Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Salam Kenal


__ADS_3

Rigel melirik Orion lalu menghela napas. " Lagi ?"


Orion mengangguk sebagai jawaban tanpa mau mengeluarkan suaranya. Semua total penjara di kantor polisi ini ada enam penjara dan ini adalah penjara terakhir yang akan mereka datangi.


" Baiklah." Rigel mengusap wajahnya merasa sedikit frustasi karena harus mengulang ucapan yang sama sebanyak lima kali dan akan ditambah lagi.


Bellatrix terkekeh melihat Rigel di sampingnya. " Jangan sampai lupa apa yang mau kau ucapkan ya, ini adalah penjara terakhir dan paling berbahaya karena mafia berada di sini."


Rigel memelas pada Orion. " Gantian dengan Bellatrix, Orion. Suaraku hampir habis, tolonglah."


Orion berdecak kesal. " Hampir habis bukan berarti tidak memiliki suara. Habiskan suaramu untuk ini atau kau kujadikan bahan uji coba di ruang senjata."


" Ingat ! Bahan uji coba senjata Rigel." bisik Bellatrix dengan nada mengejek.


TRANG !


Penjara dengan suasana yang cukup lebih baik dibandingkan penjara lainnya terlihat oleh Orion yang baru saja membuka pintu besi penjara itu. Di dalamnya Orion melihat seorang pria duduk dengan kaki terantai.


Pria itu mengangkat kepalanya melihat Orion dengan tatapan dingin. " Aku tidak akan pernah memberi tahu kalian."


Orion mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum miring. Lalu kembali menunjukkan tato di dada kirinya untuk yang keenam kalinya.


Pria itu terkejut melihatnya dan menatap cermat wajah Orion yang tertutup topeng kulit wajah. " Kau ?!"


" Zairan Gelandra atau di kenal dengan Z. Mafia terkaya dan terkenal di masanya. Tetapi tertangkap karena tunanganmu berkhianat yang ternyata dia adalah orang kepercayaan negara." Rigel maju dan berdiri di samping Orion.


" Apa aku benar ?" lanjutnya.


" Dari anggota mana kau berasal ? Apa maumu datang ke penjara ini ?!" Zairan menatap Orion tanpa rasa takut.


" Kami berdiri sendiri. Kau tentunya tahu tentang Orion yang dulu cukup terkenal di dunia bawah meski dia belum menunjukkan dirinya di negara ini." jawab Rigel.


" Bersekutu atau tetaplah berada di sini." ucap Orion.


Zairan mendengus dan memalingkan wajahnya menatap kakinya yang terantai. " Untuk apa kau mengajakku bersekutu ? Aku bukan lagi mafia terkenal dan hebat seperti dulu. Aku sudah tidak memiliki banyak pengikut dan pendukung. Sekarang aku hanyalah pria bodoh yang akan mendekam selamanya di dalam penjara ini."


" Karena kita memiliki kesamaan." Orion tersenyum miring melihat Zairan kembali menatapnya.


" Maksudmu ?" tanya Zairan.


" Kita sama sama membenci negara ini." jawab Orion.


" Bersekutu dengan kami dan balaskan dendammu. Lalu balaslah kami dengan kesetiaanmu." ucap Rigel.

__ADS_1


" Dan jangan lupakan hartamu yang tersembunyi itu. Bukan meminta tetapi berbagilah sedikit kalau bisa. Dari pada menjadi incaran negara kan ?" Bellatrix tersenyum ramah menatap Zairan.


PLAK !


" Aduh !" Bellatrix mengusap kepalanya yang baru saja di pukul Rigel sekuat tenaga. Matanya melotot kesal menatap Rigel yang masih berdiri tegak dengan wajah datar.


" Apa ?" tanya Rigel dengan wajah pura pura tidak tahu.


" Awas kau, aku akan membalasmu nanti." ucap Bellatrix.


Zairan tersenyum melihat Rigel dan Belltrix yang bertengkar. Mereka mengingatkan Zairan pada para pengikutnya yang telah di bantai karena berusaha menyelamatkannya. Zairan mengepalkan tangannya mengingat masa itu. Hanya karena wanita itu Zairan kehilangan para pengikutnya yang sudah seperti keluarga untuknya.


" Jadi ?" tanya Orion.


