Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Pemotretan


__ADS_3

Hansen menjatuhkan dirinya ke kursi kerjanya. Dihirup kencang harum ruangan yang sudah beberapa hari ini tidak ia kunjungi. Ruangan sederhana yang sudah bertahun tahun lamanya menjadi tempatnya bekerja di kantor Gabriel.


Tempat dimana Orion mulai dikenal dengan Hansen si pria ramah dan suka menggoda wanita. Juga seorang fotografer terkenal akan ketampanannya yang mengalahkan para model di tempatnya bekerja.


Hansen begitu menikmati masa masa itu. Rasanya saat itu tidak semenyesakkan seperti sekarang. Masa dimana Monica masih ada bersamanya. Masa dimana Hansen belum mengetahui Gabriel adalah anak George. Masa dimana persahabatannya dengan Gabriel dan Monica yang begitu menyenangkan. Masa dimana saat ia dan Gabriel merintis perusahaan ini di mulai sejak mereka masih sekolah menengah atas saat itu.


Gabriel.


Gabriel.


Gabriel.


Sanggupkah Hansen membunuh pria itu nanti saat semua ini berakhir ?.


Entah kenapa semakin lama hatinya semakin ragu untuk melangkah. Kalau membunuh George ia sanggup melakukan. Tapi Gabriel, entah kenapa hatinya seakan menolak.


Hansen memejamkan matanya sambil bersandar. Sekejam apapun ia menjadi Orion nyatanya dirinya masihlah seorang anak laki laki yang sama seperti dulu.


" Ayah, ibu apa yang harus aku lakukan ? Aku tidak bisa melanggar sumpahku tapi hatiku menolak untuk membunuhnya."


Tiba tiba ponselnya bergetar. Hansen mengambil ponselnya di atas meja dan melihat sebuah pesan masuk. Seketika seringaian kejam muncul setelah membaca isi pesan itu.


Ternyata mereka sudah menangkap para ular yang berani mengusiknya. Baguslah, Hansen akan mendapatkan objek pelampiasan dari perasaan yang dirasakannya saat ini.


TOK ! TOK ! TOK !


Hansen mematikan ponselnya lalu menatap pintu. Seringainya hilang dan berganti senyuman ramah miliknya sebelum mengeluarkan suara untuk orang yang mengetuk pintu ruang kerjanya.


" Masuk."


" Hans pemotretan sepuluh menit lagi." Roni masuk ke dalam ruang kerja Hansen dengan membawa laptopnya.


Hansen mengangguk paham. " Baiklah aku akan bersiap siap ke sana."


" Aku duluan kalau begitu." ucap Roni.


" Ya."


Setelah Roni pergi dari ruangannya. Hansen beranjak mengambil tas ranselnya dan kamera miliknya. Ia berjalan keluar menuju ruang pemotretan.


" Langsung ambil bagian saja Hans. Semuanya sudah diatur oleh yang lainnya sejak tadi." ucap Roni.


Hansen mengangkat sebelah alisnya. " Tumben ?"


" Biasalah, saatnya gajian." ucap Roni.


Hansen tersenyum geli. Ia tahu mengapa hari ini rekannya berbaik hati menyiapkan segala alat alat pemotretan. Mereka pasti menginginkan bonusnya kali ini.


" Kalian memang licik."


Roni tertawa dan menunjukkan ibu jarinya kearah rekan rekan yang lainnya yang ada di ruangan itu. " Berbagi tidak akan membuatmu miskin Hans."

__ADS_1


Hansen berdecak dan berjalan ke tempatnya. Namun ia tetap menyetujui permintaan tersirat dari rekan rekannya. " Baiklah bonusku kali ini untuk kalian."


Seketika sorakan gembira memenuhi ruang pemotretan. Mereka tidak pernah meragukan kebaikan Hansen.


" Kau memang yang terbaik Hans !"


" Ya, dia memang rekan terbaik kita sepanjang tahun."


" Kita akan pesta minum gajian nanti."


" Terima kasih Hans, kau memang bisa diandalkan."


" Ya diandalkan untuk menghemat gajih kalian bukan ?" Hansen bertanya sinis.


" Hans ucapanmu memang yang selalu benar." ucap Roni.


Hansen melambaikan tangannya malas. " Terserah kalian, sekarang ayo kita mulai bekerja."


" Ayo !"


.


... *****...


.


Satu model wanita datang dari balik ruang ganti dan berjalan ke depan kamera. Namun saat melihat fotografernya kali ini adalah Hansen. Model wanita itu tersenyum menggoda kearah kamera.


