Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Kantor Polisi


__ADS_3

Hansen mengusap lensa kameranya dengan kain tipis. Hari ini seorang model cantik menemani waktu istirahatnya. Sebenarnya bukan hanya hari ini saja Hansen ditemani oleh model model cantik yang bekerja di perusahaan Gabriel. Tetapi kali ini berbeda karena yang menemaninya sekarang adalah teman masa kecilnya.


" Kau diam saja terlihat tampan Hansen apa lagi jika kau mau tersenyum hanya untukku saja."


Hansen tertawa pelan. " Aku tersenyum pada semua orang Monic."


Monica berdecak kesal merasa Hansen yang pura pura tidak peka dengan ucapannya. " Kau menyebalkan."


Hansen hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah mata nakal kearah Monica. Gadis yang satu ini memang sering menggodanya dan cukup cerewet tetapi dia tidak agresif. Monica tahu dimana batasannya saat berbicara dan kapan dia harus berhenti berbicara. Hansen menyukai tipe gadis seperti Monica ini.


" Bagaimana dengan dinner nanti malam Monic ?" tanya Hansen.


Monica tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. " Jangan berubah pikiran Hans. Karena aku bukanlah tipe gadis yang mau mengalah begitu saja."


" Tidak akan."


Senyum Monica semakin manis mendengar balasan Hansen. Pria tampan yang menjadi teman masa kecilnya saat berada di panti asuhan dulu.


" Kau terlihat semakin tampan saat mau meluangkan waktumu untukku Hansen."


Hansen tertawa mendengarnya. " Kapan aku mengabaikanmu Monica ?"


Monica mengangkat bahu acuh. " Hanya perasaanku saja..., mungkin."


Hansen meletakkan kameranya ke dalam tas setelah selesai membersihkannya. " Jangan lihat aku melalui mata terbukamu tapi lihatlah aku dengan hatimu Monica. Kau akan tahu bagaimana aku memperlakukanmu."


" Bisakah kau memelukku Hansen ?" tanya Monica.


" Kemarilah." Hansen mengulurkan tangannya menarik lembut tangan Monica dan membawanya ke atas pangkuannya lalu memeluk tubuh Monica.


" Bagaimana ?" tanyanya.


" Sangat nyaman." Monica menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Hansen.


Hansen mengusap rambut panjang Monica dan sesekali mencium rambutnya yang beraroma strawberry. " Kau lelah ?"


Monica menganggukkan kepalanya. " Aku ingin beristirahat tetapi selalu tidak bisa. Berbeda saat aku berada di dekatmu Hansen, rasanya sangat nyaman."


" Tidurlah nanti aku bangunkan." Hansen mencium kening Monica.


Monica memejamkan matanya dengan tangan menggenggam jemari Hansen. Melihat itu, Hansen tertawa pelan sembari mengecup punggung tangan Monica. Sungguh menggemaskan sekali gadis di pelukannya ini.


DRRTT !

__ADS_1


Hansen mengambil ponselnya yang tiba tiba bergetar dari atas meja. Keningnya sedikit berkerut melihat barisan nomor tidak dikenal sedang menghubunginya. Dengan tangan kiri yang masih memeluk tubuh Monica, Hansen mengangkat panggilan itu dengan tangan kanannya.


" Halo."


"....."


" Iya dengan saya sendiri."


"....."


Hansen terkejut mendengar orang yang memanggilnya saat ini adalah seorang polisi. " Baik saya akan datang ke sana."


" ....."


" Sama sama pak, selamat siang."


Hansen menghela napas menatap ponselnya. Seharusnya polisi tidak melibatkannya saat ini tapi kenapa Hansen diminta datang ke sana untuk memberikan kesaksian. Padahal seingatnya saat itu banyak orang yang juga menyaksikannya tetapi memilih diam saja dari pada membantu.


Hansen mengangkat Monica ala bridal style lalu memindahkannya ke ruang istirahat yang ada di dalam ruang kerjanya. Setelah itu, Hansen menuliskan beberapa kata di kertas note dan meletakkannya di atas meja kecil di sebelah tempat tidur. Hansen berharap saat Monica terbangun nanti gadis itu akan melihat catatannya ini.


" Aku janji akan pulang lebih awal untuk dinner kita nanti malam Monica." Hansen berbisik pelan lalu mengecup kening Monica cukup lama sebelum beranjak pergi.


