Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Kabar Gempar


__ADS_3

Hansen berjalan memasuki kantor dengan flashdisk putih yang dimainkan di tangannya. Ia bersiul menyenandungkan sebuah lagu yang dihafalnya. Tujuannya datang ke kantor adalah untuk memberikan hasil fotonya saat liburan kemarin kepada Toni.


" Hans ada apa kau datang ke lantai satu ?" Toni yang menjadi ketua divisi ini menatapnya penuh tanya.


" Aku mendapatkan bahan foto yang bagus untukmu. Jadikan majalah bersama model lainnya ya. Soalnya foto itu susah kudapatkan." Hansen memberikan flashdisknya pada Toni.


Toni menatap flashdisk itu penasaran. " Apa isinya ?"


" Lihat saja."


Toni berjalan ke meja kerjanya lalu memasang flashdisk itu di komputernya. Dibukanya file yang ada di flashdisk itu dengan tatapan penasaran. Setelah file terbuka betapa terkejutnya Toni saat melihat wajah wajah yang difoto Hansen begitu familiar.


" Kau yakin ?"


Hansen mengangguk. " Seribu persen yakin."


" Tapi ini foto bos dan juga Jack. Kau juga kenapa bisa ada di dalamnya ? Kalian ingin menjadi model ? Tapi, bagaimana kalau bos tahu dan marah melihat fotonya dijadikan majalah ?" Toni bertanya dengan beruntun yang membuat Hansen terdiam bingung mencerna pertanyaannya.


" Itu.., aku sudah berbicara pada bos dan dia sudah menyetujuinya."


Toni memandangnya tak percaya. Mengenal Hansen selama bertahun tahun membuat Toni paham bagaimana pintarnya pria itu mencari perkara.


" Kau bisa menelpon bos untuk bertanya kalau kau tidak percaya. Lagi pula mana pernah aku bohong kepadamu Toni sayang." Hansen sengaja membuat manja suaranya diakhir ucapannya.


Toni yang mendengar itu langsung melotot dan mengambil pena. " Kau jangan membuatku geram dan menusukkan pena ini pada asetmu."


" Kau kejam !" Hansen berteriak manja lalu berlari keluar dari lantai satu.


" Hansen sialan ! Aku akan memotong asetmu itu !" teriak Toni.


" Tidak masalah sayang, asetmu kan masih ada !" Hansen balas berteriak yang hampir saja terkena lemparan sepatu dari Toni jika ia tidak cepat menghindar.


Mendengar teriakkan Hansen yang cukup kencang dan bisa didengar banyak orang. Para pegawai dan juga model pria yang mendengarnya langsung melangkah mundur menghindari Hansen. Meski mereka tahu itu hanyalah kejahilan Hansen tetapi saat mendengar teriakkan manja itu mereka menjadi takut sendiri.

__ADS_1


" Pemirsa terjadi pencurian di Bank utama negara kita. Pencuri itu mengambil seluruh uang di Bank yang bernilai cukup besar. Saat ini penanggung jawab Bank, bersama Mentri keuangan dan juga pemerintah tengah mencari solusinya...."


" Apa ?!" teriakan kencang dari pegawai wanita yang tengah menonton televisi yang memang disediakan disetiap ruangan menjadi histeris.


" Astaga ! Uangku ada di Bank itu !"


" Bagaimana ini ?! Aku juga menyimpan uangku disana !"


" Astaga uangku !"


Teriakkan para pegawai yang mendengar berita itu mengalihkan perhatian Hansen. Ia memandang para pegawai itu lalu masuk ke dalam lift.


Wajah ramah yang biasa ditunjukkan Hansen kini berubah datar seiring menutupnya pintu lift. Matanya menyiratkan sesuatu yang sulit diartikan. Setelah pintu lift terbuka Hansen berjalan ke ruangan Gabriel. Ia yakin sekarang pria itu tengah mengamuk karena uangnya yang lenyap begitu saja bersama pencurian di Bank itu.


Mungkin bukan hanya Gabriel saja yang merasa kehilangan. Seluruh penjilat negara dan juga para penghianat itu pasti juga ikut merasakannya. Karena Bank utama negara Z adalah Bank terbesar dimana semua orang menyimpan uang mereka dalam jumlah yang besar.


.


...*****...


.


" Masalah apalagi ini ?!" Galiendro berteriak frustasi.


