Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Masakan Gabriel Luar Biasa


__ADS_3

" Makanan datang !" Gabriel datang dengan membawa sepanci sup panas yang mengeluarkan harum daging matang bersama rempah rempah.


" Gabriel lihat." Jack menunjuk layar komputer milik Hansen. " Hansen mengedit foto kita dan akan menjualnya." lanjutnya mengadu.


Gabriel melihat layar komputer Hansen lalu mengangguk sekilas. Sudah ia tebak sebelumnya bagaimana cara Hansen mendatangkan banyak uang diliburan mereka kali ini kalau tidak menjual hasil potretnya.


" Biarkan saja, kita akan lebih terkenal karena itu." jawab Gabriel kemudian kembali ke dapur untuk mengambil mangkuk dan juga minum.


Jack menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jemarinya. " Kalian sudah kerjasama sebelumnya ?" tanyanya pada Hansen.


" Hm."


" Kalian libur pun masih mencari uang ?" Jack bertanya lagi karena masih tidak percaya. Gabriel dan Hansen bukanlah orang yang kekurangan uang. Bahkan Jack yakin jika mereka tidak bekerja, uang akan datang dengan sendirinya kepada mereka. Tapi kenapa mereka malah mengejar uang seakan akan mereka tidak memilikinya ? Bahkan hari libur dan kesenangan mereka pun dijadikan untuk mendapatkan uang.


Hansen mengangkat bahu acuh. " Kalau itu bisa menghasilkan kenapa tidak ? Lagi pula uang itu laku dimana mana."


" Benar juga sih." Jack bergumam pelan membenarkan.


" Hei, apa yang kalian diskusikan ? Ayo makan dulu aku sudah lapar." Gabriel menyusun piring dan juga minum di atas meja di dekat jendela kamar Hansen.


Jack berjalan mendekat begitu pula dengan Hansen setelah mematikan komputernya. Mereka melihat sup buatan Gabriel lalu saling melirik satu sama lain saat melihat warna kuah sup yang keruh kecokelatan entah karena apa. Meskipun dari harumnya cukup menyakinkan mereka.


Gabriel yang sedang menuangkan air ke dalam gelas berhenti melihat Hansen dan Jack yang saling melirik. " Kenapa ? Ayo cepat makan."


" Hah ? O..oh, iya." Jack tersenyum paksa sambil menatap sup buatan Gabriel dengan pandangan tak yakin. Berbeda dengan Hansen yang langsung menuangkan sup itu ke dalam piringnya.


" Gabriel kenapa kuah sup ini bisa berwarna keruh seperti ini ?" Hansen menunjuk sup yang ada di piringnya.


" Aku mencampurkan sedikit kayu manis dan juga..., apa ya ? Aku lupa, tapi bentuknya bulat dan kecil kecil." jawab Gabriel sambil mengingat ngingat nama dari rempah berbentuk bulat tapi kecil yang tadi dimasaknya.


GLUK !

__ADS_1


Hansen menelan ludahnya susah payah. Sup apa yang diberi kayu manis ? Dan apa itu benda bulat kecil kecil ? Masih bisa dimakan kan benda itu ? Tanyanya dalam hati. Hansen menatap Jack yang duduk tegak di depannya. Tetapi Hansen melihat pria itu belum mengambil supnya. Ia yakin Jack juga memiliki pemikiran yang sama dengannya.


Yaitu apakah makanan ini masih bisa dicerna manusia ?.


" Jack ambil bagianmu, kau tidak makan ?" tanya Gabriel yang melihat Jack belum mengambil supnya.


Jack mengangguk kaku, perlahan diambilnya sup itu secukupnya lalu menatap Hansen. Kemudian Jack mencoba rasa kuah sup di piringnya dengan perasaan takut. Namun setelah mencobanya barulah ia tahu bahwa dugaannya salah. Ternyata rasanya tidak seburuk yang dibayangkannya barusan. Sup buatan Gabriel masih bisa diterima oleh indera perasanya.


Melihat Jack yang makan dengan lahap Hansen tersenyum miring. Lalu tatapannya beralih melihat Gabriel yang makan dengan tenang seperti biasa. Setelah itu dipandanginya sup yang berada di dalam piringnya. Diam diam Hansen memakan daging dan juga sayur sup buatan Gabriel tanpa kuahnya.