...*****...


" Anda benar benar tidak masuk akal Letnan."


" Kalau begitu panggil wakil Jenderal itu ke sini."


" Wakil Jenderal akan datang sebentar lagi nona Reina."


Hansen mengerutkan keningnya saat melihat Gabriel dan Reina juga ada di kantor polisi. Apakah mereka juga diminta kesaksian sama sepertinya ? Pikirnya.


" Selamat siang pak."


Letnan menoleh melihat Hansen yang baru saja datang. " Selamat siang dengan siapa ?"


" Saya Hansen."


" Oh begitu, mari duduk. Perkenalkan saya Letnan Sarga dan saya juga yang menghubungi tuan Hansen untuk datang ke kantor polisi."


Hansen memilih duduk di sebelah Gabriel. " Kenapa kau di sini LeBanBi ?" bisiknya.


Gabriel melirik sinis kearah Hansen lalu balik berbisik. " Dan kau ? Kenapa kau bisa ada di sini juga pekerja ?"

__ADS_1


" Aku diminta datang untuk memberikan kesaksian." ucap Hansen.


" Begitu juga denganku."


" Reina juga ?"


Gabriel menganggukkan kepalanya. Hansen menatap Letnan Sarga di depannya. Bersamaan dengan itu, seorang pria tinggi tegap datang menghampiri mereka dengan seragam loreng dan juga tanda pangkat di bahunya.


Letnan Sarga berdiri memberi hormat. Gabriel yang melihat itu menepuk pelan pundak Hansen.


" Itu orang yang akan mengintrogasi kita." bisik Gabriel di sebelah Hansen.


" Kau tahu dari mana ?" tanya Hansen balik berbisik.


" Tadi saat sebelum kau datang. Letnan itu yang memberitahu."


" Dilihat dari pangkatnya seperti dia orang yang cukup sulit Riel."


" Aku rasa juga begitu. Masalah ini akan panjang nantinya."


" Maaf tuan tuan bisa berhenti berbisik dulu ?"


" Bisa." balas Gabriel sedangkan Hansen hanya diam saja. Berbeda dengan Reina yang sedari tadi menatap tajam pria tinggi berpakaian loreng itu.


" Sebelumnya perkenalkan nama saya..."


" Langsung keintinya saja Wakil Jenderal Klein." Reina memotong ucapan Klein dengan cepat. Pria menyebalkan yang membuang waktunya hanya untuk urusan yang tidak penting.


Klein tampak sedikit gugup menghadapi kekesalan Reina. " Ini perintah dari atasan nona."


Reina berdecak kesal dan membuang pandangannya ke samping. Hansen dan Gabriel menatap takjub keberanian Reina terhadap Wakil Jenderal di depan mereka saat ini.


" Tuan Gabriel benarkah anda putra dari tuan George pemilik perusahaan mobil terkenal itu ?" tanya Klein.


" Benar."


" Sebelum kecelakaan beruntun saat itu terjadi. Sebuah mobil tanpa pengemudi berjalan sendiri dan menghalangi jalan tiba tiba hingga terjadi kecelakaan. Kami melihatnya melalui rekaman CCTV di lokasi itu." jelas Klein


" Lalu apa hubungannya dengan aku dan ayahku ?"


" Kami mendapatkan bukti jika mobil itu dibuat dari perusahaan ayah anda." Klein memberikan map kepada Gabriel.


Gabriel membacanya perlahan dan menelitinya. Mobil tanpa pengemudi itu benar benar berasal dari perusahaan ayahnya. Tapi bagaimana mungkin mobil itu bisa berjalan sendiri tanpa pengemudi. Sedangkan ahli teknologi di negara Z pun belum ada yang bisa menciptakan mobil canggih seperti itu.

__ADS_1


" Menurut tipe dan bentuknya mobil ini memang dibuat dari perusahaan ayahku. Tetapi untuk mobil yang bisa berjalan sendiri tanpa pengemudi. Kurasa ahli teknologi di negara kita pun belum ada yang bisa menciptakannya termasuk perusahaan ayahku."


Klein tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk paham. " Semua ada kemungkinannya tuan Gabriel. Lalu selanjutnya, mengapa saat itu anda pergi begitu saja dari tempat kejadian tanpa khawatir ataupun panik padahal menurut banyak orang anda adalah orang yang baik dan suka menolong orang lain ?"


__ADS_2