
Hansen berjalan menyusuri jalan raya yang mulai terlihat di pagi hari. Jalan kaki seperti bisa membuatnya berolahraga sebelum berangkat bekerja. Karena jarak Apartemen ke tempat kerja cukup dekat yang hanya berjarak tiga kilo saja membuatnya memilih untuk berjalan kaki. Sesekali Hansen akan bersenandung pelan mengikuti lirik lagu dari headset hitam yang terpasang rapi di telinganya.
Hansen menghirup udara pagi dalam dalam. Di jam pagi seperti ini udara masih segar karena kendaraan yang belum terlalu banyak berlalu lalang.
TIN ! TIN !
Sebuah limosin berhenti di sampingnya. Hansen menoleh dan melihat siapa pemilik mobil mewah itu. Dari dalam mobil itu keluarlah seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam yang terlihat rapi. Tapi dari wajahnya Hansen tidak mengenalnya sama sekali.
" Maaf tuan mengganggu anda di jalan seperti ini. Tetapi tuan George ingin bertemu dengan anda." ucap pria paruh baya itu.
Hansen menatap mobil limosin itu sejenak. Tuan George ? Bukannya itu ayahnya Gabriel, tanyanya dalam hati. Ada apa penghianat itu mencarinya. " Di mana ?"
" Mari tuan ikuti saya." pria paruh baya itu membukakan pintu belakang mobil lalu membungkukkan tubuhnya untuk mempersilahkannya masuk dengan cara yang sopan.
Hansen berjalan dan masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara. Ia ingin tahu apa yang membuat penghianat itu rela mendatanginya di pagi buta seperti ini.
" Mau wine ?"
Hansen menoleh dan melihat George yang duduk santai dengan segelas wine di tangannya. " Tidak tuan, terimakasih."
Perlahan Hansen merasakan kalau mobil yang ditumpanginya ini mulai berjalan. Yah lumayanlah, setidaknya Hansen tidak perlu berjalan lagi kalau ingin sampai ke kantor.
" Bagaimana bekerja dengan putraku. Apakah dia bos yang baik atau dia bos yang galak seperti tampangnya itu ?" tanya George.
Ternyata penghianat ini suka berbasa basi yang ujung ujungnya akan menjadi busuk juga. " Tuan muda Gabriel adalah bos yang baik di kantor tuan. Dia bahkan ramah dan suka bercanda dengan karyawannya."
" Termasuk kau ?"
__ADS_1
Hansen terdiam sesaat sebelum menganggukkan kepalanya yang membuat George menampilkan senyum sinisnya.
" Apa kau tidak bosan menjadi tukang foto seperti itu ?"
" Maksud tuan ?" bukannya menjawab Hansen malah balik bertanya. Maklumi saja, Hansen itu adalah orang yang menyukai kata singkat tanpa adanya basa basi. Jadi pembicaraan seperti ini bukanlah hobinya sama sekali.
George terlihat berdecak tidak suka mendengar pertanyaan itu. " Apa kau tidak tahu kalau pertanyaan kau jawab juga dengan pertanyaan itu adalah tindakan yang tidak sopan ?"
" Maafkan saya tuan."
" Cih, kau benar benar tidak sopan. Apa yang membuat Gabriel begitu suka berteman dengan orang yang tidak sopan sama sekali. Bahkan kau tidak tahu etiket dalam berbicara terhadap seorang bangsawan yang derajatnya lebih tinggi darimu." ucap George.
Lebih tinggi dariku ? Hei, Hansen ini adalah pewaris terakhir dari bangsawan murni yang dimana derajatnya lebih tinggi dari pada seorang raja. Penghianat ini benar benar menarik kekesalannya saja. Ini masih pagi tetapi dia sudah berani menghina Hansen tanpa berpikir terlebih dahulu.
" Maaf tuan kalau ucapan saya kurang sopan. Saya bukanlah seorang bangsawan yang mengerti tentang etiket dalam berprilaku."
...*****...
