Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Apartemen Tempat Sampah


__ADS_3

Setelah seharian berjalan jalan keliling kota akhirnya Hansen kembali ke Apartemennya. Tubuhnya terasa lelah tetapi ada rasa senangnya juga karena seharian ini Hansen melihat kebodohan dari Wakil Jenderal negara Z yang terkenal itu. Rasanya Hansen ingin tertawa kencang di depannya andai saja ia tidak mengingat rencananya. Hah, rasanya Hansen ingin cepat cepat berbaring di ranjangnya yang empuk dan juga wangi sembari membayangkan rencana selanjutnya agar berjalan lancar.


Hansen membuka pintu Apartemennya dengan kartu identitas. Tepat setelah pintu itu terbuka Hansen malah melihat Gabriel yang tersenyum lebar kearahnya dengan membawa dua koper besar. Seketika raut wajah Hansen menegang dengan mata yang berubah tajam. Hanya dalam sekali melihat saja ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.


" Hai kawan, mulai sekarang kita akan tinggal bersama." Gabriel berujar riang dengan binar kegembiraan.


Hansen mengangkat alisnya sebelah lalu menutup pintu Apartemennya. Sepertinya sikap seenaknya dari George menurun pada Gabriel. Hansen menghela napas dan duduk di sofa untuk beristirahat. Niat yang tadinya ingin rebahan di ranjang yang empuk kini hilang seketika dan terganti dengan rasa malas.


" Lakukan sesukamu saja. Aku larang pun kau tetap akan melakukannya kan ?"


Gabriel tertawa lalu duduk di sebelah Hansen. " Tentu saja."


Hansen memutar mata malas mendengar itu. Dasar tuan muda, cibirnya dalam hati.


" Kalau kau setuju aku akan langsung membereskan barang barangku saja." Gabriel beranjak dengan membawa dua koper besarnya.


Hansen tidak menjawab, ia mengurut pangkal hidungnya saat merasakan kepalanya berdenyut sakit.


" Oh iya, Reina menanyakan kabarmu padaku kemarin. Dia juga berpesan kalau dia akan pergi ke negara Timur untuk mengatasi sebuah masalah."


Tiba tiba Gabriel kembali lagi dan menyampaikan pesan Reina yang Hansen rasa itu tidak ada urusan dengannya sama sekali.


" Itu bukan urusanku." Hansen menjawab acuh.


Gabriel tersenyum dan menatapnya tak percaya. " Kau yakin ?"


" Tentu saja."


" Baiklah." Gabriel pergi membawa kedua koper besarnya.


Hansen yang melihatnya menghela napas lega sambil berbaring di sofa. Malam ini sepertinya ia akan tidur di sofa saja. Hansen menutup matanya bersiap tidur tanpa melepas sepatu dan jaketnya.

__ADS_1


" Kau tidak menyesal ?"


Hansen tersentak kaget melihat Gabriel yang tiba tiba muncul begitu saja dan bertanya kepadanya. Ditambah senyuman jahil yang Hansen tahu saat ini Gabriel tengah menggodanya.


" Tidak."


" Baiklah." Gabriel berbalik pergi.


Hansen memandang tempat Gabriel beranjak. Mana tahu pria itu akan kembali lagi dengan tiba tiba dan merusuhinya seperti barusan. Tetapi satu menit, dua menit, tiga menit, Gabriel tidak muncul lagi. Berarti pria itu memang sudah benar benar pergi ke kamarnya. Hansen kembali berbaring dan menutup matanya bersiap tidur.


" Kau yakin ?"


Lagi, Gabriel datang tiba tiba dan bertanya dengan suara yang cukup nyaring. Hansen memejamkan matanya menahan geram. Benar benar minta disembelih pria satu ini, pikirnya.


" Gabriel, sekali lagi kau bertanya dan menggangguku lagi. Siap siap tubuhmu kugantung di langit langit Apartemenku ini." ucap Hansen tanpa membuka matanya.


Mendengar itu Gabriel langsung berlari ke kamarnya. Hansen sedang dalam mode datang bulan ala pria. Dia tidak bisa diganggu ataupun diajak bercanda. Lebih baik Gabriel tidur sekarang dari pada ia menjadi bahan hiasan langit langit Apartemen Hansen.