Tesla mengerucutkan bibirnya kesal. Ia menatap Hansen seolah meminta pendapatnya.


" Hans." panggilnya manja.


Hansen meringis ngeri, namun senyuman manisnya terlihat di wajahnya. " Tesla ini masih jam kerja."


" Tesla." Tera yang sejak tadi hanya memperhatikan menatap Tesla penuh peringatan.


" Baiklah baiklah ! Jangan menatapku seperti itu." Tesla berpose elegan di depan kamera. Karena kali ini ia memakai sebuah gaun panjang ala Putri kerajaan. Terpaksa ia harus menunjukkan pose elegan dan juga berkarisma ala bangsawan.


CEKREK !


CEKREK !


CEKREK !


" Bagus !" Hansen tersenyum memandang Tesla.


" Ha..."


Tera segera menarik Tesla keruang ganti untuk sesi selanjutnya. Kalau dibiarkan begitu saja bisa bisa Tesla akan berubah menjadi lintah yang siap menempeli Hansen kapan saja.


Hansen menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jemari tangannya. Kali ini model cantik bermanik biru yang bergantian dengan Tesla.

__ADS_1


Kalau tidak salah namanya Felicia. Hansen tidak terlalu ingat dengan nama gadis bermanik biru itu.


" Baiklah mulai." pinta Roni yang memperhatikan jalannya pemotretan ini.


Tidak seperti Tesla yang ingin menggoda Hansen. Felicia tampak tahu dimana dan kapan dia harus profesional. Tanpa diberi perintah lagi Felicia segera berpose elegan dengan raut wajah arogan.


CEKREK !


CEKREK !


CEKREK !


Felicia berganti pose dengan tubuh menyamping dan gaun yang berkibar di belakangnya. Hansen segera mengambil gambar itu sebanyak banyaknya setiap kali Felicia mengganti ekspresi dan posenya.


" Selesai !" Roni berteriak dan tersenyum puas memandang Felicia. Namun tak lama senyumnya itu hilang saat melihat Felicia berjalan mendekati Hansen lalu mengecup pipi kirinya.


" Temui aku jika kau butuh teman." bisik Felicia lalu beranjak pergi ke ruang ganti.


Hansen tersenyum kaku mendengarnya dengan tangannya memegang erat kameranya.


Roni menepuk keningnya melihat itu. Kenapa semua spesies yang berjenis wanita akan bertingkah gila setiap kali bertemu Hansen ?.


Awalnya Roni mengira Felicia berbeda dari model lainnya. Ternyata lebih parah dan cukup agresif. Roni memandang wajah Hansen yang sudah berubah pucat. Semua orang tahu kebiasaan Hansen. Bos mereka juga sudah mewanti wanti untuk jangan terlalu agresif dengan Hansen khususnya untuk para wanita yang bekerja di perusahaan ini.


" Hansen kau baik baik saja ? Apa perlu kita ganti saja ?" Roni bertanya cemas.


Hansen tersentak lalu menggeleng lemah. " Tidak perlu, aku hanya terkejut saja tadi."


" Benarkah ?" tanya Roni lagi.


Hansen tersenyum dengan kerlingan mata jahil miliknya. " Berhentilah mengkhawatirkanku Ron. Aku sudah memiliki wanita impianku sekarang."


" Jangan mulai." Roni berucap kesal. Dasar pria tidak tahu diri, di sini ia khawatir setengah mati dia malah menatapnya jahil dan mengajaknya berdebat.


Hansen tertawa lalu mengedipkan sebelah matanya. " Aku baik baik saja sayang."


" Dasar sialan !" umpat Roni.


" Ada apa ?" tanya Tera yang datang bersama Tesla dengan pakaian yang berbeda.


" Sayangku sedang mengkhawatirkanku Tera." ucap Hansen.


" Sialan ! Diam kau Hans !" teriak Roni.


Orang orang di ruang pemotretan tertawa melihatnya. Mereka sudah biasa dengan kejahilan Hansen yang memang menguras kesabaran manusia.


Tera menatap Roni dan Hansen bergantian lalu menganggukkan kepalanya seakan mengerti. " Sepertinya sayangmu itu sedang datang bulan Hans."


" Sepertinya iya mangkanya dari tadi dia marah marah terus. Jadi sayang kan jadinya." Hansen tertawa dengan gurauannya.


" Hansen ! Tesla ! Awas kalian semua !"

__ADS_1


__ADS_2