
Reina merasa kecewa karena setelah ia merelakan tenaganya untuk melawan wanita tua itu demi gaun yang diinginkannya. Tetapi ia malah berakhir tidak mendapatkan apa apa. Entah siapa yang telah mengambil gaun merah itu di tengah pertengkarannya tadi.
" Nona rekaman ini bagaimana ?" pemilik butik itu bertanya dengan hati hati.
Reina meliriknya sekilas. " Kirimkan ke Emailku dan kau jangan coba coba menyimpan rekaman itu."
" Tidak akan nona muda saja janji." ucap pemilik butik itu yang terlihat ketakutan.
" Ya sudah." Reina membalas singkat. Ia melangkah pergi namun tiba tiba ingatan bahwa sebelumnya ia tidak berangkat sendiri ke butik ini membuatnya terpaksa menghentikan langkahnya.
Jadi kemana kedua temannya itu. Reina melihat kesegala arah mencari keberadaan Hansen dan Gabriel. Kurang ajar sekali mereka itu, ia bertengkar sampai terkena cakaran tetapi mereka malah pergi dan tidak membantunya.
" Rein."
Reina menoleh melihat Hansen dan Gabriel yang duduk di sofa pojok ruangan sambil melambaikan tangan kearahnya. jangan lupakan senyum tanpa dosa mereka yang membuat Reina geram sendiri.
Reina berlari keluar dari dari ruangan itu. Ia berusaha menahan air matanya yang sebentar lagi akan keluar. Reina membuka pintu mobil dan duduk di kursi depan. Wajahnya ia telungkupkan di lekukan tangannya yang berada di setir mobil. Tanpa menunggu lebih lama lagi air matanya langsung mengalir deras menutupi manik indahnya.
Di tengah tangisnya Reina merasakan usapan di punggungnya dan tepukan lembut di kepalanya. Reina tahu itu perbuatan siapa tapi sekarang ia sudah tidak membutuhkannya perhatian dari mereka lagi.
" Reina." panggil Hansen.
" Kalian jahat, kalian tidak membelaku tadi." Reina mengangkat wajahnya yang penuh air mata.
Gabriel mengusap air mata Reina dengan sapu tangannya. " Itu karena kami tahu kau bisa menghadapinya sendiri. Kau gadis yang mandiri dan kuat. Kami tahu kau mampu menghadapinya karena itu kami tidak membantumu tadi. Tapi kalau tahu kau akan menangis seperti ini kami pasti akan memilih maju untukmu."
" Lagi pula kami tidak meninggalkanmu kan ?" tanya Hansen.
Reina mengangguk lemah. Tangisan telah berhenti meskipun matanya masih berkaca kaca. " Tapi gaun yang kuinginkan hilang."
Hansen tersenyum dan mengambil paper bag dari belakang tubuhnya. Ia meletakkan paper bag itu kepangkuan Reina.
" Apa ini ?" tanya Reina.
" Hadiah untuk kerja kerasmu tadi." jawab Gabriel.
Reina membuka paper bag itu dan melihat isinya. " Astaga !" ia berteriak dan menatap tak percaya bahwa ternyata itu adalah gaun merah yang diinginkannya.
Reina menatap Hansen dan Gabriel bergantian. Air matanya kembali hadir meski tidak sederas tadi. " Jadi kalian yang mengambil gaun ini ?"
__ADS_1
" Ya, Hansen yang memiliki ide itu. Dia mengambil gaun merah itu saat kau bertengkar tadi. Kemudian menyuruhku untuk langsung membeli gaun itu dan memanggil para keamanan yang mungkin akan datang setelah kita pergi." jawab Gabriel.
" Kukira kalian tidak perduli lagi kepadaku." gumam Reina.
" Mana mungkin, kau teman kami. Benarkan Hans ?" tanya Gabriel yang meminta keyakinan pada Hansen.
" Ya dan kau itu berarti bagi kami. Jadi jangan berpikir seperti itu lagi. Kau itu istimewa untuk kami." ucap Hansen.
Reina tersenyum dan menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Ternyata apa yang tadi dipikirkannya itu salah. Hansen dan Gabriel sebenarnya perhatian kepadanya. Mereka juga terlihat begitu menyayanginya.
... *****...
