
" Bukankah ini sempurna ?" tanya Alnitak menunjukkan kalung yang terbuat dari mutiara biru.
Alnilam memandang kalung itu untuk beberapa saat sebelum menganggukkan kepala. " Terlihat sangat indah. Sayang sekali kita hanya boleh membuatnya untuk beberapa saja."
" Demi misi kita. Saiph giliranmu." Alnitak memberikan kalung itu pada Saiph.
Saiph mengambil kalung itu untuk dipasangkan sebuah alat perekam yang telah dibuatnya beberapa minggu lalu.
" Ini gelangnya." Rigel yang sedari tadi bertugas mengebor emas memberikan hasil kerjanya pada Alnitak dan Alnilam.
Alnilam mengambil gelang itu dan menelitinya dengan cermat. " Rigel bisa kau perkecil lagi ? Bagiku ini terlalu lebar sedikit."
" Bisa, mari biar aku perbaiki."
Alnilam memberikan gelang itu dan kembali membantu Alnitak memoles tiap butir mutiara biru dengan cairan bening yang dibuat oleh Bellatrix.
" Hei saudara !" Mintaka berjalan mendekat sambil membawa laptopnya.
" Ada apa ?" tanya Alnitak.
Mintaka mencari tempat duduk dan menunjukkan sebuah rekaman CCTV pada keempat saudaranya. " Lihat, sepertinya trauma Hansen kembali lagi."
" Benarkah ?" Alnilam berjalan menghampiri Mintaka. Begitu pula dengan Alnilam yang langsung berjalan cepat untuk melihat rekaman itu.
Saiph dan Rigel meninggalkan pekerjaan mereka untuk ikut melihat. Direkaman itu mereka melihat Hansen yang tertidur dan menangis.
" Apa yang menariknya sampai dia bisa kembali seperti itu ?" Rigel berucap dingin. Melihat Hansen yang terlihat menyedihkan membuatnya ingin sekali menghancurkan siapa saja yang berani membuat mimpi buruk itu kembali lagi.
" Apa ini bersangkutan dengan kematian Monica ?" tebak Saiph.
" Mungkin juga." Alnilam tampak berpikir keras.
" Panggilkan Bellatrix." pinta Rigel.
" Aku di sini." Bellatrix datang dengan setelan putih ala dokter yang bekerja dalam penelitian. Ia melihat rekaman itu dan memandangnya cukup lama. Keningnya berkerut memikirkan sesuatu.
" Apa kau memiliki rekaman sebelum kejadian ini ?" lanjutnya bertanya pada Mintaka.
" Akan kucari." Mintaka segera menggunakan kecepatan jemarinya di atas keyboard untuk menyalin setiap rekaman kejadian melalui CCTV yang berada di kantor Gabriel.
" Aku sudah mengirimnya pesan untuk datang kemari." ucap Rigel.
__ADS_1
Bellatrix menganggukkan kepalanya. " Itu bagus karena akan lebih mudah bila memeriksanya secara langsung."
" Altrix menurutmu apa ini ada hubungannya dengan kematian Monika ?" tanya Saiph.
Bellatrix terlihat berpikir sejenak. " Kemungkinan tidak tetapi bisa juga iya."
" Ketemu." Mintaka tersenyum melihat keahliannya yang cukup cepat.
Rigel, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, dan Saiph melihat rekaman itu dan terlihat saling diam dengan pandangan bingung kecuali Bellatrix yang memang telah menduga sebelumnya.
" Tidak ada yang aneh." ucap Alnitak.
" Ya, mereka hanya menjadikan Hansen sebagai model." tambah Alnilam.
" Alnitak benar, rekaman itu tidak ada yang mencurigakan." komentar Saiph.
" Ada." balas Bellatrix tanpa mengalihkan pandangannya dari rekaman itu.
" Jelaskan." pinta Rigel.
" Kalian lihat cahaya kamera itu ?" tanya Bellatrix yang dibalas anggukan kepala dari kelima saudaranya.
" Dan lihat pandangan Hansen setelah cahaya kamera itu berhenti. Matanya terlihat kosong untuk sekilas. Mungkin orang lain tidak menyadarinya karena terhalang cahaya kamera. Sebab itulah kenapa dia tidak bisa konsentrasi saat orang orang itu mengarahkan beberapa gaya untuknya berfoto." lanjutnya.
" Kalau memang benar. Hansen trauma dengan cahaya yang terlalu terang karena mungkin disaat itu dia tiba tiba melihat bayangan pembunuhan yang terjadi di Mansion Frendick. Karena itulah di dalam alam bawah sadarnya dia memanggil ayah, ibu, dan juga pengasuhnya."
