula dengan Zairan yang tengah memikul manusia di dalam tas mayat.
" Tugas selesai." ucap Rigel melapor tentang tugasnya.
Orion mengangguk. " Kerja bagus, sekarang kalian tunggu di luar mobil dan biarkan aku mengenang masa lalu dengan guruku ini."
Bellatrix menutup pintu mobilnya dan menunggu di luar bersama yang lainnya. Zairan meletakkan mayat yang dipikulnya itu ke atas tanah dan berjalan mendekati mobil Bellatrix. Ia penasaran dengan yang dilakukan Orion pada Dokter sialan itu.
" Jangan dibuka, Orion meminta kita menunggu di luar." ucap Bellatrix.
" Aku tahu karena itu aku hanya mengintip saja dari kaca jendela."
" Ahk ! Aaak ! Aaaa !"
Teriakkan dari dalam mobil membuat Rigel, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, Saiph, dan Mintaka bergidik ngeri. Bahkan Zairan menjauhi mobil untuk menyudahi aksi mengintipnya.
" Dia benar benar menyeramkan dan kejam melebihi Hansen Frendick." gumam Zairan.
Bellatrix tertawa mendengarnya. Tangannya menepuk pundak Zairan beberapa kali. " Karena itu dia dijuluki Sang Pemburu di langit malam."
" Ya dan hanya kalajengking manis yang bisa mengalahkannya." ucap Mintaka.
" Kau percaya mitos itu ?" tanya Alnilam.
Mintaka mengangkat bahu acuh. " Aku hanya mengatakan sesuai perbintangan saja. Rasi bintang Orion akan kalah dengan rasi bintang yang berbentuk kalajengking di langit malam."
" Itukan menurut kepercayaan orang yunani saja." ucap Alnitak.
" Tapi siapa yang tahu bukan ? Buktinya tuan Hansen mempercayai nama penerusnya dengan rasi bintang itu." balas Mintaka.
" Aaaaa !"
Teriakkan panjang dan kencang itu mengakhiri perdebatan mereka. Mungkin Orion sudah hampir selesai dengan buruannya sekarang.
" Jangan berdebat lagi. Benar atau tidaknya mitos itu tugas kita hanyalah membuatnya menjadi pemimpin tertinggi di seluruh negara. Kalau memang kalajengking itu yang bisa mengalahkannya. Kita hanya perlu harus membunuhnya saja." ucap Rigel yang dibalas anggukan setuju dari teman temannya.
__ADS_1
" Dan bagaimana kalau ternyata kalajengking itu adalah cintanya ? Sanggupkah kalian membunuh cinta dari orang yang kalian lindungi itu ?" tanya Zairan.
" Maksudmu ?" Bellatrix menatap Zairan penasaran begitu pula dengan yang lainnya.
Namun Zairan hanya membalas dengan senyum misterius. " Aku hanya asal berbicara saja. Jangan terlalu dipikirkan, lagi pula sangat tidak mungkin ada kalajengking yang menjelma menjadi mawar merah."
" Kuras kau mabuk malam ini Zai." Rigel menatap Zairan tajam dan penuh intimidasi. Matanya menyiratkan sesuatu yang mampu membuat Zairan tersenyum penuh arti.
" Yah mungkin saja." balas Zairan.
" Hei kalian berhentilah mengobrol dan lakukan tugas kalian masing masing." Orion keluar dari dalam mobil sambil menggulung lengan bajunya yang terkena darah.
" Kau sudah selesai ?" tanya Bellatrix.
Orion mengangguk. " Jangan ada yang merusak kepalanya karena aku menginginkannya. Buat itu seolah olah dia tewas akibat kecelakaan malam ini."
" Baik." jawab Rigel.
Orion beralih menatap Bellatrix. " Kau harus mengorbankan tubuhmu untuk kecelakaan ini. Karena akan banyak mata yang curiga kalau melihatmu masih baik baik setelah malam ini."
Wajah Bellatrix berubah pucat mendengarnya. " Apa aku melakukan kesalahan ?"
" Oh astaga tamatlah riwayatku sekarang." Bellatrix bergumam sedih.
.
...*****...
.
Orion berdiri bersandar di sisi mobil Rigel. Ia memandang dengan tatap dingin melihat teman temannya melakukan pekerjaan mereka.