Hansen dan Gabriel saling bertos ala pria. Mereka saling melemparkan senyuman satu sama lain.
" Setidaknya kita tidak terlalu memalukan untuk ukuran pria jantan." ucap Gabriel yang menaik turunkan kedua alisnya.
Hansen tersenyum lalu menggelengkan kepalanya ketika mengingat tingkah mereka tadi saat di butik. Untung saja Reina sudah pulang ke rumahnya setengah jam yang lalu.
" Yah..., sedikit."
" Setidaknya ada meski sedikit dari pada tidak ada sama sekali." ucap Gabriel.
" Semoga saja saat kita memiliki pasangan suatu hari nanti. Kita tidak memperlakukan mereka seperti yang kita lakukan pada Reina saat bertengkar tadi."
Hansen mengangguk setuju. " Atau kalau tidak kita tidak akan pernah memiliki pasangan yang serius."
" Tapi kalau harus menghadapi pertengkaran adu mulut dan juga tarik menarik rambut seperti tadi. Aku rasa tidak memiliki pasangan pun tidak apa apa." Gabriel bergidik ngeri membayangkan kalau dirinyalah yang ada diposisi dimana ia sedang ditarik rambutnya. Kemudian ia mendapatkan hadiah tendangan pada masa depannya yang merupakan senjata terakhir kaum wanita apabila sudah terdesak.
Hansen tertawa melihat Gabriel yang termenung sembari menutupi benda yang ada diantara kedua pahanya itu. " Kau membayangkan sampai ke sana ?"
Gabriel meringis merasa malu lalu mengambil bantal sofa sebagai pengganti tangannya. " Kau yang belum pernah merasakannya diam saja."
" Memangnya kau sudah pernah ?"
" Sudah."
Balasan singkat dari Gabriel itu berhasil membuat Hansen semangkin tertawa. " Ku harap kau masih bisa memiliki keturunan setelah itu terjadi."
" Tentu saja, aku bahkan harus memeriksanya ke dokter. Untung tidak terjadi apa apa dan itu masih bisa berfungsi."
__ADS_1
" Syukurlah, kalau tidak kau pasti akan membuat ayahmu itu mengamuk."
Gabriel menganggukkan kepalanya. " Mangkanya aku harus lebih berhati hati terhadap wanita."
" Wanita itu makhluk yang cantik tetapi mengapa mereka juga menyeramkan sekali ?"
Gabriel mengangkat bahunya acuh. " Mereka terlihat seperti bunga mawar dengan berbagai warnanya yang melambangkan setiap karakternya."
" Kalau begitu aku ingin mendapatkan mawar yang bewarna merah muda."
" Memangnya bisa ? Sedangkan kau saja sekarang mulai menyukai mawar merah."
" Siapa ?" tanya Hansen yang tidak mengerti.
" Pikir saja sendiri."
Hansen memutar mata malas mendengar itu. " Bagaimana dengan pakaian kita untuk nanti malam ?"
" Jack akan mengurus itu semua."
" Baguslah, setidaknya aku bisa istirahat sebelum hadir keacara lelang yang melelahkan. " Hansen merebahkan tubuhnya ke lantai Apartemennya yang beralas karpet bulu tebal.
Melihat Hansen yang rebahan Gabriel juga ikut merebahkan dirinya di atas sofa. " Hans warna apa yang kau suka ?"
" Hitam."
" Warna yang kau benci ?"
" Merah."
Gabriel memiringkan tubuhnya untuk melihat Hansen yang sedang tidur telentang di karpet lantai. " Kau benci merah ? Kenapa kau tidak bilang begitu tadi ? Gaun dan kemeja kita akan bewarna merah sesuai keinginan Reina. Gadis itu pasti akan kecewa mendengar kau tidak menyukai warna merah."
" Itu hanya pakaian saja. Tidak masalah selagi kau dan Reina menyukainya."
" Lagi lagi kau mementingkan orang lain."
" Kalau aku mementingkan diriku sendiri. Kau mungkin tidak menjadi temanku lagi." Hansen menatap Gabriel dengan pandangan penuh arti.
Gabriel tertegun untuk beberapa saat sebelum terkekeh dan beranjak bangun. " Aku akan mandi duluan."
__ADS_1
" Hm." Hansen tersenyum sinis melihat kepergian Gabriel.