Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Hasil Awal


__ADS_3

TAP ! TAP ! TAP !


Terdengar suara sepatu di atas lantai keramik. Langkahnya yang tidak kencang dan juga lambat membuat menimbulkan suara yang cukup nyaring. Tepat di depan pintu bewarna cokelat langkah kaki itu berhenti. Di bukanya pintu bewarna cokelat itu dan melihat kericuhan di dalamnya.


" Kita kaya sekarang !"


" Ya, dan rasanya aku ingin mandi uang sekarang."


" Kalian berdua seperti orang miskin saja. Sungguh memalukan !"


" Cih, biarkan saj... Orion !"


Semua orang yang berdebat di dalam ruangan itu langsung menoleh menatap pintu. Orion berjalan memasuki ruangan dan menutup pintu bewarna cokelat itu. Sekilas matanya terlihat melirik ke dalam tumpukan koper besar yang berisi uang.


" Kalian berhasil ?" tanya Orion.


Rigel mengangguk. " Ini lebih dibandingkan seperti yang kita bayangkan sebelumnya."


" Kau lihat tumpukkan koper itu Rion ? Itu semua hasil kerja kita selama seminggu." Mintaka menunjuk tumpukkan koper itu.


" Aku melihatnya." Orion mengangguk singkat.


" Aku ingin uang yang lebih banyak lagi." ucap Bellatrix yang menatapi uang itu tanpa bosan.


Saiph memutar mata bosan. " Kau seperti wanita penggila harta."


" Kau kira wanita saja yang menyukai uang ? Pria pun juga ada yang menyukainya uang asal kau tahu saja." Bellatrix menjawab dengan nada kesal.


" Sudah, selesaikan itu nanti." Orion menghentikan pertengkaran itu. Lalu beralih menatap Rigel. " Berapa ?"


" Delapan puluh milyar dua ratus tiga puluh juta. Pendapatan kita selama seminggu." Rigel menjelaskan dengan singkat namun itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Orion memahaminya.


" Ambil setengah dan simpan sisanya. Biarkan itu tugas Alnitak dan Alnilam." ucap Orion memberi perintah.


Mendengar itu Bellatrix langsung menurunkan bahunya lesu. Bukannya uang itu ditambah malah diambil.


" Siapa yang ingin mencari remahan uang ?" tanya Orion yang langsung mendapatkan tatapan berbinar dari Bellatrix dan juga Mintaka.


" Aku !" seru Bellatrix.


" Aku juga." ucap Mintaka.


Orion tersenyum lalu menatap yang lain. " Tidak ada lagi yang berminat ?"


" Mereka ingin berpacaran Rion, inikan malam minggu." bisik Bellatrix.


Orion memandang Rigel, Alnitak, Alnilam, dan Saiph bergantian lalu mengangguk paham. " Kalian pergilah keluar, aku ingin bermain uang bersama Alltrix dan Taka."


Rigel, Alnitak, Alnilam, dan Saiph langsung tersenyum dan beranjak berdiri. Rigel menggenggam tangan Alnitak dan Alnilam yang menggandeng tangan Saiph.

__ADS_1


" Terima kasih Rion." ucap Rigel.


" Hm, nikmati malam kalian." balas Orion.


" Aku akan memberimu hadiah nanti." celetuk Saiph.


Orion melambaikan tangannya sebagai tanda menolak. " Pikirkan dirimu saja."


" Rion kami pergi dulu, kalau kau lapar ada makanan di lemari es. Kau bisa menghangatkannya lagi kalau ingin makan." jelas Alnitak.


Orion tersenyum mendengarnya. " Terima kasih."


Alnilam melambaikan tangannya pada Orion sebelum pergi. Meski Orion tidak membalasnya tetapi ia mengangguk sekilas dengan tersenyum mengiringi kepergian keempat temannya itu.


" Jadi kita ?" Mintaka bertanya setelah hanya tinggal mereka bertiga yang ada di ruangan itu.


" Ya..."


" Tunggu tunggu, aku ambil minum dan cemilan dulu agar lebih seru." Bellatrix memotong ucapan Orion lalu beranjak jalan ke dapur.


" Yang dingin Alltrix !" teriak Mintaka.


" Iya !"


Orion menutup telinganya mendengar teriakkan itu. Benar benar menganggu pendengarannya. " Kalian persis seperti orang hutan."


.


...*****...


.


