Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Lelang


__ADS_3

Hansen keluar dari mobil diikuti Reina dan juga Gabriel. Reina berjalan mendekati Hansen lalu berbisik pelan.


" Boleh aku menggandeng tanganmu ?"


Hansen menoleh menatap Reina sejenak dan mengangguk singkat. Jawaban itu membuat senyum Reina merekah dengan pipi merona. Malu malu tapi mau, Reina menggandeng tangan Hansen sebelum mereka berjalan bersama memasuki tempat acara lelang diadakan.


Gabriel yang berdiri di belakang tanpa pasangan langsung berdecak kesal. Setidaknya disaat seperti Hansen dan Reina jangan melupakannya karena mereka tadi yang datang bertiga.


" Tuan, nona bisa tolong perlihatkan undangannya ?" tanya seorang penjaga.


Reina mengeluarkan tiga undangan dari tas lalu memberikannya pada penjaga itu.


" Silahkan masuk tuan tuan dan nona. " penjaga itu membuka pintu di belakangnya.


" Terima kasih." Reina tersenyum ramah pada penjaga itu dan masuk ke dalam bersama Hansen dan juga Gabriel yang berjalan di belakangnya.


Hansen melihat suasana diacara lelang itu. Dalam hati ia berdecak kagum melihat betapa mewahnya acara yang diadakan malam ini hanya sekedar untuk lelang saja.


" Ini terlihat seperti acara pesta pernikahan bukan ?" Gabriel berbisik pelan di samping Hansen.


" Ya, ada baiknya kita duduk dengan cepat sekarang." Hansen melihat sekelilingnya mencari sesuatu. Setelah menemukan apa yang dicarinya Hansen tersenyum tipis. Matanya menyiratkan sesuatu di balik topeng yang saat ini menutupi separuh wajahnya.


" Ayo kita duduk di sana ?" Reina menunjuk tempat duduk di dekat panggung dimana itu bersebelahan dengan meja yang telah ditempati enam orang asing dengan pakaian sedikit mencolok.


Gabriel melihat arah tunjukkan Reina. Keningnya sedikit berkerut melihat meja itu. Tapi bukan itu yang membuatnya mengerutkan keningnya, lebih tepatnya meja di sebelah meja yang Reina maksudkan. " Kau yakin kita akan duduk di sebelah orang orang berpakaian mencolok itu ?"


" Mau bagaimana lagi, itu satu satunya meja yang tersisa sekarang." jawab Reina.


" Tapi kau tidak lihat orang orang dengan pakaian mencolok di sebelah meja itu?" Gabriel bertanya kembali. Jujur saja ia sedikit enggan duduk di sana.


" Jangan banyak bertanya. Ini bukan tempatmu Riel yang bisa memilih tempat duduk sesuka hatimu. Jadi ayo cepat kita ke sana."


" Baiklah." Gabriel berucap lemah dan terpaksa berjalan menuju meja itu. Diikuti Reina yang berjalan sambil menggandeng tangan Hansen di belakangnya.

__ADS_1


Tanpa diketahui Gabriel dan juga Reina. Hansen menatap orang orang berpakaian mencolok itu yang sekarang tengah tersenyum kearahnya. Hansen tersenyum tipis dan kembali memandang ke depan. Setelah sampai di meja yang mereka tuju, Hansen mengambil tempat duduk dengan tenang seakan akan tidak terjadi apapun sebelumnya.


" Selamat malam tuan dan nona sekian..."


Hansen melihat seorang pria memakai topeng rubah di atas panggung itu. Hansen tahu siapa pria itu. Dia adalah orang yang memiliki tempat lelang ini. Hansen mengerti kenapa pria itu memilih untuk menjadi pembawa acaranya sendiri dibandingkan duduk diam seperti biasanya. Hansen beralih melirik meja sebelahnya dimana orang orang berpakaian mencolok itu berada.


Salah satu diantara mereka mengedipkan sebelah mata padanya diiringi seringaian licik. Hansen memutar mata malas sebelum kembali menatap panggung.


" Baiklah langsung kita mulai saja acaranya. Benda yang pertama..." pria di atas panggung itu membuka kain hitam di atas meja.


" Ini adalah Flower heart, tanaman langka yang hanya hidup di bawah gunung es bagian barat."


... *****...


