
Gabriel mengalihkan pandangannya dan menegak habis minuman soda miliknya. " Aku tidak yakin untuk itu tapi kalau kau sudah yakin seperti itu. Yah, mau bagaimana lagi."
Hansen yang mulai malas membahas keadaan tentang kesehatannya pun hanya diam menghiraukan ucapan Gabriel.
" Oh iya aku hampir lupa." Reina mengeluarkan tiga kartu dari dalam tasnya. Ia membagikan kartu itu pada Hansen dan Gabriel.
" Apa ini ?" tanya Gabriel.
" Itu kartu untuk akses masuk ke dalan pelelangan yang akan diadakan dua hari lagi." Reina menjelaskan.
" Lalu gunanya kita ketempat itu apa ?" Hansen bertanya sambil membolak balik kartu di tangannya.
" Tidak ada sih, tapi aku dengar dari rekan bisnisku kalau disana akan ada perhiasan yang terbuat dari mutiara asli akan dilelang dua hari lagi. Jadi aku mau mengajak kalian untuk melihat lihat kesana."
Hansen menghela napas dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. " Kalian saja, tabunganku tidak akan cukup kalau aku datang kesana."
Mendengar itu Reina menjadi bersalah. Ia hampir saja melupakan kalau Hansen hanyalah pria biasa. Tidak sepertinya dan juga Gabriel yang berasal dari keluarga kaya raya. " Em..., disana tidak perlu mengeluarkan uang kalau asal kau tidak membeli barang lelang."
" Hei Hans, kau melupakan temanmu yang kaya ini ?" Gabriel bertanya dengan setengah bercanda.
Hansen mendengus dan mengambil jemari lentik milik Reina untuk dimainkan. " Aku tidak memiliki teman kaya sepertimu tetapi aku memiliki teman yang memiliki mulut sama seperti wanita."
Pipi Reina tampak merona saat melihat jemarinya dimainkan oleh Hansen yang menurutnya terlihat seperti anak kecil yang manis.
" Yah terserah kau saja. Tapi tidak ada salahnya kita kesana meskipun kita tidak ada niat untuk membeli apapun nantinya kan ?" Gabriel sangat tahu apa yang dimaksudkan oleh ucapan Hansen barusan. Hal inilah yang membuat Gabriel senang berteman dengan Hansen meskipun ayahnya menentang pertemanan mereka.
" Baiklah aku ikut." ucap Hansen.
" Ehem ! Hans apa yang kulihat ini, kau terlihat manja sekali pada Reina ?" Gabriel tersenyum melihat Hansen yang sedang memainkan jemari Reina layaknya anak kecil. Apa sebentar lagi buaya itu akan berubah menjadi anak balita besar yang manja ?.
__ADS_1
" Bilang saja kau iri." Hansen melirik Gabriel sinis. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Reina tanpa meminta izin terlebih dahulu. Kemudian mengambil tangan gadis itu dan mengarahkannya ke atas kepalanya meminta untuk diusap.
Reina merasa hatinya berbunga bunga dan ingin sekali berteriak senang. Karena apa yang ia inginkan sekarang perlahan bisa didapatkan. Reina berharap Hansen bisa mencintainya seperti ia mencintai pria.
" Rein usap kepalaku, aku ingin tidur." pinta Hansen.
Reina menurut dan mengusap kepala Hansen. Matanya menatap Gabriel yang hanya diam memperhatikan tingkah Hansen kepadanya.
" Bukannya kau takut pada Reina, Hans ?" tanya Gabriel.
" Itu dulu, sekarang Reina sudah seperti orang normal dan aku tidak takut lagi." jawab Hansen.
Reina tersenyum mendengarnya tetapi tangannya menjitak kepala Hansen hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan.
" Rein sakit." entah sadar atau tidak tetapi kali ini Hansen merengek manja dengan tangan mengusap kepalanya.
" Maaf." Reina mengusap bekas jitakkannya tadi dan meniupnya penuh perhatian.
...*****...
" Dia tertidur." Reina berucap pelan.
" Biarkan saja, saat ini aku tidak yakin kalau dia sedang baik baik saja. Kau mau berganti posisi denganku Rein ?" tanya Gabriel.