" Oh tuhan jangan kau patahkan kakiku !" teriakkan Bellatrix menggema dikesunyian malam saat Zairan mematahkan kaki kirinya begitu saja.
" Kau duduk di belakang pengemudi. Jadi kaki adalah sasaran terbaik setelah mengalami kecelakaan itu." ucap Zairan.
" Ya tapi..., Akh !" belum sempat berbicara Bellatrix kembali berteriak.
Zairan melihat keadaan Bellatrix yang sudah mengenaskan. " Apa lagi yang kurang ?" tanya pada Orion.
Orion memindai setiap luka yang ada di tubuh Bellatrix. " Kepalanya, buat itu luka yang kecil namun terlihat seperti luka parah akibat terbentur. Ingat Zai berhati hatilah melakukannya karena dia temanku. Sampai terjadi sesuatu yang sulit disembuhkan. Aku sendiri yang akan mengeluarkan otakmu dengan kedua tanganku nanti."
__ADS_1
Zairan mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda Orion tidak perlu khawatir. Berbeda dengan Bellatrix yang tengah terbelalak kaget mendengar ucapan kejam Orion.
Bellatrix tidak menyangka Orion akan semudah itu berbicara tentang kepalanya yang akan dibuat terluka seakan akan itu akibat terbentur.
Hei ! Setidaknya jangan berbicara secara terbuka dan membuat Bellatrix semakin ketakutan. Ia tidak memiliki mental baja sekuat teman teman yang lainnya.
BUG !
" Akh !"
BRUG !
Bellatrix jatuh pingsan tergeletak di tanah setelah Zairan menghantam kepalanya dengan batu. Tidak kencang sih sebenarnya tapi karena Bellatrix yang merasa tegang ketakutan membuatnya terkejut dan langsung jatuh pingsan.
Zairan menggeleng melihatnya. Ia menatap Orion meminta pendapat. " Bagaimana ?"
" Pas." jawab Orion santai. Ia berjalan mendekati Rigel yang Alnilam dan Alnitak yang tengah mengatur posisi Dekandra dan mayat itu agar terlihat seperti nyata.
Zairan datang memikul Bellatrix seperti karung beras lalu memasukkannya ke dalam mobil itu. Sedangkan Rigel dan Mintaka bekerja untuk merekayasa mobil Bellatrix mulai dari rem dan juga mesinnya.
" Kasihan sekali dia." Alnilam menatap iba Bellatrix yang pingsan di dalam mobil.
" Itu salahnya." balas Saiph.
Alnitak berdecak mendengarnya. " Kau kejam Saiph."
" Perlu kaca ?" Saiph memandang sinis. Dasar gadis tidak sadar diri, dia saja psikopat masih bisa bilang orang lain kejam. Kalau dirinya ini kejam lalu dia apa ?.
Orion berjalan mendekati Dekandra. Seringaian kejam terpasang di wajahnya. Hatinya sungguh senang sekali melihat penghianat itu terkapar tak bernyawa. Andai saja Orion tidak mengingat dosa si penghianat itu kepada orang tuanya. Mungkin sekarang dia sudah Orion buat sebagai daging cincang.
Orion mengapit pipi Dekandra dengan tangannya. Gerakan napas halus masih terlihat yang membuat Orion sekarang yakin kalau Dekandra belumlah mati.
" Kau hebat masih bisa bertahan dengan keadaan yang menyedihkan begini." Orion menatap bengis wajah Dekandra yang berlumuran darah.
Sedikitpun tidak ada rasa iba dihatinya melihat keadaan Dekandra. Dendamnya bahkan lebih besar dibandingkan rasa belas kasihannya.
" Kau buat ayah dan ibuku hancur dengan kekalahan. Kalian siksa ayah dan ibuku seperti binatang." Orion berucap penuh emosi.
" Sekarang, aku akan membalasmu dengan ucapan 'Selamat Jalan Dokter'. Semoga kau bisa bertemu dengan ayah dan ibuku di sana. Aku sudah berbaik hati mengantarkanmu kepada mereka." Orion menepuk pipi Dekandra sebelum menutup pintu mobil.
" Biarkan dia mati dengan rasa sakitnya itu." sambungnya.
__ADS_1