
Setelah perdebatan di ruang pemotretan. Reina langsung pergi meninggalkan Hansen dan memilih mendekam di ruangan Gabriel. Sebenarnya Reina tidak marah kepada Hansen tapi ia hanya merasa kesal. Kenapa juga Hansen memiliki wajah tampan dan kenapa juga dua wanita itu menempelnya layaknya lintah.
Memikirkannya saja sudah membuat Reina muak. Reina iri melihat mereka yang begitu akrab dengan Hansen tanpa ada jarak. Tidak sepertinya yang harus berusaha keras mendekati Hansen. Andai saja Reina tidak jatuh cinta pada pandangan pertama mungkin perasaannya tidak akan seperti ini sekarang.
" Mau sampai kapan kau berada di sini Reina ?" Gabriel menatap bosan Reina yang hanya diam duduk di sofa ruangannya.
Reina hanya memandangnya sekilas lalu kembali pada lamunannya. Jack yang terlanjur terjebak di ruangan bosnya hanya bisa pasrah tanpa bisa bersuara ataupun membuat gerakan yang menarik perhatian.
Gabriel menghela napas lelah. Kalau begini bagaimana ia bisa bekerja ?.
" Jack." tidak punya pilihan lain terpaksa Gabriel memanggil sekretarisnya itu.
Jack segera berdiri dan berjalan mendekati Gabriel. " Ya bos ?"
" Cari Hansen dan seret dia kemari. Aku tidak mau ruanganku nanti dibanjiri air mata." ucap Gabriel.
" Apa ?! O..oh baik bos." Jack berbalik pergi dengan wajah kesal untuk mencari Hansen. Pada akhirnya ia juga yang akan susah sendiri. Hah, beginilah nasib kalau menjadi bawahan.
Jack berjalan cepat mencari Hansen dan itu dimulai dari ruang pemotretan. Namun baru saja Jack tiba Tera telah menutup ruang pemotretan itu.
" Dimana Hansen ?"
Tera menoleh menatapnya dengan kening yang berkerut bingung. " Bukannya tadi dia pergi menyusul kekasihnya itu ?"
" Kekasihnya ?"
Tera mengangguk. " Si pengacara cantik itu."
Akhirnya Jack mengerti siapa orang yang dimaksud Tera. " Ya sudah, aku duluan kalau begitu."
" Ya."
Jack berbalik pergi dengan cepat ke dalam lift. Sekarang tujuannya adalah ruang kerja Hansen. Pria itu seperti orang yang tidak tahu diri saja. Sudah membuat seorang gadis sedih tetapi bukannya dia berusaha membujuk Hansen malah pergi entah kemana.
Jack keluar dari lift dan membuka kencang pintu ruang kerja Hansen. Benar saja, di sana Hansen sedang bersandar sembari memejamkan matanya.
" Kau memang kurang ajar."
Hansen membuka matanya perlahan. Memandang Jack yang ternyata juga sedang menatapnya kesal. " Ada apa ?"
" Ada apa kau bilang ?! Kau tidak mau tanggung jawab dengan apa yang terjadi pada Reina ?"
__ADS_1
" Aku tidak menghamilinya jadi untuk apa bertanggung jawab ?" Hansen bertanya tanpa rasa bersalah.
" Kau ! Astaga, bagaimana bisa kamu masih berpura pura polos seperti itu ?!"
Hansen mengangkat bahunya acuh. " Jadi dimana dia ?"
" Di ruangan Gabriel."
" Sedang apa ?"
Jack mendelik kesal. " Kenapa tidak kau lihat saja sendiri !"
" Malas." Hansen menjawab santai dan kembali menutup matanya.
Dan itu berhasil membuat darah tinggi Jack naik seketika. Hansen si pria perayu ini harus diberi pelajaran sesekali. Jack seakan lupa bahwa semua ini berawal dari dirinya sendiri yang berani mengirimkan sebuah foto pada Reina.
Jack berjalan memutari meja kerja Hansen lalu menarik tangan Hansen untuk mengikutinya.
" Kau yang membuat kami seperti ini." ucapan Hansen yang berhasil membuat Jack berhenti menariknya.
" Apa maksudmu."
Hansen tersenyum tipis. " Kau yang membuatnya datang kan ? Andai kau tidak berbuat seperti itu mungkin kami masih baik baik saja."
" Kau lebih tahu apa yang telah kau lakukan sehingga Reina tiba tiba datang ke ruang pemotretan."
