Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Hari Pertengkaran


__ADS_3

Gabriel mengacak rambutnya frustasi dan Hansen yang menghela napas berusaha sabar menghadapi kesialan yang entah datangnya dari mana hari ini. Karena Reina yang dengan segala akalnya memaksa mereka berbelanja pukul tujuh pagi di hari libur mereka.


Ingat !.


Pukul tujuh pagi !.


Dan mereka baru saja tidur selama setengah jam setelah berlomba main game online bersama. Hansen menyandarkan kepalanya ke pundak Gabriel.


" Aku ngantuk sekali."


" Aku juga." Gabriel bersandar di kaca mobil sambil memejamkan matanya.


" Bisa kita pulang saja ?" tanya Hansen.


" Sepertinya tidak." jawab Gabriel tanpa membuka matanya.


" Hah, aku menyesal berkata ingin ikut ke perlelangan itu."


" Aku juga."


Reina yang melihat mereka dari kursi kemudi langsung berdecak kesal. " Mirip seperti anak anak saja."


Sejak tadi Hansen dan Gabriel selalu mengeluh ngantuk dan merengek ingin tidur. Tak jarang pula mereka saling bersandar atau berpelukan dengan mata terpejam. Benar benar dua pria yang tidak tahu caranya bersikap dewasa.


Reina menghentikan mobilnya di parkiran butik terkenal di negara Z. Ia keluar dari mobil lalu berjalan dan membuka pintu belakang mobilnya dimana Hansen dan Gabriel tidur dengan posisi berpelukan.


" Hei kalian berdua bangun !" Reina berteriak kencang.


" Hm." Gabriel hanya bergumam dan melanjutkan tidurnya. Sedangkan Hansen masih tetap pada posisinya tanpa terganggu sedikitpun.


Reina yang melihat itu melototkan matanya. Sebenarnya mereka ini manusia atau bukan sih. Teriakannya bahkan tidak berdampak apapun bagi kedua pria itu.


" Gabriel, Hansen bangun." Reina mengguncang tubuh kekar Gabriel dan Hansen secara bergantian.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Reina menghela napas melihat Hansen dan Gabriel yang masih tetap pada tempatnya. Ia menghela napas dalam menyiapkan senjata terakhirnya untuk membangunkan Hansen dan Gabriel yang tidurnya sudah mirip orang mati itu.


" Gabriel ayahmu datang ! Hansen ada tante tante ingin menciummu !"


BUG !

__ADS_1


GEDEBUK !


BRUG !


Reina terperangah melihat Gabriel dan Hansen yang langsung spontan berdiri hingga kepala mereka membentur atap mobil. Masih belum sadar mereka mencoba keluar dari mobil tanpa membuka pintunya terlebih dahulu dan itu membuat mereka kembali terbentur. Kemudian mereka terjatuh bersama dengan posisi yang sangat tidak elit. Dimana itu mereka saling menindih seperti tumpukkan sampah.


" Aduh !" Hansen meringis kesakitan. Tubuh dan kepalanya berdenyut sakit.


" Hei kau menyingkir dari tubuhku !" teriak Gabriel sambil mendorong keras tubuh Hansen yang menindihnya.


Reina bersandar di pintu mobil. Setelah ia berteriak kencang membangunkan mereka sekarang mereka malah asik bertengkar dan tidak menghiraukannya sama sekali.


" Kau jangan mendorongku. Tubuhku terasa sakit semua !" Hansen menepis kasar tangan Gabriel dari tubuhnya.


Gabriel melotot marah dan menggeram kesal. " Sialan ! Tubuhku pun juga sakit ! Dasar tidak tahu diri. Menyingkir kau sialan !"


" Ehem !"


" Tunggu dulu sialan, tubuhku sakit." ucap Hansen masih dengan posisi yang sama.


" Ya tuhan ! Kau tidak tahu aku terjepit di bawahmu ?!"


" Ehem !" Reina berdehem sekali lagi untuk menarik perhatian Hansen dan Gabriel.


" Aku tahu ! Tapi tunggulah dulu sialan !"


" Kau..."


" Hei kalian para sialan ! Cepat keluar dari mobilku !" Reina mengatur napasnya setelah berteriak kencang. Matanya memicing menatap tajam dua pria bodoh yang benar benar menyusahkannya. Ia sangat menyesal membawa mereka berbelanja hari ini.


Hansen dan Gabriel mengentikan pertengkaran mereka lalu menoleh bersama melihat Reina yang menatap tajam mereka.


