Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Mintaka Maju


__ADS_3

" Presiden ada yang memaksa bertemu dengan anda."


TAK !


Galiendro meletakkan pulpennya dengan kasar ke atas meja. Kepalanya menoleh memandang tajam sekretarisnya yang berdiri gemetar di seberang meja kerjanya.


" Siapa ?"


" Se..seseorang yang menyebutkan dirinya si pengirim pesan."


Galiendro langsung melemaskan wajahnya. Bahkan sekarang kedua ujung bibirnya tertarik ke atas hingga membentuk sebuah senyuman.


" Suruh dia masuk."


" Baik Presiden."


Galiendro merenggangkan ototnya menghilangkan penat. Kemudian bersandar di kursi kerjanya agar menjadi lebih santai. Andai saja ia sedang tidak kedatangan tamu spesial mungkin Galiendro akan tertidur sekarang.


" Selamat siang tuan, semoga tuhan selalu memberikan cahayanya untuk anda dan negara ini."


Galiendro mengerutkan keningnya melihat orang yang telah membantunya. Baru kali ini ia mendapatkan salam seperti itu dari seseorang. Terdengar asing namun dirinya menyukai salam seperti itu.


" Siapa namamu aslimu ?" tanya Galiendro.


Seseorang yang menyebut dirinya si pengirim pesan tersenyum sopan sebelum membalas. " Nama saya tetap Mintaka tuan."


" Jadi itu memang nama aslimu. Ayo duduk dimanapun kau mau."


Mintaka berjalan ke kursi yang ada di seberang meja Galiendro. " Terima kasih tuan, saya kira anda telah melupakan saya."


" Melupakanmu ? Mana mungkin, kau itu penyelamatku. Mana mungkin aku melupakanmu begitu saja. Tunggu sebentar aku ingin menghubungi sekretarisku."


Galiendro mengambil ponselnya dan menghubungi sekretarisnya untuk memesankannya minum bersama beberapa cemilan. Setelah itu Galiendro kembali memandang tamu spesialnya yang memiliki nama Mintaka. Mintaka, cukup aneh dan terdengar seperti orang dari negara Timur.


" Kau berasal dari mana ?"

__ADS_1


" Saya besar dari salah satu panti asuhan yang ada di negara ini tuan." jawab Mintaka.


Jadi seperti itu, hanya anak buangan. Pantas saja dia tidak tahu dari negara mana dia berasal. Galiendro memandang penampilan dan fisik Mintaka. Sayang sekali anak muda sepertinya harus memiliki otak yang jenius.


Tuhan sangat tidaklah adil kepadanya. Bagaimana mungkin anak yang tidak memiliki apapun seperti bisa memiliki kemampuan yang dicari di negaranya. Sedangkan anak didiknya yang ia fasilitasi tidak bisa seperti Mintaka.


" Jadi.., apa yang kau inginkan anak muda ?"


" Apakah anda akan memberikannya jika saya meminta sesuatu ?" Mintaka balik bertanya.


Galiendro tersenyum mendengarnya. Tetapi pikirannya mulai berputar memikirkan cara singkat jika Mintaka meminta sesuatu yang merugikannya.


" Jika itu masih dibatas kemampuanku. Aku akan memenuhinya." jawab Galiendro.


Dari jawaban itu mata Mintaka diam diam menyiratkan kelicikan yang tanpa Galiendro ketahui. " Saya sangat mengagumi anda sejak saya kecil. Bisakah saya menjadi salah satu orang anda meskipun saya tidak memiliki kemampuan apapun ?"


" Hanya itu ?" tanya Galiendro.


Mintaka mengangguk yakin. " Saya tidak pernah ragu dengan keinginan anda."


Senyum di bibir Galiendro semakin lebar. Matanya menyiratkan keramahan dan juga ketegasan layaknya seorang pemimpin yang rendah hati.


" Baiklah aku menerimamu. Terima kasih karena kau sudah membantuku kemarin."


" Saya yang seharusnya berterima kasih kepada anda. Karena anda mau menerima saya yang rendah ini." Mintaka tersenyum senang, hampir saja ia kelepasan memekik girang. Rasanya sekarang ia tidak merasa tersaingi lagi oleh Bellatrix.