" Jadi apa saja yang bisa membuat kita mendapatkan uang banyak ?" Bellatrix bertanya dengan sangat antusias. Tentu saja antusias karena ini masalah uang. Siapapun akan antusias sepertinya jika mereka masih waras.


" Bank ? Mall ? Atau rekening penjilat pemerintahan ?" Mintaka mengabsen satu persatu tempat tempat yang mengahasilkan banyak uang.


" Kalau aku lebih suka bank dan tentunya tabungan para penjilat itu. Sepertinya mengambil uang mereka bisa membuat dosa mereka berkurang. Karena uang hasil korupsi mereka akan aku amalkan kerakyat miskin." ucap Bellatrix.


Mintaka mengangguk setuju. " Kau benar juga, kita mencuri sekaligus membantu mereka. Anggap saja uang mereka itu kompensasi dari berkurangnya sedikit dosa mereka."


" Bukankah kita terlalu baik untuk penjilat itu ? Bagaimana menurutmu Or..."


KRAUK ! CRAS !


Terdengar suara renyah dari kunyahan keripik yang dimakan Orion sedari tadi. Bellatrix dan Mintaka menoleh menatapnya dalam diam. Diskusi yang mereka lakukan hancur seketika saat mendengar suara kunyahan Orion.


" Apha ?" tanya Orion dengan mulut penuh keripik balado.


Bellatrix dan Mintaka saling melirik memandang satu sama lain. Lalu kembali menatap tanpa berbicara.

__ADS_1


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Empat detik.


Lima detik.


Enam detik.


" Baiklah baiklah aku akan mencari usul juga. Jadi berhentilah menatapku sepertu itu." Orion segera menelan semua keripik di mulutnya. Kemudian menghabiskan minuman sodanya lalu membersihkan tangan dan mulutnya dengan tissu basah.


" Bagaimana kalau organ ?" sambungnya bertanya.


Seketika mata Bellatrik dan Mintaka terbelalak mendengarnya. " Setuju !" teriak mereka bersamaan.


" Bersiaplah." Orion menyeringai kejam melihat keantusiasan kedua temannya itu. Jika tidak ada empat temannya yang lain ia bisa bebas melakukan apapun. Termasuk berbuat kekacauan.


Mintaka berlari keluar ruangan menyiapkan keperliannya. Khususnya laptop kesayangannya.


" Uangnya bagaimana ?" tanya Bellatrix.


" Biarkan saja, tidak ada yang bisa mengambilnya selama uang itu masih berada disini." Orion memandang tumpukan koper yang berisi uang itu. Uang itu adalah bentuk hasil awal dari perjalan panjang yang akan mereka tempuh.


" Bellatrix buatkan aku sebangsa narkoba yang bisa dicampurkan kemakanan dan minuman tanpa mudah diketahui orang." sambungnya.


" Untuk apa ? Kau tidak akan menggunakannya kan ?" Bellatrix bertanya dan menatap cemas Orion.


Orion menggeleng pelan. " Itu untuk Saiph dan Alnilam. Biarkan mereka menggunakan benda itu untuk dicampurkan dengan minuman para pengunjung agar mereka merasa kecanduan."


" Baik akan aku lakukan."


" Tapi jangan ada diantara kalian ataupun anak buah kita yang mengonsumsinya. Jika ada aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri."


" Akan ku ingat dan ku sampaikan kepada mereka juga." Bellatrix berucap serius untuk menyakinkan Orion. Jika masalah misi mereka Orion bukan lagi temannya tetapi ketua dan juga tuan mudanya yang agung dan wajib dihormati. Karena itu Bellatrix yang biasa bercanda langsung berubah serius.


Orion tersenyum puas mendengarnya. Benar kata paman Neus, Orion akan membutuhkan keenam anak angkatnya itu. Tidak rugi juga Rigel, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, Saiph, dan juga Mintaka diangkat sebagai anak oleh paman Neus. Mereka sekarang sangat berguna untuknya dan juga kelancaran rencananya.


" Ayo kita bersiap."


Bellatrix mengikuti Orion dan beranjak bangun dari duduknya. " Aku akan ke ruang Laborku dulu."


" Hm, siapapun yang selesai duluan tunggu di mobil."


" Laksanakan ketua."


Bibir Orion tanpa sadar melengkungkan senyuman tulus melihat tingkah Bellatrix. Inilah temannya sekaligus orang kepercayaannya bersama lima orang lainnya. Bukan Zairan, bukan juga Reina, ataupun Gabriel anak si penghianat.

__ADS_1


__ADS_2