.


...*****...


.


" Huek ! Huek !"


" Huek !" Jack memuntahkan isi perutnya yang terakhir lalu bersandar di dinding kamar mandi. Jika ia saja begini jadinya bagaimana dengan Gabriel sekarang ?.


" Kau sudah selesai ?" tanya Hansen.


Jack menoleh menatapnya lalu mengangguk lemah. Setelah isi perutnya terkuras habis tubuhnya terasa sangat lemas sekarang. " Bos bagaimana ?"


" Entahlah, aku belum melihatnya di kamar. Mau kubantu ?"


" Iya."


Hansen berjalan mendekat lalu memapah Jack ke luar kamar mandi. " Tubuhmu dingin sekali. Kau tiduran saja dulu di kamarku. Aku mau melihat Gabriel di kamarnya dulu sekalian aku akan membeli obat di apotik untuk kalian."


Jack mengangguk dan memejamkan matanya. " Jangan selimuti aku."

__ADS_1


" Baiklah, aku pergi dulu." Hansen ke luar dari kamarnya dan berjalan ke kamar Gabriel. Keningnya terlihat mengkerut ketika mendapati kamar Gabriel yang begitu sunyi.


Apa pria itu masih hidup ? tanyanya dalam hati.


" Gabriel ?" Hansen memanggil Gabriel sambil mencari pria itu di dalam kamar.


" Gabriel, yuhu ! Kau dimana teman ? Masih hidup kah ?"


Tidak ada di dalam kamar, tidak ada di balkon kamar. Jadi, dimana orang itu berada ? Apakah di kamar mandi ? Ah, mungkin dia ada di sana. Hansen melangkah ke kamar mandi untuk memeriksa apakah Gabriel ada di sana atau tidak.


CEKLEK !


" Gabriel ka..." Hansen terbelalak melihat Gabriel yang terbaring di lantai kamar mandi. Segera ia berlari dan mengangkat tubuh kekar temannya itu ke kamar. Dibaringkannya Gabriel di atas ranjang lalu memeriksanya dengan cemas. Mulai dari dahinya untuk memeriksa panas tubuhnya dan juga leher untuk memeriksa denyut nadinya.


" Hei, Gabriel kau masih hidup bukan ? Nadimu masih berdenyut kencang." Hansen bertanya sambil menepuk pipi Gabriel dan menjawab sendiri pertanyaannya.


Gabriel mengerang pelan merasa terganggu. Sebenarnya ia dengar suara Hansen yang berisik tetapi karena tubuhnya yang lemas membuatnya tidak sanggup mengeluarkan suara.


" Hah, syukurlah kau masih hidup. Kau muntah muntah tadi ?" tanya Hansen.


Gabriel menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


" Tubuhmu lemas ?" Hansen bertanya lagi yang membuat Gabriel kembali menganggukkan kepalanya.


" Sudah kutebak kau pasti keracunan sama seperti Jack. Astaga ! Kalau sudah begini aku yang pastinya akan mengurus kalian." Hansen mengacak rambutnya frustasi.


Mendengar itu di tengah rasa mualnya Gabriel melototkan matanya merasa kesal. Dasar teman laknat, membantunya yang sedang kesusahan saja Hansen masih sempat mengeluh.


" Kau tunggu di sini aku akan membelikanmu obat. Tidak usah melotot begitu padaku, kalau matamu copot aku juga yang repot." setelah itu Hansen langsung berjalan keluar dari kamar Gabriel.


Semua ini berawal dari masakan yang dibuat Gabriel tadi. Entah apa yang dicampurkan pria itu ke dalam masakannya hingga bisa mengakibatkan keracunan seperti ini. Beruntung Hansen tidak banyak memakannya tadi. Meski rasanya cukup enak tapi dilihat dari warna kuahnya yang cukup bisa diragukan Hansen memilih menghindarinya tadi. Tapi ujung ujungnya, ia juga yang repot karena harus mengurus dua orang keracunan sekaligus.

__ADS_1


" Astaga Gabriel, masakanmu kali ini benar benar luar biasa menyusahkanku."


__ADS_2