Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Orang Gila Mengaku Gila


__ADS_3

Sinar matahari memasuki kamar bernuansa putih dari balik jendela dan pintu balkon kamar yang terbuka. Orion menutup matanya menggunakan bantal karena silaunya sinar matahari yang mengenai matanya. Perlahan Orion membuka matanya lalu melihat sekelilingnya. Ternyata saat ini ia ada di kamarnya. Orion beranjak bangun dan memeriksa ponselnya lalu membereskan tempat tidur dan juga melipat rapi selimutnya. Setelah itu ia berjalan ke kamar mandi membersihkan diri.


Bellatrix masuk ke dalam kamar Orion dengan membawa nampan yang berisi sarapan pagi. Dilihatnya tempat tidur yang telah rapih dan juga selimut yang sudah terlipat. Jika kamarnya sudah rapi seperti ini lalu dimana pemiliknya. Bellatrix meletakkan nampan yang dibawanya itu ke atas meja. Tepat bersamaan Orion keluar dari kamar mandi.


" Sarapan." Bellatrix menunjuk nampan yang berisi makanan di atas meja.


Orion mengangguk dan berjalan mendekat. " Siapa yang masak ?"


" Si kembar."


" Pantes banyak sayurnya mirip kambing." Orion mengaduk makanannya dengan kesal yang membuat Bellatrix tertawa melihatnya.


" Namanya juga wanita, mereka harus menjaga kecantikan mereka dengan memakan sayur."


Orion berdecak lalu mulai memakan makanannya sedikit demi sedikit. " Bagaimana perkembangan tentang negara N ?"


" Kacau." jawab Bellatrix.


Orion mengerutkan keningnya menatap Bellatrix penuh tanya.


" Bukan hanya para tetua itu yang menjadi penjilat saja tetapi hampir banyak dari rakyat negara N rela menjual saudara dan keluarga mereka sendiri untuk bertahan hidup. Yang lebih parahnya lagi kejadian itu hampir menyeluruh di negara N."


Orion menghentikan makannya. " Ada lagi ?"


Bellatrix mengangguk antusias. " Di sana juga menjadi tempat utama Dekandra menjalankan pekerjaan gelapnya."


" Brankas ?" tanya Orion.


" Aku belum menemukan itu. Mintaka bahkan sampai tidak tidur hanya karena mengawasi presiden tua itu." balas Bellatrix.


" Aku mengerti." Orion kembali melanjutkan makannya sambil berpikir. Galiendro termasuk orang yang cukup cerdik, jadi dimana pria penghianat itu menyembunyikan brankasnya selama ini. Jika tidak di Mansionnya tidak mungkin ditempat lain karena Galiendro pasti akan kesulitan mengawasi brankas itu yang berada di luar jangkauannya.


Di luar jangkauan, itu kebalikan dari di dalam jangkauan. Tapi selain di Istana dan juga Mansionnya tempat apa lagi yang termasuk dalam jangkauan Galiendro ?.


" Kau memikirkan brankas itu ?" tanya Bellatrix.

__ADS_1


Orion hanya diam sebagai jawaban. Beruntung Bellatrix mengetahuinya karena mereka telah kenal sejak kecil. Jadi hanya cukup Orion diam Bellatrix akan mengerti maksudnya.


" Kau melakukan hal bodoh semalam." ucap Bellatrix menukar pembahasaan lain.


" Hanya untuk bersenang senang." Orion tersenyum miring menatap Bellatrix. " Si penghianat itu duluan yang mencari perkara duluan denganku." sambungnya.


" Tapi tidak dengan mengonsumsi banyak obat penenang."


" Aku tidak memakannya banyak. Hanya dua belas dan itu tidak lebih." ucap Orion menyangkal.


Mata Bellatrix melebar seketika mendengarnya. " Dua belas ? Dua belas pil maksudmu ?! Astaga, benar kata Rigel selain gila kau juga bodoh."


" Aku tidak bodoh." Orion menatap kesal Bellatrix.


Bellatrix mengangguk pasrah dari pada terkena imbas kekesalan Orion seperti hari lalu. " Yah kau tidak bodoh tapi gila."


" Aku suka pujianmu yang ini." Orion menyeringai senang mendengar Bellatrix menyebutnya gila.


Bellatrix bergidik ngeri melihat itu, apa ada yang lebih parah lagi gilanya dari Orion ? Bellatrix tidak pernah menyangka kalau dikehidupannya ini ia akan menemukan fenomena dimana orang gila mengaku gila. Orion bahkan kesenangan disebut gila olehnya.


