Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Belum Ada Solusi


__ADS_3

" Galiendro banyak orang yang ingin cepat cepat meminta solusi dari masalah ini. " ucap Jederal Jin.


" Bukan hanya itu, seluruh pegawai di kantorku meminta gajih lebih cepat dalam bentuk uang tunai. Sedangkan aku tidak memiliki uang tunai yang cukup." George mengurut pangkal keningnya yang terasa berdenyut sakit memikirkan masalah keuangannya.


Galiendro hanya bisa diam dan tidak memberi jawaban. Kepalanya saat ini terasa panas karena digunakan terus menerus untuk berpikir tanpa henti selama dua hari ini. Belum lagi, tekanan dan desakan dari berbagai pihak membuatnya kepalanya bertambah panas hingga membuatnya ingin berteriak frustasi.


" Galiendro kau mendengarku ?" Jenderal Jin terlihat mengerutkan keningnya menatap tak suka pada Galiendro yang tak mendengarkan ucapannya.


" Aku dengar Jin ! Tapi bisakah kalian beri aku waktu ? Masalah ini bukanlah masalah kecil !" jawab Galiendro dengan suara bernada tinggi.


" Kenapa kau tidak meminjam dari negara tetangga saja ?" tanya George memberi usul.


Galiendro menghela napas lelah. Tanpa diberitahu pun ia sudah melakukannya. " Sudah tetapi belum ada jawaban dari mereka."


Jenderal Jin mengacak rambutnya lalu merapikannya kembali kala mengingat ini bukanlah tempatnya. Hal itu membuat George menggelengkan kepalanya dan berfikir kejadian ini bukan hanya bisa menyusahkan rakyat negara tetapi juga bisa membunuh para petinggi negara. Lihatlah, baru dua hari masalah pencurian bank itu terjadi tetapi Galiendro dan Jenderal Jin sudah terlihat frustasi. Bagaimana kalau itu sampai seminggu atau sebulan ? Lebih parahnya lagi kalau itu terjadi selama bertahun tahun. Maka habislah mereka berdua menjadi gila dan gantung diri, George yakin itu.


" Presiden ! Presiden !" seorang pria masuk ke dalam ruangan Galiendro dengan wajah panik. Dia adalah Niko wakil Presiden negara ini yang memiliki umur cukup muda dimasa pencapaiannya sekarang.


" Ada apa ?" Galiendro langsung bertanya setelah melihat wajah panik dari wakilnya itu. Terus terang saja jantungnya saat ini berdegup kencang karena mewanti wanti kabar yang mungkin saja itu berupa kabar buruk untuknya.


" Presiden banyak wartawan memaksa masuk ke dalam Mansion anda untuk meminta keterangan tentang kelanjutan dari masalah pencurian di Bank itu." Niko berucap cepat sangking paniknya dan itu membuat Jenderal Jin serta George menatapnya bingung. Hanya Galiendro yang memahami ucapan Niko karena ia sudah terbiasa mendengarnya.


" Usir mereka dan jangan biarkan mereka masuk kesini. Kita akan memberi keterangan kepada mereka setelah kita menemukan solusi dari masalah ini." ucap Galiendro.


" Baik Presiden, saya mohon undur diri." Niko menundukkan kepalanya memberi hormat sebelum berbalik melangkah pergi.


" Bahkan sangking paniknya dia tidak menyapa kita Jin." ucap George.

__ADS_1


Jenderal Jin mengangguk setuju. " Ternyata bukan hanya aku saja yang memiliki wakil aneh seperti Klein. Ternyata Galiendro juga memilikinya."


" Itulah resiko memiliki wakil yang masih muda." balas George menertawakan nasib Jenderal Jin. Beruntung asistennya berumur lebih tua dua tahun darinya. Sehingga George tidak perlu merasakan hal yang sama seperti Jenderal Jin dan Galiendro.


Jenderal Jin mendengus sinis. Menatap tak suka wajah George yang sedang menertawakannya. " Kau hanya belum merasakannya George. Nanti saatnya giliranmu yang mendapatkan masalah. Aku orang pertama yang akan tertawa kencang melihatmu."


" Ya, ya, ya terserahmu saja teman. Aku mengharapkan masalah itu datang dan ingin melihat seberapa kuat hal itu mengalahkanku" George berucap sombong dengan pandangan seakan menantang Jenderal Jin.