Zairan menganggukkan kepalanya dan berdiri di depan Orion dengan pandangan penuh ambisi. " Aku akan menjadi sekutumu Orion."


...*****...


" Letnan seluruh tahanan hilang !"


" Apa ?!" Letnan Sarga berteriak marah.


Apalagi ini ?!.


" Apa saja yang kalian lakukan ?! Bukankah ada polisi yang berjaga di sana ?!" Letnan Sarga benar benar marah kali ini.


" Letnan para polisi yang berjaga mereka menjadi seperti patung."


" Lalu penjara diujung lorong apa sudah kalian periksa ?" kali ini Letnan Sarga tidak bertanya dengan marah melainkan cemas dan khawatir. Karena penjara di lorong adalah penjara terakhir di kantor polisi ini dan memiliki tahanan yang disembunyikan dari banyak orang. Jika tahanan itu juga menghilang maka tamatlah riwayatnya.


" Kami belum memeriksanya Letnan. Lagipula di sana terpasang laser di setiap sudutnya dengan penjagaan yang ketat."


" Apapun itu, ayo kita ke penjara itu." Letnan Sarga berjalan cepat menuju penjara yang memiliki tahanan penting itu.


Setelah ini Letnan Sarga yakin pangkatnya tidak akan berlaku lagi. Masalah hari ini cukup serius dan menyebabkan banyak kerugian yang dimana itu termasuk kelalaiannya sebagai pemimpin.


Letnan Sarga mengeraskan rahangnya dengan tangan terkepal. Siapapun orang yang membuat masalah ini Letnan Sarga akan mencari dan membunuhnya dengan tangannya sendiri.


" Letnan penjaranya..."


" Sialan !" Letnan Sarga melihat penjara yang awalnya penuh dengan laser kini hancur dengan pintu terbuka lebar. Bahkan sepuluh orang polisi yang berjaga berdiri kaku layaknya patung dengan pandangan kosong.


Letnan Sarga mencengkram rambutnya frustasi. " Hubungi bantuan."

__ADS_1


" Sudah letnan tetapi jaringan hilang begitu saja dan polisi yang kami kirim untuk meminta bantuan juga belum terdengar kabarnya."


" Kalau begitu lihat CCTV tersembunyi." perintah Letnan Sarga.


" Letnan CCTV kita tidak bisa melihat apapun."


" Sadarkan polisi yang seperti patung itu." pinta Letnan Sarga.


" Tidak bisa Letnan. Bahkan pukulan kencang pun tidak membuat mereka sadar."


" Lalu apa yang bisa kalian dilakukan saat ini ?!" teriak Letnan Sarga frustasi.


DUAR !


" Akh !"


" Berlindung !"


DUAR !


DUAR !


" Ada bom ! Semuanya keluar dari sini !"


DUAR !


Satu persatu ruangan di kantor polisi hancur karena meledaknya bom yang terpasang tanpa diketahui jejaknya.


" Letnan kita harus keluar dari sini"


Letnan Sarga menatap marah kantor polisi yang hampir hancur saat ini. Meski begitu Letnan Sarga tidak bisa berbuat apapun untuk sekarang, bahkan nyawa bawahannya menjadi taruhan.


" Letnan !"


DUAR !


" Ayo." Letnan Sarga berlari mencoba berusaha keluar dari kantor polisi.


Di dalam mobil Mintaka tertawa senang. Ternyata melihat hancurnya kantor polisi itu menyenangkan. Suara bom yang terdengar seperti petir yang menyambar di langit, dan banyak orang yang berlari seperti semut yang terkurung.


Mintaka mengetikkan beberapa kode lalu menyeringai setelah berhasil menutup seluruh akses keluar dari kantor polisi yang menggunakan daya listrik. Mintaka mengurung orang orang yang kurang beruntung di dalam kantor polisi itu dan membuatnya menjadi korban ledakkan bom yang di pasang Orion bersama Alnilam dan Alnitak.


" Jangan salahkan kami karena berbuat kejam pada kalian tetapi salahkan pemimpin kalian yang membuat kami menjadi kejam seperti sekarang." ucap Mintaka.

__ADS_1


" Permainan barulah dimulai, nikmati salam kenal dari kami." lanjutnya


__ADS_2