
" Pilih warna biru."
" Apa ?"
" Pilih warna biru, kau dengar ?"
" Baiklah."
Zairan menghela napas setelah berhasil memberikan perintah pada Mintaka untuk memilih mutiara yang bewarna biru atas perintah Alnilam dan Alnitak.
" Memangnya mutiara ini untuk apa ? Kenapa kita tidak menjualnya saja langsung ?" Bellatrix yang sedari tadi diam memilih bertanya.
" Kau gila ?" Zairan melirik Bellatrix sinis. " Kau mau ditangkap gara gara memiliki mutiara langka ? Padahal kau jelas tahu di negara manapun mutiara sangat jarang didapatkan karena sudah hampir punah."
Bellatrix hanya menganggukkan kepala dan menghiraukan lirikkan sinis yang diberikan Zairan kepadanya.
" Kalian sudah selesai ?" Orion berjalan mendekat sambil membawa tiga map di tangannya.
Zairan menggeleng pelan. " Hampir, tunggu sebentar lagi."
" Baiklah." Orion menoleh menatap Bellatrix yang sedang membantu Mintaka. " Altrix panggilkan yang lainnya. Setelah Mintaka selesai dengan pekerjaannya, kita rapat sebentar."
" Ya." Bellatrix beranjak pergi mencari empat saudaranya yang lain. Mereka pasti sedang berpacaran saat ini, Bellatrix yakin itu.
Orion meletakkan tiga map yang dibawanya di atas meja lalu membantu Mintaka dan Zairan yang sedang asik memilih mutiara di atas lantai beralas karpet bulu tebal.
Mintaka tersenyum melihat Orion yang sedang membantunya. " Terimakasih, ternyata kau tua tua tapi masih mau membantu golongan muda sepertiku."
" Siapa yang kau sebut tua ?" Orion mengangkat alisnya sebelah menatap Mintaka bertanya namun dengan nada mengancam.
" Kalau kau lupa, kau dan Orion itu lahir ditahun yang sama." ucap Zairan.
Mintaka tertawa sembari melambaikan tangannya. " Aku hanya bercanda."
" Itu tidak lucu." ucap Orion.
" Dan juga kekanakan sekali." Zairan ikut menambahkan ucapan Orion.
Mintaka mengerucutkan bibirnya. " Kalian memang tidak ada yang bisa kuajak bergurau."
Zairan memutar mata malas melihat ekspresi Mintaka yang menurutnya cukup menggelikan. Sedangkan Orion memilih mengangkat bahu acuh tanpa menoleh.
" Sudah selesai." Zairan tersenyum melihat tumpukkan mutiara hasil pemilihan mereka.
" Akhirnya !" Mintaka berseru kencang sembari menggerakkan tubuhnya yang terasa pegal.
Orion berdiri lalu berjalan menuju sofa. " Kumpulkan sisanya." perintahnya.
" Siap laksanakan." Mintaka langsung mengumpulkan sisa mutiara dan memasukkannya kembali ke dalam ransel dengan dibantu Zairan.
" Orion."
Orion menoleh melihat Bellatrix yang menghampirinya bersama Rigel, Saiph, Alnilam, dan Alnitak di belakangnya.
" Duduk dulu, kita tunggu Mintaka dan Zairan." pinta Orion.
__ADS_1
Mintaka datang membawa sekeranjang mutiara bewarna biru bersama Zairan. Lalu meletakkannya ke atas meja.
" Wow ! Indah sekali." Alnilam berbinar kagum melihat kilauan dari mutiara biru di depannya.
" Aku tidak menyangka kalau hal indah ini berasal dari makhluk hidup di dalam laut." ucap Rigel.
" Mungkin ini yang disebut kekayaan laut yang bisa menghancurkan negara." Saiph ikut berbicara.
" Dan yang pasti pemikat hati para wanita." Alnitak mengambil satu butir mutiara biru dari dalam keranjang. Matanya meneliti dengan binar kekaguman menatap mutiara di tangannya.
" Apa ini yang menjadi incaran negara ini Zai ?" Orion menoleh menatap Zairan.
Zairan menganggukkan kepalanya. " Bukan hanya itu saja, mereka juga mengincar emasku."
Mintaka melotot mendengarnya. " Kau masih memiliki harta lain lagi ?"
Zairan lagi lagi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum sombong. " Tentu saja, kalau tidak mengapa aku masih bisa bertahan sampai saat ini ?"
" Memiliki harta berlimpah tanpa seorang pewaris untuk apa gunanya ?" Bellatrix mencibir Zairan langsung.
Mata Zairan menajam seketika. " Jangan menghinaku karena aku sudah menemukannya."