.


...*****...


.


" Hei ! Ayolah kalian jangan mulai bertengkar. Aku sudah cukup pusing memikirkan masalah ini. Jangan lagi ditambah masalah pertengkaran kalian !" Galiendro menatap kesal Jenderal Jin dan juga George. Mereka bukannya memberikan solusi malah asik bertengkar sendiri.


" Jin bagaimana penyelidikanmu kemarin ?" tanya Galiendro.


" Mengecewakan, bahkan aku tidak menemukan sidik jari atau hal hal lainnya yang bisa mengarah kepencurian itu. Yang membuatku tidak habis pikir adalah mereka bisa membuka pintu brankas penyimpanan uang dan mematikan jebakan laser tanpa membunyikan alarm peringatan." ucap Jenderal Jin menjelaskan.


Hal itu membuat Galiendro terkejut mendengarnya. " Berarti pencuri itu bukanlah orang biasa Jin. Bisa mematikan jebakan laser berarti mereka harus melewati jebakan itu sendiri. Aku pernah melihatnya dan itu tidaklah mudah."


Jenderal Jin menganggukkan kepalanya. " Itulah kenapa aku tidak menemukan apa apa di sana."


Galiendro menelungkupkan wajahnya diantara lipatan tangannya. Jadi, inti dari semua ini adalah tidak adanya solusi apapun.


" Ini kesalahan kita juga karena terlalu menggampangkan sesuatu. Tanpa memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Kita dengan cerobohnya menaruh semua uang kita disatu tempat." celeruk George tiba tiba yang membuat Jenderal Jin baru menyadari kebodohan mereka.

__ADS_1


Galiendro melambaikan tangan kanannya. " Apapun itu intinya tidak ada solusi dari masalah ini. Kau berhetilah membuat opini yang malah membuatku semakin menyesal."


" Tapi..., aku ingin tahu bagaimana kabar Dekandra sekarang ?" lanjutnya bertanya.


" Dia masih sama, berteriak ketakutan setiap malam dan melamun disiang hari. Aku heran melihat keadaannya yang tiba tiba menjadi gila seperti itu dalam waktu semalam." jawab George.


" Aku takut dia salah meminum obat penelitiannya hingga membuatnya seperti itu." ujar Jenderal Jin.


Sekali lagi Galiendro menghela napas lelah. Masalah temannya cukup rumit untuk diatasi dan sekarang ditambah lagi masalah keuangan negaranya. Benar benar ingin membunuhnya keadaan ini.


" Kita akan memikirkan itu nanti. Karena sekarang ada hal yang lebih penting."


" Kau benar, aku membutuhkan uang tunai dalam jumlah besar. Bahkan produk yang diciptakan perusahaanku harus terpaksa kujual dengan harga murah untuk mendapatkan uang tunai lebih cepat. Itupun masih belum cukup juga." keluh George yang sudah kebingungan mengatasi masalah ini.


Galiendro menepuk pundak George karena ikut merasakanngya juga. " Kalau kau menangggung karyawanmu maka aku menangung rakyatku. Kesulitan kita sama, hanya bedanya aku lebih besar menanggungnya ."


Jenderal Jin yang melihat tingkah kedua temannya mengusap keningnya tidak habis pikir. Disaat genting seperti ini mereka masih sempat mengadu nasib satu sama lain.


" Kalian seriuslah sedikit."


Galiendro melototkan matanya kesal menatap Jenderal Jin. " Kurang serius apa lagi diusahaku dalam mengatasi masalah ini Jin ?! Tidak mungkin aku menjual negaraku untuk mengahasilkan uang dalam waktu semalam. Kau tahu yang bisa kulakukan saat ini hanyalah frustasi dan bersiap siap menjadi gila karena rakyatku tidak sabar menunggu."


" Mereka bahkan tidak mau tahu kesulitanku dalam mengahadapi masalah ini demi mereka." sambungnya.


Jenderal Jin terdiam dan tidak bisa berucap lagi. Karena nyatanya mereka harus bersabar menunggu keputusan dari negara lain untuk membantu mereka dalam mengatasi masalah ini.


" Pasti akan ada solusi dari masalah ini." ucap George menenangkan kedua temannya.

__ADS_1


__ADS_2