
" Ayolah Gabriel, kau jangan seperti ini." Reina benar benar tidak habis pikir dengan Gabriel yang tetap kukuh tidak ingin menemui Hansen.
" Aku sibuk Rein."
" Sibuk ?!" Reina membalik paksa kursi kerja yang sedang di duduki Gabriel kearahnya. " Aku temanmu dari kita masih kecil bahkan sebelum kita bisa berbicara. Aku tahu betul sifatmu Gabriel."
Gabriel memejamkan matanya sejenak. " Rein aku benar benar..."
" Ya terserahmu. Kau masih keras dengan pendirianmu kan ? Maka aku juga begitu. Dengar Gabriel, aku akan bilang pada Hansen kalau kau tidak ingin berteman dengannya lagi. Aku juga akan bilang kalau kau ingin Hansen pergi jauh dan keluar dari kota ini. Lagi pula siapa yang mau berteman dengan anak panti asuhan sepertinya."
Mata Gabriel melotot seketika saat mendengar ucapan panjang Reina. " Kau tidak bisa seenak begitu Rein !"
Reina mengibaskan rambutnya ke belakang. Matanya menatap angkuh Gabriel yang masih melotot kearahnya. Pria keras kepala ini harusnya dilawan dengan orang yang memiliki kepala sekeras batu.
" Kenapa tidak bisa ? Hansen sudah mulai terbuka denganku beberapa hari ini. Bicara begitu bukanlah hal yang sulit untukku. Lagi pula bukannya kau ingin menjauhinya kan ? Jadi dari pada repot lebih baik biarkan dia yang menjauh darimu."
" Rein..."
" Ups ! Waktunya makan siang dengan calon kekasihku. Sampai jumpa teman lama." Reina tersenyum mengejek Gabriel sebelum keluar dari ruangan itu.
BRAK !
Reina dengan sengaja menutup kencang pintu ruang kerja Gabriel hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring di lantai atas. Hari ini dirinya libur kerja dan membutuhkan sedikit hiburan. Kebetulan Gabriel bisa dijadikan bahan uji cobanya kali ini.
TING !
" Reina." Hansen terperanjat kaget saat melihat Reina tepat di depan pintu lift saat dirinya akan melangkah keluar.
" Hans ?" Reina menatap Hansen terkejut.
Hansen menormalkan kembali ekspresinya. Hampir saja tadi dirinya menabrak Reina tanpa sengaja. " Maaf aku tidak tahu ada kau tadi. Biasanya di lantai atas jarang ada orang."
" Tidak apa apa. Kau mau kemana ?"
Hansen menunjuk keluar lift dengan jarinya. " Biasa, ruangan bos besar."
Reina melirik pintu rungan Gabriel sebelum tersenyum penuh arti. " Aku rasa jangan."
" Kenapa ?" Hansen mengerutkan keningnya menatap bertanya Reina yang masih berdiri di depan pintu lift.
" Karena aku sedang memancingnya agar dia mau berbicara denganmu. Sekaligus sedikit mencari hiburan." ucap Reina.
Hansen tersenyum sebelum mengangguk mengerti. " Baiklah. Ayo masuk kalau begitu, kau tidak akan berdiri di luar pintu lift selamanya kan ?"
Reina tertawa dan melangkah masuk ke dalam lift. " Tidak."
__ADS_1
TING !
Pintu lift tertutup kembali bersamaan dengan suara langkah kaki berlari dari luar.
" Kau dengar suara langkah itu ?" tanya Reina.
" Ya."
Reina tersenyum sembari mengulum bibirnya. " Aku rasa Gabriel sudah termakan umpanku."
Hansen menjadi penasaran. Sebenarnya apa yang telah dilakukan Reina hingga Gabriel rela berlari mengejar lift seperti tadi. Suara langkah kaki itu pasti milik Gabriel karena tidak ada penghuni lain lantai atas kantor selain dia.
" Kau mau bekerjasama denganku ? Kita buat dia frustasi kali ini." tanya Reina.
Hansen terlihat berpikir sejenak sebelum tersenyum jahil. " Iya, sekalian aku ingin membuat perhitungan dengannya karena berani menjauh dariku tanpa alasan."
" Bagus, aku suka orang pendendam sepertimu." puji Reina setengah bergurau.
Hansen tertawa mendengarnya. " Dan aku suka gadis yang cerdik sepertimu."