" Bunga ini bernilai lima puluh juta." ucap pria di atas panggung itu.


" Lima puluh lima juta !"


" Seratus juta !"


Hansen mendengus kesal melihat banyak orang yang memperebutkan bunga itu dengan harga yang cukup mahal padahal itu hanya untuk satu tangkai saja. Pasti setelah ini Mintaka dan Bellatrix tertawa gembira karena mendapatkan banyak uang.


" Lima ratus juta !"


" Ada lagi tuan tuan ?" pria di atas penggung itu menunggu beberapa detik untuk melihat siapa yang bisa menawar lagi.


" Tidak ada ? Baiklah, selamat untuk tuan di meja nomor 9. Silahkan menyelesaikan akun di belakang panggung. Selanjutnya !" sambung pria itu lalu membuka kain di meja selanjutnya.


Hansen menutup mulutnya dan menguap menahan ngantuk. Ternyata mengikuti lelang itu membosankan. Terlalu banyak bicara dan juga menghambur hamburkan uang hanya untuk barang yang menurutnya tidak penting.


" Kau bosan ?"


Hansen menganggukkan kepalanya. Reina tersenyum lalu menggenggam telapak tangan Hansen.

__ADS_1


" Apa yang kau cari disini ?" Hansen balik bertanya sembari memainkan jemari lentik milik Reina yang terlihat kecil di tangannya.


" Perhiasan yang terbuat dari mutiara biru. Aku ingin melihatnya dan kalau bisa aku akan membelinya."


Hansen menatap manik indah Reina. " Kau menyukai perhiasan ?"


" Ya, sangat menyukainya."


" Tapi aku tidak bisa memberikannya untukmu." Hansen berucap lirih.


Reina hampir saja berteriak girang melihat betapa menggemaskannya Hansen saat ini. Pria itu terlihat lesu karena tidak bisa membelikannya perhiasan yang Reina inginkan. Sebenarnya tidak masalah Hansen tidak bisa memberikannya perhiasan karena Reina hanya menginginkan pria itu menjadi miliknya.


" Aku tidak mendekatimu karena ingin diberikan perhiasan mewah. Aku mendekatimu karena aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di Restoran waktu itu. Jadi tolong jangan seperti ini karena kau terlihat menggemaskan sekali." Reina mencubit gemas hidung mancung Hansen.


Hansen langsung mendatarkan wajahnya saat Reina menyebutkan menggemaskan. " Aku tampan bukan menggemaskan." ucapnya.


Reina tertawa pelan. " Kau merajuk ?"


" Tidak."


" Lalu ada dengan wajah datarmu itu ?" Reina bertanya jahil.


Hansen melepaskan jemari Reina lalu mengubah posisinya melihat ke depan. Gabriel yang diam diam memperhatikan menjadi menggelengkan kepalanya. Hansen terlihat seperti anak kecil, pantas mereka tidak pernah bisa akur selama ini karena Gabriel pun menyadari kalau dirinya juga kadang suka melupakan umurnya yang telah dewasa.


" Baiklah kau itu tampan. Bahkan tampan sekali apalagi jika tersenyum." Reina menggenggam tangan Hansen di atas meja.


" Aku tahu, sudah banyak orang yang bilang begitu." Hansen berucap penuh percaya diri.


Reina menggigit pipi bagian dalamnya menahan gemas. Ingin sekali ia mencubit pipi Hansen sekarang juga. Berbeda dengan Gabriel yang malah ingin muntah melihat itu. Isi perutnya langsung bergejolak ingin keluar melihat Hansen yang bertingkah manja seperti itu.


" Baiklah terakhir ! Inilah yang menjadi barang spesial dari acara kita ini !" pria di atas panggung bertepuk tangan dua kali.


Seorang wanita berpakaian seksi berjalan membawa kotak kaca yang tertutup kain merah menghampiri pria di atas panggung.

__ADS_1


" Nah, inilah dia..." pria di atas panggung menarik kain merah yang menutupi kotak kaca itu. " Perhiasan yang baru pertama kali ada di seluruh negara. Perhiasan mutiara biru asli !"


Semua orang menahan napas sekaligus memandang kagum pada perhiasan mutiara biru yang tampak berkilau di dalam kotak kaca yang terkena cahaya lampu.


__ADS_2