Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Makanan Mentah


__ADS_3

Mata Hansen tampak melebar beberapa saat sebelum kembali seperti semula. " Rein jangan seperti itu ! Kau membuatku takut sekarang !"


Reina tersenyum lebar hingga menampakkan giginya yang putih bersih. Tangannya menepuk lengan Hansen dua kali. " Maafkan aku, aku suka lupa diri kalau melihat kesempurnaan yang diciptakan oleh tuhan."


Gabriel berdecak dan melipat tangannya di depan dada. Matanya menatap jenuh pemandangan Reina dan juga Hansen di depannya. Mereka bermesraan seakan akan di mobil ini tidak ada orang lain selain mereka.


" Lain kali aku akan tidak akan mengulanginya lagi." ucap Reina.


Hansen mengangguk dan kembali memakai jaketnya. " Maafkan aku yang seakan akan mengaturmu Reina. Tapi aku benar benar takut melihatmu yang agresif. Jadi dari pada aku yang menjauhimu dan kau menjadi sakit hati. Tolong kita untuk saling mengerti."


" Aku tahu, lagi pula itu bukanlah hal yang sulit." Reina tersenyum menatap Hansen. Sepertinya ia harus lebih keras lagi untuk menghilangkan trauma Hansen yang satu ini. Karena Reina tidak yakin dengan sikapnya bertingkah apabila nanti Hansen telah menjadi miliknya.


Gabriel yang sedari tadi terpaksa memperhatikan langsung mengalihkan pandangannya keluar mobil. " Mentang mentang sudah dekat mereka bahasanya langsung untuk saling mengerti." gumamnya.


Hansen terkekeh yang mendengar gumaman Gabriel. Telinganya yang tajam membuatnya bisa mendengar suara sekecil apapun asalkan itu tidak terlalu jauh.


" Hans ayo kita makan dulu. Aku sudah lapar dari tadi." pinta Reina.


Hansen melirik Gabriel yang duduk sendirian di kursi belakang melalui kaca spion dalam mobil. " Gabriel kau lapar ?"


" Masih ingat kalau ada aku di sini ?" Gabriel balik bertanya dengan nada sinis. Dari tadi Hansen dan Reina asik berbincang berdua tanpa mengajaknya bergabung.


" Heh, kau merajuk ?" tanya Reina.


Hansen menghela napas, mengapa sekarang mereka malah jadi saling melemparkan pertanyaan ?.


" Menurutmu ?" Gabriel menatap Reina sinis.


Reina mengangkat bahunya acuh. " Seharusnya kau lebih tahu dibandingkan aku kan ?"

__ADS_1


Baiklah sekarang Hansen mulai kesal karena pertanyaannya tidak ada yang mau menjawab. Hansen menyetir mobil sesuka hatinya. Biarkan kali ini ia saja yang mencari tempat makan untuk mereka. Mulutnya sudah malas bertanya setelah mendengar perdebatan Reina dan Gabriel yang kini saling melemparkan pertanyaan.


Hah, Hansen menghela napas lagi. Tidak di RB, tidak di sini. Hansen selalu mendapatkan teman yang kekanak kanakkan seperti sekarang. Walaupun kadang itu bisa menghiburnya tetapi rasa kesal lebih sering dialaminya karena tingkah konyol mereka.


Hansen melihat sekilas kearah Reina yang sedang tersenyum memandangi Gabriel sebelum kembali menatap jalan di depannya. Entah kenapa rasa yang dialaminya untuk Reina berbeda dengan rasa yang dialaminya saat bersama Monica dulu. Setiap kali bertemu Reina, Hansen merasa ada hal yang menarik dari gadis itu. Tetapi setelah Hansen mendekatinya ia malah merasakan ancaman yang tersirat untuknya.


Sambil menyetir Hansen melihat gelang hitam di pergelangan tangannya. Ingatan tentang ucapan Monica kembali diingatannya.


Hans, kalau kau tidak bisa bersamaku. Maka carilah gadis yang bukan hanya ada di dalam pikiranmu saja. Tetapi juga saat kau memejamkan mata, kau bisa melihat ada bayangannya di sana. Karena itu tandanya kau sudah menyukainya. Jadi kejar dia dan carilah kebahagiaanmu di sana !.


