Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Kunjungan Orion


__ADS_3

BUK ! BUK ! BUK !


" Tuan."


Zairan menghentikan pukulan tangannya di samsak. Tanpa berbicara ataupun menoleh pada anak buahnya ia menuggu dalam diam.


" Tuan, tuan Orion datang berkunjung."


" Dimana ?"


" Di tempat pelatihan tuan."


Zairan melepaskan ikatan kain di tangannya lalu melangkah pergi menemui Orion. Setelah sekian lama akhirnya partnernya itu mau mengunjunginya. Zairan melihat Orion yang tengah memanah bersama anak buahnya di lapangan khusus untuk tempat berlatih.


Begitu Orion melepaskan anak panahnya dan mengenai tempat sasaran semua orang yang melihatnya langsung bertepuk tangan termasuk Zairan. " Tidak heran kemampuanmu sebanding dengan namamu Orion. Orang tuamu begitu cerdik saat memilih nama untuk anak mereka."


" Setidaknya itu sebanding." Orion meletakkan panahnya dan berjalan menghampiri Zairan.


Zairan menepuk pundak Orion dua kali sambil memasang raut wajah yang menyedihkan. " Andai aku memiliki anak sepertimu."


" Berhentilah menjijikkan, jangan berkhayal ingin seorang anak kalau kau saja hanya selalu berfantasi dengan lukisan." Orion membalas dengan cukup tajam. Zairan si pria mesum itu semakin lama membuatnya semakin merasa jijik. Ia belum pernah melihat pria maniak yang lebih parah selain Zairan selama ini.


Zairan tertawa mendengarnya tanpa merasa tersinggung sedikitpun. Sudah biasa ia mendengar ucapan tajam yang Orion berikan setiap kali pria itu berbicara. Zairan merangkul Orion yang memiliki tinggi yang sama dengannya ke ruang santai. " Kau sudah makan ?"


Alis Orion terangkat sebelah dan menatap Zairan penuh waspada. " Apa ini ? Kau bertanya seolah kau perhatian kepadaku ?"


" Jangan memulai, aku bertanya benar benar kali ini." Zairan memandang Orion dengan menatapnya penuh peringatan.


Orion berdecak lalu melepaskan rangkulan Zairan di bahunya dan duduk di salah satu kursi yang tersedia di tempat yang mereka tuju. " Siapkan aku makanan yang enak dan juga jus buahnya yang segar. Oh iya, jangan lupakan makanan penutup yang cukup menggugah selera."


Selesai mengucapkan itu Orion langsung mendapatkan pukulan kencang di kepalanya dari Zairan.


" Kau anak yang tidak tahu diri. Kau meminta makan seakan akan disini Restoran tempat makanan." ucap Zairan.


Orion mengusap kepalanya sambil meringis pelan. " Kau yang menawariku tadi !"

__ADS_1


" Setidaknya tahu dirilah sedikit. Disini semuanya hanya tahu cara membunuh dan juga bertarung. Sedangkan kau meminta makanan seakan akan ini itu sebuah Restoran makanan." akhirnya Zairan menunjukkan sidat aslinya yaitu cerewet. Orion memutar mata malas mendengar ucapan panjang itu. Ia memilih menguap dan bersandar di kursi tempatnya duduk.


Zairan akhirnya memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk mencarikan apa yang Orion inginkan. Meskipun menyebalkan tetapi Zairan banyak berhutang budi pada bocah kurang ajar ini.


" Jadi ada apa kau berkunjung kemari pemburu ?" tanya Zairan.


Mendengar pertanyaan itu Orion langsung memasang wajah seriusnya. Ini saatnya mereka membahas rencana mereka tanpa adanya candaan seperti biasanya.


" Bagaimana perkembangan usahamu selama ini ?"


" Cukup bagus, mereka juga mudah diatasi dan penurut layaknya peliharaan yang setia." jawab Zairan.


" Kapan kau membalas ?" Orion bertanya lagi.


Zairan terlihat berpikir sejenak sambil mengetuk meja dengan jemarinya. " Untuk urusan itu sepertinya aku akan mengikutimu. Tergantung kapan kau memburu pemerintah itu."


Orion mengangguk mengerti. " Kalau itu aku...," ia menghentikan ucapannya hingga membuat Zairan menatapnya dan menunggunya dengan cermat.