Hansen mulai merasa bosan dengan pembicaraan ini. Sebenarnya apa maksud si penghianat ini sampai berbicara berputar putar tidak berujung dengan kejelasan seperti ini.
" Tuan saya tidak mengerti maksud tuan berbicara seperti itu."
Senyum di wajah George langsung menghilang dan diganti dengan wajah datar dengan tatapan tajam. Oh, jangan dikira Hansen akan takut melihat itu. Karena di dunia ini tidak ada yang ditakutinya selain orang tuanya sendiri.
" Jauhi putraku dan keluar dari perusahaannya lalu sebagai gantinya aku akan memberimu anak cabang perusahaanku yang berada di luar negeri. Menetaplah di sana dan jangan kembali lagi ke negara Z ini."
Hansen tanpa sadar mengangkat alisnya sebelah lalu tersenyum tipis. Jadi ini maksud si penghianat mau menemuinya. Dia ingin Hansen menjauh dari putranya dan meninggalkan kota Z begitu saja dengan ganti anak perusahaan. Maaf saja tetapi harta Hansen yang ditinggalkan oleh orang tuanya lebih banyak dibandingkan harga anak cabang itu. Bahkan seluruh kekayaan George belum bisa dibandingkan dengan setengah dari harta miliknya.
__ADS_1
" Dan kalau saya tidak mau ?" tanya Hansen.
Tatapan George semakin tajam dengan rahang yang mengetat. " Maka jangan salahkan aku kalau kau tidak akan bisa tenang hidup di negara ini."
Hansen menganggukkan kepalanya mengerti. Ternyata si penghianat ini boleh juga kejamnya. Hanya masalah pertemanan putranya saja dia sudah bertindak seperti ajang pemilihan calon menantu. Benar benar tipe ayah yang otoriter dan egois.
" Saya tidak bisa melakukan apa yang anda mau tuan. Karena saya sudah berjanji pada putra anda untuk terus berada di sampingnya. Saya akan pergi apabila putra anda menginginkannya."
" Kau terlihat seperti penjilat sekarang." ucap George dengan wajah yang terlihat tidak suka.
" Terima kasih pujiannya tuan."
George yang mendengar itu langsung mendelik kesal. Namun Hansen semakin menyukainya, kalau begini mereka impas merasakan kesalnya masing masing. Kalau saja Hansen tidak memiliki rencana yang penting maka mungkin sekarang George sudah tidak memiliki kepalanya lagi.
Namamu masih kusimpan sebagai buruanku George, batin Hansen.
" Tuan kita sudah sampai." ucap pria paruh baya itu yang ternyata dia adalah sopir di mobil mewah ini.
" Saya sangat berterima kasih atas tawaran anda tuan George. Tetapi putra anda bukanlah hal yang mudah dilepaskan begitu saja."
" Kalau begitu tunggu saja penderitaanmu penjilat."
Hansen tersenyum lalu keluar dari mobil mewah itu. Mobil bagus tetapi pemiliknya buruk sama saja menghilangkan kenyamanan yang ada di dalamnya. Siapapun pasti enggan menaikinya kalau pemiliknya saja seperti itu.
Setelah mobil George berlalu pergi Hansen berjalan memasuki kantor. Menjauhi Gabriel ? Cih, mimpi saja. Gabriel adalah kartunya untuk memburu George. Hansen akan membuat pria itu melawan ayahnya sendiri suatu hari nanti.
Hansen masuk ke dalam lift lalu menyeringai kejam. Gabriel, Gabriel, Gabriel, kasihan sekali pria itu yang tertipu olehnya. Ingatlah kalau Hansen hanyalah nama samaran yang Orion gunakan sebagai topengnya. Orion memakai nama Hansen karena nama itu adalah nama ayahnya, orang yang selama ini dikaguminya.
__ADS_1
Juga selain itu, Orion sudah sangat mengerti tingkah dan cara berpikir ayahnya yang sering disukai banyak orang. Karena itulah Orion memilihnya sebagai penyamarannya sekarang ini. Selama bertahun tahun ia mempelajarinya dan lihatlah sekarang, semua orang berhasil tertipu olehnya.