
Hari ini Reina pulang karena mendengar kabar tentang pencurian di Bank terbesar milik negaranya. Setelah pesawatnya mendarat Reina segera memesan taxi untuk mengantarnya pulang.
Reina ingin melihat keadaan ayahnya setelah mendapatkan kabar ini. Bukan hanya itu, ia juga ingin bertemu Hansen untuk melepaskan rasa rindunya. Juga Reina mencemaskan keadaan Gabriel yang pastinya tidak baik baik saja setelah kabar itu tersiarkan.
Reina memandang jalan melalui kaca jendela mobil. Kemudian ia menghela napas dan menyenderkan kepalanya. Dipejamkannya sejenak matanya untuk mengusir lelah.
Dalam hati Reina bertanya tanya, apa saat ini ayahnya baik baik saja ?.
" Nona kita sudah sampai."
Reina membuka matanya mendengar suara supir taxi yang memberitahunya bahwa mereka telah sampai di depan gerbang rumahnya. Diambilnya tasnya lalu ia keluar dari mobil dan membayar taxi itu. Setelah itu Reina berjalan menghampiri gerbang rumahnya yang dijaga dua orang penjaga berbadan tegap dan juga kekar.
" Nona muda." dua orang penjaga gerbang itu terkejut melihat kepulangan Reina. Mereka segera membuka pintu gerbang lalu membungkuk hormat.
" Apa kabar paman." Reina menyapa kedua penjaga gerbang itu dengan senyum ramah.
" Kami baik nona muda."
" Apa ayah ada ?"
" Tuan dari semalam belum kembali nona muda."
Mendengar jawaban itu senyum Reina menjadi surut seketika. Ayahnya benar benar mengabaikan peringatannya tentang menjaga kesehatan. Apa hebatnya mementingkan negara jika kesehatan tubuh sendiri terabaikan karena itu. Seharusnya ayahnya tahu, selain negara yang menjadi prioritasnya. Tubuh adalah hal nomor satu untung mendukung semua itu.
" Ya sudah, aku mau ke dalam." Raina berjalan menuju mansion besar yang terlihat sangat mewah di depannya. Dengan kesal dibukanya pintu mansionnya hingga menimbulkan suara kencang.
" Selamat datang nona muda."
Seluruh pelayan yang melihat kepulangan Reina secara tiba tiba langsung menyambutnya sambil membungkuk hormat. Namun Reina menghiraukan penyambutan itu. Ia sudah terlanjur kesal saat mendengar ayahnya yang tidak ada di rumah ketika dirinya pulang.
Reina berjalan masuk ke dalam kamar. Kalau begini tidak ada gunanya dirinya berada di rumah. Raina mengambil kunci mobil dan kembali keluar untuk mengambil mobilnya. Nanti malam saja Reina menemui ayahnya, sekarang lebih baik ia bertemu Hansen dan juga Gabriel.
Reina mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor Gabriel. Diliriknya jam tangan di pergelangan tangan tangannya. Pukul sebelas lebih tiga puluh menit, berarti sebentar lagi jam makan siang. Reina tersenyum membayangkan Hansen. Setidaknya saat ini rasa kesalnya bisa teratasi dengan mengingat ia akan makan siang bersama Hansen.
__ADS_1
Jari telunjuknya mengetuk ngetuk stir mobil memikirkan apa yang akan dibawanya untuk makan siang di kantor Gabriel. Reina memelankan laju mobilnya dan melihat setiap Restoran di pinggir jalan. Mana tahu Reina bisa menemukan menu yang cocok untuk dibawanya nanti.
Reina tersenyum sumringah melihat Restoran seafood yang berada tidak jauh di depannya. Ia baru ingat kalau Gabriel pernah memberitahunya tentang betapa sukanya Hansen dengan makanan yang bernama seafood itu. Reina menghentikan mobilnya di depan Restoran seafood itu. Ia keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam Restoran.
Padahal hanya mengingat tentang Hansen saja. Tetapi Reina merasa sangat bahagia, bahkan rasa kesalnya hilang entah kemana.
" Selamat datang nona, ada yang bisa saya bantu ?"