" Makan dulu, aku lapar." sambungnya tanpa rasa bersalah.


.


... *****...


.


Dihitung tepat saat ini, sudah satu jam lamanya telah berlalu. Namun Zairan masih menunggu Orion selesai makan dengan perasaan amat sangat terpaksa. Andai saja ia tidak ingat Orion telah banyak membantunya. Zairan pasti sudah sejak dulu membunuhnya dan membakar mayatnya lalu membuang abunya ke dalam laut agar dimakan ikan disana.


" Hilangkan pikiran bodohmu itu Zairan." Orion mengambil gelas kosong miliknya lalu diarahkannya pada Zairan. " Minum." pintanya.


Zairan menghela napas mencoba bersabar. Dengan terpaksa ia menuangkan air di dalam teko ke dalam gelas Orion. Karena kunjungan bocah itu dirinya menjadi pelayan mendadak seperti ini.


" Peliharaan yang mengagumkan." Orion berdecak kagum melihat Zairan mau mengikuti keinginannya. Padahal ia hanya mengetesnya saja tadi.


Zairan menatap Orion tajam hingga membut siapa saja bergidik takut. " Aku bukan peliharaanmu Orion." ucapnya dengan menekan setiap perkataannya.

__ADS_1


Orion memutar mata malas lalu mengusap mulutnya dengan tisu. " Memang bukan bagi orang lain dan kau mungkin. Tapi dimataku aku menatapmu begitu tuan mafia."


Orion menyeringai kejam membalas tatapan tajam Zairan. Matanya juga menatap Zairan tidak kalah tajam layaknya predator yang siap menatang lawannya. Ini sangat menyenangkan, memainkan emosi orang lain adalah kesenangan yang sangat Orion sukai tanpa orang lain sadari.


" Jangan lupakan terima kasihmu mafia. Aku tahu kau orang yang cukup paham kata balas budi."


BRAK !


Zairan memukul meja meluapkan amarahnya. Tanpa mengalihkan tatapan tajamnya Zairan mengambil piring dan melemparkannya kearah Orion. Namun lemparannya melesat begitu saja karena Orion langsung menghindarinya. " Jangan membuatku menyesal karena telah bekerjasama denganmu pemburu."


" Baiklah baiklah, aku hanya bercanda teman. Tenangkan emosimu itu karena aku sedang malas bertarung." Orion mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. Orang tua di depannya ini cepat sekali emosian.


Zairan memejamkan matanya dan mengatur napasnya. Ada saatnya ia membalas Orion nanti. Jadi dirinya harus bersabar sekarang, Zairan kembali membuka matanya. " Kau memang bocah menyebalkan."


" Semua orang juga bilang begitu." dengan percaya diri Orion menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jemarinya.


" Jadi ?" tanya Zairan tanpa mau berlama lama lagi.


Mendapat pertanyaan itu, wajah Orion langsung berubah datar dengan tatapan tajam. Raut jenaka dan gurauannya hilng begitu saja seakan sekarang Orion menunjukkan jati dirinya. " Aku ingin mereka saling bertarung dan memberikan tontonan yang menarik. Mereka harus tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh orang terdekat mereka. "


" Dikhinati oleh orang terdekat ? Hm, menarik." Zairan merasa tertarik dengan rencana Orion yang satu ini.


" Tentu saja, selain itu kita bisa menghibur diri dengan menonton pertunjukkan mereka bukan ?" Orion menatap Zairan dengan seringaian kejamnya.


Zairan mengangguk setuju. " Apa aku bisa ikut bermain ?"


" Tentu saja, memang itu tujuan dari kunjunganku datang kemari." jawab Orion.


" Aku akan menunggu kalau begitu."


" Ya, kalau sudah giliranmu aku akan menghubungimu." Orion berdiri dari tempat duduknya dan merapikan pakaiannya lalu beranjak pergi begitu saja. Urusannya kali ini sudah selesai, sekarang saatnya mencari tahu dimana brankas Galiendro berada.


Karena brankas itu adalah kunci utamanya mengacaukan mereka. Rencananya akan berjalan dua kali lebih muda dengan adanya brankas itu. Orion harus lebih fokus lagi untuk mencari benda itu dan mendapatkannya bagaimanapun caranya.


Tapi..., tentunya tanpa sepengatahuan teman temannya karena ini misi rahasianya.

__ADS_1


__ADS_2