
" Baik akan kulakukan sebaik mungkin." balas Mintaka.
Orion tersenyum menatapnya lalu beralih memandang Alnilam, Alnitak. " Aku tahu kegilaan kalian dalam memainkan senjata. Jadi aku ingin kalian menjadi penyerang kedua setelahku. Karena disini aku tidak akan membedakan siapapun meski kalian berdua adalah seorang wanita."
" Kami mengerti." jawab Alnilam dan Alnitak bersamaan.
Kini pandangan Orion beralih lagi menatap Bellatrix dan Saiph. " Saiph kau itu kuat dan tahu segala macam teknologi. Aku yakin ruang bawah tanah di pulau terkecil itu sebagian besar menggunakan teknologi canggih. Jadi aku mengandalkanmu untuk mengawal Bellatrix masuk ke sana dan kalian mencari keberadaan paman Neus bersama sama."
" Siap." Saiph berucap tegas.
" Bellatrix di sini kau yang paling tahu pengobatan dari pada aku dan Rigel. Jadi bawalah obatan obatanmu untuk segala kemungkinan yang terjadi pada paman Neus. Kau bisa menduganya dan tolong perkirakan dengan secermat mungkin." pinta Orion.
" Dipahami ketua." Bellatrix menganggukkan kepalanya.
" Terakhir..., Rigel. Kau hebat bertarung jarak dekat maupun jauh. Jadi aku memberimu tugas untuk menyerang tempat itu bersamaku sebagai tim pertama." ucap Orion diakhir pengaturannya.
" Ya." Rigel membalas singkat.
" Lalu kita ke sana menggunakan yang mana dulu ?" tanya Mintaka.
Orion tersenyum mendengarnya. Ia memandang Mintaka sekilas sebelum kembali fokus dengan rencana mereka. " Pertanyaan yang bagus Taka. Kita akan menggunakan helikopter dan turun menggunakan parasut untuk memperkecil segala kemungkinan hal buruk yang ada."
" Kita akan datang bersama dan berjalan masuk ke dalam hutan itu menuju ruang bawah tanah. Tidak ada yang boleh berpisah karena kita tidak mengenal tempat itu seperti apa. Setelah kita dekat dari tempat ruang bawah tanah barulah kita mulai berpencar namun dengan satu tujuan yang sama yaitu mencari tempat disembunyikannya paman Neus. Timku dan tim kedua akan memberantas orang di sana sebanyak mungkin untuk mempermudah jalannya tim ketiga yaitu Saiph dan Bellatrix." lanjutnya menjelaskan.
" Dan..." Orion menatap teman temannya yang sedang mendengarkannya dengan sangat serius. Mereka menunggu kelanjutan dari ucapannya.
" Mulutku lelah bergerak, jadi biarkan Rigel yang mengambil alih. Aku mau minum dulu di dapur."
__ADS_1
Tanpa rasa bersalah Orion langsung beranjak pergi begitu saja meninggalkan teman temannya yang tertegun melihat kepergiannya seperti orang bodoh. Butuh beberapa menit untuk mereka baru menyadarinya.
" Sialan." Saiph mengumpat pelan menahan kesal.
Mintaka menyisir rambutnya ke belakang lalu menghela napas untuk mencoba bersabar. Begitupula dengan Bellatrix yang mendelik kesal siap mengeluarkan segala nama hewan yang cocok ia sebutan untuk Orion saat ini. Sedangkan Alnilam dan Alnitak, mereka saling memandang kemudian menghela napas bersama.
Rigel mengurut pangkal hidungnya melihat itu. Orion memang menyebalkan, disaat genting seperti ini pria itu malah melampiaskan rasa marahnya dengan membuat orang lain merasa kesal.
Kurang ajar sekali dia ! Rigel mengumpat dalam hati.
Tetapi meski begitu tetap saja Rigel tidak berani mengeluh. Karena di sini Orion lah yang menjadi ketuanya dan juga pemimpinnya. Semua keputusan ada di tangan Orion dan mereka hanya wajib mendengar dan mengikutinya saja.
" Jadi kapan rencana kita ini dilakukan ?" tanya Alnilam.
" Tunggu sampai Orion memutuskan cutinya besok." Rigel menjawab pelan.