Tubuh Jack menegang mendengarnya. Ia menatap Hansen yang menatapnya tajam.
Dari mana Hansen bisa tahu ?.
.
...*****...
.
Hansen membuka pintu ruang kerja Gabriel. Berjalan santai masuk ke dalam tanpa harus mengucapakan permisi sebagai tanda sopan santunnya kepada bos. Mungkin diantara seluruh pekerja hanya Hansen yang berani berperilaku seenaknya seperti ini.
" Kau datang ?" tanya Gabriel yang pertama kali melihat kedatangannya.
Hansen mengangguk sekilas dan tetap berjalan mendekati Reina yang duduk di sofa menghadap kaca besar. Tanpa menyapa Hansen duduk di sebelah Reina dan memandangnya.
__ADS_1
" Kau marah ?"
Reina hanya diam saja dan tidak berniat untuk menjawab. Hansen menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
" Bukankah sebelumnya aku sudah pernah bilang tentang kekuranganku ini ? Aku sudah berbicara jujur bahkan Tera pun juga ikut menjelaskan. Tapi kau masih tidak percaya kepadaku. Jadi aku bertanya tanya kau menyukaiku apa tidak sebenarnya ? Karena setahuku kalau kau menyukaiku kau pasti akan mempercayaiku juga."
Mendengar kalimat terakhir yang Hansen ucapkan Reina menjadi tertegun. Benar, jika Reina memang menyukai Hansen seharusnya ia juga bisa mempercayainya. Tapi Reina kesal setiap kali melihat Hansen berdekatan dengan wanita wanita genit itu. Rasanya bahkan lebih menyebalkan dibanding saat melihat Hansen bersama Monica dulu.
Reina menoleh lalu memiringkan sedikit tubuhnya agar bisa menghadap Hansen di sebelahnya. " Aku..., aku hanya merasa kesal."
Hansen mengambil tangan Reina dan menggenggamnya. " Aku sudah berusaha memenuhi permintaanmu. Tidak mungkin aku mengingkarinya. Apalagi dengan para wanita genit seperti mereka sedangkan kau sendiri tahu kalau aku takut dengan wanita agresif."
Perlahan senyum terbit di bibir Reina. Rasa kesalnya memudar dan berganti dengan perasaan lega. Ditambah wajah Hansen yang terlihat menggemaskan saat merasa menyesal.
" Jadi kita baikan ?" tanya Hansen.
" Iya tapi ada syaratnya."
Hansen menahan senyumnya sembari mengangkat sebelah alisnya menatap Reina penuh tanya.
" Apa ?"
" Kau harus mengajakku berkencan."
" Setuju !" Hansen langsung menyetujui syarat itu.
Reina semakin tersenyum dan melirik Gabriel yang mengacungkan kedua ibu jarinya sebagai tanda pujian. Triknya berhasil meski awalnya hampir gagal.
Tanpa Hansen sadari dirinya telah masuk ke dalam perangkap yang Reina buat. Setelah menerima kiriman foto dari Jack. Reina menjadi marah dan juga kesal namun ia sadar kalau dirinya belum memiliki hubungan apapun dengan Hansen saat ini.
Jadi Reina memilih menghampiri Hansen dan mengeluarkan rasa kesalnya untuk memancing reaksi Hansen. Jika pria itu tidak menyukainya pasti dia tidak akan mau membujuknya. Tapi kalau Hansen berusaha membujuknya berarti dia mulai menyukainya dan mau berusaha menjalin hubungan dengannya.
" Tapi apa kau tidak masalah berkencan dengan pria miskin sepertiku ini ?" tanya Hansen.
" Apa masalahnya ? Selagi kau tampan dan bukan seorang buronan itu bukanlah masalah." Reina menjawab ringan dan juga santai.
Hansen mengulum senyum manisnya. " Tapi aku tidak bisa mentraktirmu di Restoran mahal nanti. Mungkin juga aku hanya bisa membelikanmu makanan pinggir jalan yang terkesan murah."
" Tidak masalah asal makanan itu bisa dimakan."
" Walaupun rasanya tidak seenak makanan di Restoran berbintang ?" Hansen bertanya lagi.
__ADS_1
Reina menganggukkan kepalanya yakin. " Asal itu bersamamu aku tidak akan masalah."
" Baiklah nona pengacara yang cantik. Kita akan berkencan seperti keinginanmu." ucap Hansen.