.


...*****...


.


Mintaka keluar dari dalam mobil lalu berjalan masuk ke dalam Club malam milik Saiph dan Alnilam. Mereka berdua menamai tempat ini Night Star yang memiliki arti bintang malam. Padahal menurut Mintaka semua bintang itu datangnya pasti saat malam tiba. Dimana matahari tenggelam dan akan tenggelam bila matahari terbit. Karena itu semua bintang disebut bintang malam.


Memangnya ada bintang siang atau bintang sore ?.

__ADS_1


Saiph dan Alnilam seperti orang yang kelebihan akal sampai membuat Mintaka kesal setengah mati. Nama didunia ini banyak tetapi mereka malah menamai tempat ini bintang malam dimana isinya banyak kupu kupu malam. Kenapa mereka tidak menamai tempat ini bunga malam saja ?.


" Aku tebak dia pasti sedang mengumpati tempat kita Nilam." ucap Saiph yang duduk bersandar di sofa dengan topeng terpasang rapi menutupi sebagian wajahnya.


" Biarkan saja, di sini pun dia tidak berguna untuk kita." balas Alnilam dengan ucapan tajamnya.


Mintaka mengusap dadanya untuk mengingatkan dirinya agar lebih bersabar lagi. Pasangan yang menyebalkan setelah Rigel dan Alnitak. Ditambah lagi pria tapi bernama wanita seperti Bellatrix. Teman temannya memang tidak ada yang waras satu pun. Kecuali Orion, meskipun dia itu pembunuh berdarah dingin. Tapi dibalik wajah datarnya Orion itu orang yang pengertian.


" Aku tebak lagi dia pasti sedang memabanding bandingkan kita dengan Orion." tebak Siph lagi dan itu memang sesuai kenyataan yang membuat Mintaka hanya bisa diam.


Menjawab pun nanti salah juga ujungnya. Karena Mintaka tahu seberapa tajamnya setiap ucapan yang datang dari mulut Saiph. Ditambah lagi adanya Alnilam yang menjadi pelengkap bumba bumbu calonnya sakit hati.


Mintaka menuangkan Wine ke dalam gelas kosong lalu meminumnya dalam sekali tegukkan.


" Bagaimana tugasmu ?" tanya Alnilam.


" Berjalan lancar sesuai rencana." jawab Mintaka.


" Saya sangat mengagumi anda sejak saya kecil." Saiph tertawa geli setelah menirukan sebait kata yang Mintaka ucapkan oada Galiendro. " Mengagumi seorang penghianat ? Yang benar saja !" lanjutnya.


Alnilam ikut tertawa. Namun dia tidak mengejek Mintaka karena mereka masih berada dalam misi. " Dia kan hanya melakukan itu untuk bisa mendekati Galiendro sayang."


" Iya aku tahu itu, tapi kata kata yang dia ucapkan itu sungguh menggelikan." ucap Saiph.


Mintaka memutar mata malas. Selalu saja seperti ini kalau ia yang maju. Mereka pasti akan mencari hal memalukan untuk bisa mengejeknya. " Aku harus memerankan tipe pria muda yang polos dan juga aktif. Selain itu aku juga harus pandai mengarang pujian pujian manis agar dia menyukaiku."


" Kau harus banyak belajar kalau begitu. Minta Hansen mengajarimu atau kalau tidak Bellatrix saja." ucap Alnilam memberi saran.


Mintaka mengeleng singkat. " Meminta bantuan Bellatrix sama saja merelakan diri sendiri untuk menjadi tikus percobaannya. Untuk Hansen.., kau tahu sendiri kalau sejatinya dia adalah Orion si Pemburu berdarah dingin. Minta bantuanya yang ada aku akan diajari caranya membunuh bukan memuji."


Alnilam tertawa dan menyetujui ucapan Mintaka. " Kau benar, kalau begitu kau minta orang lain saja asal jangan teman teman kita. Karena aku yakin kita semua bukanlah orang orang yang normal pada umumnya."


" Aku akan mempelajarinya sendiri saja." balas Mintaka.


" Ya terserahmu saja kalau begitu."

__ADS_1


__ADS_2