" Siapa ?"
" Orion."
...*****...
" Gabriel." Hansen berlari mengejar Gabriel yang baru saja keluar dari dalam lift.
Gabriel menghentikan langkahnya sebelum berbalik menatap Hansen di belakangnya." Ada apa ?"
" Kau kenapa ? Beberapa hari ini kau terlihat menghindariku."
" Hanya perasaanmu saja."
Hansen menatap Gabriel tak percaya. " Benarkah ? Lalu kenapa jawabanmu singkat sekali ?"
" Aku lelah."
" Mau kubantu ?"
Gabriel menggelengkan kepalanya. " Tidak perlu, aku sibuk saat ini."
Hansen tersenyum dan menepuk pundak Gabriel. " Ya sudah kalau begitu aku duluan."
" Ya."
Hansen berjalan pergi melewati Gabriel. Senyum yang sebelumnya terbit indah di bibirnya perlahan menghilang. Hansen menyembunyikan kepalan tangannya di dalam saku celananya.
Jangan merasa bersalah Gabriel karena yang salah di sini bukan kau tapi ayahmu ! Batin Hansen.
Hansen menyisir rambutnya ke belakang lalu menghembuskan napas kasar. Manusia serakah dan menganggap rendah makhluk lain harusnya dibasmi layaknya serangga, pikirnya.
" Hansen."
__ADS_1
Hansen tersentak lalu melihat arah dari asal suara yang memanggilnya. " Reina ?"
Reina berjalan mendekat dengan memakai pakaian kerjanya. " Sudah makan siang ?"
Hansen menggelengkan kepalanya pelan. " Ini aku baru mau makan."
" Bersama ?"
" Ayo."
" Kenapa kau ada di sini ?" Hansen melirik Reina sekilas.
" Dan kau kenapa sendiri ? Biasanya kau dan Gabriel selalu bersama."
Hansen terdiam beberapa saat sebelum menjawab. " Dia terlihat berbeda beberapa hari ini."
" Berbeda ? Maksudmu ?" tanya Reina.
" Entah hanya perasaanku saja atau tidak tetapi aku merasa Gabriel menghindariku beberapa hari ini."
" Mungkin dia sedang sibuk. Kau tahu kan kalau dia itu anak tunggal ? Belum lagi ayahnya yang menyukai kesempurnaan itu."
Hansen tersenyum tipis. " Hm."
Reina menyelipkan beberapa anak rambutnya ke belakang telinga. Bibirnya tersenyum sembari menatap Hansen dari samping. Hari ini pria itu terlihat tampan dengan kaus putih dan jeans hitamnya. Pakaian yang sederhana tetapi terlihat berkelas saat digunakan oleh Hansen.
" Jangan menatapku seperti itu atau kau akan membuatku berlari ketakutan nanti." Hansen mengusap tengkuknya yang terasa merinding.
Reina tertawa lalu mengalihkan pandangannya. " Maafkan aku."
Hansen tersenyum membalas Reina. Setidaknya Reina masih bisa menjadi gadis yang normal menurut pandangannya.
" Ayo kita duduk di dekat jendela." Reina menunjuk meja yang tidak jauh dari mereka.
Hansen mengangguk setuju. " Kau duduk di sana biar aku yang pesankan. Kau mau apa ?"
Reina berpikir sesaat sebelum menjawab. " Apa saja yang terpenting ada dagingnya."
" Baiklah."
Reina berjalan kearah meja di dekat jendela. Dari dalam Reina bisa melihat orang orang yang sedang berlalu lalang. Melihat pemandangan itu Reina menjadi tersenyum sendiri. Makan siang bersama orang yang disukainya dan bergurau bersama sambil sesekali melihat orang orang yang berlalu lalang melalui jendela tembus pandang di sebelahnya. Bukankah itu terlihat romantis ?.
" Ini pesananmu." Orion memberikan Reina steak daging dengan susu strawberry.
Reina menoleh lalu tersenyum melihat pesanan yang baru saja diberikan Hansen untuknya. " Terimakasih."
" Sama sama." Hansen melihat Reina sekilas sebelum memakan makanannya. Sesekali Hansen melirik Reina di depannya. Gadis itu terlihat anggun sekali saat makan. Bahkan caranya memotong daging terlihat elegan.
" Kau bangsawan ?"
Reina menghentikan kegiatannya sejenak. " Tidak, kenapa ?"
Hansen menggelengkan kepalanya. " Aku hanya bertanya saja."
Reina tersenyum dan kembali melanjutkan makannya. Diam diam Reina memandang Hansen.
__ADS_1
Tuhan aku mencintainya, bisakah kau takdirkan dia untukku ? Batin Reina.