...*****...
Hansen berjalan memasuki rumah mewah dengan kedua tang yang disimpan di saku celananya. Langkahnya kali ini menuju ruang tengah yang ada di rumah mewah itu. Dimana di sana anggota inti Rasi Bintang sedang berkumpul menunggunya.
Hansen mengambil tempat duduk di sebelah Rigel. " Kalian memanggilku ?"
Saiph menganggukkan kepalanya. " Ini tentang kejadianmu di kantor itu."
" Aku baik baik saja kalau itu yang kalian khawatirkan." balas Hansen.
" Kami tahu tapi..., kau juga harus tahu kalau hal itu lama lama bisa mempengaruhi mentalmu." ucap Rigel.
Hansen menjadi diam memikirkan ucapan Rigel untuknya.
" Hansen biarkan aku memeriksamu untuk membuktikan dugaanku benar atau tidak. Kalau memang benar kita akan melakukan terapi kembali." pinta Bellatrix.
__ADS_1
" Hm." Hansen membalas singkat.
Bellatrix menegakkan tubuhnya dan menatap Hansen dengan pandangan serius. " Saat kau difoto, cahaya foto yang sangat terang meski hanya sekilas itu. Membuatmu merasa cahaya itu terlalu terang dan menimbulkan bayangan sekilas yang kearah negatif. Apa itu benar ?"
Hansen mengangguk pelan.
" Lalu berupa apa bayangan negatif itu sampai kau terbawa suasana dan membuatmu memimpikan hal buruk itu lagi ?" Saiph bertanya lagi. Meskipun ia sudah menduganya tetapi bertanya langsung pada Hansen akan membuatnya yakin.
" Aku melihat kejadian masa itu." Hansen terlihat enggan menjelaskan lebih jauh.
" Berarti benar kalau cahaya kamera yang terlalu terang bisa menimbulkan perasaan lain dan membuatmu kembali memimpikan itu." ucap Saiph membuat kesimpulan.
" Tapi sebelumya aku tidak apa apa saat akan difoto untuk mendaftar sekolah dan membuat kartu identitas." Hansen berucap bingung.
" Kau lupa Hans kalau kau baru bisa menahannya empat tahun ini ? Yang berarti itu dulu kau juga mengalami hal yang sama tetapi karena kau masih mengalami traumamu itu jadi kita semua belum mengetahuinya." balas Bellatrix.
Hansen kembali berpikir dan mengingat ngingat lagi setiap detail kejadian masa lalunya yang berhubungan dengan foto. Memang benar dulu Hansen sering mimpi buruk yang membuatnya trauma. Tapi empat tahun ini Hansen tidak memimpikannya lagi dan selama itu juga ia memang tidak pernah berfoto. Bahkan Hansen sering memakai topi untuk menghalau cahaya masuk ke dalam matanya.
" Ini obatmu, dan kembalilah lagi kalau kau masih mengalami mimpi buruk itu." Bellatrix mendorong sebotol pil ke depan Hansen.
Hansen mengambilnya dan mengangguk mengerti. Tanpa banyak bicara ia langsung beranjak dan melangkah pergi tanpa mengucapkan kata terima kasih untuk Bellatrix ataupun yang lainnya.
Bellatrix terperangah melihat Hansen yang pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih untuknya karena telah membantunya. " Apa ini yang dinamakan habis manis sepah dibuang ?"
Mintaka menepuk pundak Bellatrix dan menghiburnya. " Bukan, tapi itu dinamakan jika tak berguna lagi maka wajib dibuang."
PLAK !
" Aduh ! Kenapa kau memukulku ?!" teriak Mintaka yang meringis kesakitan setelah mendapatkan pukulan kencang di kepalanya dari Bellatrix.
" Tanyakan saja pada otakmu yang bodoh itu." jawab Bellatrix.
Mintaka melotot kesal karena otaknya yang dibilang bodoh. " Otakku tidak bodoh !" teriaknya tidak terima.
Saiph mengangguk setuju. " Otak Mintaka memang tidak bodoh Bellatrix. Kau tahu kenapa ?"
" Kenapa ?" tanya Bellatrix.
" Itu karena dia tidak memiliki otak." Saiph berucap kejam.
Bellatrix menunjukkan ibu jarinya tanda setuju. " Pantas saja aku tidak bisa melihat otaknya dari tadi."
__ADS_1
" Kalian kurang ajar ! Aku akan membalas kalian nanti !" Mintaka berteriak marah.