...*****...


" Aduh ! Aduh ! Reina sakit !"


" Iya Rein, maafkan kami. Ini menyakitkan tolong lepaskan !"


Reina tidak perduli dengan permohonan itu. Sambil berjalan memasuki butik tangan kanannya menarik telinga Hansen sedangkan tangan kirinya menarik telinga Gabriel. Dengan santainya Reina tersenyum pada pemilik butik yang menyambutnya dengan tatapan terkejut dan memandang kasihan kepada Hansen dan Gabriel di kanan dan kirinya.


" Saya ingin mencari pakaian yang elegan, menantang, tapi simpel." ucap Reina.


" Mari nona."


Reina kembali berjalan dengan tangan yang masih menarik telinga Hansen dan Gabriel.

__ADS_1


" Rein hentikan ini telingaku bisa putus nanti." Hansen mencoba menahan telinganya agar tidak semakin tertarik oleh tarikan kencang yang dibuat Reina.


" Aduh Rein sakit !" Gabriel mencoba melepaskan telinganya tetapi bukannya terlepas telinganya malah terasa semakin sakit.


Reina tidak menjawab tapi tarikan tangannya semakin dikencangkan hingga membuat Hansen dan Gabriel berteriak kesakitan.


" Reina !" teriak Hansen dan Gabriel bersamaan.


Reina melepaskan tarikan tangannya dan tersenyum ramah pada pemilik butik. Ia menghiraukan gerutuan kesal Hansen dan Gabriel yang sedang menyalahkannya saat ini.


" Nona dibagian ini semuanya pakaian jenis yang nona minta." pemilik butik itu menunjuk jajaran pakaian hasil rancangannya yang telah dikumpulkan disatu ruangan kaca.


" Terima kasih."


" Sama sama nona. Kalau begitu saya akan melihat pelanggan lainnya dan silahkan memilih yang nona inginkan." ucap pemilik butik itu sebelum beranjak pergi.


Setelah melihat pemilik butik itu pergi barulah Hansen dan Gabriel melotot dan mencerca Reina dengan rasa sakit di telinga mereka.


" Reina telingaku memerah karena kau !"


" Lihat ! Telingaku terasa kebas dan panas !"


" Telingaku juga terasa seperti terbakar."


" Reina kau gadis yang kejam sekali."


Begitulah cercaan yang mereka layangkan untuknya. Tetapi Reina malas untuk mendengarkannya dan lebih baik ia memilih gaun untuk nanti malam.


Reina berjalan menelusuri setiap pakaian yang ada lalu menelitinya sampai akhirnya ia melihat sebuah gaun bewarna merah indah di dalam kotak kaca. Reina menghampiri kotak kaca itu dan tersenyum karena akhirnya ia menemukan gaun yang diinginkannya. Tangannya ingin membuka kotak kaca itu tetapi sebuah teriakkan menghentikan tangannya.


" Itu punyaku !"


Reina menoleh dan mengerutkan keningnya merasa tidak suka dengan seorang wanita paruh baya yang datang tiba tiba dan langsung mengklaim gaun merah itu. " Maaf, anda sudah memesan ini duluan sebelumnya ?"


" Belum, tapi sejak pertama kali melihat gaun itu. Gaun itu sudah menjadi milikku." wanita itu berucap angkuh.


Kerutan pada kening Reina semakin dalam. Ia menatap wanita itu dari kaki hingga kepala lalu menatap cermat wajahnya. " Nyonya apa kau masih waras ?"


" Apa ?!" wanita itu terlihat syok mendengar pertanyaan Reina yang di luar pemikirannya.


Reina melipat tangannya di depan dada sebelum mengeluarkan jurus ampuhnya yaitu ucapan tajam yang bisa membuat mental orang lain terguncang. " Hah ! Ternyata selain kewarasanmu diragukan sekarang pendengarnmu pun juga ikut diragukan juga nyonya."


" Beraninya kau ?!" wanita itu mengangkat tangannya ingin menampar Reina tetapi saat melihat sekelilingnya wanita itu menarik kembali tangannya.


Reina yang melihat itu mengangkat alisnya sebelah. " Kenap tidak ? Hanya seorang wanita tua sepertimu itu tidak akan membuatku takut."

__ADS_1


Mendengar kata tua, wanita itu melotot dengan wajah memerah marah. " Kau gadis kurang ajar !"


Hansen dan Gabriel yang sedari tadi diam kini menghela napas dan bergumam. " Selamat hari pertengkaran."


__ADS_2