Hansen tersenyum tipis memandang sendu jalanan di depannya. " Pikiranku masih tetap milikmu meskipun hatiku tidak Monica." batinnya.


...*****...


" Hm.., ini enak sekali. Aku baru tahu memakan hewan laut yang masih mentah itu ternyata enak sekali. Ada rasa manis dan juga segar dari setiap gigitan daging yang kita makan. Rasa amisnya pun bisa hilang padahal setahuku amis hewan itu sulit dihilangkan." Reina terus berkomentar tentang makanan dari restoran yang Hansen pilih.


" Gabriel coba kau makan kaki gurita ini. Rasanya kenyal dan sedikit lengket di langit langit mulut tapi tetap enak kalau dimakan." kali ini Reina menyodorkan sepotong kaki gurita yang masih bergerak kearah mulut Gabriel.


" Gabriel cepat buka mulutmu." Reina berucap kesal menunggu Gabriel membuka mulutnya.


" Tidak Rein, aku geli memakan itu." ucap Gabriel.


" Kenapa ?" Reina bertanya dan berhenti menyodorkan sepotong kaki gurita itu pada Gabriel.


" Aku ngeri melihatnya yang masih bergerak seperti itu." jawab Gabriel yang mengundang tawa Hansen.


" Namanya juga masih mentah Gabriel. Kalau kau tidak mau itu, ini cobalah daging ikan salmon. Kau pasti menyukainya." Hansen memberikan sepotong irisan daging ikan salmon kearah mulut Gabriel.


Gabriel menerimanya lalu mengunyahnya secara perlahan untuk meresapi rasanya.

__ADS_1


" Bagaimana ?" tanya Hansen.


" Enak." jawab Gabriel.


Hansen tersenyum dan memberikan satu piring berisi irisan ikan Salmon ke depan Gabriel. " Sudah kubilang kau pasti akan menyukainya. Ini makanlah lagi kalau kau bosan kau bisa mencicipi yang lain."


Gabriel menganggukkan kepalanya sebagai balasan.


" Hans coba udang ini." Reina sekarang memberikan sepotong udang ke dalam piring Hansen.


Hansen memakan udang itu lalu tersenyum setelah selesai mengunyahnya. " Rasanya enak seperti yang pernah aku makan."


" Kau sering memakan makanan seperti ini ?" tanya Reina.


" Ya tapi tanpa Gabriel." jawab Hansen.


" Aku tebak pasti karena Gabriel tidak menyukai makanan mentah."


Hansen menjentikkannya jarinya. " Kau benar sekali. Kau tahu ? Dia bangsawan yang taat peraturan. Lihatlah ekspresi yang sedang makan itu. Dia seperti orang asing yang terdampar entah dari negeri mana."


" Yang penting sekarang aku sudah memakannya kan ?" Gabriel bertanya malas lalu menggigit kecil irisan daging ikan Salmon di piringnya.


Reina tertawa membenarkan ucapan Hansen. Ini zaman berkembang dan makanan mentah seperti itu memang sudah banyak diminati orang, khususnya orang orang timur. " Kau akan mempermalukan dirimu sendiri kalau kau tidak bisa menyesuaikan lingkunganmu Gabriel."


" Aku mengerti." balas Gabriel.


" Nah..., karena kau mau menyesuaikan diri dengan lingkunganmu. Sekarang ayo makan kepala gurita ini. Dia terlihat imut sekali tanpa kakinya itu." ucap Hansen sambil memindahkan kepala gurita ke dalam piring Gabriel.


Gabriel yang melihat itu langsung melototkan matanya. Apalagi saat melihat gurita itu yang sepertinya memiliki bisa napas. " Aku tidak mau !" pekiknya dengan wajah pucat.

__ADS_1


Hansen tertawa dan menjauhkan kepala gurita itu dari jangkauan Gabriel. Ternyata Gabriel masih memiliki kesamaan dengan George yaitu sama sama takut dengan gurita. Bedanya, Gabriel takut memakan gurita karena hewan itu masih hidup. Sedangkan George takut dengan gurita karena dia hampir mati dimakan oleh hewan berkaki banyak itu.


__ADS_2