Reina mengelengkan kepalanya menolak. Ini adalah moment dimana ia inginkan dan Reina tidak akan mengganti posisinya sekarang dengan Gabriel. " Tidak aku menyukainya."
" Aku pernah melihatnya." Gabriel memandang Hansen sedih.
Reina mengerutkan keningnya idak mengerti dengan perkataan Gabriel yang menurutnya tidak menyambung sama sekali. " Maksudmu ?"
__ADS_1
" Aku pernah melihat Hansen dalam keadaan seperti itu. Kejadian itu saat kami mendaftar sekolah bersama dulu. Entah apa yang terjadi, dia tiba tiba menghilang beberapa hari dan muncul seperti biasanya. Tetapi setiap kali aku datang ke panti dia pasti akan bermanja seperti itu pada ibu panti sampai tertidur. Kata ibu panti Hansen memiliki beberapa hal yang tidak boleh dilakukannya." Gabriel menjelaskan dengan tenang.
Reina yang mendengarnya menjadi terkejut. Ternyata dibalik sikap ceria dan genitnya Hansen. Pria itu menyimpan masa lalu yang misterius dan Reina menjadi semakin ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang kehidupan Hansen. " Menurutmu..., kenapa dia bisa begini ?"
" Aku tidak tahu, tapi apa mungkin ini karena aku memaksanya menjadi modelku tadi ya ?" tanya Gabriel
" Kau memaksanya menjadi model ?" Reina balik bertanya.
Gabriel menganggukkan kepalanya dengan wajah terlihat menyesal. " Hanya sehari saja itupun tidak jadi karena dia mengamuk dan menjadi seperti ini."
" Gabriel, kau tahu dia memiliki hal yang tidak boleh dilakukannya dan kau tidak tahu tentang apa hal itu. Jadi kenapa kau tidak bertanya terlebih dahulu sebelum kau berbuat sesuatu kepadanya ?! Bisa saja dia mengamuk karena itu adalah hal yang tidak boleh dilakukannya !" Reina berucap marah. Sungguh ingin sekali ia memukul kepala bodoh Gabriel jika saja tidak ingat Hansen yang sedang sedang bersandar di pundaknya.
Gabriel mengalihkan pandangannya kearah lain. Tangannya mencengkram botol soda yang sudah kosong di tangannya. Lagi lagi ia melakukan kesalahan dan selalu berdampak buruk bagi Hansen. Sebenarnya ia ini temannya Hansen atau nasib buruknya sih. Lama lama Gabriel merasa tidak ada kata damai dipertemanan mereka. Awalnya saling bertengkar, baikan sebentar, dan kedatangan masalah yang membuat mereka saling menyesal satu sama lain.
Hansen yang mendengar keributan disela tidurnya terpaksa bangun melihat Gabriel dan Reina yang saling membuang muka seperti anak kecil yang tengah bertengkar. " Kalian jadian ?"
" Kau tidak lihat wajah kami yang saling kesal ini ?" Gabriel bertanya sinis.
Hansen dengan polosnya menggelengkan kepalanya. Reina tersenyum dan menepuk pelan kepala Hansen sambil berbisik. " Dia seperti wanita yang sedang datang bulan."
Hansen mengangguk lalu memeluk tubuh Reina dari samping. " Dia memang seperti itu mangkanya tidak ada yang mau dengannya sampai sekarang."
" Seperti itu apa maksudmu ?!" Gabriel melotot garang melihat interaksi kedua temannya.
" Seperti pria tampan yang tengah merajuk. Kau terlihat manis sekali." ucap Reina yang berbohong. Karena baginya Gabriel itu tidak ada manis manisnya sama sekali selain Hansen, pria yang dicintainya.
Merasa dipuji Gabriel tersenyum bangga. Raut kesalnya seketika berubah menjadi sombong. " Tentu saja aku manis dan tampan."
Hansen berdecak dan menatap Reina dengan alis yang terangkat sebelah. " Kau berbohong." bisiknya.
__ADS_1
" Biarkan saja, biar dia merasa senang dan tidak merusak pemandangan dengan tampang jeleknya itu." Reina balas berbisik.