
" Selamat datang tuan muda."
Gabriel menoleh melihat para pelayan yang membungkuk kearahnya. " Di mana ayah ?"
" Tuan ada di dalam ruang kerjanya tuan muda."
Gabriel langsung berjalan menuju ruang kerja ayahnya begitu saja. Pikirannya masih mengingat tentang kematian Monica mengenaskan. Gabriel kenal gadis itu dari Hansen saat pertama kali berkunjung ke panti asuhan. Monica gadis yang ramah dan baik hati, hampir semua orang menyukainya.
Bahkan Monica tidak pernah berbuat buruk pada orang lain. Jadi bagaimana bisa ada orang yang tega membunuhnya ? Gabriel yakin Monica tidak memiliki musuh baik di luar maupun di dalam perusahaannya.
Gabriel membuka pintu ruang kerja ayahnya. Di dalam Gabriel melihat ayahnya sedang mengerjakan laporan.
" Ayah."
George mengangkat pandangannya. " Duduk."
Gabriel duduk di sofa yang tidak jauh dari meja kerja ayahnya. " Aku ingin berbicara."
" Ayah tahu." George beranjak dari tempat duduknya, berjalan memutari meja lalu bersandar di meja kerjanya dengan tangan terlipat di depan dada.
" Aku..."
" Kau yang memilihnya. Ayah sudah pernah memperingatimu tapi kau menghiraukannya." George berucap lebih dulu memotong ucapan yang ingin Gabriel utarakan.
Gabriel tersentak dan menatap George tak percaya. Seketika rasa bersalah mengalir begitu saja di hatinya. " Ja..jadi..., ayah yang telah membunuh Monica ?"
George menggelengkan kepalanya pelan. " Bukan ayah yang membunuhnya tapi Zero."
" Atas perintah ayah kan ?!" Gabriel mengepalkan tangannya menahan amarah yang mulai menguasai dirinya.
" Ya."
" Ayah !"
George tersenyum miring menatap Gabriel. " Ayah sudah memintamu memilih bukan ?"
Mata Gabriel tampak memerah menahan tangis. Seumur hidupnya Gabriel tidak pernah menyangka ayahnya akan setega itu kepadanya.
" Monica kekasih Hansen dan Hansen adalah temanku ayah."
George berdecak sinis mendengar ucapan putranya. " Karena itu ayah lebih memilih kekasihnya dibandingkan teman jalananmu itu."
" Tapi Hansen terlihat terluka ayah."
" Memang itulah tujuan ayah. Semakin kau mendekatinya maka dia akan semakin terluka." ucap George.
Gabriel menundukkan kepalanya. " Dia temanku ayah. Aku menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Tidak bisakah ayah melihat itu ?"
" Bagiku dia hanyalah benalu." jawab George.
__ADS_1
Gabriel semakin mengeratkan kepalan tangannya. Hatinya yang penuh penyesalan kini bertambah dengan rasa sakit tak terlihat. Karena pilihannya Hansen kehilangan orang yang berharga dan itu semua disebabkan oleh ayahnya sendiri.
Gabriel beranjak berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ruang kerja ayahnya. Setetes air mata jatuh dari matanya. Jika Hansen mengetahui hal ini pria itu pasti akan membencinya.
Kenapa ayahnya begitu kejam. Gabriel merasa apa yang dilakukan ayahnya selama ini bukanlah bentuk kasih sayang orang tua untuk anaknya. Jika benar ayahnya menyayanginya tidak mungkin ayahnya tega menyakitinya sampai seperti ini.
Gabriel masuk ke dalam mobilnya dan dengan cepat mengendarainya keluar gerbang Mansion milik ayahnya. Tujuannya saat ini adalah pergi ke makan ibunya. Hanya di sana Gabriel bisa mengeluarkan keluh kesahnya. Meskipun sekarang ibunya telah berubah menjadi tumpukkan tanah tetapi bagi Gabriel tempat ternyaman masih berada didekat ibunya.
Gabriel keluar dari mobil, berjalan mendekati makam yang sejak tadi menjadi tempat tujuannya.
" Ibu." Gabriel mencium nisan ibunya sembari memejamkan matanya. Perlahan air matanya kembali menetes.
Gabriel membuka matanya kembali lalu mengusap nama yang terukir indah di nisan ibunya. " Aku merasa sakit di sini ibu."
Mungkin karena ayah aku juga bisa pergi mengikuti ibu ke sana ! Batin Gabriel.
...*****...