Reina mengangguk dan tersenyum ramah. " Tolong bungkuskan semua menu seafood yang paling enak disini."
" Baik nona silahkan mohon menunggu."
.
... *****...
.
DRRTT !
Hansen membuka pesan itu yang hanya menunjukkan sebuah foto. Seketika rahang Hansen mengeras melihatnya. Tanpa sadar tangannya mencengram erat ponsel di tangannya.
DRRTT !
Bellatrix
Dia tidak cocok menjadi adik iparku.
.
Hansen menatap tajam pesan masuk itu. Ternyata ia telah salah memilih, mau bagaimanapun Monica memang yang terbaik. Namun hatinya saja yang tidak tahu diri sehingga entah kenapa Hansen tidak bisa mencintai Monica meskipun ia berusaha sekuat tenaga.
" Hans bos memanggilmu."
__ADS_1
Hansen mengalihkan pandangannya melihat pintu ruang kerjanya. Di sana Tera berdiri menunggu balasan darinya.
" Nanti aku ke sana. Terima kasih sudah menyampaikannya padaku."
Tera tersenyum menatap. " Sama sama, aku duluan ya. Kekasihku sudah menungguku untuk makan siang bersama."
Hansen menganggukkan kepalanya dan tersenyum palsu seperti biasanya. Setelah Tera pergi, Hansen beranjak bangun dan berjalan ke ruangan Gabriel. Tangannya yang terkepal disembunyikannya ke dalam saku jaketnya.
Pandangan matanya yang tajam menghilang berganti dengan tatapan lembut dan juga ramah. Dibalik rasa kesalnya Hansen bahkan masih bisa membalas setiap sapaan dari rekan kerjanya.
Hansen berhenti di depan pintu ruang kerja Gabriel yang terbuka sedikit. Dari sini ia bisa mendengar bahwa Gabriel tidak sedang sendiri dan seperti biasa ada Reina di ruangann. Namun kali ini Hansen mendengar suara Jack sekretaris Gabriel. Bagus sekali, sekarang sudah terlihat seperti perkumpulan orang bertopeng dengan keahlian berbohong.
Hansen masuk ke dalam dan langsung disambut senyum Reina yang manis. Biasanya Hansen akan nyaman melihatnya tetapi sekarang ia malah merasa kesal.
" Kau lama sekali datangnya, aku sudah lapar." ucap Gabriel.
" Aku menyelesaikan beberapa editan foto tadi." Hansen duduk di sebelah Jack.
" Hans aku membawa seafood untuk makan siang. Kata Gabriel kau menyukainya." Reina berucap riang tanpa menyadari ada yang berbeda dari Hansen.
Hansen menatap makan di atas meja. Lalu memandang Reina yang dimana bayangan pesan dari Bellatrix langsung teringat begitu saja dan itu membuat nafsu makannya hilang.
" Karena Hansen sudah datang lebih baik kita makan. Ayo Jack kita ambil duluan dan jangan hiraukan mereka." ujar Gabriel yang dibalas anggukan dari asistennya itu. Mereka mengambil makanan tanpa menghiraukan Hansen dan juga Reina.
" Hans aku ambilkan ya, kau ingin makan yang mana ?" tanya Reina.
" Tidak usah." Hansen mengambil makannya sendiri.
Reina yang melihat itu menunduk sedih. Ada apa dengan Hansen ? Biasanya dia mau Reina yang mengambilkan makannya tapi sekarang Hansen terlihat acuh kembali seperti awal pertemuan mereka.
Gabriel dan Jack menghentikan makan mereka lalu memandang Reina dan Hansen secara bergantian. Kemudian mereka saling menatap satu sama lain seakan akan sedang berbicara lewat pandangan mata. Jack mengangkat bahunya sebagai jawaban dan Gabriel menghela napas lalu kembali memakan makanannya sambil diam diam memandang interaksi Hansen dan juga Reina di depannya.
" Oh iya, aku juga bawa jus jeruk. Kau mau ?"
__ADS_1
Tanpa berbicara Hansen beranjak bangun dan berjalan mengambil minuman dingin di kulkas kecil yang ada di ruangan Gabriel.