Jenderal Jin dan George merasakan apa yang Galiendro rasakan. Mereka tidak menyangka jika masalah sebesar ini bisa datang begitu saja. Dari munculnya berita itu, Jenderal Jin langsung berlari ke kantor pemerintahan untuk menemui Galiendro. Setelah sampai ternyata di sana sudah ada George yang sibuk menghubungi anak buahnya.


" Kenapa Bank sebesar itu bisa dimasuki pencuri. Dimana sebenarnya para penjaga ? Siapapun yang berada di luar segera hubungi menteri keuangan !" Galiendro lagi lagi berteriak layaknya orang kesetanan.


Yang hilang itu adalah uang seluruh rakyat negara Z. Jika uang yang disimpan itu hilang maka yang harus menggantinya adalah negara. Sedangkan negara Z adalah tanggungannya. Dari mana Galiendro bisa menemukan uang sebanyak itu ?.


" Aku akan melihat Bank itu." Jenderal Jin beranjak dari tempat duduknya.


" Untuk apa ? Kau datang kesana pun uang itu tidak akan kembali."

__ADS_1


Ucapan Galiendro menghentikan langkah Jenderal Jin yang ingin keluar dari ruangan. Seketika Jenderal Jin mengepalkan tangannya tanpa berbalik menatap Galiendro.


" Setidaknya aku berusaha dibandingkan berdiam diri tanpa melakukan apa apa." setelah mengatakan itu Jenderal Jin keluar dari ruang kerja Galiendro dan disambut Klein yang berdiri siaga menunggunya di depan pintu.


" Kita ke tempat Bank itu."


" Baik Jenderal." Klein mengikuti Jenderal Jin dengan patuh. Dibukanya pintu mobil untuk Jenderalnya masuk ke dalam. Setelah itu Klein berlari memutar untuk membuka pintu seberang mobil dan masuk ke dalamnya.


Di perjalanan Klein terus melihat perkembangan kasus pencurian uang Bank itu melalui berita berita terkini. Dalam hati Klein ada rasa kagum yang ia tujukan untuk pencuri itu. Mereka masih bisa menembus keamanan berlapis yang dijaga sangat ketat. Bahkan para petinggi yang ingin masuk kesana saja harus melewati beberapa pemeriksaan keamanan.


Mobil berhenti dan pintu mobil dibuka oleh supir pribadi Jenderal Jin. Sedangkan Klein memilih untuk keluar sendiri tanpa menunggu dibukakan pintu.


" Klein foto apapun yang menurutmu mencurigakan." ucap Jenderal Jin bersama langkahnya memasuki Bank itu.


" Baik Jenderal."


Jenderal Jin masuk dengan membawa tanda pengenalnya diikuti Klein dari belakang. Setiap prang yang ada disana langsung membungkuk hormat menyambut kedatangan sang Jenderal negara mereka.


" Jenderal selamat datang. Saya Farad kepala kepolisian yang menangani kasus ini." seorang pria yang cukup tampan datang bersama wakilnya menghampiri Jenderal Jin.


Jenderal Jin mengangguk sekilas lalu melirik Klein memberi isyarat untuk melakukan tugasnya. Klein yang mengerti pun langsung membungkuk hormat sebelum melangkah pergi.


" Bagaimana kejadiannya ?" tanya Jenderal Jin.


" Belum ada kejelasan Jenderal. Karena seluruh seluruh CCTV tidak menampilkan apapun. Bahkan lampu pengintai juga tidak menemukan hal yang mencurigakan." jelas Farad.


" Lalu bagaimana kalian tahu Bank ini sedang kecurian ?" Jenderal Jin bertanya lagi.


" Saat petugas Bank ingin melakukan pemeriksaan setiap pagi. Pintu Bank telah terbuka dan uang ditempat penyimpanan telah kosong."


" Jadi begitu, ya sudah. Lanjutkan penyelidikan anda. Saya hanya ingin melihat saja dan kalau bisa tolong berikan saya laporan tentang hasil perkembangan kasus ini."


" Baik Jenderal." balas Farad.

__ADS_1


" Saya akan melihat dulu." Jenderal Jin berjalan mencari Klein. Ia berpikir pencuri itu cukup hebat tanpa meninggalkan jejak selain pintu brankas penyimpanan uang yang dibuka begitu saja. Sepertinya kasus ini cukup sulit untuk dipecahkan nantinya. Dilihat dari tidak adanya bukti apapun yang menunjukkan siapa pencuri itu sebenarnya.


__ADS_2