Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Apartemen Hansen


__ADS_3

" Gabriel kau mau kemana ?" Reina yang baru masuk ke dalam kantor mengunjungi Hansen tanpa sengaja berpapasan dengan Gabriel yang sedang berjalan tergesa gesa keluar kantor.


Gabriel terkejut dan menoleh melihat Reina yang berdiri tidak jauh darinya. " Hei Rein, kau di sini."


" Ya, mengunjungi Hansen." balas Reina.


" Dia pergi tadi."


" Pergi ? Kemana ?"


Gabriel berjalan mendekati Reina. " Entahlah tapi mungkin dia berada di Apartemennya."


" Dari mana kau tahu ?"


" Aku hanya menebak saja. Mangkanya aku ingin kesana untuk membuktikan."


" Aku ikut ya ?" pinta Reina.


Gabriel mengangguk. " Ayo."


Reina tersenyum dan berjalan mengikuti Gabriel. Di depan kantor supir Gabriel telah menunggu. Melihat Gabriel yang masuk ke dalam mobil Reina juga ikut masuk.


" Tidak biasanya kau keluar disat jam kerja. Apa kau dan Hansen bertengkar lagi ?" yanya Reina.


Gabriel mengelengkan kepala lalu kemudian menganghukkan kepalanya yang dimana itu membuat Reina bingung melihatnya.


" Ada apa dengan gelengan dan anggukanmu itu ?" Reina bertanya lagi.


Gabriel menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Reina. " Aku membuatnya kesal awalnya dan aku meminta maaf lalu dia memaafkanku dengan syarat. Tetapi setelah dia tidak sengaja tertidur di sofa ruang kerjaku. Dia terlihat aneh dan pergi begitu saja sampai sekarang."


Reina mengerutkan kening bingung saat mencerna setiap penjelasan yang Gabriel berikan. " Penjelasanmu menyimpan banyak arti Gabriel. Tolong perjelas dan kalau bisa inti permasalahannya saja."


Gabriel berdecak dan membayang pandangannya keluar jendela mobil. " Aku malas, ayo keluar kita sudah sampai."


" Cepat sekali." ucap Reina.


" Hansen memang sengaja memilih tempat tinggal yang tidak jauh dari kantorku." Gabriel memberitahu Reina sebelum keluar dari mobil.


Reina keluar dari mobil lalu tersenyum genit. Andai saja Hansen melihat senyumannya ini mungkin pria tampan itu akan berlari menjauhinya. " Yah apapun alasannya. Tapi intinya aku bahagia karena bisa mengetahui tempat tinggalnya."

__ADS_1


Gabriel memutar mata malas. " Tutupi senyum genitmu itu atau tidak Hansen akan berlari ketakutan melihatnya."


" Aku tahu." Reina memasang wajah cemberut. " Tapi aku penasaran kenapa dia bisa setakut itu pada wanita genit. Padahal yang kutahu dia termasuk pria yang suka merayu."


Gabriel tersenyum lalu sedikit memirungkan tubuhnya untuk berbisik pelan di telinga Reina. " Itu karena dia dulu hampir saja diperkosa oleh wanita tua."


Mata Reina melotot seketika. Ia menoleh memandang terkejut kearah Gabriel. " Astaga ! Benarkah ?"


Gabriel mengangguk dan kembali menegakkan tubuhnya. " Kejadian itu terjadi saat kami berumur lima belas tahun. Kau tahu, dulu dia besar di panti asuhan. Aku masih ingat jelas karena saat itu aku memaksa ibuku untuk ikut ke panti itu demi bisa bermain bersama Hansen. Setelah kami tiba disana ternyata tidak hanya kami saja yang berniat ingin memberi dana bantuan tetapi ada seorang wanita kaya yang berniat sama."


Gabriel menghela napasnya sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya. " Tapi wanita itu meminta pemilik panti untuk memberi izin padanya membawa Hansen berjalan jalan karena dia tidak memiliki anak. Aku yang saat itu sangat ingin bermain bersama Hansen menangis pada ibuku dan berbisik ingin menculik Hansen dari wanita kaya itu setelah mereka keluar dari panti. Tapi setelah aku mengikuti mereka bersama penjagaku. Aku malah melihatnya dilecehkan oleh wanita kaya itu di dalam mobilnya."


Reina tertegun diam mendengar itu. " Jadi itu alasannya." gumamnya.