" Itu berarti kita harus menunggu sampai besok. Aku berdoa, semoga aku bisa tidur malam ini." ucap Mintaka yang langsung berbalik pergi.
.
...*****...
.
Rigel berjalan mendekati Orion yang tengah duduk bersantai di taman belakang rumahnya. Lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya sebelum duduk di sebelah Orion.
" Rokok ?" tawar Rigel yang dibalas gelengan kepala dari Orion. " Kau masih memikirkan papi ?" tanyanya.
__ADS_1
" Hm, aku takut mereka menganiayanya seperti mereka melukai orang tuaku." jawab Orion.
Rigel memandang ke depan kemudian menghela napas panjang untuk menghilangkan rasa sesak di dalam dadanya. " Aku yakin papi masih bisa bertahan. Meski terluka tapi papi bukanlah orang yang lemah dan tidak mungkin bisa mati begitu saja."
" Ya, semoga saja." Orion berucap lirih, ia memandang kedua telapak tangannya.
Apa ini akibat dari dosanya selama ini ?.
Membunuh banyak orang demi membalaskan dendamnya. Tidak perduli orang itu benar ataupun bersalah, asalkan mereka masuk ke dalam kubu para penghianat itu Orion langsung membunuh mereka. Padahal ini barulah dua orang yang berhasil ia balas. Tetapi paman Neus sudah menjadi sasarannya. Ia tertangkap oleh mereka, dan mustahil kalangan mereka tidak menyiksa paman Neus seperti yang mereka lakukan kepada orang tuanya dulu.
" Jangan jadikan ini sebagai rasa keputusasaanmu Rion. Kau tahu kalau semua perbuatan pasti akan ada akibatnya dan resikonya, baik itu buruk ataupun tidak." ucap Rigel tanpa menatap Orion di sebelahnya.
" Tapi aku merasa.., ini salah. Aturannya aku saja yang mereka tangkap bukan paman. Yang membalas mereka adalah aku dan orang yang mereka benci juga adalah aku."
Rigel yang mendengar itu menjadi tidak senang. " Apa apaan kau ini ! Kalau kau yang tertangkap, sia sia usaha dan kerja keras kita selama ini ! Berhentilah berpikiran bodoh karena di sini bukan hanya kau saja yang merasa cemas. Tapi kami semua juga merasakannya. Sekarang lebih baik kau cepat hubungi anak penghianat itu dan mintalah cuti sesegera mungkin. Kita tidak mungkin membiarkan papi lebih lama di tangan mereka."
Setelah mengucapkan itu, Rigel beranjak pergi dari sana. Orion mengusap wajahnya dengan kasar karena merasa frustasi. Perasaan marah dan juga tidak tenang terus menghantuinya saat ini. Namun ucapan Rigel ada benarnya juga, saat ini yang paling utama adalah Orion harus menghubungi Gabriel dan meminta cuti beberapa hari. Orion mengeluarkan ponselnya lalu menekan nama Gabriel di sana.
" Halo ? Ada apa ?"
Orion terdiam dan tidak langsung berbicara. Ia memenangkan perasaanya lebih dulu agar suaranya terdengar tetap tenang seperti biasanya.
" Halo ? Hei ! Kau cepatlah berbicara karena aku sedang berada di jalan sekarang."
" Aku minta cuti." ucap Orion yang langsung pada intinya.
" Apa ?! Cuti lagi ?! Kau niat bekerja tidak sih di kantorku Hans !"
__ADS_1
" Aku cuti seminggu untuk mencari pengalaman baru. Terima atau tidak itu terserahmu." setelah mengucapkan itu Orion segera menutup panggilannya. Ia tidak akan perduli kalau seandainya di sana Gabriel sedang mengumpatinya dengan menggunakan berbagai macam nama hewan yang berkaki empat.
Andai saja Orion bisa mengundurkan diri dari sana. Mungkinkah sudah sejak lama ia keluar dari kantor Gabriel. Pria kekanakan itu semakin lama semakin menyebalkan di matanya. Bersyukur dia tidak melakukan kesalahan kepadanya. Karena kalau tidak, Orion tidak akan segan segan lagi membunuhnya.