.


...*****...


.


Hansen menatap satu persatu sampah yang berserakan di lantai Apartemennya. Mulai dari pakaian, daun selada, bungkus makanan, kaleng soda, stik es krim, dan yang paling menjijikkan menurutnya adalah remahan bekas makanan ringan di lantai dan juga kursi meja makannya. Benar benar makhluk sialan orang satu itu. Ini Apartemennya tetapi malah dijadikan tempat pembuangan sampah.


" Gabriel !" Hansen berteriak kencang memanggil nama orang yang telah membuat Apartemennya seperti tempat pembuangan sampah.


Gabriel yang masih berjongkok di depan kulkas melonjak kaget. Seketika tubuhnya merasakan hawa dingin hingga tulang punggungnya. Gawat ! Gabriel belum membereskan kekacauan yang telah diperbuatnya barusan.


" Kau mau sampai kapan berjongkok di depan kulkasku Gabriel ? Kenapa tidak sekalian saja kau masuk ke dalamnya."

__ADS_1


Perlahan Gabriel beranjak lalu menoleh kearah Hansen. Dengan sisa keberaniannya ia tersenyum menyapanya. " Kau sudah bangun ?"


Hansen melipat tangannya di depan dada tanpa niat menjawab. Benar dugaannya, pria jorok ini pasti membuat ulah di Apartemennya.


" Aku lapar tadi dan aku meminta sedikit makananmu." Gabriel berucap sedih mencoba menarik simpati Hansen.


" Dengan menyebar segala kotoran disepanjang lantai Apartemenku begitu ?" tanya Hansen dengan menahan segala kekesalannya.


Gabriel mengusap tengkuknya dan tersenyum canggung. Mau bagaimana lagi, dirinya sekarang merasa bersalah karena telah mengacaukan Apartemen temannya itu. Sebenarnya Gabriel tadi lupa kalau sekarang ia sudah tidak berada di Apartemennya. Tanpa sadar kebiasaan joroknya saat berada di Apartemennya terbawa ke Apartemen Hansen dan menghasilkan kemarahan dari temannya itu yang sangat mencintai kebersihan.


" Bereskan sebelum aku kembali." Hansen berbalik pergi mengambil kunci motor dan juga jaketnya di sofa.


Gabriel yang melihat itu ingin bertanya kemana Hansen pergi tetapi saat melihat wajah kesal temannya itu ia mengurungkan niatnya. Masih untung Hansen tidak mengusirnya tadi. Lagipula kenapa dirinya ini bodoh sekali sampai tidak sadar menyebar sampah disepanjang lantai Apartemennya Hansen.


" Hah, nasib menumpang. Ayo Gabriel bereskan semua kekacauan yang kau perbuat." ucapnya pada diri sendiri.


Andai saja Gabriel tidak sedang kabur dari kemarahan ayahnya. Mungkin ia tidak akan menumpang di Apartemen Hansen. Ini semua juga bermula dari Hansen yang memaksanya berfoto dengan pakaian ala seorang ratu dan ayahnya mengetahuinya. Karena itu Gabriel cepat cepat pergi dari Apartemennya dan menumpang ditempat Hansen. Lagipula ini bisa dihitung sebagai bentuk pertanggung jawaban karena Hansen yang membuatnya mendapatkan amukan dari ayahnya.


" Sudah siap ?"


Gabriel terkejut lalu menoleh setelah mendengar pertanyaan tiba tiba itu. " Belum, tinggal menyapu lantai. Kau sudah pulang ? Cepat sekali kau pergi."


" Aku hanya membeli sarapan untuk makan kita karena aku malas memasak."


Gabriel melihat bungkusan yang dibawa Hansen lalu mengulum bibirnya menahan senyum. Inilah temannya, meski marah Hansen tidak pernah benar benar mengabaikannya.


" Cepat sedikit nyapunya, aku sudah lapar."


" Siap pekerja !" Gabriel cepat cepat menyapu lantai dan membuang remahan bekas makanannya ke tempat sampah.


Setelah selesai Gabriel duduk di meja makan dengan senyum bahagia. Hansen yang melihat itu berdecak kesal. Benar benar ciri khas orang yang tidak tahu diri.

__ADS_1


__ADS_2