Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Menyamar dan Ancaman


__ADS_3

" Kita sudah sampai tuan."


Jenderal Jin melihat supirnya yang berdiri di dekat pintu mobil. " Nanti pulanglah dulu."


" Baik tuan." supir itu membungkuk sopan.


Jenderal Jin keluar dari mobil dan merapikan jasnya yang menurutnya sedikit berantakan. Setelah itu kakinya berjalan kearah pintu besar dengan dua penjaga di depannya. Jenderal Jin menunjukkan kartu tanda pengenalnya kepada kedua penjaga itu.


" Silahkan masuk tuan." ucap salah satu penjaga pintu sembari membukakan pintu untuk Jenderal Jin.


Jenderal Jin melangkah masuk ke dalam setelah menganggukkan kepala kepada kedua penjaga pintu itu. Langkahnya terhenti sejenak melirik pintu yang telah dilewatinya ditutup dari luar. Jenderal Jin tersenyum miring sebelum kembali melangkahkan kakinya menyusuri lorong yang berlantai marmer indah.


Setelah sampai diujung lorong Jenderal Jin kembali menghentikan langkahnya sambil menatap ruangan besar seperti aula dengan banyaknya pelayan yang berlalu lalang. Jenderal Jin berjalan mendekati salah satu pelayang yang sedang membawa kue.


PRANG !


Suara tabrakan dan juga pecahan terdengar cukup kencang hingga membuat para pelayan seketika menghentikan aktivitas mereka.


Jenderal Jin melihat jasnya telah ternoda krem kue yang dibawa oleh pelayan yang ingin dihampirinya.


" Ma..maafkan saya tu..tuan. Saya benar benar tidak sengaja. Tolong maafkan saya tuan." pelayan itu berucap dengan tubuh bergetar ketakutan.


Jenderal Jin menatap pelayan itu lalu tersenyum ramah. " Tidak apa apa, ini masih bisa dibersihkan. Bisa tunjukkan dimana kamar mandinya ?"


Pelayan itu cepat cepat menganggukkan kepalanya. " Bi..bisa tuan, mari."


Jenderal Jin mengikuti pelayan itu berjalan menuju kamar mandi. Dalam diam sebuah senyum penuh arti tampak samar dari bibirnya.


" Bisa tolong bantu aku di dalam kamar mandi ? Biasanya ada wakilku yang selalu membawa sapu tangan tapi saat ini aku datang sendiri." ucap Jenderal Jin.


Pelayan itu lagi lagi menganggukkan kepalanya membuat senyum Jenderal Jin semakin jelas. Setelah masuk ke dalam kamar mandi diam diam Jenderal Jin mengunci pintunya. Lalu berjalan mendekati pelayan yang sedang mencari kotak tisu.


Jenderal Jin menyeringai licik. Dengan tiba tiba tangannya memukul kencang tengkuk pelayan itu hingga pingsan.


" Ups ! Maaf."

__ADS_1


Setelah itu Jenderal Jin menyuntikkan cairan bening yang sedari tadi dibawanya ke leher pelayan itu. Kemudian dengan cepat mengambil pakaian pelayan itu untuk dipakai sendiri olehnya dan membuang pakaiannya ke tempat sampah yang ada di kamar mandi.


Jenderal Jin menatap bayangannya di cermin kamar mandi sembari merapikan pakaiannya. Setelah dirasanya telah selesai, Jenderal Jin menarik kulit wajahnya seperti layaknya melepaskan topeng.


Wajah yang awalnya menjadi milik Jenderal Jin kini berubah menjadi wajah Rigel yang sedang menyeringai menatap bayangannya sendiri di cermin. Inilah wajah aslinya setelah beberapa menit yang lalu Rigel berhasil menyamar menjadi Jenderal Jin menggunakan topeng kulit tipis buatan Saiph.


Rigel membuang topeng kulit itu ke tempat sampah lalu mengeluarkan bungkusan kecil yang seperti permen dengan bentuk bulat. Rigel menghidupkan kran dan membuka bungkus kecil itu lalu mengeluarkan isinya. Kemudian memegangnya dialiran air kran selama beberapa detik sampai benda bulat seperti permen itu melar dan berubah bentuk menjadi topeng tipis.


Rigel memakai topeng itu dengan hati hati. Setelah terpasang sempurna, Rigel mengusap perlahan wajahnya menggunakan tisu.