PLUK !
CTAK !
Hansen melempar batu ke lautan untuk yang kesekian kalinya. Matanya memandang batu hasil lemparannya yang terkadang melesat dan menghantam bebatuan di pinggir pantai hingga menimbulkan suara kencang.
" Kau seperti para gadis setiap kali sedang bersedih."
Hansen menoleh ke belakang dan melihat Reina yang berjalan mendekatinya sambil tersenyum. Hansen tak menghiraukannya dan memilih menatap air laut di depannya.
PLUK !
" Dari pada melempar batu seperti itu lebih baik kau teriak saja." ucap Reina.
" Kekanakan." Hansen menjauh dari pinggir pantai lalu duduk di atas pasir.
Reina mengikuti Hansen duduk di atas pasir. " Kau menyukai pantai ?"
" Tidak."
" Lalu kenapa kau ke pantai ?" tanya Reina.
" Ada dia di pantai."
" Monica ?"
Hansen mengangguk. " Setiap kali aku melihat birunya air laut. Aku selalu melihat bayangan Monica di sana."
Tanpa Hansen sadari senyum Reina berubah sendu. Namun beberapa detik kemudian senyum Reina kembali lagi. Setidaknya ini lebih baik dibandingkan melihat Hansen bersama Monica seperti saat itu.
" Apa dia tersenyum saat ini ?" Reina memandang air laut yang terlihat berkilauan seperti pecahan berlian di bawah langit sore.
__ADS_1
" Ya dan itu terlihat cantik." jawab Hansen dengan pandangan masih menatap kearah air laut.
" Kau sangat mencintainya ya ?"
Hansen menggelengkan kepalanya. " Aku menyayanginya."
" Bukankah dia kekasihmu ?"
Hansen hanya tersenyum membalas pertanyaan dari Reina. Baginya apa yang dirasakannya orang lain tidak perlu mengetahuinya.
" Hei ! Kau sadar tidak kalau kau itu sudah tidak canggung lagi saat berdua denganku ?"
Kening Hansen terlihat mengkerut sebelum tersenyum diiringi anggukan setuju. " Mungkin karena sekarang kau sudah normal."
Reina terbelalak mendengar ucapan Hansen. " Normal ? Yang benar saja ! Jadi selama ini kau menganggapku tidak normal begitu ?!"
Hansen mengangkat bahu acuh sebelum berlari menjauh dari jangkauan Reina sebelum gadis itu mengamuk.
" Hansen ! Jangan lari kau !"
Hansen berbalik menatap Reina. " Aku harus menjauh dari orang tidak normal !"
" Apa ?! Sini kau ! Dasar menyebalkan !" Reina berdiri mengejar Hansen yang berlari di pinggir pantai.
" Tolong ada yang mengejarku !" Hansen tertawa dan kembali berlari.
Reina mendelik kesal tetapi kemudian tersenyum saat melihat Hansen tertawa sambil berlari. Akhirnya pria itu bisa melupakan kesedihannya meski hanya sesaat dan itu karenanya.
Reina terus berlari mengejar Hansen dari belakang. " Hai tampan ! Aku akan menangkapmu dan menculikmu !"
" Kenapa kau menyeramkan sekali ?!" Hansen berbalik dan berlari mundur.
" Aku kan tidak normal !"
Hansen menggigit bibir bawahnya menahan senyum. Benar apa yang dikatakan Reina tadi bahwa Hansen sudah tidak canggung lagi dengan gadis itu. Rasa risih dan takut tidak dirasakannya hari ini selama Reina tidak bertingkah genit seperti hari hari sebelumnya. Ternyata Reina orang yang cukup menyenangkan juga.
" Aku menangkapmu !" Reina mendorong Hansen hingga terjatuh ke atas pasir.
" Kau curang."
Reina berjongkok sembari tertawa lalu menepuk kepala Hansen seperti seorang ibu. " Lain kali jangan melamun."
Hansen tersenyum memandang Reina dan menepuk pasir di sisi sebelahnya. " Matahari akan terbenam."
" Kenapa memangnya kalau matahari mau terbenam ?"
" Kau menghalangi keindahannya."
" Menyebalkan." Reina berucap kesal tetapi tetap mengikuti Hansen.
__ADS_1
Hansen terkekeh dan melihat Reina yang ikut tiduran di sebelahnya. Berkat gadis itu rasa sedihnya bisa sedikit memudar.
Monica sepertinya benar ucapanmu waktu itu ! Batin Hansen.