BRAK !


George membanting komputernya setelah melihat kiriman email berisi foto putranya yang berubah menjadi menjijikkan. Meskipun wajah cantik itu sangat mirip dengan wajah milik istrinya tetap saja George merasa jijik melihat putranya berdandan seperti wanita.


" Hansen." George menggeram marah mengingat siapa orang yang baru saja mengirimnya foto tersebut. Anak muda itu ternyata menantangnya dan tidak takut sama sekali dengan ancamannya kemarin.


" Dasar anak jalanan ! Andai kau tidak dipungut oleh putraku maka kau tidak akan menjadi seperti sekarang !" teriaknya.


" Kalian cepat kemari !" George memanggil bawahannya dengan nada tinggi.


" Bos."


George berbalik ke belakang dan melihat lima orang bawahannya sedang berdiri dengan menunduk hormat kepadanya. " Cari tahu apa kelemahan anak jalanan yang dipungut putraku itu. Kalau ada kesempatan bunuh dia tanpa ketahuan putraku."


" Baik tuan." ucap lima orang bawahan itu.

__ADS_1


" Jangan lupa laporkan kepadaku apa saja yang telah dilakukannya."


" Baik tuan."


" Pergilah." George berbalik memandang gedung gedung tinggi dari dinding kaca di ruang kerjanya.


" Hansen, selain kau yang menumpang bagaikan benalu pada putraku. Namamu juga mengingatkanku pada orang yang sangat aku benci." gumamnya.


Kenapa nama Hansen selalu ada dihidupnya dari dulu bahkan sekarang. George sangat membenci nama Hansen terutama orang yang memiliki nama Hansen Frendick. Frendick, nama bangsawan yang membuatnya muak sampai George membenci setiap orang yang menyandang nama itu.


Setiap orang yang menyandang Frendick mereka selalu terlahir dengan kesempurnaan. Dari harta, fisik, kecerdasan, kekuatan, dan kekuasaan. George tidak menyukai ada orang yang lebih sempurna darinya termasuk semua keluarga Frendick khususnya Hansen Frendick.


Sekarang nama Hansen malah kembali hadir dan menjadi benalu dihidup putranya. George tidak menyukainya dan ingin menyingkirkannya sesegera mungkin. Apalagi setelah melihat foto putranya tadi George semakin membenci Hansen.


" Aku pasti akan membunuhmu anak jalanan."


Tanpa disadari George seekor lalat kecil sedang mengintainya di dinding. Lalat itu menatapnya sedari tadi tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya. Kepalanya lalat itu akan bergerak seiring pergerakan George. Setelah tugasnya selesai lalat kecil itu terbang keluar dari ruang kerja George. Terbang melewati gedung gedung tinggi tanpa satu orangpun yang menyadari kehadirannya.


Melihat rumah sederhana yang dimana temoat pemiliknya berada lalat kecil itu masuk melalui celah jendela. Sampai akhirnya lalat kecil itu hinggap di atas telapak tangan pemiliknya.


" Kau hebat bisa menciptakan robot itu Saiph." ucap Rigel pada pemilik lalat kecil itu.


Saiph tersenyum lalu memasukkan kembali lalat kecil itu bersama lalat lalat kecil lainnya ke dalam kota kaca. " Ini hanya kebetulan saja." ucapnya merendah.


" Jika robot kecil itu kau bilang hanya sebuah kebetulan apa kabar dengan chip yang bisa membuat benda mati menjadi hidup ?" tanya Bellatrix.


Bellatrix terkekeh dan meletakkan kotak kaca berisi sekumpulan lalat lalat kecil di depan Orion. " Kau bisa menggunakannya untuk keperluanmu Rion."


" Untuk saat ini aku belum membutuhkannya. Tapi jika kau tidak keberatan tolong kirimkan beberapa lalat lalat kecil itu untuk mengawasi musuh." pinta Orion.


Saiph menganggukkan kepalanya tanda mengerti. " Sesuai permintaanmu."


" Terima kasih atas kerja kerasmu." ucap Orion menatap Saiph sebelum memandang teman temannya yang lain satu persatu.


" Kalian semua hebat karena bakat kalian masing masing. Aku ingin kalian menjadikan itu untuk membuat kita lebih sempurna." lanjutnya.

__ADS_1


" Baik ketua !"


__ADS_2