...*****...


Gabriel menekan beberapa digit angka untuk membuka pintu Apartemen Hansen yang telah dihapalnya.


" Kau tahu kata sandi Apartemennya ?"


" Ya karena kami membuatnya secara bersamaan hanya saja ada sedikit yang berbeda." balas Gabriel.


" Pekerja aku datang !" Gabriel berteriak memanggil Hansen.


" Jangan berteriak." tegur Reina.


Gabriel terkekeh dan menjawab. " Itu cara kami setiap kali berkunjung ketempat masing masing."


" Pekerja ! Kau ada disinikan ?!"


" Ya bos, bawahanmu sedang tidur sekarang !" balasan berupa teriakkan yang berasal dari kamar membuat Gabriel tersenyum.


" Dia ada disini. Ayo kita duduk dan menunggunya." ucap Gabriel.


Reina memperhatikan Gabriel dengan seksama. Entah mengapa melihat interaksinya yang begitu dekat dengan Hansen membuatnya mencurigakan sesuatu. " Gabriel kau masih normal bukan ?"


Gabriel langsung mematap Reina kesal. " Tentu saja ! Kau kira karena aku tidak pernah memiliki kekasih, aku tidak menyukai wanita begitu ?!"


Reina tersenyum canggung dan menggaruk pipinya. " Kau terlihat sangat dekat sekali dengan Hansen. Aku belum pernah melihat pertemanan yang begitu dengan sesama jenis kecuali..., yah kau tahu maksudku."

__ADS_1


" Kami memiliki kisah yang tidak bisa kuceritakan padamu. Kisah itulah yang membuatku merasa bahwa dia teman sejatiku selain kau Reina."


Reina menepuk pundak Gabriel di sampingnya. " Maafkan aku yang tidak bisa menjadi temanmu disaat kau dalam kesulitan. Tapi aku bersyukur kau bertemu Hansen yang menggantikanku disaat aku jauh darimu."


" Kau tidak pernah salah. Jadi jangan meminta maaf." Gabriel mengusap pelan tangan Reina yang berada di pundaknya.


" Ehem !"


Sebuah deheman keras mengalihkan perhatian Reina dan juga Gabriel


" Kalian terlihat mesra sekali." ucap Hansen yang berjalan menghampiri Gabriel dan Reina.


" Kami hanya mengobrol tadi tentang masa lalu." ucap Gabriel.


Hansen tersenyum tipis menatap Gabriel dan Reina bergantian sebelum menghela napas pelan. " Aku akan ambilkan minum. Kalian mau soda, jus, minuman dingin, atau minuman hangat ?"


" Soda." jawab Gabriel dan Reina bersamaan.


Senyum Hansen berubah kaku namun ia masih bisa mengangguk paham lalu beranjak pergi. " Hanya mengobrol tetapi berpegangan tangan." gumamnya lalu berdecak.


Hansen membuka lemari pendinginnya. Mengambil tiga botol minuman soda yang dingin dan beberapa cemilan. Setelah itu ia kembali ke ruang tamu.


" Aku hanya punya ini." Hansen menunjukkan cemilan dan minuman sodanya. Ia mengambil satu botol soda dan membuka tutupnya lalu memberikannya pada Reina.


" Terima kasih Hans." Reina tersenyum menerima minuman soda itu.


" Sama sama." Hansen tersenyum lalu melemparkan satu botol soda kearah Gabriel.


" Hei, hati hati. Kau hampir saja merusak wajahku tampanku !" Gabriel berucap kesal karena ia yang tiba tiba dilempar sebotol soda. Untung saja tangannya tadi cepat menangkap botol soda itu kalau tidak maka wajah tampannya inilah yang akan terkena imbasnya.


Hansen menghiraukan kekesalan Gabriel karena tangannya yang sibuk membuka tutup botol soda. Ia berjalan mendekati Reina dan duduk di sebelahnya. " Jadi ada apa bosku ini datang berkunjung disaat jam kerja masih berlanjut."


Gabriel menatap Hansen. " Kau sudah baikan ? Maksudku yang tadi di kantor itu..., apa kau baik baik saja ?"


Hansen tertawa mendengar pertanyaan itu. " Aku selalu baik baik saja teman."


" Benarkah ?" tanya Gabriel yang tidak yakin.


" Ya, kau bisa melihatnya sendiri bukan ?"

__ADS_1


__ADS_2