" Sempurna." Rigel memandang bayangan wajahnya yang kembali berubah menjadi wajah orang lain di cermin.


...*****...


" Tuan ayolah, anda sudah ditunggu oleh Presiden di ruang kumpul." Klein menatap memelas pada atasannya yang masih saja sibuk mengurus berkas berisi kasus di negara Z. Sedangkan saat ini Klein terus diteror oleh Presiden akibat keterlambatan sanga atasan.


" Tuan." Klein kembali memanggil atasannya.


Jenderal Jin melirik sekilas Wakilnya sebelum kembali membaca berkasnya.


DRRT ! DRRT !


Klein menatap horor ponselnya yang kembali bergetar. Terlihat nama yang sama tertera di layar ponselnya. Klein memejamkan matanya sambil berdoa sebelum memberanikan diri menerima panggilan itu.


" Halo."


" Berikan pada atasanmu. Cepat dalam satu menit."


Klein terbelalak mendengar aturan waktu diakhir kalimat sang Presiden. Dengan cepat Klein mengambil tangan Jenderal Jin dan meletakkan ponselnya langsung ke telapak tangan atasannya itu.


" Beraninya kau Klein." Jenderal Jin menatap tajam tubuh Klein yang telah bergetar menahan takut.


Klein segera menekuk sebelah kakinya di lantai memberi hormat. " Maafkan saya Jenderal. Saya tidak memiliki pilihan lain. Anda atasan saya tetapi yang meneror saya saat ini adalah pemimpin negara kita. Mohon kebaikan hati anda Jenderal."


" Terima hukumanmu nanti Klein." ucap Jenderal Jin.

__ADS_1


Klein menundukkan kepalanya sambil berusaha mengatur napasnya untuk tetap tenang. Meski keringat terus mengalir di dahinya.


Jenderal Jin meletakkan ponsel Klein sejajar dengan telinganya. " Ada apa ?"


" Hei ! Kau tidak datang ?"


" Tidak." balas Jenderal Jin singkat.


" Kenapa kau sok sibuk sekali ? Apa negara kita begitu rendah sampai masalah ada dimana mana ?"


" Hm."


" Sialan ! Apa balasan itu ?! Datang atau aku akan membuat dekrit pemerintah untuk putrimu yang cantik itu menikah denganku."


" Ap..., sialan !" Jenderal Jin menatap geram panggilan yang telah diputus secara sepihak. Dasar Presiden mata keranjang, Jenderal Jin tidak akan membiarkan putrinya dinikahi oleh pria bau tanah sepertinya meskipun itu pemimpin negara.


Jenderal Jin beranjak dari tempat duduknya dan mengambil mantelnya. " Bangun, ayo kita pergi menemui pria tua itu."


Klein segera berdiri tegak tanpa berbicara. Jangan sampai Klein terkena getahnya hanya karena mengeluarkan suaranya yang tidak bersalah apapun.


" Ponselmu." Jenderal Jin melempar ponsel yang tadi dipakainya kerah Klein.


Klein melototkan matanya terkejut melihat ponselnya yang tiba tiba melayang kearahnya. Tangannya terulur menangkap ponsel itu dengan tanggap. Klein merasa jantungnya akan turun ke perut jika ponselnya tidak terselamatkan. Karena semua jadwal penting atasannya tercatat di sana.


Jenderal Jin mengambil pistolnya dan menyelipkannya di saku mantel bagian dalam sebelum berjalan keluar dari ruang kerjanya.


Klein yang masih dalam masa terkejutnya terpaksa mengikuti langkah Jenderal Jin keluar dari ruangan itu. Tangannya menggenggam erat ponselnya dan mendekapnya di depan dada dimana jantungnya masih berdetak kencang karena ketakutan dan rasa terkejut yang baru saja dialaminya. Ditambah lagi hukumannya yang masih tertunda dari Jenderal Jin sedang menanti. Klein jadi ingin menangis saat ini meratapi nasibnya.


" Klein sampai kapan kau termenung di luar mobil. Kau mau aku tabrak sekalian agar kau bisa merenungi dosamu di akhirat sana?!"


Klein tersentak dan melihat atasannya yang ternyata telah berada di dalam mobil bersama supir yang masih membukakan pintu untuknya.


" Ba..baik Jenderal."


Jenderal Jin berdecak kesal. " Ulangi maka kau akan langsung kukirim kepelatihan."

__ADS_1


" Siap Jenderal !" Klein membalas cepat.


__ADS_2