...*****...
" Kau harus terlihat meyakinkan nanti."
" Iya. Apa dia sudah datang ?" tanya Hansen.
" Bersiap." Hansen tersenyum sebelum merubah raut wajahnya menjadi datar. " Apa maksudmu Rein ?"
Reina berdecak sambil mengaduk jus di dalam gelasnya. " Kau masih belum sadar juga ? Gabriel tidak ingin kau mendekatinya lagi."
" Kenapa ?"
Reina mengangkat bahunya acuh. Meskipun dalam hati dirinya ingin tertawa sepuasnya karena melihat Gabriel yang pura pura duduk di meja belakang Hansen. Pria itu pasti sedang menguping sekarang.
" Mungkin karena kau beban selama ini." jawab Reina.
Hansen menghela napas seakan akan merasakan beban yang berat dihidupnya. Melihat isyarat jemari Reina yang menunjukkan Gabriel sedang menguping di belakangnya. " Kau benar. Selama ini aku terus dibantu olehnya. Tanpa dia aku mungkin menjadi gelandangan saat ini. Baiklah aku akan pergi dari kota ini."
" Itu bag..."
" Tidak bisa !" Gabriel beranjak dari tempat duduknya lalu duduk diantara Hansen dan Reina.
Hansen dan Reina pura pura terkejut melihat Gabriel yang tiba tiba datang. Reina mengetukkan jarinya di atas punggung tangan Hansen sebagai isyarat mereka telah berhasil memancing Gabriel si pria keras kepala.
" Gabriel ?" tanya Reina.
__ADS_1
Gabriel menatap Reina tajam. " Aku sudah memperingatimu Rein."
" Riel." panggil Hansen.
Gabriel menoleh melihat Hansen yang kini hanya menampilkan raut datar di wajahnya.
" Reina sudah menceritakan segalanya. Aku ta..."
" Kau salah paham." Gabriel berucap cepat memotong ucapan Hansen.
" Semua yang Reina ucapkan itu bohong. Aku tidak pernah berbicara seperti itu. Bukankah sebelumnya sudah pernah kubilang kita akan menjadi teman selamanya selama kau tidak memiliki hubungan gelap dengan istriku." lanjutnya.
" Hah !" Reina hampir saja tertawa saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Gabriel. Pertemanan Hansen dan Gabriel aneh sekali. Reina menjadi ingin tahu awal pertemuan mereka hingga bisa sampai menjadi teman seperti saat ini.
" Tapi menurutku apa yang diucapkan Reina benar." ucap Hansen.
" Kau lebih percaya kepadanya dibandingkan denganku ? Kau ini teman siapa sebenarnya ?!" Gabriel bertanya kesal.
" Kenapa kau yang kesal di sini ?" Hansen balik bertanya.
" Kau itu temanku tetapi kau lebih percaya dengan ucapan Reina dibandingkan denganku." ucap Gabriel.
" Aku ingatkan Reina itu juga temanmu." Hansen menekan setiap kata diucapannya.
Gabriel berdecak kesal. " Tapi dia bukan temanmu."
Hansen memutar mata bosan. Lama lama jika begini mereka bisa bertengkar beneran akhirnya. " Temanmu adalah temanku. Kecuali kau bukan temanku maka Reina bukanlah temanku."
Reina tersenyum menonton perdebatan Gabriel dan Hansen di depannya sembari meminum jusnya. " Kalian terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar."
" Jangan lihat." ucap Hansen dan Gabriel bersamaan.
" Aku tidak mau Reina menjadi temanmu Hans." ucap Gabriel.
Hansen menatap tajam Gabriel di sampingnya. " Terserah kau tapi aku ingin Reina menjadi temanku karena aku percaya kepadanya."
" Kenapa kalian seperti sedang memperebutkan aku ?" Reina bertanya ditengah perdebatan Hansen dan Gabriel.
" Apa yang membuatmu percaya kepadanya ? Kau menyukainya ?" tanya Gabriel.
" Tidak." Hansen menjawab singkat.
" Lalu apa ?!"
" Karena aku percaya dia bisa membuat kau terpancing sampai termakan tipuan kami." Hansen menyeringai menatap Gabriel. Lalu bersorak bersama Reina atas keberhasilan mereka.
__ADS_1
" Apa ?!" Gabriel terdiam menyadari dirinya telah berhasil dibodohi oleh kedua temannya.